Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
72. Erza-Rena In Love


__ADS_3

Hari H yang ditunggu-tunggu oleh kedua mempelai akhirnya tiba. Tepat pukul 9.25 tadi, Erza melafalkan Ijab Qabul yang membuat status Rena berubah dalam sekejap. Gadis pemilik nama lengkap Reina Nur Anggriani, sahabatnya itu resmi menjadi istri dari seorang Ahmad Maherza Saputra. Lelaki yang sempat menyukainya dalam waktu yang cukup lama tapi malah berakhir dengan sang sahabat. orang yang pernah jadi shipper garis keras antara Ia dan lelaki yang kini menjadi suami sahabatnya itu.


Bahkan kedua mempelai itu sudah duduk di atas pelaminan, nampak serasi. Meysa turut berbahagia menyaksikan pernikahan sang sahabat sambil membayangkan bagaimana jika dirinya yang ada di posisi Rena saat ini, pasti perasaan senangnya tak bisa diungkapkan, apalagi jika menikah dengan Kai, orang yang sangat ia cintai.


Ah, nama itu, seketika wajah Meysa yang tersenyum sumringah berubah jadi masam ketika mengingat hubungannya dengan Kai sudah berakhir tadi malam. Ia lantas membuang jauh-jauh pikiran tentang pernikahan. Entah akan menikah atau tidak, sepertinya Ia akan memilih menutup hati untuk sementara.


Meysa yang lelah dan dongkol setelah beberapa kali sempat diserang menggunakan pertanyaan 'Kapan nikah?' oleh beberapa tamu undangan yang melemparkan candaan itu akhirnya memilih beranjak dari meja prasmanan. Ia hendak mencari tempat aman, tempat menyendiri agar tak ada orang yang bisa menanyakan hal serupa.


“Kau kapan nyusul Meysa? Teman-temanmu sudah banyak yang menikah dan punya anak!"


“Kamu sudah tidak lagi mud Meysa, ayo cepat nyusul!" Begitu beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengenalnya melemparkan pertanyaan yang hanya bisa Meysa jawab dengan senyum terpaksa.


Seketika ia merasa terkucilkan dengan pertanyaan yang menyudutkan. Pertanyaan yang katanya dilayangkan dengan niat bercanda. Tidak, menurut Meysa itu bukan candaan, melainkan pertanyaan sensitif yang bisa menjatuhkan mental seseorang yang baru putus cinta sepertinya.


Jika masih dengan Kai, mungkin dengan senang hati ia akan menjawab "Do'akan secepatnya ya!"


Ingin rasanya Meysa balik menayakan kapan ibu-ibu dan bapak-bapak itu menyusul ke Rahmatullah. Ia kesal sekali, baru juga putus cinta, malah dicecar dengan pertanyaan seperti itu. Tapi tak apa, pertanyaan yang terlontar itu membuat Meysa terkekeh, menyadari nasib malang dirinya yang tak kunjung berhasil dalam hal percintaan.


“Hmmmnt, nasib!" lirih Meysa dengan wajah meringis. Pandangannya mengerling ke atas pelaminan, dimana Erza dan Rena yang mengenakan baju pengantin adat bugis berwarna gold dengan tiara yang melekat di kepala mempelai wanita itu tengah tersenyum bahagia menyambut tamu yang silih berganti naik ke atas pelaminan untuk memberikan do'a dan selamat semoga pernikahan kedua mempelai diberkahi.


Gadis berkebaya ungu muda dengan model baju berbentuk selendang yang menyatu dibagian bahu kirinya itu nampak cantik dengan polesan make-up flawless. Perpaduan hijab senada dan aksen brokat dibagian depan kebaya yang Meysa kenakan membuat tampilannya kian menawan. Gadis itu memang selalu cantik meski tampil apa adanya, apalagi jika sudah maksimal seperti ini, sudah pasti kecantikannya akan naik berkali lipat. Sehingga beberapa pemuda terus melirik ke arah anak gadis Pak Rusdi itu.


