Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
3 (Ingat-Ingat Kamu)


__ADS_3

π‘΅π’‚π’Žπ’–π’, 𝒑𝒂𝒅𝒂 π’‚π’Œπ’‰π’Šπ’“π’π’šπ’‚ π‘¨π’Œπ’– π’Žπ’–π’π’‚π’Š π’Žπ’†π’π’„π’π’ƒπ’‚ π’•π’†π’“π’ƒπ’Šπ’‚π’”π’‚ π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π’Œπ’†π’‚π’…π’‚π’‚π’


𝑴𝒆𝒏𝒄𝒐𝒃𝒂 π’–π’π’•π’–π’Œ π’Œπ’–π’‚π’• π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π’”π’Šπ’”π’‚ π’π’–π’Œπ’‚ π’šπ’‚π’π’ˆ π’Œπ’Šπ’π’Š π’Žπ’‚π’”π’Šπ’‰ π’Œπ’–π’“π’‚π’”π’‚π’Œπ’‚π’


π‘΄π’†π’”π’Œπ’Šπ’‘π’–π’ π’•π’†π’“π’Œπ’‚π’…π’‚π’π’ˆ π’‚π’Œπ’– π’Žπ’‚π’”π’Šπ’‰ 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔 π’Žπ’†π’Žπ’ƒπ’‚π’šπ’‚π’π’ˆπ’Œπ’‚π’


𝑺𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 π’„π’†π’“π’Šπ’•π’‚ π’Œπ’π’‚π’”π’Šπ’Œ π’šπ’‚π’π’ˆ 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 π’Žπ’†π’π’‚π’“π’Š π’…π’‚π’π’‚π’Ž π’Šπ’π’ˆπ’‚π’•π’‚π’


𝑾𝒂𝒍𝒂𝒖 π’Œπ’–π’•π’‚π’‰π’– π’Šπ’•π’– π’‰π’‚π’π’šπ’‚ 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 π’Œπ’†π’π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’šπ’‚π’π’ˆ π’Žπ’‚π’”π’Šπ’‰ π’”π’–π’π’Šπ’• π’–π’π’•π’–π’Œ π’Œπ’–π’π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’


π‘»π’†π’“π’Šπ’Žπ’‚π’Œπ’‚π’”π’Šπ’‰ π’šπ’‚ π’–π’π’•π’–π’Œ π’Œπ’†π’π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’šπ’‚π’π’ˆ π’ƒπ’†π’“π’–π’‹π’–π’π’ˆ 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 π’‘π’†π’“π’‘π’Šπ’”π’‚π’‰π’‚π’


______________________________________________


Jam baru menunjukkan pukul 7.30, tapi suasana sepi sudah menyambut kedatangan Meysa ketika baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah. Biasanya kakak iparnya masih mengayun sang anak sambil menonton tv disana. Namun kini rumah kelihatan begitu sepi, sepertinya Kakak dan keluarga kecilnya pergi ke rumah mertua, batin Meysa.


Meysa langsung menyalakan lampu begitu masuk kamar. Tak langsung menuju kamar mandi, sejenak ia merebahkan diri di ranjang berlapis seprei gambar keroppi. Saking sukanya dengan keroppi, hampir seisi kamar itu bernuansa hijau keroppi, persis kamarnya di kampung. Mulai dari wallpaper dinding, gorden, bahkan sampai seluruh perintilan yang ada menggunakan motif kodok bermata besar itu, kecuali lemari pakaiannya.


Selesai mandi, Ia mulai membuat orderan Snack buket setelah mempersiapkan seluruh bahan dan peralatan. Dengan lantunan musik yang menemani, tangan Meysa terlihat begitu telaten dan lihai merangkai setiap bahan membentuk sebuah buket yang indah.


Meysa nampak puas melihat hasil karyanya. Sambil tersenyum ia lalu memotret asal dua buket tersebut secara bergantian. Tak perlu mengedit hasil potretan Meysa sudah sangat memuaskan. Ia kemudian mengunggah gambar buket tersebut di Ig dan WA.


