
Sepanjang jalan pulang dari membeli bahan makanan air mata Meysa tak henti-hentinya menetes. Selama ini ia memang selalu menyikapi cerita yang beredar dengan santai dan terkesan abai setiap kali Eka memberi tahu tentang semua.
Namun, ternyata berhadapan langsung, nyata di depan mata membuat Meysa tak sekuat itu. Hatinya rapuh seketika. Gadis itu merasa terluka karena dipermalukan di depan umum.
Jangankan dimarahi orang lain, dimarahi ibu kandungnya di depan umum saja sakit hatinya sampai berhari-hari. Apalagi ini orang yang sama sekali tak berperan apapun dalam hidupnya malah dengan tega mengatainya sedari dulu. Sepertinya mulai saat ini Meysa benar-benar menaruh dendam pada Ibu Erza tersebut.
Setiap ada kendaraan yang berlalu di sampingnya, Meysa berusaha menunduk dan menutupi wajah dengan tangan. Disaat seperti inilah Ia selalu menyesal tak mengenakan hijab. Jika menggunakan hijab mungkin ia tak perlu khawatir wajah sembabnya dilihat orang. Tentu hijab akan sedikit membantu melindungi.
Dalam hati Meysa juga berpikir jika mungkin masalah yang baru saja terjadi merupakan salah satu cara Allah memberi peringatan betapa penting dan bergunanya hijab. Seketika Meysa merasa hatinya carut maru karena dua hal dalam waktu bersamaan. Satu karena masalah dengan bu Asmi, kedua merasa berdosa karena sering buka hijab.
Sesampainya di rumah ia langsung menaruh belanjaan di atas meja. Ia yang tadinya hendak menyiapkan sarapan pagi merasa tak mampu untuk mengerjakan semua. Meysa berniat menemui Rena dan akan mencurahkan semua pada sahabatnya itu.
“Kak Eka, bahannya sudah ada," teriak Meysa memberi tahu sambil berjalan ke arah kamar. Ia buru-buru agar tak ada yang melihat kondisi wajahnya yang sembab.
“Meysa ndak bisa bantu masak kak, kepalaku sakit!"
“Oh iya Mey, te apa. Biar nanti saya yang masak!" sahut Eka dari dalam kamar. Ibu satu anak itu tengah memakaikan baju pada baby Gia yang baru habis mandi.
“Minum obat Mey! Ada obat di lemari pantry!" teriak Eka lagi. Meski terkadang marah tapi sebenarnya Eka cukup perhatian dan menyayangi adik iparnya itu. Hanya saja bukankah sifat alami seorang manusi jika terkadang memiliki mood yang buruk dan tiba-tiba marah. Maka Eka, Meysa atau entah siapapun itu pernah mengalami.
Namun, orang yang ditujukan tak menyahut sama sekali. Sebab setelah mengambil hp di kamar. Meysa langsung berlari menuju kamar Rena.
“Kau kenapa, Mey?" tanya salah seorang wanita yang cukup dewasa saat melihat Meysa hendak masuk di kamar Rena sambil menangis.
Meysa mengangguk sambil tersenyum. Membuat wanita yang tengah menyapu di teras kost berbentuk panjang itu mengerutkan kening. Sedangkan Meysa langsung masuk ke kamar Rena yang tak terkunci.
“Ren!" panggil Meysa yang terdengar pilu. Ruang yang cukup luasa itu nampak kosong. Rena lalu masuk ke ruangan berukuran 2×3 yang manjadi kamar Rena.
“Ren!" lirih Meysa saat melihat Rena yang masih mengenakan pakaian dan hijab sport yang sama seperti tadi saat tengah menjemur sedang duduk di kasur sambil memangku laptopnya.
“Iya, Mey!" sahut Rena yang sama sekali tak menoleh. Membuat Meysa lekas mendekat dan duduk di samping Rena yang sedang fokus.
“Mey, kau tau Mey aku lulus jadi PNS. Aaaaa!" teriak Rena kegirangan sambil membaca sebuah pengumuman di website online yang ada si layar laptopnya. Tanpa tahu Meysa yang ada di sampingnya sedang menunduk sambil menitihkan air mata.
Mendengar tak ada respon dari Meysa, Rena lalu bersiap untuk menoleh. Ia akan membagi kebahagiaan, dimana dirinya menjadi salah satu peserta yang lolos tes CPNS gelombang sekian yang diadakan sebulan yang lalu itu.
“Mey!" seru Rena saat mendapati Meysa tengah menangis. Membuat ia seketika urung menyampaikan kabar kelulusannya.
__ADS_1
“Kau kenapa?" Rena meletakkan laptopnya di sisi sebelah kanan dan langsung menarik Meysa ke dalam pelukannya.