Meysa terus melangkah nencari temoat yang aman, menyusuri kerumunan tamu yang duduk sembari menikmati hidangan. Flatshoes hitam dengan tali di bagian tumit yang dibelikan Rena itu kian memaksimalkan tampilannya. Tak lupa handbag hitam dengan tali rantai dari brand ternama menjadi pelengkap outfinya kali ini. Hanya saja jangan berharap Meysa mengenakan brand ORI, itu terlalu mahal. Ia hanya mampu mengenakan tas kw dari brand Louis Vuiton itu. Tak apa, yang penting tas!


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya Meysa memilih duduk di bagian belakang, duduk mojok sambil meneguk air gelas yang sempat ia bawa. Meysa duduk sembari bermain ponsel dan berpose untuk mengambil gambar dirinya yang ternyata lumayan cantik.


“Cantik!" Meysa memuji diri sendiri sambil mengarahkan kamera depan. Tangannya terlihat merapikan hijab yang agak berantakan.


Ia mulai tersenyum. Kalem, nyengir, manyun, semua ekspresi ia tampakkan saat berpose untuk foto. Meski begitu, yang menjadi ekspresi favoritnya adalah saat ia tersenyum seraya menampakkan gigi kelincinya.


“Hey Meysa, apa kabar?"


“Sudah lama kita tidak ketemu!"


Baru juga mau mencari ketenangan, kumpulan ibu-ibu necis, tetangga kompleks kakak iparnya di Palu itu malah datang menghampirinya setelah ikut berfoto dengan Bu Asmi dan kedua mempelai. Memang banyak warga komplek perumahan tenpat tinggal kakaknya yang ikut datang menghadiri acara pernikahan Erza dan Rena.


Dengan sigap Meysa menyelesaikan fotoshoot mandirinya, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas.


"Hey, hehe!" balas Meysa sambil membenarkan duduknya, tak lupa ia menampakkan senyum terpaksa saat para ibu-ibu necis itu duduk disampingnya. Bahkan ibu-ibu yang menyaksikan perdebatannya dengan bu Asmi itu juga ada disana.


“Kenapa tidak pernah ke Palu lagi Meysa?"


“Kau kerja apa sekarang?"


"Rumahmu dimana, jauh dari sini kah?"


Gerombolan ibu-ibu tersebut memberikan rententan pertanyaan pada Meysa, membuat gadis itu bingung harus menjawab yang mana lebih dulu.


Sialan, gengnya tanah sengketa ini memang naudzubillah sekali mulutnya! Tidak tau bertanya satu-satu, sudah kayak wartawan! gerutu Meysa dalam hati sambil menyebutkan istilah yang ia sebutkan untuk Bu Asmi.


Meskipun sekarang Bu Asmi sudah menjadi mertua dari sahabatnya, tapi jujur Meysa sama sekali tak bisa melupakan bagaimana perlakuan Asmi padanya dulu. Ia tak pernah lupa bagaimana tanah sengketa itu menghinanya hanya karena mengira ia dekat dengan Erza.


“Saya kira kau sudah menikah sama tunanganmu yang orang jauh itu, eh taunya diduluani sama Erza dan Rena!"


Meysa yang baru saja ingin menjawab pertanyaan dari para ibu-ibu yang bertanya lebih dulu itu seketika menampakkan wajah masam saat ibu-ibu necis yang pernah menyaksikan perdebatannya dengan bu Asmi saat di penjual sayur, malah menayakan soal hubungannya dengan Kai.


“Oh berarti Meysa sudah punya tunangan, jadi kapan nyusul Meysa?"


“Jangan lupa undang kami juga!"


Meysa makin dibuat kesal saat dua ibu-ibu malah turut menaenggapi dengan turut menayangkan pertanyaan keramat seperti ini.


“Kalian sendiri kapan nyusul, sudah ada persiapan belum?"


Kening para ibu-ibu itu mengkerut tak mengerti mendengar pertanyaan Meysa.


“Maksudnya apa Meysa?" tanya mereka penasaran.