β€œAlhamdulillah done untuk orderan besok! Thanks God!" Tulis Meysa pada caption, tak lupa menandai akun resmi toko florist tempatnya bekerja.


Usai membereskan semua, Meysa langsung membasuh wajah untuk menghilangkan rasa ngantuk. Malam belum begitu larut, ia berniat menulis beberapa bagian untuk ceritanya. Namun, saat sedang menghapus sisa lelehan air di wajahnya. Meysa yang tengah berdiri di depan cermin seketika terpaku ketika mendengar penggalan lirik dari salah satu lagu.


🎢


Hei, masihkah kau memikirkanku?


Terkadang kumenangis bila mengingatmu


Dulu penuh bahagia, kukira kau terakhir


Dan kuberikan segalanya


Dan waktu pun berjalan


Aku merindukanmu berkali-kali


Tapi kau tak mendengar


Malah inginkan aku untuk berhenti


Aku tak mendengar kabarmu lagi


Kutakut tak mampu tak memikirkanmu


Lagu yang mewakilkan perasaannya pada Bintang. Sial, laki-laki itu lagi! Perasaannya kembali diluluh lantahkan. Ingatan pada kisah sederhana dengan Bintang kembali membuatnya sedih. Ia benar-benar tersiksa berada pada situasi ini. Dengan air mata yang hampir menetes, Meysa menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


β€œKenapa aku belum bisa menghapus namamu dari hati dan pikiranku?” Meysa mulai bermonolog sambil menatap sosok dalam foto tengah tersenyum sambil memangku gitar. Dulu pria itu memang selalu meberitahukan setiap kegiatan yang dilakukan, kalau bukan melalui video call, terkadang juga hanya sebuah foto.


β€œAku jug tersiksa kalau harus begini terus!” lirih Meysa. Jarinya terus tergerak membaca setiap rangkaian pesan yang pernah Pria itu kirim. Semuanya masih lengkap, tak ada satupun yang dihapusnya.


__________


Bintang :


Di ujung khatulistiwa aku menunggu, menunggumu yang jauh di tengah nusantara, meski jarak terasa begitu jauh, tapi aku percaya, lewat rumah kita yang sederhana ini, lewat ruang virtual kita yang kecil ini, aku bisa merasakan keberadaanmu di dekatku, begitu nyata. Tetap baik-baik saja ya di seberang sana!😊


Dari jantungnya andalas aku titip kan sepenggal rasa rindu melalui angin malam, untukmu yang jauh di tanah celebes sana.

__ADS_1


________


β€œKenapa menghilang!” Meysa tak lagi bisa membendung air matanya. Ia ingat betul bagaimana dulu hatinya berdebar saat membaca pesan itu.


β€œKamu jahat, Kai!" ucap Meysa menyebutkan Bintang dengan nama aslinya.


β€œKalau aku bukan tujuan seharusnya dulu kamu gak bikin aku berharap sampai sejauh ini!"


Setelah menghapus air matanya, ia kembali menunduk. Kini jemarinya sampai di sebuah bait sajak yang lagi-lagi mampu memporak-porandakan rasanya. Dia memang begitu mengenaskan kalau sedang sendirian, apalagi jika mengingat tentang pria itu! Hubungan sederhana tanpa pernah bertemu langsung tapi mampu membuat hatinya sejatuh ini.


____________


Bintang :


Malam ini rintikan hujan kembali membasahi daratan...


Perlahan namun mampu membentuk genangan kerinduan...


Tiap rintikannya memang bukanlah mampu membasahkan


Namun cukup untuk kembali mengingat semua angan yang masih menari dalam ingatan...


Tatkala semua lampu jalanan padam


Aku terkurung sendirian dalam kegelepan.


Bertemankan kesunyian dan suara sayup rintikan hujan...


Dari balik ruang kecil ini, aku kembali berimajinasi akan mimpi dan semua ekspektasi...


