Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
75. Niat Lamaran.


__ADS_3

Sepulang dari rumah Rena. Meysa yang baru saja memarkirkan motor di samping rumah teras berwarna hijau itu baru menyadari jika mobil Faza ternyata tengah terparkir disana.


“Kak Faza datang?" tanya Meysa dalam hati sambil meraih kunci motornya.


“Ada urusan apa lagi dia datang!? Padahal besok sudah hari senin." Meysa melangkahkan kaki ke dalam rumah sambil terus menerka apa yang membuat kakaknya itu datang.


Karena tak menemukan Faza disana, Meysa lalu pergi menuju dapur untuk mencari Bapak. Namun nihil, Ia juga tak menemukan bapak di seantero rumah.


Setelah bersih-bersih dan melaksanakan shalat maghrib, Meysa menyiapkan makan malam untuk bapak dan Faza yang belum juga pulang.


Begitu semua beres, gadis itu langsung menuju bangunan kecil yang ada di depan rumah. Yang merupakan tempat buketnya bersemayam.


Meysa menyalakan lampu yang belum menyala. Membuat ruangan yang di dominasi chat berwarna pink itu menjadi terang benderang.


Meysa mencharger ponselnya, lalu meletakkan laptop di atas meja. Gadis itu duduk di kursi sambil membuka laptop. Sebelum menyelesaikan beberapa orderan buket, Meysa berniat memutar drama Korea kesukaannya. Ia akan membuat buket sambil menonton drama kesukaan yang sudah berulang kali ia khatamkan.


“Mey!" Faza membuka pintu toko yang terbuat dari kaca itu. dilihatnya sang adik tengah duduk sambil menaikkan kaki di atas meja kasir, dengan laptop di depannya tampak menyala .


Meysa yang melihat kedatangan kai langsung menurunkan kaki dari meja. Niat hati ingin merangkai buket malah batal karena keterusan nonton. Gadis yang kini sudah berusia 25 tahun itu lalu mempause laptopnya dan menoleh pada sang kakak.


“Iya?" tanya Meysa dengan wajah serius.


Faza menarik kursi tunggal yang ada di depan meja Meysa, lalu dengan serius menatap mata sang adik.


“Kau ada rasa sama Anca atau tidak?"


Meysa mengerutkan kening mendengar pertanyaan sang Kakak. Bukan hanya itu, lebih tepatnya ia dibuat heran karena sudah mendengar dua pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda. Tadi sore Rena dan sekarang Faza, kakaknya juga ikut menanyakan hal yang sama. Kenapa?


Tentu Meysa menggeleng dengan cepat, sebab Ia dan Anca tak memiliki hubungan sespesial itu hingga membuat ia ada rasa padanya.


Melihat anggukan dari Meysa, Faza lalu menghela napas panjang.


“Untung Dirman kasih tahu kakak duluan, kalau tidak mungkin urusannya bisa panjang!"


Ucapan Faza membuat kening Meysa makin mengkerut, apalagi setelah mendengar nama Dirman, kakak pertama Anca itu disebut dalam pembahasan ini. Membuat berbagai tanya kian berseliweran di kepala Meysa. Sebenarnya ada apa?


Belum juga Meysa bertanya, Faza sudah lebih dulu menjelaskan secara detail.


“Keluarga Puang Addu berniat datang melamar."


“Hah?" sergah Meysa dengan cepat. Gadis itu melongo tak percaya. Ternyata apa yang Rena ucapkan sore tadi benar adanya.


“Katanya Anca suka kau, tapi dia tidak mau pacaran, mau langsung menikah makanya minta dilamarkan. Tapi untungnya Puang Addu berpikiran bijak dengan mau bertanya dulu, takutnya sudah datang melamar malah ditolak seperti yang sudah-sudah."


Meysa menunduk lesu mendengar hal itu. Tak menyangka ternyata Anca benar-benar menyimpan rasa padanya.


“Kalau Dirman tidak memberi tahu, entah apa yang terjadi, Mey. Tahu sendiri bagaimana kedudukan keluarga mereka, sudah pasti penolakanmu akan dianggap penghinaan."


Faza sangat merasa bersyukur Dirman mau menghubunginya terlebih dulu soal lamaran ini. Sehingga membuat Ia rela datang jauh-jauh demi untuk membicarakan hal ini. Faza yang datang bersama Erza dan Rena sore tadi itu langsung datang ke rumah keluarga Anca untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu.


