Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
69. Kisah di Ujung Tanduk


__ADS_3

Meysa, seharian ia berusaha menahan diri untuk tidak kesal pada Kai yang tak memberi kabar apapun sejak pagi setelah mengirim sebuah chat yang mengatakan jika Ia akan pergi mengurus hal penting.


Ia baru saja pulang dari penjahit untuk mengambil dress yang akan digunakan di hari pernikahan Rena dan Erza tiga hari lagi itu terlihat tengah menahan emosi untuk yang kesekian kalinya. Hari sudah malam, tapi tak ada satupun notifikasi yang menunjukkan Kai menghubunginya, bahkan setelah panggilannya dua menit lalu juga tak di jawab oleh Kai . Namun, hatinya begitu hancur ketika melihat story WhatsApp yang baru saja Satria unggah.


Dimana, Satria, Kai dan Ojik terlihat tengah berada di sebuah pesta. Dilihat dari dekorasinya, Meysa bisa tahu jika itu adalah pesta ulang tahun. Tapi hatinya langsung terusik perih ketika memerhatikan salah satu orang yang ada dalam foto dan video tersebut adalah anak gadis dari seseorang yang secara langsung pernah menawarkan Kai untuk menjadi menantunya.


Sekali lagi Meysa memerhatikan dengan seksama, Ia mempause video tersebut kemudian mengamatinya. Dan, Ya! Memang benar dia adalah Isita, gadis yang pernah hampir dijodohkan dengan Kai itu tengah berdiri begitu dekat dengan Kai.


Air mata Meysa jatuh begitu saja. Tadinya Ia berusaha memaklumi tindakan Kai yang tak memberi kabar apapun. Namun, melihat lelaki itu bisa punya waktu bersama orang yang pernah membuatnya cemburu mampu menyurut luka dalam hatinya.


Seketika Ia merasa tak diprioritaskan. Kai tak ada waktu meski hanya barang sejenak untuk memberinya kabar. Sedangkan disana ia terlihat tengah bersenang-senang, menikmati pesta dengan tenang tanpa memikirkan bagaimana perasaannya yang begitu mengharapkan kabar.


“Untuk yang kesekian kalinya kamu bikin aku kecewa!" Air mata Meysa mengalir dengan deras. Rasa sesak yang menguar di dada sungguh tak bisa ia bendung. Ini terlalu menyakitkan dari apapun.


Disaat ia selalu membutuhkan kabar sebagai pelipur rindu antara jarak yang membentang, tapi apa yang Kai lakukan benar-benar membuatnya terluka. Maklum seperti apa lagi yang tak Ia berikan, kejadian ini sudah sering kali terulang. Meysa merasa sakit karena Kai seperti tak menghiraukan. Bahkan di saat ia begitu mengharap kabar, laki-laki itu malah seperti ini. Pergi ke pesta tanpa bisa mengabarinya? Tidak, kali ini Meysa tak bisa lagi menolerir semua. Hatinya sudah terlanjur sakit.


“Aku disini nunggu kabar, selalu berharap dikabari karena aku khawatir tapi lihat apa yang kamu lakukan. Kamu bisa mengabaikanku tanpa rasa bersalah dan malah sedang senang-senang dengan perempuan lain!"


“Kamu punya waktu untuk pesta, sedangkan untuk meluangkan waktu untuk mengirim pesan ke aku aja gak bisa."


Kali ini rasa sakit yang Meysa rasakan membuat hatinya mati rasa. Dulu, jika berada di situasi seperti ini sudah pasti ia akan langsung menelpon Kai, bahkan ia akan mengirimkan rentetan pesan berisi protes kekesalan. Namun, kali ini ia nampak pasrah. Meysa tak lagi melakukan hal yang sama.


Rasa kecewa dan sakit yang diakibatkan oleh kesalahan yang berulang kali Kai lakukan membuat dirinya sampai pada titik pasrah. Meysa seperti kehilangan energi untuk melayangkan protes. Ia hanya bisa tersenyum didera air mata yang terus menetes.


“Terserah kamu mau bagaimana, Aku capek!" Jemari lentik itu mengusap air mata dari pipi dengan begitu kasar.


Meysa memilih me-nonaktifkan ponselnya kemudian beranjak mematikan lampu kamar. Dengan kasar Meysa menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Ia menumpahkan tangisan di bawah bantal yang menutupi wajahnya.


................


“Gak mau ikut nongkrong dulu?" tanya Satria ketika mereka baru keluar dari rumah Pak Rajas.

__ADS_1


Walau acara belum juga selesai dan Pak Rajas masih memberikan waktu bagi para tamu dan mempersilahkan acara bebas untuk para pemuda menikmati acara. Tapi, ketiga pemuda itu lebih memilih untuk segera pulang.


"Gak, Aku mau istirahat. Capek!" sahut Kai begitu melihat jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirinya.


Satria dan Ojik sama sekali tak protes. Mereka tahu Kai pasti lelah. Bahkan sepulang kerja Ia langsung ikut ke acara ulang tahun ini.


“Yaudah kita pisah disini, Aku juga mau langsung balik!" Ojik naik ke atas motor. Menatap kedua sahabatnya yang masih berdiri di sisi motor masing-masing sambil mengecek ponsel.


“Yah, sisa lima persen!" seloroh Kai saat melihat presentasi batrei ponselnya. Ia kemudian me-nonaktifkan ponsel tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celana.


Tangan kai meraih helm yang ada di motor. Saat hendak memakainya, Ia menoleh pada Satria yang masih sibuk pada ponselnya.


“Video yang tadi?" tanya Kai sambil sedikit mencondongkan tubuh ke arah Satria. Ingin tahu apa yang Satria lihat.


