Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
52


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan melaksanakan shalat maghrib Meysa hendak pergi menuju kamar kost Rena.


Di teras, Ia melihat Faza yang baru turun dari motor. Kakaknya itu baru pulang dari melaksanakan shalat maghrib.


“Mey, bicara sebentar dulu!" ujar Faza ketika Meysa yang tengah memakai sendal sambil memegang cemilan menoleh dengan muka di tekuk. Dalam hati kesal kenapa Faza harus memanggil saat ia ingin mengajak Rena bersantai.


“Aih!" gerutu Meysa sambil menghentakkan kaki. Membuat Faza melototkan mata sambil melepas kopiah dari kepalanya.


“Aih aih!" Faza turut mengulang keluhan Meysa. “Kalau kita yang ajak bicara mengeluh, coba Kai, beh senangnya minta ampun! Bahkan mukamu juga langsung berseri-seri!"


Jika Faza sudah dalam mode seperti ini, tentu Meysa tak berani menolak. Dalam hati ia menggerutu, mengeluh kenapa orang yang baru pulang dari mesjid malah sesensitif ini.


Dengan hati dongkol Meysa kembali masuk, ia menyusul langkah Faza dari belakang.


“Duduk!" perintah Faza yang sudah duduk lebih dulu.


“Eh, coba kau lihat dulu Eka, sudah tidur atau belum!"


Baru juga ingin duduk, Faza malah memberi perintah lain. Membuat Meysa makin kesal, tetapi hanya bisa menahan dalam hati. Ia lalu segera melaksanakan apa yang Faza perintahkan.


Mengecek kakak ipar dan dua bocil. Tak melihatnya di ruang tengah, Meysa lalu menengok ke dalam kamar. Terlihat Eka sedang bermain ponsel sambil menidurkan si gembul Gia.


“Belum!" lapor Meysa pada Faza yang duduk sambil menyesap rokok.


“Uhuk." Meysa terbatuk saat asap rokok dengan tidak sopan menerobos melalui hidung dan mulutnya yang masih sibuk mengunyah snack taro di tangannya. Meysa tersedak.


Faza yang peka langsung mematikan rokoknya yang masih panjang.


“Ayo di luar, Mey!"


Meysa kembali memutar mata malas, Faza yang mennyebalkan terus mengopernya seperti bola pimpong, kesana-kemari.


Faza duduk di kursi, sedangkan Meysa memilih duduk melantai sambil bersandar di tiang rumah.


“Hubunagnmu dengan Kai bagaimana?"


Seketika mulut Meysa yang asyik mengunyah langsung bergerak slow motion mendengar pertanyaan sang Kakak.


Pembahasan sensitif, bukan! Lebih tepatnya pembahasan yang tak seharusnya dibicarakan apalagi dengan kakak laki-laki. Kebanyakan adik perempuan memang malu jika bercerita soal percintaan dengan Kakaknya, begitu juga dengan Meysa.


Hanya saja Faza sedari dulu selalu ingin tahu karena Meysa adalah adik satu-satunya sedangkan orang tua mereka sudah lama pisah. Sehingga Faza ingin memberikan perhatian lebih karena tak ingin sang adik merasa kurang kasih sayang.


“Ih, kak! Ndak usah bahas itu." Meysa berusaha menutupi rasa malu dengan menolak.


“Kenapa?" sergah Faza sambil menaikkan dua kaki ke kursi.


“Kalau mau serius lanjut, kalau mau main-main mending ndak usah! Ndak bagus pacar-pacaran!"


Meysa terdiam mendengar ucapan kakaknya. Bingung harus menjawab apa, sebab Kai memintanya menunggu.


“Kalau dia serius insyaallah saya izinkan. Orangnya juga baik, kan, dia juga bertanggung jawab!"


Meysa hanya mendongak menatap Faza dengan wajah serius. Masih penasaran kenapa Faza bisa seyakin itu dan mau menerima Kai.


“Laki-laki itu tinggi sekali egonya, Meysa!”


“Tapi kalau dia minta maaf lebih dulu, bahkan sampai datang menemui untuk membuktikan keseriusannya, itu menandakan kalau dia memang serius dan bertanggung jawab!"


Meysa mulai mengerti arah pembicaraan sang Kakak. Kini ia tahu apa yang membuat Faza sampai sewelcome itu pada Kai. Ternyata sejak awal dan mendengar semua cerita kisah Meysa dengan Kai membuat Faza bisa menilai dan menyimpulkan Kai orang yang seperti apa.