Seakan berhalusinasi berbalutkan kata mimpi...


Aku berharap semua akan terjadi...


Rindu akan dirimu yang jauh di sisi..


Rindu akan semua hal yang ingin kita lalui...


Sebait puisi sederhana kurangkai spesial untukmu di tengah kesyahduan malam dan merdunya rintikan hujan...


Baik-baik di sana ya, sayang! I love you😘


___________


Meysa kembali menelungkupkan kepala di atas bantal untuk meredam suara tangisnya. Perasaannya pada pria itu memang sudah sedalam ini, dia dibuat seperti orang gila tak berakal. Sudah setahun tapi rasa itu masih abadi hingga kini. Padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk lupa, tapi tetap sia-sia. Untuk menerima orang baru saja rasanya begitu sulit.


Masih dalam posisi tengkurap, Meysa menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu dibuka. Membuat party kesedihannya harus hancur, dia harus segera memakai topeng untuk menutupi wajah mengenaskan karena cintanya.


β€œKau kenapa?" sosok pria dengan garis wajah mirip dengannya mendadak heran tatkala menatap wajah sembab itu. Namanya Faza, dia adalah kakak Meysa satu-satunya. Sudah menikah dan memiliki dua anak.


β€œMenangis kenapa kau Mey?”


Sial! Meysa lupa, sepandai-pandainya ia berganti mimik wajah dalam sepersekian detik, itu jelas tak bisa menutupi wajah sembab akibat menangis. Ia masih berusaha cengengesan di bawah mata bengkak itu.


β€œHehe, ini tadi habis nonton drakor, kak." Bohong Meysa pada sang kakak.


Seharusnya tadi ia mengunci pintu, jadi acara galaunya itu tidak harus terganggu begini. Hmmmnt!


β€œSampai menangis begini?"


β€œYa, mau bagaimana lagi, kan sedih!”

__ADS_1


Faza, Kakak Meysa itu bergeming. Ia menarik sebuah kursi dekat lemari kemudian duduk disana.


β€œBukannya Kakak sedang di rumah Tante Ida?" Meysa mencoba mengalihkan pembicaraan.


Faza menyerngit mendengar pertanyaan sang adik, β€œYang bilang kesana siapa?" ucap Faza yang justru balik bertanya.


β€œTebak sendiri!"


β€œTidak, tadi Kami makan di luar. Kamu ditunggu tapi ndak pulang-pulang!”


Meysa yang tadinya sempat mengira Faza sekeluarga pergi ke rumah mertua hanya manggut-manggut mendengar penuturan sang kakak.


β€œKau sudah makan?” tanya Faza yang hanya dijawab gelengan oleh Meysa.


Ya, kalau diingat-ingat gadis dengan rambut dikuncir asal itu memang belum makan sejak siang. Tadi Erza memang sempat membawakan makanan untuknya, tapi tak ada satupun yang ia cicipi.


β€œMakan dulu sana, habis itu kita bicara sebentar!”


β€œNantilah kak, belum lapar.” Meysa yang tadi masih rebahan langsung memperbaiki posisi ketika tahu Faza ingin mengatakan sesuatu.


Kalau sudah seperti ini, pasti ada hal penting yang ingin kakaknya katakan. Biasanya tentang dirinya yang selalu menjadi topik utama dalam gibahan para ibu-ibu kompleks hanya karena ibu Erza yang tidak suka lihat anaknya mendekati Meysa. Ya, ibu dari pria yang menyukainya itu tak rela melihat anaknya dekat-dekat dengan Meysa. Alasannya hanya karena meysa tak berpendidikan juga tak memiliki pekerjaan yang setara dengan Erza yang merupakan PNS muda. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan Meysa enggan memberikan kepastian pada pria tersebut.


Gosip yang beredar itu biasanya sampai di telinga Eka, kakak iparnya. Namun, istri Faza itu enggan menyampaikan langsung padanya karena pernah berselisih hanya karena Meysa mengabaikan semua dan sama sekali tak mau ambil pusing.