“Iya, ini udah kujadiin story," sahutnya tanpa menoleh pada Kai.


Namun, ucapannya itu membuat Kai yang baru hendak memakai helem langsung berhenti, Ia kembali menoleh pada Satria dengan wajah stengah panik.


“Yang ada Isita juga?" tanya Kai yang tak bisa menyembunyikan kepanikannya.


Kai berdecak pelan, tangannya tergerak mengusap wajah secara kasar. “Ntar Meysa lihat. Aku gak ada ngabarin dia dari pagi!" desahnya khawatir. Takut jika Meysa melihat video ia sedang berada di party, sedangkan Ia sama sekali tak memberi kabar apapun sejak pagi. Sudah dipastikan perang dunia akan terjadi lagi jika Meysa sampai melihat dirinya bisa punya waktu untuk party tapi tak bisa memberikan kabar apapun padanya.


Satria menatap Ojik dengan sedikit melotot, yang mana Ojik langsung mencebikkan bibir. Seolah tengah mengejek Satria yang sebentar lagi akan menjadi sumber masalah untuk Kai.


“Mampus!" begitu isi tatapan yang Ojik berikan. Bibirnya masih mencebik sambil menggelengkan kepala.


Satria kesal pada Ojik yang malah mengejeknya. Ia kemudian beralih menatap Kai. Sahabatnya itu kembali menyalakan ponsel yang katanya sisa lima persen. Sepertinya Kai ingin menghubungi Meysa.


Tentu hal itu kian membuat Satria merasa bersalah, apalagi saat Ia kembali mengecek siapa saja penonton storynya. Ada nama Meysa yang tertera paling bawah, itu artinya gadis itu yang pertama kali menonton storynya. Bahkan satu menit setelah ia mengunggahnya saat di dalam tadi.


Ragu-ragu Satria menoleh pada Kai yang terlihat pusing, sebab ponselnya benar-benar sudah kehabisan daya.

__ADS_1


“Kai..."


Kai menoleh dengan wajah ditekuk. “Hmmm!" Ia bahkan hanya menyahut dengan deheman. Membuat Satria makin prihatin. Namun saat menoleh pada Ojik, si kamvret itu masih saja memberikan tatapan mengejek. Membuat Satria balik mencebik kesal.


“Meysa udah lihat!"


Namun, Kai sama sekali tak breaksi apa-apa. Lelaki itu terlihat mengenakan helmnya dengan benar kemudian naik ke atas motor sambil menghela napas panjang.


“Pastinya sih gitu!" sahut Kai sambil menyalakan mesin motor. Pikirannya dipenuhi dengan pertengkaran seperti apa lagi yang akan menyambutnya saat sampai di rumah nanti.


“Aku duluan!" seru Kai sambil menoleh pada kedua sahabatnya dengan wajah datar. Kemudian melajukan motor keluar dari halaman rumah Pak Rajas.


Meninggalkan Ojik dan Satria yang masih sama-sama saling tatap. Dengan posisi Ojik yang sudah berada di atas motor sejak tadi, sedangkan Satria sama sekali belum mengenakan helm ataupun naik ke atas motor. Pemuda itu masih berdiri sambil memegangi ponsel dengan wajah cemas. Merasa bersalah karena akan menjadi sumber pertengkaran bagi Kai. Padahal ia tahu dulu Kai pernah bercerita jika Meysa sangat kesal dan cemburu pada Isita karena masalah perjodohan itu. Ditambah malam ini ia malah mengunggah video kebersamaan tersebut. Sudah dipastikan perang dunia ketiga akan benar-benar terjadi.


“Jik, gimana ini?" keluh Satria pada Ojik yang wajahnya tak lagi mencebik dan mengejek seperti tadi. Meski begitu, wajah Ojik tetap saja keliatan menyebalkan.


“Ya gimana, tunggu aja kabar si Kai galau abis diputusin Meysa!"


“Ck, jangan ngomong gitulah! Aku makin gak enak kalau gini!" protes Satria. Bukannya menenangkan, Ojik malah mengatakan hal yang membuatnya khawatir.


Ojik berdecak melihat Satria yang tiba-tiba jadi sangat perhatian pada hubungan Kai dan Meysa. Biasanya Satrialah yang paling sering mengejek Kai jika sedang bucin. Tapi kali ini ia benar-benar terlihat merasa bersalah. Meski sering mengejek, sebenarnya Satria mendukung hubungan LDR sahabatnya itu. Ia dan Ojik sama-sama kagum dengan kesetiaan keduanya yang mampu mempertahankan hubungan selama ini, meski kadang banyak ujian dan rintangan yang menghadang.


"Ck, udah, gak usah dipikirin!" seru Ojik berusaha menenangkan. “Kayak gak tau orang dua itu aja, mereka tuh udah cinta mati kali. Kalaupun bertengkar, paling nanti juga baikan lagi!"


Apa yang Ojik ucapkan ada benarnya juga. Hal itu bisa membuat Satria sedikit lebih tenang.


“Iya juga ya," serunya sambil menggaruk kepala. “Setiap hubungan pasti ada bertengkarnya dikit, tapi pasti nanti baikan lagi, 'kan ya." Satria menoleh pada Ojik.


“Nah itu tau!" seru Ojik dengan wajah sedikit kesal. Lelah berada di atas motor.


“Ck, udah ayo pulang. Udah capek aku kayak begini disini!" keluh Ojik frustasi. Yang mana membuat Satria cengengesan.

__ADS_1


“Haha, ya udah ayok!" Satria lalu buru-buru memakai helem kemudian naik ke atas motor.


Kedua pemuda itupun mulai melaju dan pulang ke kost masing-masing.


__ADS_2