
Meysa memacu motornya tanpa arah, sepanjang jalan kepalanya hanya dipenuhi dengan keputusan menentukan pilihan. Ia ingin menenangkan diri agar bisa berpikir jernih.
Lama Meysa melajukan motor, berputar-putar mencari tempat yang menurutnya nyaman untuk menenangkan pikiran. Ia sudah melalui semua tempat yang sering dikunjungi, tapi tak ada yang pas menururutnya. Hingga pada akhirnya Meysa pergi ke daerah perbukitan yang indah.
Ia memarkirkan motor lalu berjalan menuju otlet karcis. Setelah membayar 10 ribu, Meysa pun masuk. Ia langsung merasa tenang dan nyaman ketika menginjakkan kaki di taman wisata yang ada di perbukitan. Pemandangan yang indah dan asri sangat menyejukkan mata, selain bisa menikmati keindahan kota Palu dengan perbukitan dan pesona pantai, di sana juga ada sebuah tugu perdamaian dan beragam spot foto dan fasilitas lainnya. Meysa merasa beruntung datang saat pengunjung tak begitu ramai. Sehingga ia bisa menemukan ketenangan disana.
Setelah membeli minuman dan cemilan, Meysa memilih naik ke sebuah bangunan yang atapnya hampir menyerupai kuil. Bangunan itu menaungi sebuah gong besar. Gong perdamaian, di dalamnya terdapat beragam simbol agama dan simbol wilayah yang ada di Indonesia, juga bendera-bendera negara di dunia. Semua terukir dalam gong perdamaian tersebut.
Meysa memilih duduk di ujung kanan, menghadap ke hamparan bukit dan pemandangan kota yang juga menyuguhkan keindahan laut di ujung sana.
Tak banyak yang Meysa ingin lakukan, ia hanya ingin berdiam diri disana. Tak apa terlihat seperti orang bodoh asal mendapat ketenangan. Datang sendiri tanpa ditemani seorang pun membuat Meysa benar-benar menikmati kesendirian untuk memikirkan pilihannya. Tak lupa Meysa beranjak menuju musholla untuk melaksanakan shalat setiap azan berkumandang.
Kini waktu sudah menunjukkan sore hari. Merasa sudah menemukan jawaban dari semedinya hari ini. Meysa lalu meraih ponselnya yang dari tadi di seyapkan. Ia lalu mengirim pesan pada Rena.
Meysa : Ren, minta tolong ajak Kai kesini. Aku mau bicara.
Begitu isi pesan yang Meysa kirim pada Rena. Ia terlihat sudah sangat siap untuk memberikan jawaban pada Kai.
Tak butuh waktu lama, Rena yang memang tak banyak melakukan aktivitas setelah Meysa tinggalkan, segera membalas pesan dari Meysa.
Rena yang tengah baring setelah mempersiapkan makan malam, menyerngit membaca sekilas pesan Meysa dari bilah notifikasi.
“Mau diajak kemana dulu ini? Alamatnya saja tidak dikasih tahu." Rena mendengus membaca isi pesan dari Meysa yang sangat tidak jelas dan akurat.
Dengan kesal Rena mulai mengetikkan balasan, lalu dikirim ke Meysa.
Ting..
Meysa yang tengah memerhatikan sepasang kekasih saling bergantian untuk berfototepat di sebelah gong perdamaian pun hanya tersenyum haru. Membayangkan Ia juga melakukan hal yang sama dengan pasangannya membuat senyum Meysa tersenyum lebar, itu pasti menyenangkan!
Tapi hayalannya buyar saat membaca pesan dari Rena.
^^^Rena : Bilang yang jelas! Masa iya Kai kuajak keliling tidak jelas, kita dua tidak tahu alamatmu, zeyeng!^^^
Meysa : Di tugu perdamaian, samping gong. Cepat! Awas lama!
Meysa memperingatkan, ia memasukkan hp ke dalam saku hoodie. Suasana disana memang semakin ramai setiap sore hari. Menyaksikan matahari terbenam dari atas bukit memang sangat menakjubkan.
Sementara Rena, setelah bersiap ia langsung keluar rumah. Mengunci dan meletakkannya di bawah pot bunga Kamboja yang ada di seblah kiri teras. Rena lalu menghampiri Kai.
Sejak pagi Rena sama sekali tak pernah melihat Kai keluar. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar, laki-laki itu sangat betah berdiam diri.
__ADS_1
Rena yang penasaran pun segera mengetuk pintu, selain itu ia harus secepatnya mengajak Kai ke tempat yang Meysa bilang.
Tok, tok tok.
“Kai, Kamu sedang apa? Kenapa tidak keluar-keluar? Kau baik-baik saja, kan?"
Rena memberikan pertanyaan beruntun. Takut kalau sampai Kai malah melakukan hal lain karena ... Ah, Rena menggeleng setelah mengetuk keningnya sendiri. Ia mengutuki diri yang suka berpikiran tidak-tidak.
Tok, tok, tok.
“Kai!?"
”Iya, tunggu sebentar!"
