
Di ruangan rawat inap sebuah Rumah sakit ternama. Kai yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan terlihat tengah berbaring di branker.
Tubuh yang di balut pakaian rawat pasien itu berbaring tak berdaya setelah sempat tak sadarkan diri. Di lehernya nampak terpasang sebuah alat penyangga, atau dalam bahasa medisnya disebut cervical collar, yang erupakan alat yang digunakan untuk menopang leher dan melindungi punggung dari pergerakan yang bisa mengakibat cedera makin parah.
Kecelakaan yang Kai alami menyebabkan beberapa luka dibagian tubuh. Diantaranya luka sobek dibagian perut samping akibat terkena pembatas jalan. Tulang belakang hingga lehernya mengalami cedera akibat terpental dari motor dengan posisi jungkir balik. Memang tak ada luka lain, tapi hal itu saja cukup dikatakan serius dan perlu perawatan secara intensif.
Beruntung kawan-kawan Kai dan para pengendara yang melihat kejadian tersebut dengan sigap melakukan peretolongan dan menghubungi ambulance sesegera mungkin.
Motor Kai juga mengalami kerusakan yang cukup parah akibat tabrakan tunggal yang terjadi karena kelalaiannya.
Keluarga Kai yang mendengar itu langsung datang dari kampung setelah diberi kabar oleh Alby.
Alby sendiri baru dikabari oleh Satria saat sudah hampir sampai di rumah sakit.
Sementara Kai yang sedang sakit terlihat meringis mendengar omelan dari sang Ibu. Ya, demikianlah emak-emak kebanyakan, anaknya sakit bukannya diberi perhatian dan kasih sayang tetapi malah diberi omelan. Alhasil Kai yang tak bisa apa-apa hanya diam mendengar ceramah dari Emak.
“Itulah kalau naik motor ugal-ugalan, banyak gaya pergi touring!" terpantau Emak masih saja menyambung omelannyaa sejak beberapa keluarga yang datang menjenguk Kai mulai pulang satu-persatu.
Tinggal Ayah, Emak, Syaqila, adik bungsu Kai, juga Alby, Tiwi, istri Alby beserta Azka anaknya. Semua tengah berkumpul disana. Sementara bocah berumur 2 tahun lebih itu nampak sibuk memeriksa bingkisan dari orang-orang yang menjenguk Kai.
“Namanya juga musibah, mak!" timpal Tiwi menggunakan bahasa daerah mereka, yaitu bahasa Melayu.
“Musibah yang dia cari sendiri!" sambung Emak sambil menatap Kai yang terlihat memejamkan mata. Telinganya panas mendengar omelan Emak yang tiada henti.
“Coba kalau libur gak usah banyak gaya kesana kemari."
“Libur ya istirahat, ngapa pulak malah keluyuran sampai Sumbar!"
“Udahlah Mak, anak sakit bukannya disayang malah diomel. Kasian!"
Ah, rasanya Kai ingin memeluk Ayah yang membelanya. Sudah seperti Dewa penyelamat, Ayah memang selalu begitu. Namun, bukan ibu-ibu namanya jika ada yang berhasil menghentikan. Biasanya kaum ibu-ibu atau salah satu jenis makhluk terkuat di bumi itu hanya akan berhenti mengomel dengan sendirinya, tanpa diminta.
Alhasil, Kai harus merelakan telinganya disuguhkan dengan omelan Emak. Jika Emak tahu ponselnya hilang, sudah dipastikan omelan itu akan semakin bertambah.
Sedangkan melalui celah pintu, Satria terlihat sedang mengintip. Dia yang hendak masuk dan memberikan ponsel pada Kai agar bisa menghubungi Meysa pun ragu-ragu melangkahkan kaki ke dalam saat mendengar Kai diiomeli. Jadilah ia memutuskan untuk kembali ke kostan lebih dulu, hendak membersihkan diri dan berganti baju sebelum kembali lagi kesana.
....
“Petik daun ubi yang ada di belakang itu, Mey!"
Pria paruh baya yang baru keluar dari kamar itu nampak rapih dengan mengenakan pakaian muslim lengkap dengan sarung dan peci.
Sebagaimana kebiasaannya. Rusdi, bapak Meysa dan Faza itu memang setiap waktu melaksanakan shalat di mesjid yang tak jauh dari rumah.
Pak Rusdi yang kebetulan ingin makan malam menggunakan lalapan daun ubi, langsung memberikan perintah saat melihat anak bungsunya yang seharian sibuk di rumah Rena itu akhirnya pulang.
