
Meysa begitu penasaran dengan apa yang ingin Rena sampaikan. Entah mengapa Ia malah merasa was-was dan takut jika apa yang Rena sampaikan adalah hal yang menyakitkan.
Sial! Dia malah berpikiran yang tidak-tidak tentang Kai dan Rena. Pasalnya apa yang Rena ingin sampaikan bertepatan dengan Kai yang sudah tiga hari tak ada kabar. Meski begitu Meysa tetap berusaha mengendalikan diri agar tetap tenang di tengah kegundahan.
“Mey..."
Jantung Meysa berdetak makin kencang, ia harap-harap cemas, semoga apa yang Rena sampaikan tak ada sangkut-pautnya dengan Kai. Jika tidak, entah bagaimana ia harus menghadapi semua jika apa yang ia takutkan malah seperti yang Rena sampaikan.
“Tapi janji jangan marah!"
“Makanya ceritakan cepat!" perintah Meysa dengan wajah datar tak berekspresi. Membuat Rena menghela napas kasar.
“Mey, selama ini saya..."
Rasanya Meysa ingin menutup telinganya rapat-rapat, ia takut mendengar semua.
“Selama ini saya sama Erza pacaran. Besok malam keluarganya mau datang melamar!"
Mendengar itu, wajah Meysa yang tadinya tegang dan lesu seketika melotot tak percaya. Masih mencoba mencerna apa. yang baru saja Rena sampaikan.
“Hah?" Meysa menampakkan wajah bingung. Entah kenapa ia dan Rena selalu saja saling bertukar kisah bahagia dan menyedihkan di waktu yang bersamaan seperti ini. Tak hanya sekali dua kali, tetapi sudah sering kali. Contohnya seperti saat Meysa mengadukan tentang kejadian dengan Bu Asmi, sedangkan Rena malah memberi kabar kebahagiaan soal dirinya yang lolos tes CPNS.
Rena manggut-manggut dengan mata mengerling seperti anak kucing yang minta dikasihani.
“Coba ulang!" pinta Meysa yang merasa ada gangguan pada pendengarannya.
“Keluarga Erza mau datang melamar, Mey!"
“Jadi selama ini kau sama Erza pacaran?" tanya Meysa memastikan, masih dengan ekspresi tak percaya.
Rena kembali mengangguk.
“Sejak kapan?" Sergah Meysa heboh, Ia bahkan sampai berteriak kegirangan sambil menaikkan posisi kedua kaki di atas kursi.
“Dari bulan 5."
“Buahaha!" Meysa tertawa terbahak sambil melayangkan pukulan di bahu sahabatnya itu.
Kening Rena mengkerut heran melihat respon Meysa. Tadinya ia mengira jika Meysa akan marah karena dirinya merahasiakan hubungannya selama ini dengan Erza. Tetapi melihat respon Meysa yang seperti ini membuat Rena bisa bernapas dengan lega. Meski Rena sendiri tidak tahu apa yang membuat Meysa sampai tertawa seperti itu.
“Bagaimana rasanya LDR?"
Dan yang paling parahnya lagi Meysa malah mempertanyakan hal itu. Membuat Rena kembali menghela napas kesal.
“B aja!" jawab Rena dengan cepat.
Bukannya penasaran dengan awal mula hubungan mereka dimulai, Meysa malah lebih tertarik menanyakan bagaimana rasanya LDR.
”Saya ndak seperti kau Mey, yang galau kalau ndak dikabari. Saya malah senang kalau tidak berkabar tiap hari, ribet!" ungkap Rena yang berbanding terbalik dengan keinginan Meysa yang ingin selalu diberi kabar oleh Kai.
Tentu mendengar ungkapan Rena itu membuat Meysa menampakkan raut wajah tak percaya. Aneh karena merasa Rena agak lain. daripada yang lain.
“Mana ada begitu, biasanya orang mau dikabari, kau malah tidak mau!"
“Ya begitulah Mey, saya juga ndak tau kenapa. Makanya Erza sampai heran.”
“Bahkan Erza pernah bilang begini gara-gara saya ndak mau dikabari setiap hari..."
Meysa nampak penasaran dengan apa yang ingin Rena sampaikan soal Erza.
“Laki-laki itu paling tidak tahan kalau tidak saling mengabari dengan pasangannya, kalau dia sudah jarang kasih kabar itu artinya di hatinya sudah ada orang lain!" Rena mengulang kalimat yang persis seperti yang ia ucapkan tadi.
__ADS_1
“Erza yang bilang begitu?" sergah Meysa tak percaya, membuat Rena mengangguk, berusaha meyakinkan.
