Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
26


__ADS_3

Rena menyusul Meysa ke kamar. Pagi ini ia merasa seperti pengangguran, tidak ke sekolah karena kesiangan. Ah, kesiangan! Rena kesal, seharusnya Ia tidak akan terlambat bangun jika Meysa membangunkan.


Rena kesal sekali, ingin marah dan melayangkan protes pada Meysa tapi sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Jadi Rena lebih memilih untuk menemani Meysa untuk cari solusi dulu. Aksi protesnya akan ditunda dulu.


Rena masuk ke dalam kamar bernuansa kodok bermata besar itu. Matanya langsung tertuju pada Meysa. Dia sedang duduk merenung, menghadap ke jendela.


Rena menghela napas, ia duduk di atas spring bed lantai, menghadap ke Meysa.


“Pasti berat ya?" Rena kembali ke hakikatnya, menjadi seorang sahabat yang pengertian dan baik hati. Dengan semangat 45 siap menjadi pendengar dan penengah yang baik.


“Tenangkan diri dulu, biar bisa menentukan pilihan." Rena menepuk bahu Meysa, menyalurkan kekuatan tak kasat mata.


“Apapun pilihannya aku pasti akan dukung. Yang penting kau bahagia." Rena berusaha memberikan solusi. Meski begitu ia tetap berharap Meysa tidak memilih kembali pada Kai.


Ingin rasanya Rena menegaskan, tapi takut hal itu membuat Meysa malah makin pusing.


“Aku masih menginginkannya, Ren!" Meysa menoleh sendu. Membuat Rena meringis dalam hati. Meski tahu posisi Kai tetap Numero Uno di hati Meysa, besar harapan Rena agar Meysa bisa berpikir rasional, tidak memilih yang sudah menggoreskan luka.


Kisah percintaan sahabatnya ini terlalu rumit, membuat Rena muak dan enggan berurusan dengan cinta. Dalam hati Rena bangga karena memilih jadi jomblo sejak empat tahun yang lalu, jika tidak mungkin hidupnya akan semengenaskan Meysa hanya karena cinta.

__ADS_1


Baru Rena ingin bicara, Meysa lebih dulu meneruskan ucapannya.


“Ada kebahagiaan tersendiri bisa melihatnya secara langsung disini. Saya masih ndak menyangka kalau dia benar-benar datang menemuiku, Ren!"


Rena terdiam, tak bisa dipungkiri Ia pun masih tak percaya hal itu. Ia pikir setelah setahun berlalu kisah mereka hanya bisa dikenang saja, nyatanya tidak. Laki-laki itu malah datang dan menunjukkan itikad baik untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan di masa lalu. Menjadi salah satu sikap yang membuat Rena kagum. Kai memang tidak main-main, dia juga mau membuktikan keseriusan dengan memperbaiki semua. Tapi jauh di lubuk hati, Rena masih berharap Erza dan Meysa bisa bersatu. Entah kenapa ia benar-benar menjadi shipper garis keras kedua insan Tuhan yang tak mengantongi restu dari Mama Erza itu.


"Tapi ... " Meysa menghela napas, matanya masih menatap lurus ke jendela. “ ... Rasa sakitnya masih ada, saya berusaha memaafkan tapi sama sekali tidak bisa menerima alasannya.”


Rena mengangguk paham. Berusaha menempatkan diri di posisi Meysa adalah pilihan terbaik. Rena tidak ingin jadi sahabat egois.


“Jadi, kau mau perbaiki semua atau bagaimana?"


“Mau berpikir sampai kapan?"


“Kasihan juga dia kalau menunggu terlalu lama."


Meysa menghela napas, yang dikatakan Rena ada benarnya. Ia tidak boleh terlalu lama dalam mengambil keputusan. Apalagi kata Faza, Kai rela mengambil cuti hanya untuk menemuinya. Ini sudah hari ketiga Kai disini, itu artinya tiga hari lagi ia sudah harus pulang.


Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Meysa akhirnya menjawab.

__ADS_1


“Nanti malam!" Ia menoleh pada Rena. “Nanti malam akanku kasih jawaban. Sekarang saya mau menenangkan diri dulu!"


Rena menyerngit melihat Meysa beranjak. Meraih Hoodie dan mengeratkan talinya di leher, membuatnya tak perlu lagi repot-repot memakai jilbab. Kepalanya sudah tertutup sempurna menggunakan kupluk hoodie.


“Kau mau kemana?" tanya Rena heran.


Belum juga ia melayangkan protes karena tidak dibangunkan oleh Meysa, sahabatnya itu malah berniat pergi. Lalu pada siapa Rena akan melampiaskan protes? Tak ingin rugi, Rena harus mencegah, atau paling tidak harus ikut dengan Meysa.


“Mau menenangkan diri." Meysa beralih ke depan cermin, ia mengoleskan liptin tipis ke bibir, lalu menyemprotkan parfum aroma black sakura ke bagian leher yang tertutup, hampir sekujur tubuh terkena parfum. Wanginya menyeruak ke seluruh ruang.


“Dimana? Saya ikut, Mey!"


“Jangan, kau di rumah saja. Tidak usah ikut!"


“Masa saya sendiri di rumah!" Protes Rena tidak terima.


“Yang namanya menenangkan diri itu sendiri, kalau kau ikut bukan menenangkan diri namanya, tapi menambah beban!"


Rena mendengkus kesal, Meysa sudah keluar dari kamar. Ia di tinggal di rumah. Tidak ke sekolah dan tidak ada kesibukan di tambah lagi tidak ada yang temani, membuat Rena terus menggerutu. Kesal sekali pada Meysa.

__ADS_1


Akhirnya untuk mencari kesibukan, Rena memilih melanjutkan nonton drakor yang belum selesai ditontonnya semalam karena keburu tidur. Saat nonton Rena lupa jika ada beberapa tugas anak muridnya yang belum diperiksa, ia lalu menyelesaikan acara nontonnya dan memilih mengoreksi jawaban tugas tersebut.


__ADS_2