
Meysa dan Kai duduk di atas karpet plastik dekat tangga. Meysa mulai menyusun requestan pelanggan sesuai pesanan. Mulai dari warna kain wrap dan bunga yang akan digunakan.
Hembusan napas kasar terdengar saat Meysa menyadari jika ternyata ia belum menyiapkan snack yang akan dirangkai bersama bunga.
“Kenapa?" tanya Kai ingin tahu, Ia menyadari raut wajah Meysa yang mengkerut.
“Snacknya belum ada!" ucap Meysa.
“Oh, yaudah beli lah bee!" seru Kai memberi saran.
“Kamu tunggu sini dulu ya, Aku pergi bentar."
Meysa yang hendak beranjak menoleh pada Kai. Lelaki itu mengatakan ingin ikut dengannya.
“Aku ikut ya!”
Meysa yang sudah berdiri hanya menghela napas. Kai sudah seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya. Sedangkan Meysa adalah induk ayam itu sendiri.
“Hmmnnt, yaudah ayok!" Meski begitu Meysa tetap menyetujui keinginan Kai.
Kai berdiri dengan wajah berbinar. Rasa senang berada didekat Meysa tak bisa diuraikan dengan kata-kata. Ia bahagia sekali. Rasanya tidak ingin jauh-jauh.
“Yok." Kai memakai sendal model flip on miliknya. Lalu berdiri dengan wajah sumringah di samping Meysa.
Meysa tersenyum, Iamelangkah lebih dulu lalu disusul Kai yang terus mengintilinya seperti anak ayam. Meysa melangkah, Kai pun melangkah, Meysa berhenti, Kai pun melakukan hal yang sama. Persis saat ini, dimana Meysa memberi tahu Pida jika ia harus memberi Snack untuk bahan buket.
“Kak, snacknya belum ada." Lapor Meysa.
“Oh iya, Mey. Lupa!"
Wanita itu lalu merogoh laci, mengambil uang untuk belanja.
“Sekalian beli makanan dan minuman, Mey!" Pida memberikan dua lembar uang merah dan satu lembar uang biru.
“Apa?"
“Es dawet, makanannya tersera kau, Mey!"
Meysa si induk ayam lalu keluar setelah mengangguk, tak lupa dengan anaknya yang terus mengekori di belakang.
“Gak pakai motor?" tanya Kai setengah berlari menyusul Meysa yang hendak menyebrang jalan. Anak ayam itu agak lambat karena tadi sempat memeriksa ponselnya sejenak.
“Gak." Kepala Meysa menoleh kanan-kiri memerhatikan kendaraan yang melaju, mencari peluang untuk segera menyebrang.
“Dekat kok! tuh, disana." Meysa menunjuk salah satu minimarket yang tak jauh dari penjual es kelapa muda, depan toko.
Tak kunjung menyebrang, membuat Kai mengarahkan tangan menggenggam tangan Meysa, menuntunnya menyebrang saat melihat kendaraan agak berkurang.
Diperlakukan seperti itu membuat jantung Meysa berdebar lebih cepat. Campur aduk antara bahagia dan gerogi. Persis seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta. Mungkin karena kali pertama bagi keduanya melakukan hal seperti ini. Sehingga Meysa merasa sudah seperti tua bangka yang mengidap sakit jantung.
Meysa terpaku, Ia beranikan diri membalas genggaman Kai sambil terus menatap dalam diam, dengan tangan yang masih saling bertaut dalam genggaman Kai. Mata Meysa mencuri pandang, menelisik wajah rupawan yang mampu menggetarkan hatinya sejak pertama kali bersitatap virtual, bahkan kini getarannyapun masih sama, malah kian terasa lebih dahsyat.
Tubuh tinggi, dengan lengan yang berotot. Guratan urat di lengan dan punggung tangannya sangat nyata. Mata Meysa kembali beralih menelisik wajah tenang itu, rahang tegas, pipi yang tak lagi secuby dulu membuat lesung di pipi sebelah kiri Kai dapat terlihat jelas. Sangat manis, mata yang tak sipit dan tak juga besar, bibir tipis dan hidung yang lumayan mancung itu benar-benar pemandangan yang bagus untuk mata.