“Erza bilang begitu waktu saya minta dia untuk tidak perlu mengabari setiap hari."
Meysa geleng-geleng kepala mendengar penuturan Rena yang agak lain. Disaat ia ingin sekali diberi kabar setiap waktu, Rena justru kebalikannya. Namun, ada hal lain yang mengganggu pikiran Meysa. Membuat gadis itu mengalihkan pembahasan.
“Eh, Ren, bagaimana kau bisa sama Erza.
“Kalian dekat sejak kapan??"
“Kalau kau sama Erza mau menikah, berarti bu Asmi setuju?" Meysa kembali ketawa terbahak-bahak setelah mencecar Rena dengan pertanyaan beruntun.
Membuat Rena memutar mata malas, Rena sudah seperti wartawan.
“Apa, puas kan sekarang do'amu supaya saya jadi menantunya bu Asmi tidak lama lagi tekabul!" Rena berseloroh sambil memutar mata malas.
Meysa yang tadi sedih memikirkan Kai kini merasa terhibur setelah mendengar berita Erza dan Rena akan menikah. Sangat tak menyangka jika orang yang dulu selalu menjadi shipper garis keras antara ia dan Erza malah jadiaan dengan orang yang sama, bahkan tidak lama lagi akan menikah.
“Hahah, rasanya dunia ini terlalu sempit , Ren! Dulu kau yang dukung saya dengan Erza, eh taunya sekarang malah kau yang jadi jodohnya!" Meysa masih saja terkekeh.
“Itulah Mey, saya juga awalnya ndak nyangka akan jadi calon menantunya bu Asmi yang cerewet." Rena mendesah, bukan hanya Meysa yang tak menyangka, bahkan ia pun masih tak menyangka jika takdir akan berbalik seperti ini padanya.
“Tapi dia pasti terima kau, Ren, kamu kan berpendidikan, sudah terangkat juga. Setaralah sama Erza yang juga sama-sama ASN!"
Rena mendorong pelan tubuh Meysa, tak setuju dengan pernyataannya. Meski kenyataanya memang begitu tapi Rena tak suka jika Meysa mengatakan hal demikian, sebab ia tak ingin sahabatnya itu nerasa rendah hanya karena tak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Bagi Rena, Meysa adalah sahabatnya yang luar biasa, ia pandai dan punya banyak bakat.
“Jangan ngomong begitu, semua manusia sama rata di hadapan Allah!" ucap Rena yang sedikit berceramah. “Mau dia PNS, polisi, dokter, miliarder sekalipun, derajat kita sama!"
“Yang membedakan di hadapan Allah itu siapa yang ibadahnya paling taat!"
Meysa hanya manggut-manggut mendengar Rena yang mendadak jadi mama Dedeh. Ia memeluk sahabatnya itu dengan gemas.
“Iya bu guru Rena, iya!"
“Kau memang sudah cocok sekali jadi calon pengantin!" puji Meysa sambil mencubit gemas pipi Rena.
“Kau betulan ndak marah, kan karena saya baru kasih tahu ini sekarang?" tanya Rena memastikan. Tadi ia benar-benar takut kalau Rena sampai kecewa dan marah lalu tak mau lagi bersahabat dengannya.
“Tidak Rentenir, yang penting sekarang ceritakan kenapa kau bisa sama Erza!"
Rena pun menceritakan bagaimana ia bisa memulai hubungan dengan Erza. Semua berawal ketika Erza mengechat Rena untuk menyampaikan maaf pada Meysa soal masalah yang disebabkan oleh Bu Asmi. Pada saat itu nomor Erza diblokir oleh Meysa, sehingga membuat laki-laki itu tak bisa menyampaikan maaf secara langsung . Yang akhirnya membuat ia memilih menyampaikan permohonan maaf melalui Rena yang pada saat itu sudah berada di kampung.
Rena awalnya membalas pesan Erza dengan meluapkan amarah pada lelaki tersebut. Meski begitu Erza sama sekali tak marah. Dari situ mereka jadi sering berkirim pesan, apalagi saat Meysa juga sudah pulang ke kampung.
Namun, lama kelamaan entah bagaimana Erza malah mengutarakan perasaan padanya.
“Saya juga ndak tahu sejak kapan dia suka sama saya." Rena menghela napas setelah bercerita panjang lebar.
“Mungkin Erza baru sadar kalau yang dia suka selama ini itu kau!"
Rena hanya diam, malas membahas hal itu. Ia ingin fokus mempersiapkan diri untuk acara lamaran besok malam.
....
