
“Erza, kenapa dengan kau ini ?" seorang wanita bertubuh sedang-sedang, dengan wajah glowing mengenakan daster sultan itu terlihat kesal saat melihat anaknya masih saja mengurung diri di kamar.
Sudah jam 12 lewat, tapi anak laki-lakinya masih tidur. Tidak makan, bahkan tidak masuk kerja. Baru kali ini anak yang terkenal rajin dan tepat waktu itu malah bermalas-malasan begini.
Entah apa yang merasukimu, nak!? Ibu itu membatin.
“Erza, bangun! So jam setengah 1 ini.” Tangan gempal itu tergerak menggoyangkan tubuh anaknya yang malah tarik slimut, bobo manis aja!
Gelang MCI dan emas yang melingkar di tangannya pun ikut bergoyang dumang. Tapi tak kunjung membuahkan hasil.
Ibu itu adalah Ibu Asmi, Mama Erza. Ia kesal karena anaknya malah cosplay jadi pemalas dan tidak masuk kerja.
Tanpa tahu jika anaknya tengah patah hati, sepatah-patahnya.
Hati Erza seperti hancur berkeping-keping. Melihat Meysa bersama orang lain membuat hati Erza sakit, lebih sakit daripada ditolak berkali-kali oleh gadis itu. Bagi Erza, ditolak Meysa dan digantung lama pun tak apa selagi ia tahu Meysa tak menjalin hubungan apapun dengan orang lain, Ia masih punya peluang. Tapi, kali ini situasinya berbeda, Meysa menolaknya karena lebih memilih orang lain. Itu membuatnya bersedih semalaman, hingga tak masuk kerja seperti ini
Sebenarnya setelah mengobrol dengan Kai semalam, ia mencoba ikhlas dan merelakan Meysa. Erza mengakui jika Kai orang baik, orang asing itu memang mencintai Meysa. Tapi saat sampai di rumah, ia malah tak rela.
“Jangan ganggu, Ma! Saya masih ngantuk."
Mama menyerngitkan mata mendengar ucapan anaknya.
“Mengantuk apa, ini sudah siang!!" Bu Asmi berteriak murka.
Mendengar mama yang mulai meninggikan suara, Erza bergegas bangun. Takut diamuk jika mama berubah jadi Mak lampir. sangat galak.
“Sudah patah hati, sekarang dimarah-marahi juga" Erza mengeluh sambil menyibakkan selimut. Segera melangkah menuju kamar mandi. Erza yang selalu bersikap dewasa dan positif itu ternyata bisa mengeluh seperti anak kecil jika di depan mama.
Bu Asmi yang mendengar ucapan Erza lantas mengerutkan kening.
“Patah hati kenapa lagi kau ini, Erza?" teriak Mama mengintrogasi.
“Ditolak Meysa kau?" cecarnya menduga.
Baru kemarin Erza meminta izin untuk mengajak Meysa serius, setelah sebulan lamanya anak laki-laki satu-satunya itu terus mendesak agar ia mau menerima Meysa, eh. sekarang saat diizinkan malah mendengar kata patah hati. Tentu Bu Asmi yang penasaran ingin tahu alasannya. Apalagi Erza sangat jarang seperti ini.
“Ditolak, karena Mama terlalu lama bakasih izin, dulu suka cerita-cerita Meysa!" seloroh Erza yang malah melampiaskan kekesalan pada Bu Asmi.
Padahal meski diizinkan sejak lamapun, Meysa juga tidak mau. Karena memang bukan dia yang diinginkan.
“He, kenapa kau salahkan mamamu!?" sergah Bu Asmi tak mau kalah. Kesal disalahkan anak sendiri.
“Sudah mama bilang, iparnya Eka itu te baik. Dia juga te pantas dengan kau!"
“Bikin malu-malu saja kau ini Erza. Macam te ada cewek lain saja sampai galau-galau begini!" Bu Asmi mengomel sambil keluar dari kamar Erza. Kesal sekali disalahkan Erza, belum lagi penolakan Meysa pada anaknya membuat Bu Asmi makin geram. Baru juga memberi restu setengah hati, anaknya sudah ditolak.
....
“Yang merah alamatnya di jalan Anoa 1 ...”
“Ini siapa Mey, setia betul batemani kau sampai ketiduran."
“Iyo, dari tadi juga saya perhatikan kalian lengket. Kau kemana dia baikut terus, kayak anak ayam kamu dua ini!"
“Cuma teman, hehe. Ya, mau baikut siapa juga, kan temannya cuma saya."
