
Meysa hanya bisa menunduk sambil meremas ujung bajunya. Hatinya seperti teriris mendengar ucapan Erza. Apalagi ketika melihat laki-laki itu melangkah pergi dengan membawa kesedihan.
Tapi Meysa seakan membeku, Ia tak bisa melakukan apapun. Lebih tepatnya bingung harus berbuat apa. Air matanya lolos begitu saja, merasa diri sudah seperti orang paling jahat. Erza terluka karenanya.
Sementara Kai yang melihat Meysa seperti itu langsung beranjak untuk mendekati Meysa. Mencoba untuk menenangkan.
“Bee." Kai berdiri memegang bahu Meysa, membuat gadis itu menoleh dengan tatapan penuh rasa bersalah.
“Jangan merasa bersalah atas pilihanmu." Kini jemari Kai tergerak mengusap lembut kepala Meysa.
Perasaan campur aduk yang dirasakan membuat Meysa bingung.
“Atau kamu menyesal karena sudah memilihku, kamu berubah pikiran?"
Pertanyaan Kai membuat Meysa mendongak menatap Kai, gadis itu menggeleng dengan cepat. Menyesal? Tentu tidak. Bagi Meysa memilih Kai bukanlah suatu kesalahan yang harus disesali. Hanya saja saat ini ia merasa bersalah telah membuat orang sebaik Erza terluka.
Jawaban Meysa membuat Kai tersenyum. Bersyukur punya Meysa yang juga memiliki perasaan besar dalam mencintainya. Tak pernah goyah pada orang lain, apalagi sampai berpaling, padahal bisa dibilang Erza adalah sosok sempurna.
“Makasih ya bee sudah mau memilihku." Kai terharu.
Meysa menjawab ucapan Kai dengan anggukan. Sementara tangan Kai langsung tergerak menghapus air mata Meysa yang masih menetes.
“Masuklah bee, kamu belum ada ganti baju dari pagi, kan? Belum mandi juga, kan?" Kai mencoba menghibur, mengingatkan Meysa untuk tidak perlu sesedih ini.
Beruntung Meysa segera menuruti perkataan Kai, Ia memang belum mandi sejak pagi.
“Kamu belum makan malam?”
“Aku aman kok!"
Meysa mendelik sebal, Kai malah menjawab seperti itu. Yang ditanya apa, jawabnya apa. Tidak nyambung menurut Meysa.
“Ih, aku gak tanya kamu aman atau nggak!" protes Meysa. “Aku nanya kamu sudah makan malam atau belum?"
Kai menghela napas, senang melihat sikap bawel sang Bulan. “Udah tadi siang, bee. Aman!"
“Aman-aman aja terus bilangnya padahal belum!" sergah Meysa tak suka. “Ayo makan!"
Kai terkekeh, lucu melihat Meysa begini. Dulu Ia hanya bisa merasakan disuruh makan lewat hp. Kali ini Meysa memaksanya secara langsung. Wajah sok galak itu kelihatan menggemaskan.
“Kamu masuk aja dulu! Mandi, ganti baju, abis tu aku nyusul. Kita makan bareng.” Kai berusaha bernegosiasi. Beruntung Meysa menyetujui.
“Bener ya, aku tunggu!"
“Iya, kasih kode kalau udah selesai!"
Kai mengedipkan mata, membuat Meysa yang tahu maksud itu langsung memukul bahu Kai. Ia kelihatan senang, seakan melupakan kesedihan karena pilihannya yang melukai Erza.
“Bercanda bee!" sahut Kai sembari mengusap bahunya, korban keganasan Meysa.
“Masuk gih!"
Meysa lalu masuk dengan senyum tertahan di balik wajah sembabnya. Tanpa tahu jika Erza yang sedari tadi belum pergi, masih memerhatikan interaksi mereka dari balik pagar. Pria itu berdiri di sisi motornya sambil menahan rasa sakit melihat wanita yang diharapkan terlihat bahagia bersama pilihannya.
Setelah Meysa benar-benar masuk. Kai langsung menoleh ke tempat dimana Erza masih berdiri.
Kai menarik napas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan sembari melangkah ke arah Erza.
Kai melemparkan senyum, Ia bersitatap dengan Erza. Sorot mata yang terluka itu tetap membalas senyumannya. Kai bisa menebak jika Erza memang sosok yang baik dan tulus.
__ADS_1
“Bisa bicara sebentar?”
Erza menarik napas dalam, dengan tegar menyetujui permintaan lelaki yang ingin berbincang dengannya.
“Boleh." Erza mengangguk. “Dimana?"
