
“Yang tadi itu siapanya Meysa, Ren?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Erza membuat Rena yang tengah menikmati pemandangan sekitar jalan sempat melongo sesaat untuk mencerna ucapan Erza. Sebenarnya ia dengar, hanya saja sedikit samar-samar. Untuk memastikan Rena agak memajukan kepala ke samping bahu Erza.
“Apa Za? Kamu ngomong apa?"
“Yang tadi itu siapanya Meysa?" Erza sedikit menoleh untuk mengulang pertanyaan.
Rena terdiam, bingung harus jawab apa. Jika berkata jujur, jelas itu bisa menyakiti perasaan Erza. Namun, kalaupun harus berbohong Rena juga bingung harus mengatakan apa, apalagi kemarin ia sempat keceplosan soal siapa Kai.
“Temannya, Za. Temannya Meysa pas ikut OSN dulu." Dengan terpaksa Rena membuat alasan seperti itu. Kebetulan saat SMA dulu Meysa memang sempat ikut Olimpiade Sains Nasional walau hanya sampai tingkat provinsi. Namun kebetulan kali ini sangat membantu, kota asal Kai merupakan kota tempat di selenggarakannya olimpiade tingkat nasional pada saat Meysa ikut waktu itu. Meski Meysa tak lolos sampai kesana dan gugur saat di tingkat provinsi, setidaknya alasan itu bisa ia gunakan untuk menjawab pertanyaan Erza. Toh Erza tidak tahu semua hal tentang Meysa, apalagi saat SMA dulu, kan mereka beda kota. Begitu Rena membatin.
“Jadi Meysa pernah ikut olimpiade waktu SMA?" Benar saja, pernyataan Rena tadi membuat Erza lebih tertarik membahas tentang Meysa. Terbukti dengan wajah yang tadi kusut kini seketika tersenyum bangga mendengar info yang baru ia ketahui.
__ADS_1
“Ee, i-iya Za, jadi dulu Rena ikut OSN di kota si Kai ini, jadi mereka bisa kenal!" ucap Rena ragu-ragu memastikan karangannya.
“Hebat juga Meysa ya Ren.” Pemuda itu masih saja menampakkan senyum bangga mengetahui fakta tersembunyi dari orang yang ia sukai. Dalam hati Erza benar-benar menyayangkan kenapa Meysa tak melanjutkan pendidikannya, padahal dia termasuk siswa berprestasi saat SMA. Pikir Erza, dan di belakang Rena hanya mengangguk seperti burung kutilang.
“Berarti cowok tadi seangkatan dengan kalian ya?"
“Eh, Za stop-stop, sudah sampai!" teriak Rena sambil menepuk punggung Erza. Membuat pertanyaan pemuda itu menguap begitu saja. Dalam hati Rena bersyukur sudah sampai di sekolah, jadi ia tak perlu pusing-pusing memikirkan jawaban untuk pertanyaan Erza.
“Makasih ya Erza ganteng." Puji Rena begitu turun dari motor. Ia melakukan itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Sementara itu di toko. Meysa terlihat seperti orang bodoh, ia sama sekali tak melakukan aktivitas apapun sejak kedatangannya disana. Gadis itu lebih memilih duduk termenung di meja kasir sambil menelungkupkan kepala.
Sebenarnya Meysa benar-benar lelah dengan hidupnya yang membosankan. Disaat semua makhluk hidup seusianya tengah sibuk menempuh pendidikan dan memikirkan pekerjaan, ia malah terus-terusan larut dalam patah hati berkepanjangan sejak setahun lalu. Cinta ini benar-benar menyiksanya, menyita waktu, tenaga dan seluruh perasaan. Perpisahan Ayah dan Ibu memang merupakan hal yang paling menyakitkan baginya, mematahkan semangat dan membuat hidupnya jadi kacau, tapi patah hati yang disebabkan oleh Bintang juga tak kalah menyiksa batinnya. Ia ingin berhenti tapi tak bisa.
__ADS_1
“Masalah hidupku sudah banyak, ditambah masalah berperang dengan perasaan untuk melupakanmu itu benar-benar sulit dan sekarang kamu muncul lagi. Bagaimana rasaku bisa mati kalau seperti ini?" Seloroh Meysa sambil mengacak-acak kepalanya, membuat hijab segitiga itu terlepas dari sana.
Meysa menghela napas dan kembali menunduk, ia tak berniat memasang hijab itu kembali ke kepala. Ia lebih memilih kembali menelungkupkan kepala dan merenung, berharap bisa membunuh waktu, meski ia tahu semua itu hanya sia-sia dan sama sekali tak membuat beban pikirannya lenyap.
Nada dering telepon membuat ia harus mengangkat kepala. Nama Mamak tertera disana. Membuat ingatan Meysa tertuju pada obrolan dengan Faza dua malam yang lalu, ia diminta menghubungi sang ibu tapi Meysa sama sekali tak melakukannya. Hal itu membuat ia dengan terpaksa harus mengangkat telepon dari wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Assalamualikum, halo!" Suasana hati Meysa sama sekali tak pernah baik setiap kali berteleponan dengan mamak, yang memenuhi hatinya hanya rasa kesesalan mengingat bagaimana ibunya berulang kali meminta pisah pada sang Ayah hingga Ayahnya pun mengabulkan permintaan itu.
Hubungan harmonis dikeluarganya memang tak lagi didapatkan semenjak usaha orang tuanya bangkrut dan semua kebun di kampung harus terjual untuk menutupi utang. Meysa merindukan kehidupan dulu.
Rasa kesal terhadap Mamak semakin bertambah ketika mamak menikah lagi tanpa sepengetahuannya disaat wanita yang telah melahirkannya itu terlebih dahulu menyetujui permintaannya untuk rujuk dengan Bapak tapi malah mengecewakannya dengan menikah tanpa memberitahuny. Dari saat itu ia benar-benar enggan untuk menghubungi mamak.
“Kenapa tidak pernah angkat telepon mamak, Meysa?"
__ADS_1
“Nada dering hpku ndak aktif, mak," jawab Meysa berkilah.
“Kan bisa diaktifkan Mey?" Mamak terdengar menghela napas dari telepon. Ibunya itu jelas tahu jika anaknya memang enggan berbicara dengannya.