Setelah diketuk sekali lagi, Rena langsung lega saat mendengar Kai menyahut. Itu artinya Kai masih aman. Tidak bertindak bodoh. Hmmm, dasar Rena, entah apa yang dipikirkannya! Hanya Ia dan Tuhan yang tahu.
Kai yang sedari kembali ke kamar lebih memilih menyelesaikan deadline desain proyek JPO yang akan dikerjakan bulan depan pun harus menghentikan kesibukannya saat mendengar ketukan dan suara Rena dari luar.
Kai yang tengah duduk selonjoran di depan kamar, menurunkan laptop dari pangkuannya. Ia lalu melangkah ke arah pintu.
Dalam cuti sekalipun, Kai sama sekali tak bisa bersantai-santai. Ada banyak deadline proyek yang harus diselesaikan. Ia masih tetap bekerja dalam masa cutinya ini. Padahal kepala Kai seperti ingin pecah memikirkan masalah dengan Meysa yang belum selesai tapi ia juga tak bisa lari dari tanggung jawab. Diberikan izin cuti saja ia sudah sangat bersyukur. Jadi Kai tak ingin menyia-nyiakan waktu.
“Kamu sedang ada tugas?" tanya Rena saat melihat laptop yang terbuka dan di sampingnya ada beberapa kertas, buku, juga pensil dan pulpen.
Kai menoleh ke dalam, ia tersenyum dan kembali menatap Rena sambil mengangguk.
“Deadline kerjaan saya numpuk." Kai tersenyum sambil menghela napas.
Rasanya sangat berat, belum lagi rasa was-was yang memikirkan soal jawaban Meysa nantinya membuat Kai sulit untuk fokus, sedangkan ia harus tetap memutar otak secara maksimal demi kerjaan dan tanggung jawab.
Meski Rena masih agak kesal pada Kai, tapi Ia selalu saja dibuat prihatin sekaligus salut pada apapun yang Kai lakukan. Bagi Rena, Kai adalah sosok yang bertanggung jawab dan berani.
“Berarti saya menganggu ya?"
Kai menggeleng. ”Nggak kok!" Katanya dengan masih berusaha tersenyum.
“Sebenarnya ini juga penting.”
“Emmnt, tentang apa memangnya?" tanya Kai yang juga mulai ikut penasaran.
“Meysa mau bicara!"
__ADS_1
Deg...
Bukannya senang, Kai justru merasa takut. Ia takut kalau seandainya ditolak. Jika saja Ia punya banyak waktu, jelas Kai lebih ingin Meysa berpikir secara matang, tak perlu ambil keputusan secepat ini. Sungguh Kai belum siap mendengar jawaban penolakan yang akan dikatakan Meysa nanti.
“Ayo!" Rena menepuk tangan Kai yang bertumpu di puntu. Lelaki itu malah melamun.
“Kai!"
Panggil Rena, membuat Kai tersentak. Pria itu sedikit terkejut. Lalu mengusap wajahnya yang masih terlihat banyak pikiran.
“Eh, sorry ya!"
“Hmmmnt, jadi atau tidak?" sergah Rena memastikan.
“Jadi, tunggu sebentar. Saya bereskan laptop dan peralatan dulu."
Rena mengangguk mengiyakan. Setelah itu Kai mulai bersiap. Laki-laki itu keluar menggunakan celana panjang dan mengenakan hoodie berwarna hijau.
Keduanya lalu pergi ke tugu perdamaian. Kai membonceng Rena yang menjadi pengarah jalan untuk mereka.
Setibanya di tugu perdamaian, langit sudah agak gelap. Rena mengajak Kai membeli karcis.
“Pakai uang saya saja!" Kai menawarkan diri. Merasa merepotkan saat melihat Rena mengeluarkan uang 20 ribu untuk membayar dua karcis.
“Ndak usah, gantinya nanti saja!" ucap Rena perhitungan. Ini bukan waktu yang tepat untuk menagih, tapi nanti ia akan tetap tagih. Sama seperti Meysa, Rena juga tak kalah perhitungan. Tapi parahnya Rena menunjukkan sisi luar biasanya di hadapan Kai, tanpa pandang bulu.
Kai yang sedikit bengong mulai mengikuti langkah Rena.
Ketika naik di bangunan beratapkan kuil, Kai melihat sosok Meysa tengah duduk sendiri, Hatinya selalu saja bergetar setiap kali bisa melihat Meysa. Masih tak menyangka jika dirinya bisa menemui sang Bulan dan menatapnya dari jarak yang begitu dekat, sangat nyata!
“Mey!" teriak Rena.
Meysa yang masih mengamati pemandangan indah, menoleh pada sumber suara. Dengan wajah datar ia melangkah menghampiri Kai dan Rena.
Mata Meysa saling tatap dengan Kai yang masih terdiam. Memancarkan aura kecanggungan.
Masih dengan pandangan tak beralih dari Kai, Meysa mulai meminta Rena untuk memberinya waktu untuk bicara berdua.
“Ren, bisa tinggalkan kami berdua dulu?"
Rena yang mengerti langsung pergi mencari tempat mengamankan diri.
__ADS_1