Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
6 (Bersama Kenangan)


__ADS_3

Sejak menjawab pertanyaan terakhir Kai tadi, keduanya tak lagi terlibat obrolan apapun. Meysa lebih memilih diam dengan pandangan menunduk. Kepalanya masih dipenuhi dengan berbagai macam hal mengenai bagaimana lelaki yang sebisa mungkin ia lupakan itu malah tiba-tiba hadir disini. Segala kenangan yang coba Meysa bunuh secara perlahan itu justru muncul kembali secara tiba-tiba. Bukan lagi menjadi sosok virtual, tapi dengan nyata berdiri di hadapannya bahkan ia bisa mendengar langsung suara sang Bintang


Senang? Tentu saja! Apalagi ketika rangkaian kenangan sederhana yang pernah diukir bersama kembali terputar nyata dalam kepala. Meski begitu ia harus tetap bersikap biasa saja, seolah tak bereaksi apapun pada kehadirannya.


“Bul!"


Meysa menoleh, hatinya mendadak rapuh pada semua hal yang bersangkutan dengan laki-laki di hadapannya, tapi kali ini ia harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kerapuhan berbalut luka.


“Namaku Meysa, bukan Bulan!" ucapnya membenarkan. Sebutan yang selalu membuatnya berdebar kini harus disanggah sebagai sesuatu yang seakan tak menarik lagi untuknya.


“Maaf!" lirih Kai dengan tatapan sendu, wajahnya ditumpuki penyesalan.


“Mey, Meysa! Aku mau minta maaf atas semua yang terjadi selama ini. Aku ....”


“Gak perlu minta maaf, aku bahkan sudah lupa sama apa yang pernah terjadi!" sela Meysa berbohong, padahal jelas selama setahun lebih ini harinya ia habiskan hanya untuk meratapi pria asing yang pernah singgah di hidupnya itu.


“Meysa, aku banyak salah samamu, Mey!"


Suara Kai terdengar sendu dan berat, tapi Meysa lebih memilih menoleh ke arah lain. Ia takut tak mampu menahan diri jika terus menatap sosok laki-laki itu.


“Gak ada yang salah, sudah sewajarnya begitu!” sanggah Meysa, ucapannya seolah menunjukkan ia adalah sosok yang tegar dan bijak. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang dilalui selama ini.


“Sesuatu yang berawal dari ketidak sengajaan sudah seharusnya berakhir begitu.”


Kai menggeleng, kening pria yang masih berdiri menatap Meysa itu nampak mengkerut mendengar penuturan gadis yang sedang berlagak tegar dan cuek itu. Namun, saat Kai yang seperti ingin mengatakan sesuatu harus urung ketika melihat sosok wanita berkerudung tengah setengah berlari ke arah mereka. Sosok Rena muncul dengan tatapan memicing.


“Mey, Meysa!" teriakan Rena yang muncul dengan napas terengahpun turut membuat Meysa menoleh dengan wajah heran.


“Kenapa ketemuannya jauh sekali, kau mau kasih mati saya?!" protes Rena. “Dicari-cari ternyata disini!" wajah ketus Rena pada Meysa mendadak harus tersenyum ketika menoleh pada Kai.


Ketemuan-ketemuan, siapa juga yang ketemuan! Ingin sekali Meysa balik protes mendengar ucapan Rena, tapi lagi-lagi ditahan. Layaknya orang yang sedang jaga image di hadapan orang terkasih, Meysa pun tetap harus jaga image di hadapan mantan cinta virtualnya itu. Jadilah ia hanya bisa mengumpat dalam hati.


“Halo!” sapa Rena pada Kai, membuat laki-laki itu tersenyum ramah sambil mengangguk sopan.


Sementara Meysa yang melihat kelakuan sok ramah Rena langsung memutar mata malas.


“Heh Mey! Kau dicari Kak Faza, sudah mau pulang dia.”

__ADS_1


“Oh, astaga!" ucapan Rena membuat Meysa menepuk jidat saat mengingat dua ponkannya yang harus ia tinggalkan demi untuk bicara dengan Kai.


Dengan gerakan cepat dan terburu-buru Meysa menarik tangan Rena menjauh.


“Eh, Mey, Itu bukannya Bintang yang selama ini bikin kau galau?" tegur Rena ketika langkah keduanya sudah hampir keluar dari halaman mesjid.


“Kenapa kamu tinggalkan sendiri, Mey? Bukannya dia datang untuk ketemu denganmu, kan?"


“Kasihan anak orang jauh-jauh datang kemari malah kau tinggalkan. Biar jo dia banyak salah, tapi jangan kau tinggalkan begitu, kasihan! Coba kamu yang ke kotanya, tidak kenal siapa-siapa baru dibiarkan seperti itu, bagaimana?” ujar Rena yang hanya berusaha sedikit berempati.


Pernyataan beruntun Rena membuat Meysa menghentikan pergerakannya, sesaat ia menghembuskan napas kasar. Ucapan Rena ada benarnya juga, ia yang tadinya tak bermaksud meninggalkan apalagi sampai mengabaikan Kai hanya panik saja sampai tak menghiraukan keberadaan laki-laki itu. Kelihatannya saja cuek, tapi sungguh hati dan pikirannya masih dipenuhi Bintangnya itu.


“Aku sama sekali tidak berniat begitu, Ren, huuh!" protes Meysa membela diri sebelum akhirnya berbalik ke arah Kai yang masih berdiri tengah menatapnya. Kai tersenyum ketika melihat Meysa berbalik arah.


“Ayo Kai, ikut ke toko atau kamu mau kemana?"


