
Empat hari berlalu sejak kepergian Kai. Selama itu pula Meysa selalu merindukan lelaki itu. Beruntung kesibukan di toko dan orderan buket yang menggunung membuatnya sejenak bisa melupakan kesedihan, walau di saat-saat tertentu dia akan merasa begitu merindukan Kai.
Minggu pagi ini ia terlihat masih sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah bersama Eka.
“Mey, kalau pakaiannya sudah dipengering, kau pergi beli bahan untuk masak dulu!"
Perintah Eka pada Meysa yang sedang memasukkan pakaian yang sudah di bilas dan di rendam pewangi ke dalam pengering mesin cuci.
Meysa hanya mengangguk sekilas saat menoleh pada kakak ipar yang sedang menyapu di dapur, bersamaan dengan Ciara yang datang sambil berlarian menggunakan pakaian renang. Pasti akan ada ide-ide baru yang disampaikan pada mamanya.
“Ma, kolamku dimana?" tanya Cia, kemudian disusul dengan Faza yang masuk sambil menggendong baby Gia.
Minggu pagi memang selalu ramai seperti ini.
Eka beralih menatap Faza penuh selidik, tidak senang diganggu kalau sedang sibuk.
Sedangkan bapak dua anak itu hanya terkekeh. Tadi ia yang memberi saran agar Cia mandi di kolam portabel saja, sebab bocah itu terus merengek minta di bawa ke waterboom, seperti minggu lalu.
“Mandi pakai kolam portabelnya Cia saja, minta di mama, nanti papa kompakan!" Begitu Faza memberi saran pada anaknya itu.
Alhasil bocah itu langsung bersemangat dan tak minta pergi ke waterboom lagi. Ia segera mengganti pakaian menggunakan kostum renang dan beranjak menghampiri Mamanya.
Dengan wajah kesal mata Eka beralih, dari menatap Faza, kini menatap Cia.
“Ndak usah Ci, susah lagi kalau mau di kompa!"
“Nanti papa yang kompakan!"
“Yang kempeskan dan bereskan nanti siapa? pasti mama." Eka melirih sinis pada sang suami. Seperti ibu-ibu tiga anak.
Namun, rengekan Cia membuat Eka mengalah. Sambil mengomel ia menyuruh Faza mengeluarkan kolam tersebut ke halaman belakang yang cukup luas tempat bermain.
“Awas kalau ndak langsung dibereskan!" peringat Eka pada Faza dan Cia yang tengah berjibaku memompa kolam portabel berwarna biru itu.
“Siap, nanti langsung dibereskan bu bos!" Faza menimpali sambil melirik Cia yang terkekeh.
Sambil menggendong Gia, Eka masuk dengan wajah ditekuk. Ia terlihat begitu kewalahan, minggu pagi memang menjadi hari paling rusuh dengan rengekan serta ulah anak dan suaminya yang selalu memberi ide-ide konyol untuk dimainkan. Alhasil minggu yang harusnya jadi waktu santai malah membuat ibu dua anak itu pusing.
Beruntungnya ada sang adik ipar yang bisa diandalkan dan membantu menghendel pekerjaan rumah. Seperti pagi ini, Eka yang berniat ingin masak bersama harus kembali menggendong Gia karena Faza harus menemani Cia berenang.
“Belum pergi Mey?" tanya Eka pada Meysa yang masih ada di depan mesin cuci.
“Belum kak, ini dari tadi pengeringnya bunyi terus, ndak mau seimbang!" adu Meysa yang kewalahan menghadapi mesin cuci yang kadang ribet.
Eka mengangguk paham, mesin cuci di rumah itu memang sering sekali kesurupan.
“Biasa terjadi, Mey." Eka memaklumi.
Ia lalu beranjak ke dalam, meninggalkan Meysa yang emosi sendiri karena pengering mesin cuci itu selalu bunyi setiap kali diputar. Membuat Meysa teriak frustasi.
“Argggght."
"Kenapa ndak mau seimbang!"
“Mesin cuci sialan!" umpat Meysa sambil memukuli mesin cuci. Ia lalu kembali memnyusun ulang pakaian dalam pengering.
Setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga. Meysa mengusap keningnya yang berkeringat sambil mendesah kesal. Ia lalu beranjak mengambil uang yang Eka letakkan di atas meja makan, hendak pergi membeli sayuran seperti yang Eka suruhkan.