__ADS_1


Maksudku itu kapan kalian menyusul ke rahmatullah! desis Meysa dalam hati. Ia yang hampir tersulut emosi langsung sadar dengan cepat saat mengingat ia tengah berada di acara spesial Rena dan Erza.


Meysa yang tak ingi merusak suasana lebih memilih menghindari situasi seperti ini.


“Maaf ya tante, Meysa mau makan dulu, lapar!" kilahnya berbohong, sembari beranjak. Jika ia masih tetap berada disana, takutnya Meysa tak bisa menahan diri untuk tidak kesurupan. Akhirnya Meysa pun pergi.


Ibu-ibu yang merasa Meysa pergi untuk menghindarinya itu hanya saling tatap sambil memasang wajah-wajah julid. Hmmmnt, ternyata sifat mereka masih sama seperti dulu. Beruntung Meysa lebih memilih pergi.


“Huh!" lirih Meysa ketika menyandarkan diri pada kursi plastik yang ada di luar tenda. Meysa memilih duduk di dekat pohon mangga, tepat di samping sound sistem yang menggema. Ia duduk sambil menikmati alunan lagu dari para biduan yang memberikan hiburan di atas panggung.


“Tapi jangan sampai kau macam-macam, di luaran rumah kau macam-macam, sayang..."


“Awas, awas, awas..."


“Jangan sampai ada bunga yang baru, di luar rumaha ah-hhaaa..."


“Aku takut sayangmu terbagi, aku takut rindumu terbagi. Pada orang, pada orang lain."


“Takkan mau lelaki yang dipuja, menduakan cintaa, aaa."


“Perasaan wanita tak beda, ingin dipuja, dimanja-manja..."


Meysa terdengar mengikuti setiap penggalan lirik yang dinyanyikan oleh biduan. Yaitu salah satu lagu populer milik Diva dangdut Indonesia.


Namun, Meysa langsung menghentikan nyanyiannya ketika menoleh ke samping dilihatnya Faza datang sambil membawa kursi plastik.


Kakaknya yang mengenakan batik dengan motif bunga anggrek kecil berwarna putih kombinasi hitam itu duduk di sampingnya.


Meysa hanya memutar mata malas, tak senang Faza mengganggu kesendiriannya.


“Kenapa menyendiri?" tanya Faza, pria dengan potongan rambut model baru itu menoleh pada sang adik yang tengah menampakkan wajah kesal karena kedatangannya.


“Tidak kenapa-kenapa." Meysa menyahut acuh tak acuh. Pandangannya kembali terlaih menyaksikan salah satu tamu yang naik untuk menyumbangkan lagu, berduet dengan salah satu pemuda kampung, teman kecil Meysa, Anca. Pemuda yang lebih tua dua tahun darinya. Bahkan Mamak Meysa masih ada hubungan keluarga dengan Ibu pemuda tersebut. Kakek Meysa dan Nenek Anca adalah sepupu satu kali. Jadi bisa disebut apa dia dengan Anca ini? Emnnt, Entahlah, mungkin nanti kita akan melihat silsilah keluarga mereka.


Suara Anca terdengar mengalun merdu menyayikan salah satu lagu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Dari dulu Anca memang terkenal memiliki suara yang merdu, bahkan suaranya saat melantukan ayat suci Al-Quran pun sangat luar biasa.


“Itu Anca, kan?" tanya Faza. Kakak Meysa itu bahkan turut menikmati lagu yang Anca sumbangkan bersama seorang wanita. Suara keduanya terdengar klop, sama-sama merdu. Membuat siapa saja yang mendengar ingin ikut bersenandung.


“Siapa lagi!?" sahut Meysa ketus. Ia merasa dongkol, suasana hatinya masih buruk karena pertanyaan sialan dari ibu-ibu tadi. Dan kini kehadiran Faza bahkan membuatnya makin kesal, kakaknya itu mengganggu kesendiriannya.


“Bukannya dia sudah punya istri?" tanya Faza dengan terus memerhatikan sosok Anca, pria berperawakan tinggi dengan tindik hitam di telinganya itu terlihat menghayati lagu yang dinyanyikan.


