Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
73. Tak Lagi Sama


__ADS_3

Sementara itu di belahan bumi yang lain. Matahari perlahan mulai tergelincir dengan senja yang telah berganti gelap. Dengan langkah lesu seorang laki-laki melangkah ke dalam kafe setelah memarkirkan motor.


Pria berjaket denim dengan dipadukan kaos putih itu pergi menuju are billiard yang ada di bagian belakang kafe.


Dia adalah Kai, sejak semalam setelah Meysa memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Kai merasa seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Ia merasa hampa dan kosong. Rasa tak bersemangat membuat ia menghabiskan hari minggunya dengan mengurung diri di kamar.


Ia yang tadinya tak ingin datang memenuhi ajakan kawan-kawannya berubah pikiran dan langsung berangkat. Kai pikir dengan cara ini Ia akan sedikit bisa mengalihkan pikirannya dari masalah yang ada.


Cahaya temaram dari lampu led yang ada di ruangan itu menyambut kedatangan Kai. Suara musik terdengar mengalun di seantero ruang, manik pria tampan itu menelisik setiap penghuni meja, mencari keberadaan teman-temannya.


Ia langsung tersenyum ketika melihat Satria, Valdi, Ojik dan beberapa teman yang lain tengah bermain billiard di meja paling ujung. Kai lantas bergegas kesana.


Telinganya langsung disambut dengan obrolan teman-temannya yang entah sedang membahas hal apa.


Kai tersenyum saat semua yang ada menotice keberadaan dirinya yang baru datang dengan memberikan senyum sembari terus fokus bermain.


“Aku tuh respect sama cewek yang ngerti cowoknya sibuk kerja, terus jarang ketemu, dan juga jarang ada waktu bahkan buat ngabarin aja susah tapi doi masih bisa setia. Itu tuh bukan cewek lagi, tapi bidadari. Jarang ada cewek Kayak begitu!" ujar Angga sambil menyodok sebuah bola warna hitam menggunakan tongkat stiknya.


Kai yang lebih memilih berdiri, menyandarkan tubuh di dinding sambil memerhatikan Angga, Satria, Ojik dan Aan yang bermain, sedangkan Valdi dan dua lainnya tengah duduk di sofa kayu sambil menikmati minuman kaleng dan camilan yang tersedia.


Bukannya lupa, Ia malah makin dibuat teringat pada Meysa setelah mendengar ucapan Angga barusan. Rasa bersalah semakin menyeruak, membuat tubuhnya sedikit terpaku. Bagaimana tidak, apa yang Angga ucapkan barusan, semua ada pada Meysa. Gadis itu selalu memperlakukannya persis seperti yang Angga ucapkan.


“Duduk sini, Kai!" panggil Valdi membuyarkan lamunan Kai.


“Iya, bentar," sahutnya dengan mata yang terus memerhatikan permainan keempat temannya.


“Nih, minuman!" suara Valdi dan dua lainnya kini menawarkannya minuman dan camilan. Namun, ia hanya menggeleng. Lebih memilih mendengar pembahasan Angga, Ojik, Satria dan Aan.


“Asli sih, aku pun pengen dapat cewek yang kayak begitu!" sahut Aan menimpali.


“Noh, Si Kai punya yang gitu!" Satria menujuk Kai menggunakan dagu. Membuat ketiga orang yang tengah bermain itu menoleh pada Kai.


“Asli sih kalau cewek si Kai, setianya kelewatan banget. Udah tiga tahun lebih tapi mereka masih langgeng aja!" Ojik menyanjung hubungan Kai dan Meysa yang terbilang awet meski sudah selama ini.


“Mantap Kai, pertahanin!" seloroh Aan sembari mengacungkan jempol. Diantara Mereka semua, belum ada yang menjalin hubungan selama itu.


“Semoga segera bisa ke jenjang yang serius!" tutur Angga menimpali.


Membuat Kai hanya bisa menampakkan senyuman dengan perasaan yang mencelos. Ia dibuat bungkam dengan perkataan mereka.


“Apalah kita yang deket tapi selalu gagal!"