Gadis berdaster polos warna mustard itu keluar tanpa menggunakan penutup kepala. Seperti biasa, Meysa memang kadang-kadang, kadang alim dan kadang kunti.
Rambutnya dicepol asal menggunakan jepitan, daster yang sedikit basah terkena percikan air saat mencuci membuat ia terlihat seperti ibu rumah tangga sungguhan. Wajah cantiknya nampak mengkilau karena keringat.
“Woy, mau kemana kau!"
Meysa menoleh pada sosok tetangga. Dimana Rena sedang menjemur pakaian di samping kostan. Sahabatnya yang mengenakan daster sama sepertinya itu memakai hijab sport selengan. Rena memang tak suka buka tutup aurat sepertinya.
“Biasa, ibu-ibu sejak dini. Mau beli sayur!" sahut Meysa sambil membuka gerbang.
Rena mengangguk paham, lalu dengan mata menyipit menelisik penampilan Meysa.
“Ndak pakai jilbab lagi ini anak!" tegurnya dengan wajah julid. Sahabat Meysa ini memang satu-satunya orang yang paling berani menjulidtinya secara terang-terangan.
Bukan, lebih tepatnya itu adalah salah satu bentuk keperdulian Rena pada Meysa. Bukankah teman yang baik memang harus saling mengingatkan.
Meysa terkekeh salah tingkah. “Panas Ren, saya juga buru-buru, jam begini sarapan belum jadi." Meysa berucap sambil berlalu pergi.
Meninggalkan Rena yang berkacak pinggang sambil geleng-geleng mengiringi kepergian sahabatnya yang berjalan kaki ke arah kanan dari rumah.
Meysa berjalan sambil bersenandung, menyanyikan lagu yang sering Kai nyanyikan untuknya setiap ada waktu luang untuk menemaninya sleepcall.
__ADS_1
“Genggamlah tanganku bersaku kau kan menentukan arah, bersama diriku yang kan selalu menjaga dirimu...”
“Nana nana naa...." Suara Meysa makin mengecil saat ia memerhatikan uang di tangannya. Ada beberapa uang pecahan 20 ribu, 10 ribu dan beberapa uang 5 ribu, Meysa lalu menghitung dan menyusunnya. Ia berhenti bernyanyi karena fokus menghitung uang yang Eka berikan.
Meysa sudah berjalan cukup jauh, beberapa orang berlalu lalang di jalan kompleks. Terkadang Meysa hanya menyapa dengan senyuman.
Berhubung tidak jauh dari rumah ada penjual sayur, sehingga Meysa lebih memilih jalan kaki. Tapi, saat di tengah jalan ia melihat pedagang sayur keliling yang sedang di kerumuni ibu-ibu. Tentu hal itu merupakan suatu keberuntungan, sehingga ia tak perlu jauh-jauh ke pedagang sayur yang ada di gang sebelah.
Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja menoleh pada Meysa yang masih cukup jauh dari arah mereka saat salah satu ibu-ibu membuka obrolan.
“Itu Meysa kan, adek iparnya Eka?" tanya Ibu-ibu yang satu membuka obrolan. Ibu-ibu necis yang pada saat malam itu melihat Meysa dan Kai sedang berbincang di depan rumah. Sepertinya mereka akan bersiap bergosip.
“Kalian sudah tahu kah?" katanya seraya melambaikan jemari.
“Tahu apa?"
“Eh, waktu malam apa itu ada cowok di rumahnya, sampai jam 10 masih berduaan di luar."
Ucapan wanita tersebut memancing wajah julid maksimal ibu yang lain terlihat makinn penasaran.
“Eh, bukannya anak itu memang banyak yang suka? Anak-anak kompleks sini saja dulu sering main kesana pas dia pertama kali tinggal dengan kakaknya."
Apa yang dikatakan ibu-ibu itu memang benar. Meysa memang sering diicar para bujang di sekitar kompleks, bahkan tak sedikit ada yang mengutarakan perasaan secara langsung. Namun, ia selalu menolak, tentunya karena satu laki-laki yang hingga kini masih melekat di hatinya. Apalagi sikap posesif Faza membuat merek takut mendekati. Hanya Erza yang bertahan meski sering ditolak, selain karena Erza masih ada hubungan keluarga dengan Eka. Pemuda itu memang baik sehingga Faza tak masalah jika Meysa dekat dengannya.