β€œKak Eka dengar cerita apa lagi?" tebak Meysa. Sebenarnya sikap Eka yang terkadang cuek membuatnya tak betah. Namun gadis yang sudah menanamkan kebiasaan untuk tak ambil pusing dan memilih tak tahu diri untuk tetap bertahan disana. Toh ini juga rumah kakaknya. Begitu Meysa berpikir.


Faza menggeleng. β€œBukan soal itu, Mey!"


β€œLalu?" Kening Meysa mengkerut penasaran.


β€œTadi Mamak menelepon, katanya kau ndak pernah angkat teleponnya?" tatap Faza dengan penuh selidik. Membuat Meysa membuag pandangan ke sembarang arah.


β€œDek!” Faza mendekati Meysa, begitu duduk di samping adiknya. Sulung dari dua bersaudara itu langsung merangkul Meysa. Ia tahu betul apa yang membuat Meysa enggan menjawab telepon dari Ibu mereka.


β€œSesekali angkatlah, Mey. Kasihan mamak, dia juga mau tahu keadaanmu!" bujuk Faza. Meski kadang galak dan tegas tapi ia tetap tahu situasi. Jika Meysa dalam mode seperti ini, seketika Faza memperlakukannya dengan begitu lembut. Itulah yang membuat ia begitu mengagumi kakak satu-satunya ini, di balik ketegasannnya Faza masih menyimpan kelembutan seperti ini.


β€œCoba besok kau telepon mamak, tanya kabarnya! Biar bagaimanapun dia tetap ibu kita, Mey!"


Semenjak orang tuanya resmi berpisah, Meysa yang kecewa pada kedua orang tuanya menunjukkan aksi protesnya dengan cara seperti ini. Berubah jadi cuek.


β€œKalau tidak mau, kau kupulangkan ke kampung. Tinggal di rumah biar ada yang urus bapak!"


β€œIsss!" Meysa melepas diri dari rengkuhan Faza. Ia menyerah, setiap kali mencoba membangkang, Faza selalu saja mengancam akan memulangkannya. Sebenarnya jika ingat sang Ayah yang tinggal sendiri Meysa selalu merasa kasihan, tapi ia pun tak bisa mengenyampingkan egonya. Tak mendapat keharmonisan seperti dulu dimana kedua orang tuanya masih bersatu membuat Meysa tak betah berada di rumah.


β€œMau telepon mamak atau tidak?" tanya Faza sekali lagi.


β€œAih, kak!" rengek Meysa yang mencoba menolak.


β€œYa sudah besok langsung kuantar ke kampung!"


Melihat Faza sudah mengambil keputusan dan bersiap beranjak membuat Meysa harus menyetujui keinginan sang kakak.


β€œCk, iya iya, besok kutelpon!”


β€œNah, ini baru adekku! Kalau tidak mendengar nanti kau kuusir!" Faza terkekeh sambil mengacak-acak rambut Meysa.


β€œSalah satu contoh kakak zolim ya begini, adek sendiri mau diusir!"


Faza makin terkekeh mendengar celetukannya. β€œAdek model begini memang pantas dizolimi!"


Bisa bercanda seperti ini membuat Meysa sejenak bisa melupakan kesedihannya.

__ADS_1


β€œTidur Mey, tidur! Besok Eka ada penyuluhan kesehatan di Doda, jadi kau harus siapkan tenaga untuk jaga Gia!” ucap Faza sambil menyebut nama anak keduanya yang baru berusia enam bulan.


Meysa hanya bisa menerima nasibnya mendengar ucapan Faza. Ia memang selalu jadi baby sitter dadakan setiap kali kakak iparnya melakukan perjalanan dinas. Di rumah maupun di toko florist Meysa memang selalu mendapat tugas tambahan! Meski begitu dia tetap menerima dengan lapang dada, toh jaga bayi atau bikin buket merupakan sesuatu yang menyenangkan.


__ADS_2