“Gak kayak Kai, jauh tapi komitmennya kuat. Bisa langgeng sampai sekarang!" celetuk Valdi ikut menimpali.


Tangan Kai tergerak memijat pangkal hidung ketika seluruh temannya malah membahas hubungannya yang tak sesempurna yang mereka pikirkan.


“Ck, mempertahankan hubungan tuh emang harus dua belah pihak, kalau satu aja yang bertahan dan usaha ya gimana bisa jadi coba!" celetuk Satria sok bijak. Dari pengalaman pribadi serta diam-diam jadi pengamat hubungan antara Kai dan Meysa ia mempelajari itu semua.


Satria tahu hubungan Kai dan Meysa juga sering mengalami pasang surut, tapi keduanya selalu bisa menangani karena memiliki komitmen yang kuat. Apalagi ia tahu sendiri Kai juga begitu setia dan tak pernah sedikitpun mencoba berpaling meski godaan terus datang silih berganti.


“Sungkem dulu sama suhu!" sahut Aan menimpali sambil menunjuk ke arah Kai.


Tanpa mereka tahu jika hubungan Kai dan Meysa sudah berakhir. Namun Kai tak ingin memberi tahu siapapun soal itu.


Kai hanya menimpali ucapan teman-temannya dengan hati perih yang harus dibalut senyuman agar tetap terlihat baik-baik saja.


“Ngomong-ngomong gimana soal malam pesta ulang tahun itu, Meysa marah gak?" tanya Satria yang baru sempat menanyakan hal itu. Sebab sejak kejadian malam itu Ia dan Kai baru sempat bertemu malam ini.


Kai menarik napas dalam bersiap menjawab pertanyaan dari Satria, “Ya pasti marahlah."

__ADS_1


“Tapi udah aman kok!' pungkas Kai sembari mengedikkan bahu dengan tersenyum simpul.


Satria manggut-manggut mendengar jawaban Kai. Sungguh Ia akan sangat merasa sangat bersalah jika Kai dan Meysa sampai bertengkar gara-gara postingannya. Akhirnya Satria bisa bernapas lega tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.


“Wajar sih kalau Meysa marah." Ojik yang tahu permasalahan pun turut menimpali sambil menyodok bola.


“Iyalah, salah Kai sendiri gak ngasih kabar!" celetuk Satria juga.


Wajah Kai hanya mengkerut masam mendengar teman-temannya turut menyudutkan atas kesalahannya malam itu.


“Kalau cewek masih ributin soal kabar, itu artinya kita masih jadi satu-satunya tapi kalau dia udah gak pernah lagi permasalahin hal kayak gitu. Yakin, seratus persen udah pasti ada yang lain" ujar Anggak ikut menimpali. Seolah dia adalah seorang ahli dan pakar hubungan asmara.


Membuat semua ikut manggut-manggut menyetujui.


Kai sendiri hanya menggaruk kepala, Ia merasa tersudutkan sebab pembahasan kali ini benar-benar menyorot dirinya. Meski begitu lelaki itu tetap berusaha terlihat tenang dan cool.


“Anjir, pengalaman pribadi ya, Angga!" timpal Ojik sambil terkekeh.


“Lah ini beneran! Mantan aku dulu gitu, dia jarang ributin kabar, eh tahu-tahunya emang lagi ada main sama yang lain."


Lagi-lagi semua hanya bisa menggeleng miris mendengar kisah percintaan Angga yang ternyata cukup miris, sebelum akhirnya berhasil menikah sang istri beberapa bulan yang lalu. Pantas saja Ia begitu ahli memberikan kata-kata mutiara, ternyata Angga memang bunya banyak pengalaman soal cinta.


“Jadi, selagi cewek masih ributin hal gituan, hargain deh. Sebelum mereka capek dan berubah!"


Mendengar itu Kai langsung menarik napas dalam, ia yang niatnya mencari ketenangan malah mendapat tamparan double kill seperti ini. Dadanya seperti dihujani sembilu jika mengingat bagaimana Ia dan Meysa selalu bertengkar hanya karena masalah kabar. Ia jadi merasa bersalah sebab sering mengabaikan gadis itu dengan dalih sibuk. Namun, di satu sisi Kai juga dibuat bingung sebab sudah merasa maksimal dalam hal itu. Walau begitu ia tak memungkiri jika pemicu utama retaknya hubungan mereka ada pada dirinya.


