Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
45


__ADS_3

Saat menjelang maghrib, Faza dan keluarganya baru tiba di rumah. Sebenarnya mereka sudah pulang sejak sebelum ashar, hanya saja mereka mampir di rumah orang tua Eka terlebih dulu, sekalian kumpul keluarga.


Faza turun dari mobil dengan menggendong Ciara, bocah kelas satu SD itu terlihat kelelahan. Tadi dia main air sampai lupa waktu.


“Kayaknya Meysa sama Kai belum pulang!" Eka turun dari mobil sambil menenteng tas perlengkapan bayi.


“Namanya anak muda. Apalagi besok sudah harus kembali LDRan," ucap Faza menimpali. Mereka sama-sama melangkah ke dalam rumah.


Suasana rumah nampak sepi, padahal setahu Eka dan Faza, hari ini Rena tak pergi kemana-mana.


“Jangan terlalu dibebaskan, tahu sendiri anak zaman sekarang seperti apa!" Eka mencoba mengingatkan sang suami yang kelihatan begitu memercayai Kai. Padahal ia orang jauh.


“Apalagi kita belum mengenal baik Kai bagaimana, dia orang asing. Sifat dan sikapnya belum kelihatan."


“Kai memang orang baru, tapi saya yakin dia bisa dipercaya." Faza membawa Cia masuk ke kamar.


Bukannya tak ingin menerima masukan, tapi entah kenapa Faza tak memiliki pikiran buruk apapun terhadap Kai.


Sementara Eka yang mendengar ucapan Faza hanya menghela napas. Ibu dua anak itu lebih memilih mengecek Rena di kamar, melihat kondisi rumah yang sepi dan tidak ada yang keluar saat mereka datang membuat Eka penasaran apa yang dilakukan anak gadis itu.


Ceklek...


Eka membuka pintu kamar Meysa, sepi! Kamar bernuansa keroppi itu bahkan tak berpenghuni. Membuat Eka bertanya-tanya kemana perginya Rena. Sedangkan motornya terparkir di depan.


...


Di sisi lain, sosok Rena terlihat tengah menikmati suasana sore di sebuah taman, depan kantor walikota. Tadi sebenarnya Rena tak berniat keluar rumah, tapi pesan mengenaskan dari Erza membuatnya bersimpati. Katanya laki-laki itu sedang patah hati, ia ingin cerita banyak hal pada Rena.


Kini Rena tengah duduk di samping Erza. Kedua orang itu baru selesai melakukan joging di sekitar area taman. Katanya pemanasan sebelum curhat.


“Mau cerita apa, Za?" tanya Rena membuka obrolan sambil menselonjorkan kaki.


Erza menghela napas, ingatannya kembali tertuju pada Meysa. Ia masih begitu mengharapkan gadis itu, tapi Erza pun tak bisa berbuat apa-apa sebab ia tak ingin memaksakan kehendak. Selama dua hari ini Erza sudah seperti orang mengenaskan karena cinta.


“Saya sudah tahu soal hubungan Meysa dengan Kai,"


Rena mengangguk mendengar ucapan Erza.


“Jujur hatiku sakit sekali, Ren. Tapi saya juga tidak bisa memaksa, itu pilihan Meysa. Dia bahagia dengan Kai, begitu juga sebaliknya. Mereka sama-sama saling suka!" Erza berucap lirih, terdengar begitu mengenaskan.


“Selagi janur kuning belum melengkung kau masih punya harapan, Za!"


Erza menoleh mendengar ucapan Rena. Heran, kenapa Rena malah memberi masukan seabsurd ini. Seperti sedang memberi semangat agar ia jadi tukang tikung.


“Apalagi mereka LDRan, besar kemungkinan masih bisa putus."


Sungguh Erza masih tak paham, tapi Rena terlihat begitu bersungguh-sungguh dalam memberi saran. Tak menyangka gadis itu bisa berpikiran bejat juga. Erza meringis dalam hati.


Melihat wajah kebingungan Erza, Rena langsung menepuk bahu laki-laki itu. Bersiap untuk menjelaskan apa alasannya berani memberi saran demikian.