“Iya, pak! Nanti!" sahut Meysa tanpa menoleh sedikitpun. Ia lebih memilih langsung masuk ke kamar.
Sedangkan Bapak yang perintahnya sudah diiyakan segera keluar dari rumah, pergi ke mesjid menggunakan motor bebek miliknya.
__ADS_1
Tanpa tahu jika anak gadisnya tidak akan melakukan apa yang diperintahkan.
Bagaimana tidak? Meysa yang tengah dilanda kecemasan dan kesedihan setelah mendapat kabar tentang kondisi Kai itu seketika tak bersemangat melakukan apapun. Bahkan setelah selesai berkomunikasi dengan Satria, Meysa segera memutuskan pulang lewat samping rumah Rena tanpa berpamitan pada siapapun di rumah itu.
Di kamar Meysa menangis sesenggukan sambil terus memandang foto dan video Kai. Rasa rindu dan cemas telah melebur jadi satu. Meysa masih menunggu kabar dari Satria yang katanya akan menghubunginya kembali agar bisa melihat keadaan Kai secara langsung.
Namun, sampai saat ini yang ditunggu tak kunjung memberi kabar apapun, padahal waktu isya juga sudah lewat.
Tadi Pak Rusdi bahkan sempat mengomel ketika pulang dari mesjid malah tak menemukan satu makananpun yang tersaji di dapur. Anak gadisnya tak melakukan apa yang ia perintahkan. Alhasil pria paruh baya itu memutuskan masak sendiri. Jika menunggu Meysa, bisa-bisa Ia mati kelaparan.
“Meysa ini kalau disuruh bikin apa-apa tidak pernah ada yang beres!" omel Bapak.
Namun, Meysa sama sekali tak menghiraukan. Begitu juga dengan telepon dan pesan dari Rena yang sengaja ia abaikan. Meysa tak bersemangat. Ia masih belum tenang jika belum melihat keadaan Kai.
Menangis sambil menunggu kabar dari Satria akhirnya membuat Meysa terlelap dalam keadaan sedih.
Dan ketika pagi tiba. Meysa bangun dalam keadaan wajah sembab. Hal yang pertama kali dicek adalah ponselnya. Ia mengharapkan kabar dari Satria atau siapapun itu. Namun, nihil. Tak ada telepon ataupun pesan, kecuali notifikasi dari Rena.
Meysa bingung harus menghubungi siapa lagi selain Satria. Sebenarnya bisa saja Ia menghubungi Bang Alby melalui akun media sosialnya, tapi Meysa terlalu enggan jika harus menjelaskan panjang lebar tentang siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Kai. Selain sulit, ia juga masih segan untuk memperkenalkan diri pada calon kakak iparnya itu.
“Coba telepon Satria lagi!" lirih Meysa sambil mencoba menghubungi Satria, terhubung tapi tak diangkat, bahkan setelah beberapa kali panggilan. Hmmmnt, sepertinya Satria kelelahan hingga lupa mengabari.
Meysa terus mondar mandir seperti setrikaan di dalam kamar bercat hijau muda itu. Ada banyak foto Meysa yang terpajang disana.
“ Ya Allah, bee!" Meysa berkata lirih, mendesah memikirkan ketidak berdayaannya yang tak bisa melakukan apapun. Bahkan bukat toko florist dan beres rumah pun tak ia lakukan.
Setelah memikirkan cara dan solusi apa yang bisa ia lakukan untuk mengetahui keadaan Kai. Meysa akhirnya membuat keputusan untuk menjenguk kekasihnya itu langsung ke Pekanbaru.
“Ya, kayaknya solusi satu-satunya memang cuma itu." Meysa kembali mempertimbangkan sambil menggigit bibir bawahnya. Satu tangannya memeluk perutnya, sedang yang satu menyanggah dagu dengan telunjuk yang terus tergerak mengetuk pipi, Ia tengah memikirkan ide.
“Tapi bagaimana cara minta izin ke bapak dan Faza?" Meysa menghela napas berat. Kehidupannya tak sebebas kehidupan selebriti yang bebas pergi kemanapun, bahkan bersama pacar.
Keluar malam sebentar saja ia sudah diwawancarai oleh Bapak, bahkan Faza yang jauh saja tiap hari menelpon hanya untuk menanyakan dimana dan sedang apa. Dia memiliki dua bodyguard yang begitu posesif dan menjaganya dengan ketat.