Sayup-sayup Kai mendengar percakapan itu. Matanya mengerjap, kemudian perlahan terbuka. Dilihatnya ada Pida yang sedang memberi arahan pada dua orang laki-laki yang akan bertugas mengantar buket yang sudah jadi ke pelanggan.
__ADS_1
Sedangkan dua wanita lainnya tengah berbincang dengan Meysa seketika menghentikan obrolan saat melihatnya bangun. Kai tahu apa yang dibahas. Ia masih diam berusaha mengumpulkan nyawa. Agak kecewa mendengar Meysa menyebutnya sebagai seorang teman. Meski begitu Kai tetap bersikap biasa saja.
“Belum selesai?" tanya Kai.
“Iya, sisa ini. Habis itu nanti lanjut di rumah."
Kai mengangguk. Melihat jam menunjukkan pukul 4, Ia lalu bergegas ke kamar mandi. Ingin menunaikan ibadah Ashar.
Sementara Pida dan karyawan lain mulai beranjak, mengantar buket yang sudah dimasukkan ke dalam paper bag.
“Yang sisanya itu diambil sendiri." Pida menoleh memberi tahu Meysa.
Kai selesai shalat saat Meysa tengah mebereskan sampah dan peralatan membuat buket. Lalu di sapunya hingga bersih. Kai yang duduk di tangga terus memerhatikan Meysa yang begitu cekatan dalam mengerjakan sesuatu.
“Pasti capek ya?" tanya Kai memberi perhatian. Meysa mengangguk, sorot mata itu seakan mengadu jika dirinya lelah.
Memang melelahkan, tapi ia senang setiap kali melihat hasil rangkaiannya yang begitu indah. Ia bahkan mampu menyelesaikan beberapa buket dalam sehari asal bahan dan peralatan lengkap.
“Habis ini mau ngapain lagi?"
“Gak ngapa-ngapain sih, mau langsung pulang, capek!" Meysa meraih tasnya dan membawa sebuah keranjang berisi perlengkapan yang akan digunakan menyelesaikan 2 pesanan money buket dan hampers sanck balon untuk besok.
“Kamu juga belum makan siang," sambung Meysa.
Melihat Meysa yang sudah siap, Kai lalu berdiri. Tangannya meraih keranjang yang Meysa bawa.
“Sini biar aku yang bawa."
“Gak usah, bee. Ringan kok!' tolak Meysa tapi Kai tetap membawakan keranjang tersebut.
Lalu mereka segera melangkah keluar, dengan dua paperbag berisi pesanan orang yang akan diberikan kepada Pida.
“Oh iya, hati-hati Mey!" seru Pida.
Meysa meraih helm miliknya dan satu lagi diberikan pada Kai.
Saat hendak keluar, Meysa kembali ditanya. Membuat ia harus menjawab lebih dulu.
“So mau pulang, Mey?" tanya seorang wanita yang tengah merangkai bunga ke dalam guci besar, sepertinya ada pesanan untuk bunga hias.
Meysa mengangguk.
“Tidak dijemput Erza?" tanya wanita tadi. Sering dijemput oleh Erza, membuat semua yang ada sedikit heran saat tak melihat kehadiran Erza sore itu.
“Tidak, kak. Kan bawa motor sendiri!" Meysa menoleh keluar, menunjuk motor dan menatap Kai yang sedang menunggu dengan tatapan datar. Agak kesal mendengar pertanyaan demikian dilontarkan pada Meysa.
“Iyo, tumben tidak ada dia." Satu orang lagi ikut menyahut membenarkan. “Rena juga te ada, biasanya tiap sore selalu kesini!"
“He, Iyo. Rena juga te ada!"
Meysa menghela napas mendengar pertanyaan itu. Ia kesal, mereka mempertanyakan banyak hal. Rena dan Erza tidak datang pun dia yang ditanya. Padahal bisa saja dua orang itu sedang ada urusan. Pikir Meysa yang tidak sadar jika beberapa karyawan itu tengah mempertanyakan siapa sebenarnya sosok Kai, apakah begitu sepesial hingga Erza dan Rena pun tidak muncul. Kurang lebih seperti itu pemikiran mereka-mereka yang ada disana.
“Rena mungkin sibuk!" ucap Meysa mengakhiri kemudian segera melangkah keluar. Tanpa menyadari raut wajah Kai yang juga berubah.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Kai masih agak kecewa mendengar Meysa yang hanya menganggapnya sebagai teman saat masih di toko. Ditambah kebanyakan mereka yang mempertanyakan keberadaan Erza membuat Kai kesal sendiri. Ia tidak tahu persis sedekat apa hubungan Meysa dengan Erza, tapi itu cukup melukai hatinya.