Kai yang merasa lelah berdiri pun memilih duduk di samping Valdi. Ia membuka ponselnya, memerhatikan riwayat chat dengan Meysa yang tak ada lagi pesan terbaru seperti biasa.


Kai merasa hampa dan sepi, ia benar-benar merasa seperti ada yang kurang dari hidupnya. Tak ada lagi orang yang marah hanya karena ia tak memberi kabar, bahkan tak ada lagi pesan dan panggilan tak terjawab dari Meysa. Hal itu membuat rasa sesak kian menyeruak di dada. Bahkan Meysa juga tak membuat story apa-apa padahal ia tahu hari ini adalah hari pernikahan Rena dan Erza. Entah Meysa yang memprivat story darinya atau memang gadis itu tak mengunggah apapun. Hal itu membuat Kai begitu merindukan Meysa.


“Sumpah aku rindu kamu, bee!" lirih Kai dalam hati sambil memerhatikan foto Meysa yang masih ada di galerinya.


Beberapa hari berlalu, Meysa yang beberapa hari lalu terpilih menjadi salah satu badan pengawas pemilihan umum tingkat kecamatan tengah berada di rumah Rena. Sepulang dari kantor sekretariat, Ia langsung menuju rumah Rena. Sebab sahabatnya itu akan berangkat ke Palu untuk mengadakan resepsi disana.


“Hati-hati ya kalian, selamat sampai tujuan!"


“Maaf ndak bisa ikut," ujar Meysa sambil bercipika-cipiki dengan Rena. Kesibukan membuat ia tak bisa ikut dan Rena berusaha memaklumi.


“Hmmmnt iya," lirih Rena dengan wajah sedih.


“Kalau begitu kami pergi dulu ya, Meysa."


Setelah Rena dan keluarganya pergi. Meysa tak langsung pulang ke rumah. Gadis itu memacu motor maticnya menuju sebuah toko perhiasan yang tak jauh dari pasar.


“Cari apa, dek?" Seorang wanita dewasa yang menjaga toko emas itu menyapa Meysa dengan ramah.


Meysa membalas sapaan ramah wanita itu dengan senyuman. Meski tak lekas menjawab pertanyaannya, tetapi tangan Meysa tergerak membuka tote bag hitam dengan tulisan 'Never Give Up!' di bagian sisinya ity, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah bening.


Meysa menyodorkan ke atas etalase yang di dalamnya terpajang berbagai macam perhiasan. Mulai dari cincin, gelang, kalung dan anting ada disana.


“Mau tukar tambah atau dijual?" tanya wanita itu sembari membuka tutup kotak transparan, memperlihatkan sebuah cincin dengan permata bunga dan sebuah mutiara kecil bertengger di tengahnya.


“Mau dijual, kak!" ujar Meysa.


Wanita itu mengangguk mengerti dan mengeluarkan neraca digital, serta sebuah buku nota. Wanita itu pun mulai menimbang cincin meysa lalu mulai mengamati kadar dari cincin tersebut.


Setelah berhasil menjual cincin emas pemberian dari Kai. Meysa kemudian melangkah keluar dari toko. Mata gadis itu nampak berkaca-kaca.


Bukannya langsung naik ke atas motor dan langsung pulang, Meysa lebih memilih duduk di bangku panjang yang ada di samping toko. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan memotret nota penjualan cincin yang ia letakkan di paha.

__ADS_1


Meysa lalu mengetikkan sebuah pesan untuk Kai yang nama kontaknya masih seperti biasa, Bintang.


^^^Meysa : Hasil penjualan cincin yang pernah kamu kasih, nanti uangnya aku transfer ya.^^^


^^^Makasih😊🙏🏻.^^^


Begitu isi pesan yang Meysa kirimkan pada Kai.


Tak butuh waktu lama untuk Kai membalas pesan tersebut. Sebab pria yang masih berada di kantor itu, sedang membaca pesan dari salah satu klien. Matanya langsung melotot ketika tatapannya beralih membaca pesan dari Meysa. Kai yang butuh penjelasan dari pesan Meysa kirim pun langsung menelepon gadis itu.