Meysa tersenyum menyadari betapa besar perasaannya terhadap orang asing itu. Menurutnya, memaafkan Kai bukanlah suatu kesalahan. Ia memang masih terlalu mencintainya, Meysa tidak menyesali pilihan tersebut.
“Yang ini, kan?" tanya Kai memastikan saat mereka masuk di halaman sebuah mini market dengan logo huruf A itu.
Meysa mengangguk. “Iya ini."
Senyum kian terulas di bibirnya saat menyadari Kai masih menggenggam erat tangannya hingga masuk ke minimarket. Bahkan Kai lebih dulu mengambil keranjang belanjaan untuknya. Rasanya istimewa sekali diperlakukan seperti ini, perlakuan sederhana yang membuat Meysa merasa dihargai.
Mereka mengitari rak bagian snack, dengan Meysa yang mulai memilih. Sementara Kai berdiri memegang keranjang. Persis seperti pasangan yang tengah belanja bulanan bersama istri.
“Anggap lagi simulasi belanja bulanan sebelum nikah,” celetuk Kai dengan senyum tertahan. Membuat Meysa menoleh dengan melayangkan cubitan kecil di pinggangnya.
Selesai memilih snack, Kai pergi ke jejeran lemari pendingin. Kali ini berbalik Meysa yang mengikuti.
“Kamu mau minum apa bee?" Kai yang sudah memilih minuman sari kacang hijau menoleh pada Meysa.
Tapi gadis itu malah menampakkan senyum, tidak menjawab pertanyaan Kai.
“Yang mana bee?"
__ADS_1
Meysa masih mengulum senyum. Melihat Kai memilih minuman sari kacang hijau membuatnya teringat jika Bintangnya ini memang suka dengan minuman yang tidak masuk dalam list minuman pilihannya.
“Masih suka minuman itu ternyata."
Kai menatap minuman di tangannya. Ia pun ikut tersenyum.
“Ya masihlah, bee. Kan enak."
“Gak enak, Aku gak suka!" Meysa mengedikkan bahu.
“Emang pernah coba makanya bilang gak enak?" sergah Kai, ia tahu Meysa pernah bilang jika dirinya tak suka minuman susu, selain yang rasa cokelat.
Meysa terkekeh sambil menggeleng.
“Yaudah coba ini aja biar tahu rasanya, enak kok!" Kai mencoba meraih minuman yang sama. Tapi Meysa langsung menggeleng, tangan Kai ditariknya agar tak mengambil minuman tersebut. Dia tidak suka. Melihat warnanya saja Meysa tidak tertarik.
“Jadinya mau yang mana, bee?" Kai menghela napas, tangannya terarah meraih minuman yang lain.
“Suka ini, kan?" Kai menunjukkan minuman dari bulir jeruk.
Meysa tersenyum haru melihat Kai, ternyata lelaki itu masih mengingat dengan baik minuman yang disukanya. Sebenarnya ada banyak, seperti sprite, fanta, dan pulpy pun termasuk. Meysa hanya tidak suka dengan minuman berwarna aneh, apalagi sejenis susu-susuan.
“Kirain gak tahu."
“Ya tahu lah, bee."
Meski baru pertama bertemu, tapi keduanya sudah saling tahu kesukaan masing-masing.
Mereka ke kasir, Kai membayar minuman dan beberapa cemilan yang dia beli untuk dirinya dengan Meysa, begitu selesai keduanya lalu keluar.
Saat sudah hampir masuk di toko, Meysa malah berhenti. Dia duduk di motor yang terparkir kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana. Melihat itu, Kai mundur untuk menghampiri.
“Kenapa?" tanya Kai penasaran.
“Mau pesan cendol dulu, malas kalau harus keluar."
Kai mengangguk mendengar ucapan Meysa. Ia menunggu sembari memerhatikan Bulannya. Menurut Kai dia yang paling cantik sedunia.