“Sebaiknya dibicarakan dulu sama Meysa, jangan sampai terjadi kesalahpahaman kalau sampai ditolak, apalagi kita ini keluarga." Begitu Ayah Anca berkata dengan bijak ketika tadi Faza dan Bapak datang untuk memastikan ucapan Dirman dari telpon kemarin malam.


“Dipastikan dulu, kalau memang saling suka jadi kami bisa langsung datang menunaikan niat baik."


Setelah itu Bapak dan Faza pun pulang untuk menanyakan hal ini pada Meysa. Dengan Bapak yang meminta Faza untuk berbicara langsung pada Meysa.


Mendengar cerita dari Faza membuat kepala Meysa kian menunduk, gadis itu tak bisa membendung air matanya. Hingga membuat kristal bening itu menetes begitu saja.


Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak di dada. Ia tak kuasa menahan tangis mengingat rentetan kejadian yang terjadi belakangan ini. Mulai dari berakhirnya hubungannya dengan Kai hingga ia mencoba membuka hati untuk melupakan laki-laki itu. Namun, bukannya lupa, semua malah menjadi runyam seperti ini. Niat hati membuka hati pada orang lain selalu saja gagal dan berujung pada penolakan. Setiap kali orang-orang yang mendekatinya berniat serius Ia malah berubah pikiran dan menolaknya. Tak jarang hal itu menimbulkan masalah baru bagi keluarga dan dirinya. Karena hal itu pula Meysa kerap kali menjadi bahan gibah orang-orang yang suka mengurus masalah hidup orang lain


Ia sering dicap sebagai wanita pemilih dan suka mempermainkan perasaan orang lain. Apalagi kali ini Anca malah berniat melamarnya, padahal selama ini Ia menganggap kedekatannya dengan Anca tak lebih dari sekedar teman dan sepupu. Tapi nyatanya laki-laki itu malah serius dengan berniat melamarnya.


Faza yang melihat sang adik menangis hanya menghela napas. Ia tak bisa menlimpahkan kesalahan sepenuhnya pada Meysa. Ia tahu adiknya itu sedang berada di titik tidak tahu arah mau kemana.


“Kakak tidak tahu apa yang terjadi diantara kau dan Kai." Tangan Faza terulur mengusap punggung Meysa yang menunduk sambil menahan isak tangis.


Punggung ringkih itu bergetar hebat seraya menumpahkan isak tangis di hadapan Faza. Baru kali ini ia berani menumpahkan air mata di hadapan Kakaknya itu. Biasanya ia selalu bisa menyembunyikan kesedihannya.


“Kalau memang hubungan kalian berakhir karena ketidak cocokan, ya mau dikata apa?! Kita tidak bisa memaksa, kau harus bisa ikhlas. Mungkin dia memang bukan takdirmu!” Faza mencoba berbicara dengan lembut, dari hati ke hati.


Sebenarnya Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi diantara Ia dan Kai. Bahkan bertanya pada Rena pun, sahabatnya itu tak mengetahui apa-apa. Kali ini Meysa benar-benar menyembunyikan masalahnya dari semua orang.


Namun melihat beberapa kekacauan belakang ini membuat Faza menyimpulkan jika hubungan Kai dan Meysa sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


“Tapi kalau memang masih sama-sama suka ya dipertahankan, kalian bisa berjuang sama-sama!"


“Kau harus tahu Meysa, perjuangan seorang laki-laki untuk menghalalkan itu tidak mudah. Selain harus meyakinkan orangtua wanita, dia juga harus berjuang untuk memberikan mahar dan kehidupan yang layak untuk calon istrinya nanti."


"Kakak juga tahu perjuangan pihak perempuan pun tidak kalah susah. Menunggu itu bukan hal yang mudah, harus berperang batin untuk meyakinkan diri untuk menunggu seseorang yang kelak akan dia jadikan suaminya, orang yang nantinya akan harus lebih diutamakan daripada orang tua ketika status kalian sudah sah!"


Apa yang Faza sampaikan begitu kena di hati Meysa. Faza bisa mengatakan hal itu karena ia dan Eka bahkan sudah melalui semua.