Pertanyaan Faza membuat Meysa memutar mata malas, disaat ingin menikmati lagu yang Anca bawakan, Faza terus saja mengajaknya bicara. Sudah seperti ibu-ibu tukang gosip yang menemukan topik untuk bahan gibah. Kakaknya itu malah mengajaknya membahas persoalan tentang Anca yang notabene masih ada hubungan keluarga dengan mereka.


“Sudah cerai! Kan waktu itu, itu cewek mengaku dihamili sama Anca. Tapi pas lahir keluarga Haji Nurani langsung tes DNA, terbukti kalau anak itu memang bukan anaknya Anca!" Meski kesal Meysa tetap menjawbab pertanyaan Faza sesuai dengan cerita yang pernah ia dengar.


Wajar jika Faza banyak tanya, kakaknya itu tidak banyak tahu tentang kejadian di kampung karena Faza tak menetap disana. Toh kejadiannya sudah cukup lama terjadi, satu tahun setelah ia lulus SMA.


“Jadi ceritanya Anca difitnah?" tanya Faza memastikan. Dua bersaudara itu malah asyik bergibah di tengah acara sepsial Rena dan Erza. Benar-benar partner gibah yang kompak.


Meysa mengangguk membenarkan. “Namanya juga orang kaya, pasti banyak yang mau cari keuntungan."


Faza manggut-manggut mendengar cerita sang adik. Meski Faza tahu jika Anca terkenal badboy karena punya gebetan dimana-mana. Emnt, bukan gebetan, lebih tepatnya banyak cewek-cewek yang mau mendekati Anca karena selain googlooking, Anca yang tajir sering dijadikan tujuan oleh cewek-cewek matre. Meski begitu Ia tahu keluarga dari mamak itu punya sikap yang baik.


Selain itu pemuda yang lebih memilih jadi supir truck yang mengangkut buah sawit ke pabrik itu juga sering menjadi sponsor minuman untuk para anggota supir yang bekerja pada keluarganya.


Terlepas dari itu, Anca dikenal orang yang baik, royal dan gemar memberi. Karena itu banyak orang yang mau mendekatinya dengan niat yang tidak baik. Yaitu hanya untuk dapat keuntungan. Namun, jika ada yang bernai macam-macam dengan Anca dan keluarga, sudah dipastikan hidupnya tidak akan tenang. Sebab keluarga itu punya bekingan yang kuat, bahkan mereka punya para preman, yang akan maju paling depan jika berani bermasalah dengan keluarga Puang Addu, Ayah Anca.


“Eh, kok malah gosip!" gerutu Meysa, yang mana membuat Faza terkekeh sambil mengacak-acak kepala sang adik yang ikut menyanyikan lagu yang Anca nyanyikan.


“Buat apalah susah, cari kesana-kesini."


“Sudah di depan mata, kamulah takdirku."


“Tuhan ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu."


“Kita berdua, diizinkan bersama dan bersatu..."

__ADS_1


“Kau kapan nyusul, Mey?"


Meysa yang tengah asyik ikut menyayikan lagu tersebut langsung menoleh dengan wajah geram. Kesal mendengar pertanyaan yang Faza lontarkan.


“Mamak bilang dia mau cepat-cepat punya menantu laki-laki," ujar Faza seraya senyum. Ia benar-benar senang melihat Meysa menampakkan wajah kesal.


“Jangan ikut-ikutan bertanya seperti itu!" ketus meysa kesal sembari membenarkan hijabnya yang terasa makin melorot ke depan karena ulah tangan Faza tadi.


Pertanyaan Faza benar-benar membuat moodnya yang sudah buruk sejak tadi makin terjun bebas.


“Ya apa salahnya, wajarlah bertanya sama adek sendiri!" balas Faza dengan menyerngitkan kening.


Jika Faza sudah menampakan ekspresi demikian, tentu Meysalah yang balik menciut. Terlalu takut melihat wajah galak dari seorang Maharul Faza Hartono.


"Ya tahu sendiri kita ndak punya pasangan!"