“Mau makan di rumah atau di luar, bee?" tanya Meysa membuka obrolan. Melalui banyak tempat makan membuat Meysa berniat mengajak Kai makan di luar.
__ADS_1
Laki-laki itu diam, membuat Meysa sedikit memajukan wajah ke bahu Kai. Menatap wajah yang tengah mengemudikan motor dengan suasana hati jelek.
“Bee!" Meysa menepuk bahu Kai agar mau mendengarnya.
Lelaki itu menghela napas. Ia mengerjapkan mata dan mulai mengatakan sesuatu.
“Bee, aku gak tahu hubunganmu sama Erza bagaimana, sampai melihat aku dekatmu aja mereka kek gitu. Macam orang gak suka."
Meysa terdiam mendengar ucapan Kai, ternyata pujaan hatinya sedang memikirkan hal itu.
“Aku gak ada hubungan apa-apa sama Erza, bee. Cuma teman. Mereka jangan didengar." Meysa mencoba menenangkan.
“Erza memang pernah suka sama aku, beberapa kali ngajak serius tapi kutolak terus.”
“Semua karena di hatiku memang ada kamu. Bahkan setelah kamu pergi tanpa aba-aba, aku sesulit itu buka hati.”
Ucapan Meysa cukup membuat hati Kai senang. Tapi jika mengingat obrolan Meysa di toko tadi, Ia sedikit merasa kesal. Meysa hanya menganggapmya sebagai teman.
“Kamu juga nggak ngakuiku, kamu menganggapku cuma sebatas teman di depan orang-orang tu." Kai mencurahkan kegundahannya.
Ternyata dia sedang cemburu. Meysa tersenyum senang.
“Kamukan emang temanku ...." Meysa menggantung ucapannya. Wajah Kai terlihat makin datar dari pantulan kaca spion. Meysa ingin tertawa melihat itu.
“Teman hidup. Kita kan emang mau jadi teman hidup bee." Meysa meneruskan ucapannya. Membuat Kai seketika mengulum senyum.
“Kayak kenal sama kata-katanya," ujar Kai, menatap Meysa dari kaca spion.
“Ya pasti kenallah!" seru Meysa yang juga ikut tersenyum. Bagaimana tidak, itu adalah hal yang selalu Kai ucapkan pada Meysa dulu.
“Jadi dulu kamu nolak Erza karena di hatimu masih ada aku?" Kai mengalihkan, lebih tertarik membahas soal Erza.
“Ya gitu, kalau gak ada mungkin udah lama aku nikah sama Erza." Ucap Meysa asal, padahal sebenarnya jika ia tak mencintai Kai sekalipun Meysa akan berpikir seribu kali menerima Erza karena Bu Asmi yang cerewet dan julid maksimal. Meski Erza baik, Meysa tetap tidak mau karena satu hal itu.
“Orang-orang di toko memang banyak yang mendukung aku sama Erza, katanya Erza baik, tapi ya gimana hatiku bukan buat dia!"
Sungguh Kai dibuat terharu mendengar ucapan Meysa. Ia merasa sangat spesial di hari Bulannya itu.
“Makasih ya bee udah mau jaga hati buat aku!" Kai berkata lirih, satu tangannya terulur menngenggam tangan Meysa, lalu membawanya ke depan. Kai beruntung memiliki Meysa yang masih menjaga hati setelah tindakan bodoh yang pernah ia lakukan.
“Aku sayang kamu, bee!”
“Aku juga sayang kamu!"
Kai yang sudah agak menghafal jalan dari arah toko, melajukan motor tanpa maps ataupun arahan dari Meysa.
“Tadi katanya mau makan, dimana?”
Kamu mau makan apa?" tanya Kai dengan jari yang tergerak mengusap punggung tangan Meysa.
Pertanyaan itu membuat Meysa tersenyum.
“Ingat Coto gak?" Meysa malah menanyakan nama makanan khas Makassar, Sulawesi Selatan itu. Ia ingat dulu pernah memberi tahu Kai soal makanan tersebut. Sekarang Meysa ingin mengajak Kai mencobanya, berhubung Bintangnya itu ada disini
“Yang dari jeroan dan daging sapi yang diiris kecil-kecil itu ya?" tanya Kai memastikan.
“Iya bee, yang itu. Mau coba?" tanya Meysa dengan begitu antusias.
__ADS_1
“Boleh deh bee! Makan apa aja, asal sama kamu aku sih gak masal." Kai mencoba menggombal. Membuat tepukan melayang di punggungnya. Meysa salah tingkah.