“Ya memang banyak yang suka, tapi bukannya dia dekat dengan Erza?" tanya Ibu-ibu yang lain sambil memilah sayur. Sengaja mengulur waktu agar bisa bergibah lebih lama. Hmmnt!
“Eh iyo le, Kayaknya adek iparnya Eka itu pacaran dengan Erza."
“So ada pacar tapi kenapa dekat dekat laki-laki lain." Ibu-ibu yang pertama kali membuka ajang pergibahan nampak julid maksimal.
“Iyo dant, padahal te cantik-cantik sekali juga mukanya itu anak." Yang satu ikut menimpali
Tanpa tahu personal gibah mereka semakin bertambah, dan yang lebih parahnya lagi, wanita menggunakan motor yang baru berhenti disana itu ternyata adalah Ibu Asmi, mamanya Erza.
“Sedang bahas apa kamu orang ini?" Bu Asmi turut bergabung dan memilih sayuran yang ada. Tangan yang dihiasi gelang MCI itu nampak lihai memilah sayur.
“Eh, kebetulan ada Bu Asmi!"
“Ini, kita sedang bahas calon menantunya ibu, katanya dekat dengan laki-laki lain. Padahalkan sudah ada Erza!"
Jedar...
“Siapa?"
“Itu!" Ibu-ibu necis berambut pirang itu menunjuk Meysa menggunakan bibir.
Seketika membuat Bu Asmi melototkan mata, ia tak suka melihat Meysa. Ingatan tentang ucapan Erza beberapa hari lalu yang katanya ditolak oleh Meysa makin membuat emosi Ibu tiga anak itu memuncak.
“Laki-laki siapa?" tanyanya mencari info.
“Te tau juga bu, waktu malam apa itu saya lihat dia dengan laki-laki di depan rumahnya Eka sampai jam10."
“Ada tahu?"
Perbincangan para ibu-ibu itu langsung bungkam saat menoleh pada sumber suara. Meysa datang dengan senyum manis, disambut baik oleh pedagang yang tadi duduk di kursi mobil pick up dengan pintu terbuka itu.
“Ada, Meysa cantik!" ujar bapak-bapak genit yang sering menjadi langganan sayur Meysa.
Membuat ibu-ibu itu saling tatap dengan wajah julid, merasa kesal sebab orang-orang menilai Meysa cantik padahal menurut mereka yang berhati iri dengki, Meysa hanyalah gadis biasa yang tidak ada kelebihannya.
“Tahu 10 ribu, cabai 10, sama pokcainya ada?" tanya Meysa tanpa memedulikan ibu-ibu yang ada disana. Ia malas bersikap ramah sebab Meysa tahu disana ada Mamanya Erza, orang yang pernah menggibahinya secara terang-terangan.
“Ada, di sebelah sana!" tunjuk tukang sayur.
Meysa menghembuskan napas kasar saat melihat posisi pokcai yang dicari ada di samping mama Erza.
Huh ya Allah, malas sekali diri ini kalau harus berdampingan dengan nenek lampir! seloroh Meysa membatin.
Namun, melihat tukang sayur yang tak berniat mengambilkan, Ia pun menarik napas dalam, mengumpulkan niat untuk melangkah ke arah sana.
Semoga tidak cerewet lagi ini ibu-ibu!
Meysa lalu mulai memilih tanpa menoleh sedikitpun pada bu Asmi. Tanpa tahu bu Asmi mulai kesal melihat Meysa yang terlihat buang muka. Bu Asmi kembali mengingat penolakan Meysa pada Erza, ia merasa direndahkan sebab Meysa menolak setelah ia memberi izin. Padahalkan salah sendiri 😏
“Heh Meysa!"
Glek, Meysa yang sudah mewanti-wanti itu memejamkan mata sejenak. Berusaha menahab diri agar tidak emosi.
Sedangkan beberapa ibu-ibu yang ada langsung melototkan mata, sepertinya mereka akan menyaksikan perdebatan seru.
__ADS_1
“Iya?" tanya Meysa tanpa mau menoleh, kini tangannya sibuk memilih kol dan wortel yang akan digunakan membuat bakwan.
“Kalau dibicarai sama orang tua itu hadap sini!"
Meysa masih berusaha mengendalikan diri untuk tetap tenang dan tak tersulut emosi.
“Iya?" Meysa menoleh dengan mata mengerling, dadanya terlihat naik turun berusaha menstabilkan napas.