Selesai melakukan pesanan es dawet. Meysa dan Kai masuk toko, bersiap mengerjakan orderan buket yang cukup menggunung.
"Kau bapesan online?"
“Hehe, Iya kak, lama kalau keluar. Nanti ini tidak selesai-selesai," ujar Meysa sambil menunjuk kresek snack yang dipegang.
“Ohiya, mana-mana jo yang penting es!"
Kedua sejoli yang begitu lengket seperti sepasang sepatu yang kesana kemari bersama, mereka meneruskan langkah ke belakang. Melalui lorong indah, kiri-kanannya terdapat rak bunga yang disusun rapi.
Meysa merentangkan tangannya menyentuh bunga rambat sintesis yang ada di atas besi putih berbentuk terowongan mungil itu.
“Ini cantik kan, Kai!" Meysa berkata dengan sedikit menoleh pada Kai.
“Ho'oh!" Kai yang berjalan sambil menyeruput susu sari kacang hijaunya hanya mengangguk.
Sudah seperti anak-anak yang suka minum susu, hanya saja ini anak ayam. Meysa terkekeh menyadari itu.
Meysa mulai merangkai buket. Mempersiapkan lem tembak, double tip, dan stik sate yang berguna untuk merekatkan snack lalu akan ditancapkan di stierofoam.
Kai terus memerhatikan Meysa yang tampak begitu serius, tangan laki-laki itu pun tak kalah aktifnya meraih bahan hanya untuk diamati satu-persatu.
“Bul!"
“Hmmnt!" sahut Meysa tanpa menoleh. Ia sudah selesai merekatkan snack dengan warna senada pada stik sate.
“Sebenarnya di toko ini kamu sebagai apa?" tanya Kai heran. Sejak tadi ia memerhatikan Meysa seperti mengerjakan semua yang bisa dikerjakan.
Meysa menyerngit mendengar pertanyaan Kai.
“Maksudnya tuh kan biasanya ada pembagian tugas gutu. Misalnya yang ini sebagai kasir, terus yang satunya admin dan sebagainya. Terus kamu posisinya sebagai apa?" Kai memperjelas pertanyaannya. Membuat Meysa mengerti.
Wanita itu mengangguk. “Oh itu." Katanya sambil melipat kain wrapping berwarna maroon dengan pinggiran garis berwarna gold.
“Sebenarnya tugasku dibagian merangkai hand buket, berupa snack, uang, bunga, biasa juga bikin balon Snack hampers kalau ada yang order online."
__ADS_1
Kai manggut-manggut mendengar penjelasan Meysa, yang ternyata tugasnya dibagian menerima pesanan online saja. Itu artinya, ia bisa saja mengerjakan semua pesanan di rumah atau di toko sekalipun, sesuai keinginan.
“Berarti biar gak datang tiap hari pun gak masalah dong?" tanya Kai lagi.
Meysa mengedikkan bahu sambil mengangkat alis. “Ya gitu, tapi aku lebih suka datang tiap hari sih."
“Kenapa gitu?"
“Yakan ramai, bisa kumpul-kumpul dengan yang lain, sekalian bantu-bantu apa yang bisa dikerjakan.”
“Disini enak, rasanya tuh tentram." Meysa menghirup napas dalam-dalam sambil melirik ke sekitar, ia memang selalu merasa tenang berada di toko. Mungkin karena suasananya sejuk.
Kai tersenyum melihat Meysa seperti itu. “Bukannya dulu kamu gak suka keramaian?" ucap Kai mengingatkan dengan senyum tertahan.
Saat awal kenal dulu, Kai ingat betul Meysa yang saat itu masih tinggal di kampung bersama Bapaknya pernah mengatakan tidak suka keramaian dan malas keluar rumah.
Bahkan setiap Kali Kai menanyakan keberadaan Meysa, gadis itu selalu menjawab di kamar dan di kamar. Selalu seperti itu, Meysa hanya keluar jika ada hal penting dan mendesak. Saat itu Meysa memang berada di fase malas bergaul dan lebih suka sendiri.
