Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
15


__ADS_3

Perlahan Meysa membalikkan tubuh menatap karyawan laki-laki bernama Ical itu. “Saya izin pulang dulu kak, kayaknya tidak enak badan ini!" Lapor Meysa pada laki-laki itu.


“Kau sakit?" laki-laki bernama ical itu balik bertanya dengan raut wajah panik.


Sementara Kai yang mendengar itu, pun tak kalah paniknya, tapi tubuhnya seakan terpaku di depan pintu, sama sekali tak beranjak dari sana.


Meysa mengangguk kemudian melangkah ke meja kasir dan mengambil tas yang ia simpan di bilik meja.


“Minta tolong izinkan di kak Pida ya kak!"


Ical mengangguk sambil memerhatikan Meysa yang melangkah keluar sambil menunduk melewati sosok Kai.


“Pulang denganku saja, Mey!" Kai ikut menoleh mengikuti langkah Meysa yang lewat di sampingnya.


“Mey!" teriaknya pada Meysa yang sama sekali tak menoleh. Membuat rasa sesak seketika memenuhi rongga dada. Kenapa rasanya sesakit ini diabaikan oleh orang yang sangat ingin ia tuju.


Tak ingin terus berdiam diri, Kai kemudian berlari mendekati Meysa yang sudah naik di atas motor yang sama dengan milik Rena, hanya beda warna saja. Gadis itu mulai memakai helmnya.


“Bareng aku saja ya! Katanya kamu nggak enak badan, kan?”


“Aku bisa sendiri!"


“Aku tahu kamu marah dan kecewa sama aku, tapi tolong jangan abaikan kesahatanmu, ini bahaya!"

__ADS_1


“Aku gak apa kok, bisa sendiri!" ucap Meysa, ia masih tak ingin menoleh pada Kai.


“Tapi aku menghawatirkanmu, bul!" Suara Kai mulai agak meninggi, ia benar-benar bingung harus membujuk bulannya itu dengan cara seperti apa lagi.


“Apa perdulimu?" pungkas Meysa, membuat Kai bungkam. Gadis itu lalu mulai melajukan motor dengan air mata yang perlahan menetes dari balik helm.


Kai mengusap wajahnya, jawaban Meysa benar-benar menyayat hati tapi berulang kali ia berusaha menenangkan diri dan sadar jika sikap Meysa ini disebabkan oleh kelakuannya sendiri. Tak ingin terjadi sesuatu pada sang Bulan, apalagi katanya ia sedang tidak enak badan, Kai pun memutuskan untuk segera menyusul Meysa. Namun, baru mau memasang kunci, ia sudah diteriaki oleh penjual es kelapa muda di seberang sana.


“Dek, pesanannya sudah jadi!"


Kai menghembuskan napas kasar setelah menoleh. Hampir saja ia lupa pada pesanannya. Dengan perasaan tak karuan ia turun dari motor lalu kembali menyebrang jalan.


“Berapa?"


Kai mengangguk mendengar penjelasan pedagang tersebut, setelah memberikan uang 25 ribu pas. Kai kembali ke halaman toko, ia tak lagi berselera untuk minum es kelapa. Tadinya ia hanya ikut-ikutan beli hanya untuk mengambil hati Bulan, tapi Bulan itu lebih memilih menghindarinya yang ternyata sudah memesan es kelapa yang cukup banyak. Sepertinya titipan dari teman kerjanya. Membuat Kai harus kembali masuk ke toko untuk memberikan es kelapa itu pada orang yang sudah memesan.


“Eh, mana sudah Meysa ini? Kita batitip es kelapa tapi te kembali-kembali stau!" ucap salah seorang perempuan bernama Wilda.


“Iyo, mana sudah dia?" sahut Pida yang tengah menggunting sebuah abjad yang akan disusun pada karangan bunga.


“Astaga, saya lupa bakasih tau stau, barusan Meysa izin pulang katanya tidak enak badan!"


Mendengar itu semua nampak kaget dan mempertanyakan Meysa sakit apa, pasalnya dari awal tadi Meysa terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


“Permisi!"


Suara dari laki-laki yang muncul sambil menenteng kresek berisi lima cup es kelapa membuat semua yang ada disana menoleh heran.


“Ini es kelapa yang dibeli Meysa tadi." Setelah mengatakan itu, tiga orang yang merasa pemilik pesanan langsung mengambil miliknya masing-masing.


“Ambil semuanya saja kak!"


Dua orang lainnya langsung berebutan mengambil dua cup yang masih Kai pegang. Semuanya pun mengucapkan terimakasih pada sosok asing yang membawakn es kelapa itu. Bahkan setelah Kai keluar, mereka mulai bertanya-tanya tentang siapa orang asing yang berbaik hati menggantikan tugas Meysa itu.


“Yang barusan itu siapa?"


“Aak baru yang bantu pak Samad bajual es?" Tanya mereka menerka-nerka karena kemarin memang tak ada yang melihat kedatangan Kai, hanya Rena, Erza dan Meysa saja.


Ical yang tadi sempat melihat Kai dengan Meysa pun berusah menjawab sesuai apa yang dilihatnya “Sepertinya temannya meysa, tadi saya lihat mereka bicara di depan!"


“Orang mana?"


“Asing stay de pe muka.”


“Eh, mana sya tau!" sahut ical.


“Yang pastinya bukan orang sini dant, bicaranya te ada logat sini!" Sahut Pida, membuat obrolan tentang Kai pun berakhir sampai disana.

__ADS_1


Kai sendiri setelah memberikan semua es kelapa ia langsung keluar dan memasang helm ketika sudah berada di parkiran. Lelaki itu langsung melajukan motor ke arah rumah Faza untuk menemui Meysa.


__ADS_2