“Sebenarnya saya tidak suka balihat Meysa dengan Kai. Bukan karena Kai tidak baik, tapi saya khawatir kalau dia menghilang lagi seperti dulu!" Rena mengungkapkan kekhawatirannya, alasannya masih sama seperti yang sering ia ucapkan pada Meysa.


“Tapi Kai punya alasan kenapa dia sampai menghilang seperti itu." Erza menengahi, ia berusaha memahami situasi dan kondisi Kai saat itu, walau sebenarnya cara yang Kai lakukan salah dan menyakiti Meysa. Tapi jika di posisikan, mungkin Erza akan melakukan hal yang sama jika ia yang berada di posisi Kai.


Rena mengerutkan kening mendengar ucapan Erza. Ia tahu Erza memang baik hati, tapi Rena Benar-benar tak menyangka jika ternyata Erza malah membela Kai, bukan malah membenci karena Meysa lebih memilih laki-laki lain.


Hal itu semakin membuat Rena kagum, Erza memang dewasa, baik dan sepengertiaan itu. Wanita yang akan menjadi istrinya pasti akan sangat beruntung. Rena membatin.


“Hmmnt, kenapa kau malah bela, Kai?" tanya Rena penasaran, Ia ingin tahu alasan Erza yang terlihat tahu banyak hal tentang Kai.


“Bukan bela, Rena! Cuma berusaha menempatkan diri di posisinya, kemarin malam Kai cerita apa alasannya, makanya kenapa saya bisa tahu.”


Rena manggut-manggut mendengar ucapan Erza.


“Memangnya apa alasannya?" Rena yang tidak tahu alasan Kai mencoba menggali informasi dari Erza.

__ADS_1


Pasalnya beberapa hari ini ia tidak pernah bercerita banyak hal dengan Meysa. Ia tidak tahu bagaimana jelasnya hubungan dua sejoli tersebut. Rena hanya bisa menyaksikan interaksi keduanya tanpa tahu alasan dan apa penyebab mereka bisa balikan.


Erza menceritakan semua persis seperti yang Kai ceritakan malam itu. Sejujurnya Rena tersentuh mendengar cerita dari Erza. Tapi Rena yang tahu bagaimana menyedihkannya Meysa selama lostc contact tetap menyimpan dendam pada Kai.


“Jadi bagaimana, kau mau ikhlaskan Meysa dengan pilihannya?"


Erza mengangguk, meski berat Ia harus mengikhlaskan Meysa.


“Mau bagaimana lagi, Rena? Itu pilihannya Meysa, kita tidak bisa paksa."


“Tidak niat teruskan perjuangan seperti dulu?"


Erza menggeleng tidak. Situasinya sudah tak seperti dulu. Dimana ia terus mengharapkan Meysa karena tahu Meysa tak dekat dengan siapapun. Namun jika sudah seperti sekarang sedangkan ia masih berusaha mengejar Meysa, itu sama saja tak menghargai pasangan yang Meysa pilih. Erza tak ingin jadi perusak.


“Selagi ijab qabul belum diucapkan sebenarnya kau masih punya peluang." Rena benar-benar shipper garis keras. Ia masih saja memberikan saran tak bermutu pada Erza.


Mambuat Erza yang baik hati dan tidak sombong jengah mendengar saran konyol Rena yang bisa menjerumuskan.


Tuk.


“Aih, sakit Za!"


Rena mengeluh kesakitan saat Erza malah melayangkan sentilan di keningnya.


“Saranmu mulai ngaur, Rena!" Erza beranjak dari duduknya. Pria berkaos polos dengan celana sport pendek itu meregangkan otot-ototnya.


Curhat dengan Rena ada gunanya juga, ia dibuat sedikit terhibur oleh saran-saran menyimpang gadis itu.


“Pulang, Ren, so hampir maghrib!"


Erza menarik Rena, membantunya berdiri. Tak kalah romantis dengan pasangan lain, terlihat seperti sepasang kekasih.