Hal ini membuat Meysa tertarik untuk bercerita. Hmm, Meysa memang begitu mudah terpancing dan Faza lihai untuk memancing agar adiknya mau bercerita.


“Seumuran kalian ini bukan waktunya main-main, saya juga pernah muda, Mey!" seru Faza.


“Sudah bisa menentukan rencana hidup ke depannya!"


Meysa menghela napas panjang, sepertinya acara deep talk dengan Faza akan segera di mulai.


“Kai bilang tunggu dulu sampai dia bisa menabung untuk melamar! Banyak yang harus dipersiapkan." Meysa berkata apa adanya. Dengan ingatan yang tertuju pada obrolan dengan Kai beberapa waktu lalu.


Faza tersenyum, tak menyangka adiknya sudah beranjak dewasa. Bocah yang dulu ia lihat pertumbuhannya dengan bermain setiap hari ternyata kini tengah membahas masalah percintaan dengannya. Kenangan masa kecil seketika terlintas di ingatan Faza.


“Tidak ada yang salah dengan menunggu, dek!”


“Bukan juga soal lama atau sebentar tapi tentang apakah yang ditunggu itu pasti atau tidak!"


Obrolan keduanya terdengar makin serius dan dalam.


“Masalahnya tidak ada yang tahu hal itu, karena yang pasti cuma Allah yang tahu." Meysa menghembuskan napas gusar.


Meysa selalu saja dibuat bimbang setiap kali memikirkan hal ini. Jarak dan waktu membuat ia takut, takut jika saja suatau saat ia akan terluka dan tak bisa menerima kenyataan jika saja apa yang ia dan Kai impikan tak bisa menjadi nyata.


“Kita hanya bisa berencana, Allah yang menentukan."

__ADS_1


“Bisa dipatahkan menggunakan do'a! Kita punya Tuhan, memohon dan berdoa biar apa yang kalian rencanakan bisa jadi kenyataan!”


Meysa manggut-manggut, apa yang Faza katakan memang benar.


“Makanya kenapa saya bilang kalau mau serius mending ndak usah pacaran Mey, ujiannya berat. Bisa jadi karena dosa waktu kalian untuk dipersatukan akan semakin lama!"


Hmmnt, berat. Pembahasan kali ini benar-benar makin berat. Meysa tak sanggup, belum genap sehari mereka LDR. Tapi rasanya sudah semenyesakkan ini. Entah bagaimana dengan perjalanan yang masih panjang ke depannya.


“Ck, bahas yang lain saja kak!" seru Meysa.


Membuat Faza tertawa.


“Semangat pejuang LDR, stay halal!" seloroh Faza sembari memperbaiki duduknya.


Membuat Meysa menatap heran, orang yang di awal ketus cepat sekali berubah. Mau heran tapi Faza kakaknya.


Beberapa saat tak ada obrolan yang terlibat, keduanya sama-sama terdiam dengan Faza yang duduk mengamati orang yang lewat di jalan. Sementara Meysa masih sibuk mengunyah. Cemilan yang hendak ia makan bersama Rena habis disikat disana.


“Sekarang bulan kelihatan gelap, kayak samar-samar."


Celetukan Faza membuat Meysa ikut menoleh ke arah langit, menatap sebuah bulan sabit disana.


“Kukira akhir bulan ternyata karena tidak ada bintang yang temani!” Faza terkekeh sambil beranjak masuk.


Meysa yang agak lalod langsung menyadari jika Faza tengah mengejeknya. Tentu hal itu lagi-lagi membuat Meysa kesal, menyesal telah over sharing pada suadara lucknut.


Ingin sekali Meysa melempar Faza dengan sendal. Akhirnya Meysa lebih memilih menghampiri Rena seperti niat awal.


Suara terbahak dari tetangga sebelah kamar Rena menghiasi telinga Meysa yang menunggu dibukakan pintu setelah diketuk.


Beruntung tak butuh waktu lama Rena langsung membukakan pintu. Meysa dibuat heran saat melihat wajah kusut Rena.


“Kenapa kau?" tanya Meysa sambil menutup pintu, menguncinya lalu segera menyusul Rena ke kamar.


“Disuruh pulang sama mamaku!" adu Rena dengan wajah murung.