Rentetan ucapan Faza sontak membuat Meysa kembali teringat pada Kai. Hatinya kian berdesir perih ketika mengingat janji dan kenangan yang berusaha ia kubur malah kian menari di kepala.


“Menunggu kepastian itu memang seberat itu, Mey!"


“Tapi kalau memang hubunganmu dengan Kai tidak bisa diperbaiki, jangan bikin hidupmu makin rumit dengan cara seperti ini. Jangan cari pelampiasan sana-sini biar bisa lupa!"


“Coba sibuk perbaiki diri, berdo'a sama Allah. Minta supaya dikasih jalan yang terbaik. Bukan malah buka hati sana-sini. Kalau sudah begini siapa yang direpotkan?!"


Dari yang tadinya memberikan nasehat baik-baik, kini berubah menjadi nasehat yang disertai amarah. Sebenarnya Faza tidak ingin marah, tapi masalah dengan Anca kali ini benar-benar bisa menimbulkan permasalahan besar. Meningat Anca merupakan sosok yang sedikit tempramen. Keluarganya bisa saja menerima keputusan Meysa, tetapi belum tentu dengan Anca. Apalagi kata keluarganya, baru kali ini Anca seserius itu pada wanita dan meminta untuk segera dilamarkan. Berbeda dengan beberapa wanita yang sebelumnya pernah dekat dengan Anca. Tak ada satupun yang berhasil membuat Anca berniat meneruskan ke jenjang yang lebih serius selepas menikah karena dijebak waktu itu.


“Ya sudah kalau memang tidak mau, saya sama bapak mau ke rumah Puang Addu dulu untuk bahas ini!"


Begitu Faza keluar, tangan Meysa tergerak menggeser laptop lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja. Gadis itu menumpahkan tangis seorang diri disana.


.


.


.


Keesokan harinya, Meysa kembali beraktivitas seperti semula. Faza yang kemarin datang dengan Erza dan Rena itu sudah bertolak ke kotanya bersama suami sang sahabat setelah menyelesaikan masalah niat lamaran dari keluarga Anca.


Karena kejadian ini Meysa teramat merasa bersalah pada Anca dan keluarga. Ia takut selepas ini hubungan keluarganya dengan keluarga Anca akan meregang. Apalagi semalam Ia mendapat telepon dari Mamak yang memarahinya karena masalah tersebut.


“Kau ini kenapa Meysa, kalau memang belum siap menikah jangan kasih harapan ke anaknya orang. Giliran sudah mau dilamar malah berubah pikiran. Apa jangan-jangan kau ini memang mau jadi perawan tua atau ada kelainan di dirimu?"


Begitu ucapan menohok dari Mamak yang membuat air matanya kian mengalir deras.


“Umurmu sudah hampir 26 tapi kau belum mau serius dengan siapapun. Kalau memang belum siap, jangan kasih harapan ke orang. Mana sekarang yang jadi korban Anca. Kita tidak enak sama keluarganya, Meysa!"


“Pokoknya mamak ndak mau tahu, kau harus minta maaf sendiri sama Anca. Jangan sampai rusak hubungan keluarga cuma gara-gara kau yang terlalu banyak tingkah, ndak tahu apa maunya!"


“Sepertinya aku memang tidak beruntung dari segala hal!" lirih Meysa sembari meratapi nasib. Mulai dari masalah keluarga, ekonomi, cita-cita, pekerjaan dan bahkan hubungan percintaan pun ia selalu gagal.


Dengan mata berkaca-kaca Meysa melepaskan helm begitu tiba di rumah mewah milik Anca. Rumah dengan model panggung, yang bagian atasnya terbuat dari kayu ulin, sedangkan bagian bahahnya ditembok dengan warna putih.


Rumah Anca memang terlihat biasa saja jika dari luar, tetapi jika masuk ke dalam. Maka mata siapa saja disuguhkan dengan interior bak istana dengan furniture dan prabotan yang mewah. Sudah dibilang, keluarga Anca memang keluarga Sultan.


"Assalamualaikum!" ucap Meysa sambil memecet bel yanga ada di samping pintu kayu berplitur cokelat itu.


Kedatangan Meysa kali ini dengan niat meminta maaf pada keluarga Anca. Sebagai anak yang tak ingin menyusahkan orang tua, Meysa berinisiatif meminta maaf secara langsung pada Anca setelah mendapat omelan dari mamak semalam.


