Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
41


__ADS_3

Bumi berputar lebih cepat, malam telah berganti pagi. Cuaca di hari Minggu nampak cerah. Banyak orang memilih untuk pergi jalan-jalan bersama keluarga. Begitu pula dengan Faza, hari ini ia memboyong keluarga kecilnya bermain ke taman air bersama ipar dan mama mertua. Rena diajak tapi gadis itu tidak mau.


“Ayo ikut, Ren. Daripada sendiri di rumah, Meysa sama Kai juga mau pergi."


“Ndak ah, malas kemana-mana." Begitu Rena menolak ajakan Faza dan Eka. Dimana kini hanya tinggal mereka bertiga di rumah. Rena tengah menyaksikan Meysa dan Kai yang akan berangkat jalan-jalan


“Ndak mau ikut kau, Ren?" tanya Meysa, ia memakai helm dan bersiap naik ke motor.


Rena menggeleng. “Mau rebahan full hari ini." Gadis berdaster itu nampak bersemangat untuk rebahan. Ia terlalu lelah dan malas kemana-mana. Padahal ia mendapat banyak ajakan jalan dari teman-teman kuliahnya dulu.


“Ya sudah, pergi dulu ya!" seru Meysa. Rena hanya melambaikan tangan mengantar kepergian sejoli tersebut.


Kai melajukan motor keluar halaman, melaju di jalan kompleks yang asri. Melewati kumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di penjual sayur keliling, menatap Meysa dengan Kai dengan wajah julid. Seakan dapat ide baru untuk bahan gibah nantinya.


“Kita mau kemana dulu, bee?" tanya Kai saat motor sudah keluar dari area kompleks.


Meysa nampak berpikir. Ia tak canggung lagi, meletakkan dagu di bahu Kai.


“Bee!" panggil Kai ketika Meysa malah diam. Gadis itu bengong di bahu Kai.


Meysa menghela napas, berat rasanya merelakan Kai harus kembali secepat itu! Rasanya baru dua hari yang lalu ia baikan, kini Kai sudah harus pulang. Meysa tak sanggup jika harus LDR, sangat menyiksa.


“Aku gak tahu mau kemana, yang jelasnya aku mau selalu sama kamu terus! Gak mau jauh-jauh." Air mata Meysa malah menetes. Sungguh hatinya sangat sedih.


Kai yang menyadari itu, memelankan laju motor. Tidak tega melihat orang tersayang menangis. Tangan Kai terulur menarik tangan Meysa, dielusnya penuh kelembutan lalu di lingkarkan di perutnya. Kai tak memperdulikan hal lain. Ia pun sama seperti Meysa, berat harus berpisah.

__ADS_1


“Jangan sedih gitu bee!"


Melihat Meysa yang malah menelungkupkan wajah di bahunya, membuat Kai merasa cemas. Ia lalu memilih tempat untuk berhenti, Ia ingin menenangkan Meysa.


Kai menepikan motor di bawah sebuah pohon yang cukup rindang di tepi jalan.


“Hey, jangan nangis gitu lah, bee!" seru Kai, tangannya mengusap air mata Meysa.


Namun, gadis itu masih menangis. Meysa seakan tak perduli dengan kendaraan dan orang yang berlalu lalang. Rasa sedih hendak ditinggal Kai lebih dari apapun. Ia tak sanggup. Banyak hal yang membuatnya over thinkking, takut kejadian yang sama terulang. Meysa tak bisa membayangkan itu.


“Semua akan baik-baik aja kok, bee." Kai masih berusaha menenangkan. Ia berdiri menghadap Meysa yang masih duduk di motor.


“Do'ain aku sehat selalu, banyak rezeki biar bisa cari duit buat kita nikah. Kalau ada kesempatan aku akan berusaha buat nengokin kamu kesini!"


“Bee, jangan nangis! Please!" Kai menangkupkan tangan, memohon dengan sangat.


“Udah ya, bee! Gak enak dilihat orang, ntar aku dikiranya apa-apain kamu."


Mendengar itu berhasil membuat tangisan Meysa agak reda. Kai mengusap sisa air mata Meysa dengan tangannya.


“Jangan sedih-sedih dong, bee! Aku maunya hari ini bahagia sama kamu!" pinta Kai dengan wajah memelas penuh harap.


Meysa terus menatap Kai dengan mata berkaca-kaca. Tatapan laki-laki yang begitu istimewa di hatinya itu begitu sangat dalam. Cinta Kai pada Meysa sedalam laut, tak bisa diukur. Lalu bagaimana dia bisa tenang melihatnya bersedih.


Walau banyak yang mengira Kai adalah sosok yang cuek dan tak peka tapi sejujurnya dia begitu penuh dengan perhatian apalagi dengan orang yang dicintai.

__ADS_1


“Kalau nangis gini ntar mukamu gak estetik, nanti gak bisa foto-foto kita, bee!" ujar Kai, berusaha menghibur Meysa.


Ucapan itu membuat Meysa menahan senyum.


“Aku takut jauhan!" serunya mengadukan kegundahan hati yang membuat resah.


“Aku takut kamu seperti dulu! Menghilang, dan aku takut disana kamu akan tertarik dengan wanita lain!"


Kai menggeleng mendengar ucapan Meysa, ia menggenggam jemari itu dan diusap lembut.


“Aku gak mungkin ngelakuin itu bee! Aku sayang samamu!"


“Kejadian itu gak akan terulang lagi, sayang! Percaya sama aku!"


“Aku kembali buat kita juga kan, bee?" Kai menatap dalam mata Meysa, meminta persetujuan atas ucapannya barusan.


“Maafin aku karena harus bikin kamu nunggu, aku janji setelah itu aku akan datang buat nikahinmu, bee!" ucap Kai meyakinkan.


Meysa masih saja diam, menatap Kai yang begitu tenang.


“Seandainya semua udah siap sekarang, kamu tahu sendirikan udah pasti aku akan nikahinmu sekarang juga! Tapi keadaannya gak semudah itu!"


Mendengar ucapan panjang lebar dari Kai berhasil membuat hatinya tenang. Ia percaya jika Kai memang sebegitu sungguh-sungguhnya berjuang untuk hubungan mereka.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2