“Aku ikut kamu aja, boleh?" Kai malah balik bertanya.


Perkataan dari sosok berwajah tenang itu membuat Meysa mengangguk. Setelah itu Ia, Kai dan Rena langsung berjalan menuju toko. Di depan emperan toko, Erza terlihat duduk bersama Faza yang sedang memangku Gia, di sampingnya ada Cia yang tengah sibuk main sendiri. Melihat kedatangan Rena dan Meysa bersama satu orang asing seketika membuat Faza menampakkan wajah heran, keningnya mengkerut melihat sosok yang baru pertama kali dilihat datang bersama sang adik.


“Teman darimana Mey, kok baru lihat?" tanya Faza ramah dengan tatapan melirik sosok Kai yang berdiri di belakang Meysa.


“Kakaknya Meysa ya?" Tak disangka Kai justru balas menyapa dengan ramah. Membuat Meysa yang tengah dilanda kebingungan langsung menoleh heran, begitupun dengan Rena.


Faza tersenyum dan balas mengulurkan tangan pada laki-laki muda di depannya itu.


“Saya Kai'ulani, Kak! Temannya Meysa."


“Faza!"


Jawaban yang Kai berikan benar-benar membuat Meysa merasa terbantu, jadi ia tak harus bersusah payah memikirkan jawaban yang tepat. Meysa sedikit salut melihat keberanian dan keramahan Kai yang langsung mau menyapa sang kakak.


“Darimana?” tanya Faza penasaran, sebab dia hampir mengenal semua teman Meysa apalagi yang ada di kota ini. Melihat wajah asing Kai tentu membuatnya bertanya-tanya.


Sebelum menjawab, Kai terlihat menoleh sejenak pada Meysa. Seakan meminta persetujuan. Namun, gadis itu malah kelihatan cuek dan buang muka. Dimana pandangannya langsung tertuju pada sosok Erza yang juga ikut berdiri di samping sang kakak. Wajah laki-laki yang menyukainya itu nampak murung dan sendu. Membuat Meysa seketika diterpa rasa bersalah karena membawa Erza pada situasi ini.


“Saya dari Pekanbaru kak.”

__ADS_1


Meysa hanya bisa memejamkan mata saat melihat ekspresi terkejut Faza mendengar penuturan Kai.


“Asli sana?"


“Iya kak.”


“Wih, jauh juga ya!” tutur Faza dengan pandangan sejenak mengarah ke Meysa lalu kembali tersenyum saat melihat Kai. “Kenal Mey dimana, ada urusan kerja ya makanya bisa sampai sini?"


Dan lagi-lagi Meysa hanya bisa memejamkan mata ketika Faza seketika jadi wartawan dadakan. Sejujurnya ia masih belum siap kalau Kai harus menjawab semua sebagaimana mestinya. Namun, untungnya suara dering telepon membuat perhatian Faza teralih, ia harus menjawab panggilan dari seseorang dari balik telepon. Tanpa diberi tahupun Meysa tahu jika yang menelepon adalah kakak iparnya.


“Iya, sabar, sebentar lagi sampai! Ini masih lampu merah!”


Meysa melengos malas mendengar jawaban sang kakak, sudah dipastikan kakak iparnya sedang mengomel dari balik telepon sehingga membuat Faza harus berbohong untuk membuat alasan dan agar tidak diomeli.


Usai menelpon, Faza menaruh ponsel di saku celananya. Ia menatap Meysa sambil berkata. “Ayo pulang Mey, aku dan Eka mau pergi.”


Mendengar itu membuat Meysa segera bergegas untuk mengambil barang-barangnya di dalam. Saat kembali, ia melihat Faza dan Kai masih mengobrol satu sama lain.


“Berarti kamu baru sampai?"


"Iya kak, baru sampai tadi siang."


Faza mengangguk mendengar jawaban Kai sambil menyerahkan Gia untuk digendong oleh Meysa menggunakan hipseat.


“Mey ajak temanmu ini menginap di kosan, di tampat Rena saja, toh dia juga cuma kenal kau disini!" Faza lantas memutuskan hal itu saat tahu jika Kai baru tiba siang tadi dan sudah menyewa sebuah penginapan yang tak jauh dari toko.


“Ren kau nginap dengan Meysa dulu tidak apa, kan?”


Mendengar itu Meysa dan Rena langsung saling tatap. Tentu keduanya sama-sama mempertanyakan sikap Faza yang begitu perduli pada orang baru itu.


“Ayo Kai, ikut saja!"


“Eh, gak usah kak!" tolak Kai.


“Tidak apa, toh kamu kesini kan mau ketemu adik saya. Jadi kamu termasuk tamu saya juga." Setelah sedikit dipaksa, barulah Kai mau ikut dengan Faza.


Meysa, Kai, Faza dan kedua anaknya pun masuk ke dalam mobil usai pamit duluan pada Rena dan Erza.

__ADS_1


“Maaf ya, Za. Saya duluan, kakakku kayaknya harus pergi acara.” Begitu ucap Meysa yang tak enak hati pada Erza. Ia tahu betul bagaimana perasaan laki-laki yang selama ini selalual ada dan berusaha untuk meluluhkan hatinya itu. Sudah jelas Erza pasti merasa sakit melihatnya bersama orang lain.


“Sana Mey, masuk mobil! Itu Bintangmu sudah menunggu!" ketus Meysa sambil melirik pada sosok Kai yang masih berdiri di sisi pintu belakang. Namun Rena segera menutup mulutnya ketika Meysa melototkan mata sebagai isyarat untuk menyuruhnya diam.


__ADS_2