Apa yang Mamak katakan tidak sepenuhnya salah. Bahkan setelah merenung sepanjang malam. Omongan Faza dan Mamak membuat Ia tersadar jika permasalahan yang terjadi belakangan ini memang sumber masalahnya ada pada dirinya. Jika ia tak tebar pesona dan membuka peternakan buaya demi untuk melupakan Kai, mungkin situasinya tidak akan serumit ini. Orang-orang yang dekat dengannya selama ini tentu tidak akan salah menyangka jika dirinya pun memiliki rasa yang sama, padahal sama sekali tidak. Sebab setelah berpisah dari Kai, ia merasa hatinya kosong dan begitu hampa.


Bahkan selapas kejadian semalam, bapak seperti menghindar dan bersikap acuh semenjak ia selalu membuat masalah. Mungkin bapak kecewa karena anak perempuannya selalu buat onat. Hal itu membuat Meysa sedih. Sepertinya mulai sekarang ia berniat berubah dan tak ingin menyusahkan orang lain. Meysa tak ingin jadi beban untuk keluarga.


“Waalaikumsalam!"


Tak butuh waktu lama, seorang wanita paruh baya bersongkok haji datang sambil memegang ponsel di tangan.


“Eh, Meysa!" Haji Nurani tersenyum menyambut kedatangan Meysa.


“Sini, masuk, nak!" Haji Nurani meraih bahu Meysa, merangkul anak dari sepupu dua kalinya itu masuk ke dalam rumah.


Mendapat sambutan seperti ini oleh Mamaknya Anca, membuat Meysa menerka jika Haji Nurani sama sekali tak mempermasalahkan penolakannya.


“Bi, bikinkan Meysa minuman!" teriak Mamak Anca memberi perintah pada seorang pelayan di rumah itu.


“Ndak usah repot-repot tante haji!" ujar Meysa yang merasa sungkan.


Tangan mamak Anca menepis angin, menandakan jika kehadiran Meysa sama sekali tak merepotkan.


“Ndak merepotkan, Meysa. Kapan lagi kau datang kesini!"


Meysa tersenyum mendengar ucapan Mamaknya Anca. Meski ada hubungan keluarga, datang berkunjung ke rumah Anca mungkin bisa dihitung dengan jari. Hanya saat lebaran atau ada acara tertentu saja. Berbeda saat kecil. Ia, Rena, Anca dan anak seusia mereka dulu kerap kali menjadi geng bermain.

__ADS_1


“Ada apa, Meysa?"


Meysa menghela napas panjang. Ia mendadak ragu menyampaikan tujuannya datang kemari.


Namun, Mamak Anca yang bisa menebak tujuannya kemari membuat Meysa sedikit lega. Sebab tanpa harus berkata panjang lebar, haji Nurani bisa memahami dirinya.


“Masalah lamaran Anca?" tebak Haji Nurani dengan wajah tersenyum.


Membuat Meysa mengangguk mengiyakan. Haji Nurani lantas mengusap punggung gadis itu.


“Jangan diambil pusing Meysa!"


“Bukankah perasaan tidak bisa dipaksakan? Kalau tidak suka, masa iya harus dipaksa."


”Ya walaupun pihak keluarga sudah sama-sama setuju, tapikan pernikahan kalian yang menjalani, bukan kami atau orang lain."


Ucapan Mamak Anca membuat Meysa bisa menyimpulkan jika kali ini bukan hanya Anca yang menginginkan pernikahan, tetapi keluarga lelaki itu dan keluarganya pun setuju jika Ia dan Anca bersatu. Kini Meysa mengerti kenapa Mamak begitu sangat marah. Bahkan berita ini begitu cepat beredar di kalangan keluarga besar, mereka semua menyayangkan keputusan Meysa yang menolak niat baik Anca dan keluarga. Meysa sadar betul, hanya Bapak dan Faza yang ada dipihak netral.


“Eh, itu Anca sudah datang."


Obrolan dua wanita beda generasi itu harus terpecah ketika sosok pria jakung masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam atau mengetuk pintu.


Meysa menoleh pada sosok Anca yang terlihat cuek dan mengabaikan keberadaannya. Pemuda menggunakan kaos hitam yang dipadukan dengan celana cinos pendek itu melangkah ke dalam rumah.