Erza melajukan motornya, tadi ia yang menjemput Rena di rumah Faza. Maka ia juga yang harus mengantar Rena pulang.


“Saya traktir bakso, Ren!"


Namun, saat tengah menunggu pesanan, mata Erza malah melihat pemandangan yang menyakitkan. Dimana Meysa dan Kai yang baru pulang dari jalan-jalan terlihat begitu bahagia. Hal itu membuat hati Erza merasa pedih seketika. Tak hanya langit yang berubah gelap, tapi perasaan Erzapun sama gelapnya, ia berusaha menerima kenyataan.


“Sabar!" Rena yang mengerti perasaan Erza menepuk bahu laki-laki itu.


Erza mengangguk, Ia mengalihkan pandangan sambil berusaha senyum. Berusaha kuat menghadapi kenyataan yang ada.


“Besok Kai pulang, Meysa jadi sad girlagi. kau dekatilah dia!"


Plak.


Erza kembali melayangkan pukulan di lengan Rena. Sahabat Meysa ini memang agak lain. Bisa-bisanya ia diminta ambil kesempatan saat Meysa sedang sedih besok.


“Otakmu ini sudah konslet, Ren!"


Rena menepis tangan Erza dari keningnya. “Kau ini suka sekali bapukul!" protesnya tak suka.


“Sudah dikasih saran biar bisa dekati Meysa malah tidak mau. Ya sudah tahan saja sakit hatimu sendiri, awas curhat sama saya!" Ketus Rena dengan bibir manyun. Erza memang baik, tapi dia suka menyentil kening. Membuat Rena merasa terzolimi.


“Saranmu sesat semua, Rena. Te ada yang beres!" Erza balik memprotes.


Dalam hati Rena menggerutu, mencuci pikiran orang baik memang agak sulit. Jika itu orng lain, mungkin masukan konyolnya langsung ditelan bulat-bulat.


...


Dua sejoli yang telah menghabiskan hari dengan jalan-jalan bersama itu akhirnya tiba di rumah, tepat saat azan Maghrib berkumandang.


Bertepatan dengan Faza yang keluar dari rumah, bersiap ingin shalat berjamaah di mesjid.


“Kiranya kalian pulang terlambat, ternyata tepat waktu juga!" Kai tersenyum. Wajah bapak dua anak itu kelihatan berseri-seri. Makin salut pada Kai karena omongannya bisa dipegang. Sudah berada di rumah sebelum malam.

__ADS_1


Kai mengangguk, tersenyum ramah pada calon kakak ipar.


“Saya shalat di mesjid dulu, Kai. Nanti kalau sudah pulang kita ngobrol ya!"


“Bisa kak, bisa." Kai menyahut dengan sopan.


Saat Faza sudah pergi, keduanya pun masuk secara bersamaan. Kai masuk ke kostan, sedangkan Meysa masuk ke rumah.


“Tante Mey, tadi Cia berenang di kolam sama papa."


Saat masuk Meysa langsung disambut dengan laporan dari keponakannya. Bocah itu langsung pamer foto dan videonya saat bermain di waterboom.


Meysa menunduk mengamati foto yang ada di ponsel kakak iparnya itu. Semua keluarga Eka terlihat ada dalam foto tersebut, bahkan Bu Asmi dan dua saudara perempuan Erza juga ada disana. Dalam hati Meysa berguman, Ia bersyukur tidak ikut. Jika Kai tidak datang sudah pasti dia akan dipaksa ikut dengan alasan bantu jaga ponakan. Kehadiran Kai tak hanya membawa kebahagiaan untuk Meysa, tapi juga ia bisa terhindar dari Bu Asmi yang pasti akan memberikan tatapan julid.


“Wih, adek Gia berenang pakai bikini!" Meysa terkekeh melihat foto keponakan gembulnya yang ternyata ikut berenang juga. Ia terlihat gemoy mengenakan bikini untuk bayi, guratan roti sobek di paha dan lengan montoknya begitu menggemaskan.


“Adek berenang sama papa!" Tangan Ciara terus menggeser slide demi slide foto. Kali ini memperlihatkan Faza yang berendam di kolam sambil menggendong Bayi Gia.