Kai yang tidak tahu tempat sekitaran sini kelihatan bingung saat harus menjawab dimana.
Hingga akhirnya Erza menyadari jika laki-laki di depannya ini merupakan orang baru yang tidak tahu seluk beluk tempat disekitar sini.
“Bagaimana kalau di sana!"
Kai menyerngit menatap arah telunjuk Erza.
”Di ujung gang itu ada tempat anak muda biasa nongkrong.”
Kai menyetujui, akhirnya mereka sama-sama melangkah kesana. Awalnya Kai pikir dekat sehingga Ia memilih menolak ajakan Erza untuk berboncengan. Ternyata cukup jauh. Tadinya Kai berniat ingin jalan kaki sambil menghirup udara malam di area tempat tinggal sang Bulan. Untungnya Erza mau menemaninya berjalan kaki, pemuda itu rela mendorong motornya hanya agar bisa saling beriringan. Terlihat akrab satu sama lain, padahal belum resmi saling mengenal. Hanya tahu nama masing-masing dari cerita orang.
“Hmmmnt, sudah ada penghuninya,” celetuk Erza saat dari kejauhan melihat segerombolan anak muda sudah berkumpul sambil main gitar di tempat yang dimaksud.
Kai juga bisa melihat itu.
“Oii, Erza!"
“Oi!" Erza balas menyapa ketika salah seorang pemuda meneriaki.
“Den siapa?" tanya salah seorang lagi, mereka kelihatan akrab karena memang itu merupakan teman kecil Erza. Hanya saja sudah beda jalur, Erza sudah jarang nongkrong dengan circle itu. Ia akan bergabung saat mendapat tugas ronda saja, selebihnya Erza bergaul dengan rekan di tempat kerja.
“Oh ini, dengan tamunya Faza!" Erza menyahut apa adanya.
“Mau kemana kamu orang bajalan kaki?"
“Kenapa motornya ndak dipakai?"
“Ini, bannya kempes makanya badorong dulu kita."
Pengakuan Erza membuat teman-teman pemuda itu menawarkan bantuan untuk mengantarnya ke bengkel. Tapi ditolak sebab mereka tidak benar-benar ingin ke bengkel, melainkan ingin cari tempat berbincang.
Setelah jalan cukup jauh, mencari tempat yang aman di sekitar kompleks tersebut, tapi tak ada, sebab mereka berada di ujung belakang kompleks, jadi tidak ada yang spesial disana.
Karena sudah lelah akhirnya Erza mengajak Kai berhenti di sebuah jembatan, dekat jalan buntu. Disana cukup sepi, cocok untuk mengobrol.
“Bicara disini tidak apa, 'kan?" Erza bertanya setelah menstandarkan motor matic miik adiknya yang dia bawa.
“Huh, iya, memangnya mau kemana lagi. Ini saja sudah ngos-ngosan." Kai yang kelelahan langsung duduk bersandar di pinggiran jembatan.
Erza ingin tertawa meledek melihat Kai yang kelelahan, apa kabar dirinya yang jalan sambil mendorong motor? Erza membatin, ternyata Kai lemah!
“Tunggu sebentar, saya beli minum!"
Kai mengibaskan kerah Hoodie sambil menatap Erza yang melangkah ke warung tak jauh dari sana.
“Ini!" Erza memberikan satu kaleng minuman bersoda pada Kai.
“Buka hoodiemu biar tidak panas!" Erza memberi saran. Kasihan pada orang asing yang kepanasan.
Kai menggeleng. “Sudah tidak terlalu!" Ia hanya kehausaan, dari sejak bicara dengan Meysa ia tidak pernah minum, ditambah harus jalan kaki cukup jauh membuat tenaganya terkuras.
Kening Erza menyerngit saat Kai menyodorkan uang 20 ribu dari saku celananya untuk menggantikan uang Erza.
__ADS_1
“Tidak usah, kau orang jauh, pakai saja untuk ongkos pulang."
Ucapan Erza membuat Kai tertawa sumbang. Erza cukup perhatian dengan memikirkan perongkosan untuknya. Ya, musafir sepertinya memang harus berhemat. Mengingat mengumpulkan uang untuk bisa kesini membutuhkan waktu yang cukup lama membuat Kai terkekeh dalam hati.
“Saya ikhlas, anggap saja sedekah kecil-kecilan."
Lagi-lagi Kai hanya tersenyum mendengar ucapan Erza yang cukup receh.
“Makasih sudah mau bersedekah!" Kai mengangkat kaleng minuman di tangannya.
Membuat Erza yang duduk di motor balas mengangkat kaleng minuman itu, seakan sedang bersulang. Mereka sama-sama tersenyum.