“Bicaralah sama Anca, nak!"


“Tapi, tante Haji!" lirih Meysa yang masih merasa bersalah pada keluarga Haji Nurani.


Mamak Anca menggeleng sambil menarik Meysa ke dalam pelukannya.


“Tente dan ommu tidak apa-apa Meysa, kita keluarga, tidak mungkin bermasalah hanya karena ini!"


Itu yang Meysa suka dari keluarga Anca, meski sering diisukan sombong oleh orang-orang. Tapi di mata Meysa, mereka keluarga yang baik meski gaya hidupnya terkenal hedon dan mewah. Bahkan dari semua orang kaya yang berhubungan dekat dengan keluarganya, hanya Keluarga ini saja yang menurut Meysa baik.


Setelah meengobrol dengan Haji Nurani, Meysa lalu memutuskan untuk menemui Anca. Ia berlari menyusul pria itu. Meysa ingin meminta maaf pada Anca, ia tak ingin hubungan pertemanan dengan pria itu hancur hanya karena masalah kemarin.


“Ca!" panggil Meysa pada Anca yang tengah berada di halaman belakang, tengah memberi makan ikan-ikan peliharaannya.


Setelah dibuat mencari di seantero rumah, akhirnya Meysa menemukan Anca disana. Pria jakung itu sudah berganti baju menggunakan baju singlet hitam, menampakkan tatto Anca yang berada di lengan kiri.


“Anca!" teriak Meysa sekali lagi saat Anca hanya menoleh sekilas dan memilih mengabaikannya.


“Kau marah?" Kini Meysa sudah berdiri tepat di belakang Anca.


“Anca!" teriak Meysa kesal, sebab Anca masih saja mengabaikan dirinya.


“Anca, maaf!" lirih Meysa sambil menoel punggung Anca.


Cukup lama diabaikan oleh Anca membuat Meysa bersiap beranjak pergi dari sana. Toh, Anca juga tak menghiraukan keberadaannya. Jadi untuk apa tetap disana? Bukankah lebih baik pergi. Begitu Meysa berpikir.


Namun, baru ia balik badan dan dalam langkah kedua. Anca sudah mencegah langkahnya dengan ucapan menohok.


“Kukira hubungan kita spesial, Meysa! Ternyata kau menganggapku tak lebih dari sekedar sepupu dan teman!"


Meysa terpaku mendengar ucapan Anca sambil mengingat interaksi bagian mana yang membuat Anca menganggap hubungan mereka istimewa, hingga berniat untuk melamarnya.


“Pantas saja kau menolak banyak orang, ternyata kau sudah punya orang lain dan hubungan kalian juga sudah selama itu!"


Semalam setelah Faza dan Bapak menyampaikan alasan Meysa yang tak bisa menerima karena sudah menjalin hubungan dengan orang lain, berhasil membuat Anca terkejut. Ia yang hampir marah karena penolakan Meysa pun berusaha mengontrol diri, sebab merasa tak berhak marah karena Meysa sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan orang lain. Bahkan sudah selama itu.


Walau sejujurnya Anca sedikit kecewa sebab selama ini Ia tak pernah tahu jika Meysa sudah memiliki pacar.


“Orang mana?" tanya Anca yang akhirnya berusaha untuk sadar diri. Tak ada alasan yang membuatnya marah lebih lama lagi pada Meysa.


Meysa gelagapan. Bingung harus jawab apa, apalagi hubungannya dengan Kai sudah lama berakhir. Namun, jika ia mengatakan yang sejujurnya, sudah pasti Anca akan marah dan menganggap alasan yang Bapak dan Faza berikan adalah sebuah kebohongan.


“O-orang jauh."


“Jauh dimana?" tanya Anca dengan memicingkan mata.


“Pe-pekanbaru!"


Mau tak mau Meysa memang harus mengatakan hal itu agar tak menimbulkan masalah baru. Dan benar saja, hal itu berhasil meluluhkan Anca. Laki-laki itu tak lagi marah dan bahkan sudah bersikap seperti biasa.

__ADS_1


Akhirnya Meysa bisa merasa sedikit lega, permasalahan yang membuatnya merasa bersalah kini bisa teratasi.


__ADS_2