Bukannya takut, ia merasa tak pantas jika harus melawan orang yang lebih tua. Namun jika bu Asmi kembali mengatainya dengan membawa orang tua, tentu Meysa tak akan tinggal diam.
Tatapan sinis bu Asmi membuat Meysa kembali menarik napas dalam.
“Tante mau bicara apa?"
Bukannya menjawab, bu Asmi malah menunjukkan wajah mencebik. Membuat Meysa berkali-kali berusaha menenangkan diri dalam hati.
Sabar, Mey! Sabar! Ingat, dia orang tua!
“Kau ini sok cantik sekali Meysa!"
“Laki-laki mana lagi yang kau dekati sampai anakku kau tolak!"
Ternyata itu permasalahannya. Sepertinya Mama Erza merasa terhina karena cinta sang anak di tolak.
“Tapi ada syukurnya juga Erza kau tolak, anakku tidak pantas bersanding dengan perempuan yang tidak ada pendidikannya."
Jleb...
Ucapan Bu Asmi seperti tombak yang menancap tetap di jantung Meysa. Lukanya membuat seluruh tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Ingin rasanya Meysa menangis, tapi ia tak selemah itu kalau sampai harus menunjukkan kelemahan di depan orang-orang.
Untuk menutupi hatinya yang sakit, Meysa malah menampakkan senyum.
“Mohon maaf sebelumnya Tante, disini saya mau jelaskan satu hal supaya tante berhenti bakasih salah saya apalagi sampai menjelekkan dan menghina seperti ini!"
Bu Asmi menatap Meysa dengan wajah geram, tak menyangka Meys berani langsung menantangnya. Beruntung ibu-ibu yang lain tak ikut mengompori. Jika tidak mungkin Meysa akan semakin tak berdaya.
Sedangkan bapak tukang sayur yang mendengar itu langsung berdiri, terpaku mendengar perdebatan tersebut.
“Mau sama siapapun saya tidak ada hubungannya dengan tante ataupun Erza, itu hak saya!" ucap Meysa dengan tegas. Lelah selalu dituduh mendekati Erza.
“Saya tidak ada hubungan apapun sama Erza Tante, kami hanya teman!"
“Memang benar Erza pernah suka saya tapi saya te mau karena saya tahu tante orangnya bagaimana!"
Wajah bu Asmi terlihat marah mendengar ucapan Mwysa, tapi Ia juga tak diberikan celah untuk memotong ucapan Meysa. Dengan cepat gadis itu melanjutkan mengungkap isi hatinya.
“Saya ndak pernah suka Erza. Anaknya tante yang bakejar terus."
“Saya tolak dia karena saya sudah punya tunangan, dan orang yang tante maksud tadi itu tunangan saya!"
“Sampai sini tante paham, kan?"
Ucap Meysa dengan nanar, bibirnya bergetar menahan tangis. Kali ia benar-benar membela diri. Tak mau lagi mendengar cerita yang tidak-tidak tentang Ia dan Erza.
“Jadi tante tenang saja, saya tidak akan pernah sama Erza! Kami hanya teman!"
Meysa menjeda ucapannya. Matanya menatap seluruh ibu-ibu yang terpaku menyaksikan perdebatan diantara mereka.
“Dan satu lagi, semoga tante dapat menantu yang sekolahnya tinggi. Yang setara dengan Erza, tidak seperti saya!"
“Tanpa dikasih tahu atau digosip sana-sini juga Meysa sudah terlalu sadar, tante Asmi!" Meysa menekankan kalimat terakhirnya.
Satu bulir bening yang benar-benar tak bisa dibendung akhirnya menetes. Namun, secepat itu juga Meysa beralih menatap pada tukang sayur.
“Berapa semua?" tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis. Sedih karena merasa dipermalukan di depan umum.
“Eh." Dengan sigap tukang sayur membungkus seluruh belanjaan Meysa sambil menghitung totalnya.
“65 ribu."
Meysa menyerahkan uang pas, dengan cepat ia meraih belanjaannya lalu buru-buru pergi tanpa mengatakan apaun.
Kepergian Meysa membuat suasana menjadi hening dan senyap. Semua ibu-ibu menatap bu Asmi yang nampak terdiam. Seakan kehabisan kata-kata mendengar seluruh ungkapan Meysa.
“Kasihan juga itu anak le!" Sunggut salah seorang ibu-ibu dengan setengah berbisik. Yang mana langsung mendapat sikutan dari teman di sampingnya.
“Baribut!"
To be continued....
__ADS_1