Meysa tak heran mendengar hal itu, pasalnya Rena sudah sering disuruh pulang, bahkan sejak lulus kuliah. Namun, gadis itu selalu menolak dan lebih memilih melamar kerja disini. Alasannya cukup klise dan konyol, tak ingin pulang karena Meysa tak pulang ke kampung.


Rena begitu lengket dengan Meysa, persahabatan mereka ibarat sebuah sendal jepit. Jika salah satu di antara mereka hilang, maka akan tidak berfungsi. Hmmmnt, agak berlebihan memang. Tapi itulah Rena, ia terlalu malas menjalani hari di kampung jika tak ada Meysa, partner berkelahi sekaligus partner kocaknya.


“Mungkin sudah ada yang lamar, makanya kau disuruh pulang."


“Ck, mulutmu!" ketus Rena, ia turut merebahkan diri di kasur sambil mengingat obrolan dengan mamanya di telepon barusan.


Dulu mereka sempat berpisah saat awal kuliah, tapi saat Meysa datang satu setengah tahun yang lalu membuat Rena girang dan langsung menyewa kost di tempat Faza, kebetulan saat itu kostan itu baru launching.


“Biar ko ndak mau jauh sama Meysa, suatu saat tetap jko berjauhan kalau sama-sama mko punya kehidupan sendiri!" tutur Mamak panjang lebar. Mencoba membuka mata hati sang anak. Mamak Rena merasa kesepian, sebab dua anak laki-lakinya sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Hanya tinggal Rena saja si anak bungsu.


“Ayo pulang, Mey. Kita harus tetap sama-sama biar bisa gosip, jalan, dan susah senang sama-sama!"


Bugh...


Meysa menoyor kepala Rena yang hendak bangun dan mendekap sang sahabat. Membuat Ren terjungkal ke kasur, persis seperti yang Meysa alami sore tadi.


“Hallah, bacot sekali kau, Ren!" protes Meysa.


“Susah senang apanya, yang betul itu saya susah kau senang!" Meysa menggerutu mengingat betapa jahatnya Rena. Setiap ia kesusahan bukannya dibantu pasti ditertawakan lebih dulu. Sungguh lucknut!


Namun, Rena sama sekali tak menghiraukan. Ia lebih memikirkan apa yang akan dikerjakan di kampung jika pulang. Selain Meysa, yang menjadi dilema Rena untuk pulang adalah pekerjaan.


“Ayo Mey, pulang, kasian bapakmu sendiri di rumah!"


Glek...


Ucapan Rena membuat Meysa terdiam, kini keduanya diterpa dilema bersamaan. Sepertinya nasib Meysa tak jauh-jauh dari kata galau. Sangat dramatis, sudah galau ditinggal Kai, sekarang harus galau lagi karena mengingat Bapak yang tinggal sendiri di rumah. Semua karena perpisahan orang tuanya, membuat langkah Meysa terbatas dan selalu kepikiran Bapak setiap waktu.


“Sebenarnya saya juga kasihan sama bapakku, Mey. Tapi saya belum mau pulang kalau belum bisa buka usaha florist disana." ucap Meysa dengan sendu.


Mengungkapkan keinginan mulianya, membuka usaha florist agar ia memiliki pekerjaan saat di kampung nanti.


“Apa lagi yang kau tunggu, kau kan sudah hebat bikin buket!" potong Rena. “Ayo Mey, kita pulang terus buka usaha sama-sama supaya tidak jadi pengangguran berjamaah!"


Meysa memutar mata malas mendengar ucapan Rena. Terdengar menggampangkan!


“Bukan soal itu, Rentenir!" seloroh Meysa.


“Terus?"


“Dananya belum cukup!" ungkap Meysa yang memang terkendala dana.


“Bukannya uang dari hasil menulis nove online lmu juga ada?" tanya Rena penasaran.


“ck, ya ada tapi itu tabungan lain. Ndak boleh dikorek!"

__ADS_1


Rena manggut-manggut. Keduanya lalu membuat kesepakatan akan pulang sampai nanti biaya untuk membuat usaha florist di kampung terkumpul.


“Jadi kalau sudah ada kita pulang sama-sama!" ucap Rena membuat kesepakatan.


Meysa mengangguk, ia mengulurkan tangan. Dua gadis yang bersahabat bagai kepompong itu pun berjabat tangan. Lalu tertawa terbahak-bahak setelah menyadari jika mereka baru saja melakukan deep talk tentang kehidupan yang cupuk keras.