Tangisan Meysa malah makin pecah dan terdengar sesegukan.
“Hikssss..."
Tangan Rena menepuk punggung Meysa, berusaha menenangkan. “Kenapa?"
“Ada masalah apa lagi?" Namun, bukannya menjawab Meysa malah semakin terisak dan menumpahkan tangisnya di pelukan Rena.
“Masalah dengan Mamakmu kah?" tanya Ren mencoba menebak. Namun ia malah mendapat gelengan dari Meysa.
“Faza? Eka?"
Lagi-lagi Meysa menggeleng.
“Kai?" Ren mencoba menebak semua orang yang memungkinkan jadi penyebab sahabatnya menangis. Namun, tak ada satupun yang benar.
Membuat Rena frustasi karena terlalu penasaran.
“Kau habis baca novel sedih atau nonton film, seris sedih?" Rena kembali menerka-nerka sambil memegang kedua bahu Meysa yang tengah mengusap air matanya, gadis itu sesegukan.
“Mertuamu, Ren! Mertuamu jahat!"
Ucapan Meysa membuat Rena menyerngit kesal. Ia tak mengerti ucapaan ngaur sahabatnya itu. cukup lama Rena dibuat menunggu penasaran, tapi sekalinya bicara Meysa malah menjawab dengan jawaban membingungkan.
“Mertua mana lagi anu, ko tau ji kita berdua inj sama-sama belum menikah." Saking kesalnya Ren langsung bicara menggunakan logat Makassar.
“Bicara yang jelas!"
Meysa meeyusut hidungya tersedu-sedu. Sahabatnya memang lucknut, bukannya prihatin ia malah dibentak-bentak begitu. Kalau begini ceritanya Meysa merasa salah menjadikan Rena rumah. Hmmmnt.
“Mertuamu, Mamanya Erza, bu Asmi!" ungkap Meysa sambil mengusap wajahnya secara kasar.
Plak...
Benar-benar tak mendapat empati. Bahkan setelah mendengar jawaban Meysa, Rena langsung melayangkan pukulan. Gadis itu kesal setiap sekali mendengar Meya menyebut bu Asmi sebagai mertuanya.
__ADS_1
“Jaga bicara mu ******!"
Meysa mengerucutkan bibir. Air matanya sudah cukup kering karena kelakukan lucknut Rena yang berusaha menenangkannya dengan cara tak bersahabat.
“Kenapa mamanya Erza?" tanya Rena penasaran.
Meysa lalu menceritakan apa yang terjadi saat beli sayur tadi. Membuat Rena yang mendengar cerita pilunya tukut merasakan sakit yang Meysa rasakan.
“Hatiku sakit sekali, Ren. Apa sebegitu hinanya orang yang tidam melanjutkan kuliah dan hanya lulusan SMA seperti saya ini!" seru Meysa dengan air mata yang kembali berkaca-kaca.
Rena manggut-manggut, tak lagi mengatakan sesuatu. Ia menepuk bahu Meysa, berusaha mengerti apa yang sahabatnya rasakan.
“Lagi pula saya juga ndak pernah berharap sama anaknya, tapi kenapa mulutnya itu ibu-ibu rempong jahat sekali!" keluh Meysa panjang lebar yang mana membuat Rena langsung memeluknya, berusaha memberikan ketenangan tanpa banyak kata.
.....
Sedangkan di rumah, Eka yang baru selesai menidurkan Bayi Gia langsung keluar menuju dapur. Saat melihat bahan masakan tergeletak di atas meja, Eka langsung mengingat Meysa yang katanya sedang sakit kepala.
Ibu dua anak itu lalu bergegas mencari obat di lemari pantry dan akan memberikannya pada adik ipar yang sudah bekerja keras membantunya mengurus rumah setiap hari. Di saat seperti ini kadang Eka sadar betapa bergunanya Meysa.
Ia lalu segera menuju kamar anak gadis itu.
“Mey, ini obat!"
Mata Eka langsung menyerngit saat tak melihat keberadaan adik iparnya disana.
“Mey?" panggil Eka. Ia berjalan masuk mencari keberadaan Meysa di kamar mandi. Tapi tak ada juga.
“Mana itu anak? katanya sakit kepala." Eka berujar sambil berlalu dari kamar menuju dapur.
Disaat yang bersamaan ia berpapasan dengan Faza dan Cia yang barus selesai bermain air di halaman belakang.
“Ada Meysa di belakang?" tanya Eka pada Faza. Namun suaminya itu malah menggeleng tidak tahu.
“Dimana stau itu anak, katanya tadi sakit kepala!" ujar Eka mencari-cari keberadaan Meysa.
Faza nampak berpikir dan bersiap menjawab kemudian. “Mungkin di kamarnya Rena!"
__ADS_1