Soal biaya pergi Meysa tak memikirkan itu. Sebab begini-begini, Ia memiliki tabungan yang cukup. Uang hasil menghalu di platform tulis novel online, hasil jualan online dan hasil jualan florist dan uang jajan dari bapak cukup membuat tabungannya menggendut. Selain tidak boros, Meysa memang pandai menabung. Jadi, ia tak terlalu memikirkan biaya untuk berangkat menjenguk Kai. Bisa dibilang Meysa memang terlihat seperti pengangguran, tapi penghasilannya cukup untuk membiayai hidupnya sendiri.
“Aku rindu kamu, bee! Aku pengen lihat keadaanmu!" lirih Meysa, lelah mondar mandir akhirnya ia duduk di kasur.
Ia dan Kai ssudah setahun lebih tak bertemu membuat rasa rindu itu tak bisa lagi diutarakan, belum lagi musibah yang menimpa Kai benar-benar membuatnya tidak tenang.
Akhirnya setelah merenung dan memikirkan dengan matang, Meysa tetap memilih rencananya untuk menjenguk Kai. Ia juga sudah menemukan alasan yang tepat untuk minta izin pada bapak. Soal Faza, Meysa tak ingin pusing. Sebab Ia juga akan menggunakan hal yang sama pada bodyguardnya itu.
Meysa sudah mengemas beberapa pakaiannya ke dalan koper berwarna hijau, ukurannya mungil sedang . Setelah itu Ia langsung keluar kamar, mencari keberadaan Bapak, berharap Ayahnya itu ada di rumah. Sebab biasanya Pak Rusdi selalu pergi ke kebun di jam-jam seperti ini.
Meysa menghembuskan napas lega saat melihat Bapak sedang sibuk mengurus kail pancingnya di teras depan. Bapak Meysa itu memang hobby mancing, ia bahkan punya persatuan geng Strike. Maklum, duda gaul.
“Pak," panggil Meysa pada bapaknya yang tengah serius, kaca mata minus bertengger di hidung mancung Pak Rusdi. Ternyata hidung mancung Meysa keturunan dari bapak.
“Hmm!" Bapak menyahut tanpa menoleh.
__ADS_1
“Apa Meysa?" tanya Bapak saat melihat Meysa malah terdiam, tak kunjung menyampaikan keinginannya.
“Anu..."
Meysa ragu-ragu mengungkapkan niatnya. Sebab apa yang ingin Meysa sampaikan adala sebuah kebijakan yang sudah ia rancang sedemikian rupa. Meysa takut kualat karena bohong, selain itu Ia juga takut ketahuan.
”Anu apa?" tanya bapak lagi.
“Mau minta izin pergi...“
“Pergi mana?” tanya Bapak masih tanpa menoleh
“Ada temanku mau menikah di Sarudu!" ujar Meysa dengan menyebut nama kota kabupaten di daerahnya itu.
“Mau pergi sama siapa?" Bapak masih sibuk memasang tali kail.
“Sama Arini!" ucap Meysa menyebutkan salah satu teman yang umurnya satu tahun lebih tua darinya.
“Rena tidak ikut?"
“Tidak pak, kan Rena sudah dilamar. Mana boleh pergi-pergi jauh!"
Bapak manggut-manggut mendengar ucapan sang anak.
Sungguh Meysa begitu gugup, ini kali pertama ia bohong pada orang tuanya hanya demi untuk mengunjungi Kai yang sakit.
Akhirnya bapak memberikan izin sebagaimana waktu yang Meysa tentukan, yaaitu satu minggu. Bahkan bapak juga memberikan uang tambahan.
Setelah zuhur Meysa langsung berangkat ke palu dan akan terbang dari sana ke Pekanbaru.
Meysa pergi menggunakan mobil travel langganan yang sering orang-orang kampung gunakan apabila ingin ke kota Palu.
Selama dalam perjalanan, Meysa menyempatkan memesan tiket pesawat via online. Banyak penerbangan malam menuju Pekanbaru yang kosong, hanya tersedia untuk penerbangan besok subuh. Meysa yang tak ingin menunggu terlalu lama tak menyerah begitu saja, gadis itu terus mencari pesawat yang bisa terbang malam ini. Dan beruntungnya Ia menemukan apa yang dicari, sesuai harapan meski harus menggunakan pesawat yang lebih kecil. Tak apa! Yang penting bisa terbang dan tujuannya ke Pekanbaru. Meysa tersenyum senang, tak sabar ingin segera bertemu Kai.
Baru ia hendak beristirahat sejenak, teleponnya kembali berdering. Saat dilihat, nama kontak dengan tulisan 'Mamakku' tertera disana. Meysa menghela napas saat Bu Samsuri menelponnya.
“Halo, Assalamu'alaikum."
“Iya mak, kenapa?"
.
.
.
TBC....
_MeyKa💖
__ADS_1