Ups... Meysa menutup mulutnya yang tidak sadar malah mengatakan itu di hadapan Faza. Padahal ia sama sekali tak berniat memberi tahu siapapun tentang hubungannya dengan Kai yang sudah kandas.


Faza yang melihat itu bisa menebak jika Meysa sepertinya sedang galau.


Apa mereka sudah tidak bersama?


Faza bertanya-tanya dalam hati. Berusaha menerka apakah hubungan sang adik dengan Kai sudah karam?


Ah ya, Kai! Nama itu, sudah lama sekali Faza tak mendengar kabar dari calon adik iparnya. Biasanya Ia dan Kai sering bertukar kabar di WA. Kesibukan membuat Faza tak sempat untuk sekedar saling menyapa dengan Kai yang kadang sering mengirim pesan lebih dulu hanya untuk menanyakan kabar.


“Kau..."


“Meysa, sini dulu!"


“Eh, iya!" sahut Meysa sembari beranjak saat dipanggil oleh Haji Nurani, Ibunya Anca, orang yang baru saja mereka bicarakan malah memanggil. Membuat Meysa bergegas beranjak untuk menghampiri.


Gadis itu dengan cepat melangkah ke arah sosok wanita paruh baya yang mengenakan gamis mewah, di tangannya ada banyak gelang emas dan cincin yang besar. Maklum orang kaya di daerah Meysa memang senang sekali memakai perhiasan yang besarnya seperti harapan.


Sedangkan Faza yang baru hendak bertanya soal hubungan Kai dan Meysa hanya bisa mencebik saat melihat sang adik malah di panggil. Membuat ia batal mewawancarai Meysa.


“Iye, tante haji?" tanya Meysa sopan pada salah satu orang yang disegani di kampung ini. Meski bukan pejabat, tapi kekayaan membuat keluarga itu dihormati.


“Tidak sibuk, kan?" tanya Haki Nurani seraya memegang tangan Meysa.


Meysa menjawab dengan gelengan.


“Minta tolong antarkan dulu makanan ke puang haji di rumah!" ujar Haji Nurani seraya menyebut nama sang suami dengan panggilan tersebut. Dimana istilah puang disematkan pada seseorang yang memiliki strata sosial tinggi di kalangan suku Bugis. Menandakan mereka adalah keturunan orang terhormat.


“Iye Haji, bisa!" seru Meysa menyanggupi.


“Ini!" Haji Nurani pun memberikan beberapa rantang berisi santapan pesta pada Meysa.


"Bisa mubawa?" tanyanya memastikan apakah Meysa bisa membawa rantang tersebut atau tidak.


Belum sempat Meysa menjawab, Haji Nurani sudah berkata lebih dulu. “Oh itu, suruh Anca saja yang antar!" tunjuk Haji Nurani pada sang anak yang baru saja turun dari panggung setelah menyumbangkan satu lagu.


“Anca!" panggil Haji Nurani pada Anca.


“Apa, mak?" pria dengan model rambut undercut rapi dengan tampilan menggunakan jeans hitam dipadukan dengan kaos putih over size model V di bagian kerahnya itu datang menghampiri sang Ibu.


“Antar Meysa bawa ini ke rumah!"


Pria pemilik nama asli Hamzah itu menoleh pada Meysa. Kemudian mengangguk setelahnya.


“Oh, Ayo!" ujar Anca seraya mengeluarkan kuci mobil dari saku celananya.


“Maaf Meysa, tante menyusahkan lagi!" ujar Haji Nurani yang merasa tak enak hati. Tadi ia bingung harus minta tolong pada siapa, sebab harus masih berada disana untuk menerima tamu. Namun, kebetulan matanya menangkap sosok Meysa yang tengah duduk santai dengan Faza di bawah pohon mangga.


“Eh, ndak apa-apa tante Haji." Meysa menggeleng tanda tak keberatan. Kemudian ia segera menyusul Anca yang sudah melangkah lebih dulu.


Bahkan duda perjaka itu sudah berada di jalan, menyingkirkan bebeberapa motor yang menghalangi mobil Pajero miliknya.

__ADS_1


__ADS_2