“Sebelum ini deep talk sama Faza, sekarang deep talk sama kau! Hidup memang berat, cok!" ujar Meysa yang masih terkekeh.


“Deep talk tentang apa?" tanya Rena penasaran. Namun, Meysa enggan menjawab.


“Ndak boleh kepo!" ujar Meysa, ia langsung merebahkan tubuh di kasur sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana.


Sedangkan Rena, ia lalu beranjak sambil mencebik. Rena meraih ponselnya yang belum lama dicharger. Kemudian ikut berbaring di samping Meysa.


“Sudah jam 10, Mey! Pulang, nanti kau dikuncikan pintu!" peringat Rena.


Namun, Meysa tak bergeming. Ia terlihat sibuk pada ponselnya. Menscroll beranda shopee, memasukkan barang ke keranjang sebanyak-banyaknya tanpa tahu kapan chek outnya.


“Woy Meysaroh, sudah jam 10!" teriak Rena sekali lagi.


“Teriak teros!" gerutu Meysa, tangannya menarik bantal lalu menutup telinga.


“Saya mau bermalam disini, Rena!" lanjutnya memberi tahu. Membuat Rena hanya beroh ria, kemudian fokus menscroll beranda facebook sambil menonton Siwei dengan instrumen musik yang khas, sudah seperti orang tua yang bermain pesbuk. Tontonan Rena tergolong anti-mainstream.


Sementara Meysa, wajah yang tadi datar sambil memasukkan barang ke keranjang shopee sebanyak-banyaknya seketika tersenyum ketika mendapatkan notifikasi favorit dari sosok yang terus berkelana di pikiran.


Ting...


Bintang : Bee bee.


Dengan cepat Meysa langsung membuka WhatsApp. Ada banyak pesan yang belum terbaca tapi tak menarik baginya, ia lebih tertarik membuka pesan dari Kai.


^^^Meysa: Iya bee!!!!!^^^


Bintang : Kirain udah tidur


^^^Meysa : Belum nih, ^^^


^^^habis deeptalk dengan Rena.^^^


Bintang : Sama dong berarti, aku juga


abis makan terus deep talk sama duo kamvret.


Eh, bee boleh vc bentar gak?


Belum sempat Meysa mengetikkan balasan, pesan chat dari Kai kembali masuk. Lelaki itu meminta izin untuk Vc, membuat Meysa senyum seperti orang gila.


^^^Meysa : Boleh^^^


Hanya centang dua berwarna biru, tidak lama setelah itu notifikasi panggilan video dari Kai pun masuk. Tak butuh waktu lama Meysa langsung mengangkatnya dengan wajah sumringah.


“Hai bee bee!" sapa Kai dari jarak yang jauh. Hanya saja layar virtual membuat mereka terasa dekat.


Meysa membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.


Sedangkan Rena yang mendengar itu langsung menoleh dengan bibir mencebik.


“Nelepon teros!" cibir Rena dengan nada julid. Ia merampas bantal yang Meysa gunakan menutup kepala lalu kembali baring dan membelakangi Meysa.


Meysa memang tak menyahut, tapi kakinya tergerak menyenggol kaki Rena dengan tendangan. Kesal dengan si Rentenir yang suka nyolot.


“Lagi sama Rena ya, bee?"


Meysa mengangguk, Kai membalas dengan senyuman menenangkan.


“Yaudah tidurlah bee, aku cuma mau lihat kamu aja tadi!"


Meysa menampakkan senyum hangat.


“Kamu juga langsung tidur, pasti jetlaggnya masih terasa, kan?"


“Udah gak terlalu sih bee!" seru Kai sambil memegang pelipisnya. mendengar kata jetlag membuatnya ingat pesawat. Ia memang masih agak pusing.


“Yaudah tidur gih, jangan begadang!"


Kai mengangguk, senang diperhatikan Meysa.


“Kamu juga ya!"


Kini balas Meysa yang mengangguk.


“Ohiya bee, besok aku udah mulai masuk kerja, mungkin akan jarang ngabarin soalnya jarang megang hp ya, sayang!" ucap Kai memberi tahu dengan mengulas senyuman menenangkan benar-benar membuat hati Meysa berdesir.

__ADS_1


Dalam hati ia berteriak betapa dirinya menyayangi Kai sambil menatap sosok yang mampu membuatnya jatuh sedalam ini.


__ADS_2