Sementara itu di belahan bumi yang lain. Sekumpulan pemuda yang berada di lokasi camping terlihat tengah mebongkar tenda mereka setelah beberapa hari menginap disana, kini sudah tiba waktunya pulang.
Salah satu pemuda yang niatnya mencari ketenangan dan refresing malah mendapat musibah saat malam pertama menginap di lokasi tersebut. Ia malah kehilangan ponselnya yang entah terjatuh atau diambil oleh orang tak bertanggung jawab.
Pemuda itu adalah Kai. Bukannya mendapat semangat baru, Ia malah kehilangan semangatnya karena kehilangan ponsel. Belum lagi memikirkan sang kekasih yang sudah pasti akan salah paham lagi padanya karena sudah tiga hari ia tak memberi kabar. Kai takut Meysa marah dan kecewa, mengigat belakangan ini hubungan mereka memang sering dihiasi pertengkaran.
Dan pagi ini para rombongan touring dan camping pemuda tersebut sudah pergi meninggalkan area camping. Iring-iringan motor mereka terlihat ramai memenuhi jalan dan berbaur dengan pengendara lain.
__ADS_1
Seteleh beberapa jam berkendara, mereka semua berhenti dab beristirahat di salah satu jalan yang menyuguhkan pemandangan indah dari ketinggian. Banyak warung yang berjejer di pinggir jalan itu. Namun mereka semua memilih menepikan motor di sisi jurang, duduk di pinggir pagar pembatas sambil menikmati keindahan siang dari atas sana.
“Gak usah murung gitu, udah mau sampai juga kita!"
“Iya nanti beli hp baru lagi lah!" ujar kedua temannya yang tak lain dan tak bukan adalah Ojik dan Satria.
“Bukan masalah beli hp baru atau nggaknya, ini si Meysa pasti marah karena aku nggak ngabarin selama tiga hari ini."
“Lah itu rupanya masalah dia!" Kali ini Valdi yang menimpali. “Kenapa gak pakai hp kita-kita aja buat ngabarin?!"
“Nah iya, bener apa kata si Valdi!"
"Kok kita gak ada yang kepikiran!"
Ucap Ojik dan Satria menimpali dan saling tatap satu sama lain.
“Bukan gak kepikiran, tapi aku yang gak mau pakai nomor kalian hubungin dia!" sahut Kai dengan raut wajah penuh beban.
“Kenapa pulak?" tanya Ojik penasaran.
Setelah selesai mempacking semua barang-barang, keempat pemuda itu kembali duduk sambil menengahi permasalahan yang terjadi pada Kai.
“Ntar kalian gangguin dia!"
Ketiga orang itu malah terkekeh mendengar isi pikiran Kai yang terlalu jauh. Meski terkadang jahil, tapi mereka sama sekali tak pernah punya pikiran untuk mengerjai kekasih sahabat sendiri.
“Apa pulak gangguin!"
“Iya, ada-ada aja kau, Kai!"
“Kita gak sejahat itu!" protes ketiganya tak terima.
“Lagian aku punya nomor si Meysa kok!"
Ungkapan Satria membuat Kai langsung menoleh. Dalam hati bertanya bagaimana Satria punya nomor Meysa.
“Kok bisa ada?" tanya Kai penasaran.
“Nggak tau, lupa aku!"
“Cewek kau bikin story gini Kai!" ucap Satria heboh, membuat Ojik, Valdi dan Kai langsung mendekat. Melihat story apa yang Satria maksud.
Mata Kai memerhatikan video musik berisi cuwitan twiter yang berbunyi “Kalau laki-laki dan perempuan saling gak ngasih kabar, biasanya yang paling gak tahan itu laki-laki. Tapi kalo ternyata laki-laki itu tahan gak ngabarin lo, itu artinya di hati dia udah gaak ada lo.“
Bahkan lagu yang mengiringi video tersebut cukup related dengan keadaan yang terjadi.
Gelisah, sesaat saja tiada kabarmu kucuriga
Entah penantianku takkan sia-sia
Dan berikan satu jawaban pasti,
Entah sampai kapan aku harus bertahan.
Saat kau jauh disana rasa cemburu
Merasuk ke dalam pikiranku melayang.
Tak tentu arah tentang dirimu,
Apakah sama yang kau rasakan?
__ADS_1
Melihat story Meysa seketika membuat rasa bersalah kian membuncah di hati Kai. Ia tahu jika story tersebut sudah pasti di tujukan padanya.
Hal itu membuat Kai ingin segera cepat-cepat tiba di rumah dan mengabari Meysa. Selain merasa bersalah atas apa yang terjadi, Kai juga sangat merindukan kekasihnya itu.