“Itu kan dulu," celetuk Meysa dengan bibir mengerucut. “Sekarang sudah beda,” sahutnya lagi.
Ya, semenjak tak lagi berhubungan dengan Kai setahun lebih lalu dan memutuskan tinggal dengan Faza hingga bekerja di toko seperti sekarang.
Sebenarnya Meysa sudah lama ditawarkan kerja disini oleh Eka, sedari lulus SMA. Tapi saat itu ia masih tinggal dengan Bapak, belum lagi saat itu Meysa pernah menjadi kaur di kantor desa, yang kebetulan kepala desanya sahabat Bapak dan Mamak. Melihat Meysa yang pengangguran dan tidak lanjut kuliah, dia disuruh menduduki posisi tersebut. Ia jadi pegawai termuda yang kerja jalur orang dalam.
Bahkan Kai juga tahu semua itu. Meysa pernah berbagi kisah nepotisme yang pernah dilakukan, dia dipilih karena jalur hubungan orang tuanya dengan pak desa begitu dekat.
“Wih, udah jadi dua aja nih, bee." Kai meraih buket yang baru saja Meysa selesaikan. Cantik, perpaduan warna yang serasi dan indah menurut Kai.
“Mau bikin berapa?" Kai yang merasa lelah, merebahkan tubuhnya, berbantalkan tangan yang dilipat ke bawah kepala.
“Banyak, hari ini ada 10 orderan."
“Kalau mau tidur, disitu ada kamar!" Meysa menunjuk ruang di samping.
“Kalau tidur sama kamu sih ayok." Kai mengerlingkan mata sambil tersenyum nakal.
“Issh, dasar otak mesum!" seloroh Meysa sambil berdiri, lalu masuk ke dalam kamar. Ia keluar membawa bantal dan diberikan pada Kai.
“Bercanda bee!" Kai meraih bantal lalu dipakainya.
“Hmmmnt," sahut Meysa tak memperdulikan Kai, ia sibuk merangkai orderan selanjutnya.
“Aku gak ngantuk kok, lagi pula sebentar lagi sudah dzuhur. Mau langsung shalat.
Benar saja, baru Kai mengatakan itu. Suara shalawat tahrim sudah terdengar dari mesjid-mesjid sekitar.
“Aku shalat dulu ya."
“Dimana?" Meysa mendongak saat melihat Kai berdiri.
“Di mesjid."
“Emang tahu mesjidnya dimana?"
“Tahu kok, yang tempat kita bicara waktu aku baru datang itu, kan?" tanya Kai memastikan. Meysa mengangguk.
Kai lalu pergi. Meski bukan laki-laki yang taat, tapi dia tak pernah meninggalkan kewajiban lima waktu. Dosa sudah banyak, ditambah tidak shalat otomatis makin numpuklah dosa itu. Begitu cara Kai menyemangati diri setiap kali godaan malas shalat menghampiri.
Beberapa saat kemudian, Kai sudah kembali dari shalat. Meysa menoleh pada pujaan hatinya itu, rambutnya terlihat basah. Wajahnya juga nampak lebih berseri setelah disentuh air wudu. Masyaallah sekali, Meysa makin mengagumi Bintangnya itu. Dia makin berbinar terang meski di siang hari.
“Kamu gak shalat, bee?" Kai kembali merebahkan diri disana.
“Aku halangan!"
Kai mengangguk mendengar itu.
“Nih, es!" Meysa menunjuk es dawet yang baru diantar kurir saat Kai pergi shalat tadi.
“Iya bee, taro situ aja."
“Kamu gak lapar?" tanya Meysa lagi.
“Lapar sih, tapi nanti aja bee. Aku mau tidur bentar gak apa, kan?" tanya Kai meminta izin.
__ADS_1
“Gak apa, tidur aja kalau ngantuk."
Setelah itu Kai langsung terlelap, dengan menutup matanya menggunakan lengan. Sedangkan Meysa yang melihat itu hanya tersenyum. Kai seperti bosster yang membuatnya lebih bersemangat hari ini.