“Papanya Cia jelek, adek Gia comel!" seloroh Meysa memuji ponakannya. Malas melihat wajah kakaknya yang menyebalkan ia malah mengejek terang-terangan di depan anaknya. Membuat Ciara memanyunkan bibir, tak suka Bapaknya diejek Tante sendiri.


“Ih, Tante Mey. Papa Cia ganteng!" protes Ciara. Membuat Meysa memutar mata.


Malas berdebat akhirnya Meysa balik member Faza pujian, Cia suka menangis kalau tidak dituruti.


“Iya papanya Cia memang ganteng, kan kakaknya Tante Meysa!" ucap Meysa sok imut.


“Coba pinjam hpnya dulu, Ci. Tante mau ambil fotonya adek sama papa gantengnya Ciara."


Bocah itu melepaskan ponsel dari tangannya, lalu memberikan pada Meysa yang ingin mengambil foto si gembul Gia.


“Fotonya Cia tidak diambil?"


Meysa menghela napas, ponakannya memang cerewet. “Fotonya Cia juga, kan mau di upload."


Meysa lalu mengirim foto tersebut ke WAnya. setelah itu ia mengembalikan ponsel pada Cia.


“Tante mandi dulu ya, Cia!" Meysa meninggalkan ruang tamu, membiarkan ponakan cerewetnya sibuk main ponsel. Bocil zaman sekarang mainannya sudah sangat canggih. Tidak seperti zamannya.


Saat menginjakkan kaki di ruang tengah, lagi-lagi ia disambut dengan celotehan ponakannya yang satu lagi. Cuma yang satu ini ocehannya tidak begitu jelas.


Meysa langsung tersenyum lebar melihat ponakan gembulnya yang menggemaskan.


“Gia...!” Meysa menunduk, mensejajarkan tubuh dengan bocah yang sedang aktif-aktifnya kesana kemari menggerakkan kereta bantu untuk jalan.


“Mau digendong? Tante belum mandi, nak!" seru Meysa dengan wajah berbinar senang. Gemas sekali melihat Gia yang terus merentangkan tangan ingin digendong.


“Nanti ya, tante mandi dulu.!"


Bayi itu malah menangis saat melihat Meysa berdiri, bertepatan dengan Eka yang baru selesai shalat maghrib keluar dari kamar. Ia langsung meraih anak bungsunya itu.


“Baru pulang Mey?" tanya Eka


“Iya kak, baru sampai pas kak Faza mau ke mesjid."


Meysa yang masih menahan langkah di depan pintu kamar terus menoleh pada ponakannya.


“Gendongnya nanti, ya Gia." Meysa memainkan jarinya. Membuat ponakannya itu makin menggerakkan tangan agar digendong.


“Jangan terlalu dekat dengan laki-laki, pacaran boleh asal tahu batasan!"


Seketika wajah Meysa berubah datar mendengar ucapan kakak iparnya. Meski begitu ia tidak menyahut ataupun meninggalkan Eka yang sedang bicara.


“Tahu sendiri kau sering digosip, apalagi kalau ada yang tahu kau dekat dengan Erza terus dekat juga dengan Kai."


Meysa hanya diam, ia tidak mengerti maksud ucapan kakak iparnya. Bagi Meysa ia sama sekali tidak perduli dengan julidtan orang-orang yang bermula dari kedekatannya dengan Erza. Meysa tetap memegang prinsip, selagi ia tidak melakukan hal yang salah atau pun merugikan, Ia tidak mau ambil pusing.

__ADS_1


“Terserah orang mau bilang apa kak, apalagi saya sama Erza memang tidak ada apa-apa. Kai juga datang baik-baik, kita tidak melakukan hal yang tidak-tidak." Ucap Meysa kemudian masuk di kamar.


Eka hanya menghembuskan napas kasar. Sebenarnya Ia tak bermaksud apa-apa, hanya saja tadi ia kembali mendengar Bu Asmi yang kembali membahas soal Erza yang ditolak karena Meysa ada pacar baru.


__ADS_2