“Halo!" jawab Meysa dengan sorot mata berkaca-kaca begitu mengangkat panggilan dari Kai. Jika bukan di tempat umum, mungkin air matanya sudah tumpah sejak tadi.


“Maksud kamu apa? Kamu jual cincin yang aku kasih?" sergah Kai dari seberang telepon. Nada bicaranya terdengar marah dan kecewa.


“Iya, dan uangnya akan kutransfer sebentar kalau udah sampai rumah. Aku cuma mau lihatin nota penjualan biar kamu gak kira aku korupsi!"


“Kamu apa-apaan sih!?" sentak Kai yang tak bisa membendung emosi dari balik telepon. Ia yang merasa gerah dan penat seharian bekerja makin dibuat gerah begitu membaca pesan dari Meysa.


“Kenapa sih selalu bertindak begitu, pikiranmu itu terlalu jauh!" omel Kai yang benar-benar kesal .


“Ya gak usah marah-marah gitu dong, Aku kan cuma berniat mengembalikan cincin kamu!" ujar Meysa datar. Pandangan gadis itu menatap lurus ke depan, dengan mata yang masih berkaca-kaca dan bibir bergetar ia berusaha bersikap tenang.


Kai menghela napas panjang. Membuat Meysa kian memejamkan mata untuk membendung air matanya agar tidak tumpah disana.


“Ya gimana gak marah, kamu lakuin hal begini!" lirih Kai, lelaki itu terdengar berusaha mengontrol emosi dengan memelankan suara.


“Kamu gak seharusnya begini, itu cincin punya kamu. Hak kamu, kenapa dijual!?" sentak Kai lagi, kesal jika mengingat tindakan Meysa yang barus saja menjual cincin pemberiannya.


“Buat apa disimpan, aku gak pakai juga."


“Lagi puka itu cincin pengikat yang kamu kasih buat aku dan sekarang kita udah gak ada apa-apa. Sudah sewajarnya aku kembalikan!"


Ucapan Meysa benar-benar membuat Kai bungkam. Jika soal memperdebatkan hal seperti ini, Meysa memang jagonya. Ia tidak akan bisa menang.


“Tapi Meysa ... Cincin itu punya kamu, aku gak minta kamu kembaliin meskipun kita udah gak ada apa-apa."


“Aku cuma mau kembaliin biar kamu gak rugi, sayang kalau uang kamu terbuang sia-sia sedangkan kita sama sekali gak jadi."


Kai tak lagi bisa menjawab. Ia juga tak ingin memperkeruh keadaan dan memaksakan kehendak pada Meysa.


“Yaudah terserah kamu, tapi aku minta uangnya gak usah ditransfer. Kamu pakai aja buat belanja kebutuhanmu."


Mendengar Meysa yang tak menyahut, Kai lantas memutar otak cepat dan segera membenarkan ucapannya.


“Yaudah kalau kamu gak mau pakai, kasih buat bapak aja. Bilang dari calon menantunya yang gagal!"


Meysa memutar mata malas mendengar ucapan Kai.


“Nggak, pokoknya aku mau transfer!" seru Meysa tak mau kalah.


“Jangan ya, Meysa cantik! Uangnya buat Meysa aja, please!" Kai terdengar memohon dengan sangat. Membujuk sang mantan agar tak mentransfer hasil penjualan cincin yang sudah dijual Meysa.


“Gak, pokoknya aku mau transfer!"


Demikianlah perdebatan antara dua mantan yang dimenangkan oleh Meysa. Sebab setelah memutus sambungan. Begitu sampai rumah gadis itu langsung mentransfer uang ke rekening Kai melalui aplikasi M-banking yang ada di ponselnya.


Sedangkan Kai yang menerima notifikasi sms banking dari saldo yang masuk ke rekeningnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Ya Allah calon istriku keras kepala sekali! Lemah lembutkanlah dia dan yang terpenting jaga dia dan hatinya untukku, Ya Allah!

__ADS_1


__ADS_2