Setelah itu keduanya saling terdiam cukup lama. Hingga akhirnya Kai membuka percakapan lebih dulu.
“Maaf!"
Mendengar kata maaf yang terucap membuat Erza menoleh pada Kai.
“Maaf karena memilihku, membuat Meysa melukai kamu!"
Erza tersenyum mendengar itu. Ia menarik napas dalam sembari memperbaiki posisinya yang ada di atas motor.
“Memang ya, yang selalu ada akan kalah sama yang dia sukai!” Erza turun dari motor. Ia berdiri dan melangkah ke sisi jembatan disebelahnya.
“Kenapa kamu harus datang disaat perjuanganku mendapatkannya sudah sejauh ini?"
Pertanyaan yang Erza sampaikan membuat Kai menarik napas dalam, Ia menunduk sambil membuang puntung rokok setelah menghisap hingga sedotan terakhir. Kepulan asap tertiup dari bibir Kai, kelihatan seksi.
“Maaf!” Hanya itu yang mampu Kai ucapkan.
Ia memang tidak tahu hal apa saja yang pernah terjadi diantara Erza dan Meysa. Tapi Kai sangat sadar jika kemunculannya merupakan penyebab patah hati terbesar bagi laki-laki di hadapannya ini.
Erza balas tersenyum pedih.
“Saya sadar, kehadiran saya yang menyebabkan semua ini.”
“Tapi saya juga tidak bisa membohongi diri kalau saya masih mengginginkan dia dan cinta ini pada Meysa tak pernah berkurang sedikitpun!" ungkap Kai.
“Kalau memang benar begitu, lalu kenapa selama ini kamu menghilang tanpa memikirkan perasaannya?" cecar Erza sambil terus menatap wajah pria asing di hadapannya. Bukan asing, lebih tepatnya ia hanya mengenal Kai dari cerita Meysa malam itu.
“Saya punya alasan!” jawab Kai sendu. Apa perlu Ia mengungkapkan hal ini pada Erza.
“Apapun alasannya itu tidak pantas!" sergah Erza lagi.
Ucapan Erza membuat Kai mau tidak mau harus menceritakan alasannya. Ia tidak ingin dikira mempermainkan Meysa tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Saya terpaksa!"
“Saya terpaksa melakukan itu karena saya bingung. Saya takut memberikan harapan dan kepastian untuk hubungan kami, sedangkan pada saat itu kehidupan saya masih belum jelas, saya belum punya pekerjaan yang bagus. Bahkan untuk menjanjikan kehidupan yang layakpun saya tidak berani. Sementara kami sama-sama punya mimpi yang tinggi untuk bisa bersama.” Kai tak lagi perduli jika ia harus mengungkapkan kepahitan hidupnya. Kai hanya ingin orang lain tak menganggapnya jahat karena melakukan itu. Padahal sebenarnya Ia juga sama terlukanya.
“Itulah alasan kenapa saya sampai memilih meninggalkan, Bulan."
Erza tercengang mendengar kata Bulan. Tadi ia cukup dibuat terharu mendengar kisah yang cukup memilukan. Suasana mendadak hening sesaat, suara hewan-hewan disekitar rerumputan pinggir jembatan terdengar jelas.
Menyadari sebutannya pada Meysa, Kai lekas membenarkan. “Ehmmmnt, maksud saya Meysa!"
Erza memutar mata mendengar sebutan yang disematkan pada Meysa. Ternyata cukup lebay. Tapi Erza memaklumi, kalau dia yang ada di posis itu mungkin akan membuat panggilan yang lebih romantis. Erza terkekeh menyadari keinginannya. Pandangannya kembali teralih saat Kai melanjutkan ucapan.
“Saya terpaksa mundur dan menghilang hanya untuk menata hidup! Mempersiapkan diri untuk dia!"
__ADS_1
Cerita panjang lebar versi Kai cukup membuat Erza tersayat. Setelah kemarin malam sempat mendengar curhatan versi Meysa. Sebagai laki-laki Erza lebih dibuat nano-nano oleh cerita dari Kai'ulani. Hal ini membuat dirinya seperti konsultan cinta, menjadi penengah diantara dua orang itu. Padahal situasi dan kondisi seharusnya berpihak padanya yang menderita batin karena cintanya bertepuk sebelah tangan sejak zaman dulu. Ahh, Erza merasa begitu mengenaskan.
Tapi setelah dipikir-pikir, perjuangan Kai memang lebih besar dibanding dirinya. Mereka sudah bersama sejak lama, sebelum ia menyukai Meysa, bahkan perjuangan Kai untuk bisa sampai disini mampu membuat Erza salut.