
Dalam perjalanan, Meysa dan Kai duduk di belakang sambil memangku Gia. Bocah gembul itu terus berceloteh ketika diajak berinteraksi oleh Kai, meski hanya dengan menampakkan raut wajah aneh sambil bermain cilukba. Namun, itu berhasil membuat Gia terkekeh. Keduanya terlihat seperti pasangan yang harmonis, walaupun Meysa sendiri lebih banyak diam.
“Alamat penginapanmu dimana?” tanya Faza dari balik stir kemudi.
“Di sebelah sana kak, sebelum gang di sana,” sahut Kai sambil menunjuk arah penginapan yang sempat ia sewa untuk beristirahat sejenak tadi selepas keluar dari bandara. Kai menaruh barangnya disana, cukup jauh dari arah toko.
“Jauh juga, Kai. Tadi kenapa tidak telepon Meysa biar dijemput.” Faza sangat menyayangkan jika orang yang katanya datang hanya untuk menemui adiknya itu malah tak disambut.
Meysa yang mendengar ucapan Faza hanya memutar mata malas sambil berguman. “Bagaimana bisa menjemput kalau dia datang saja aku tidak tahu, kami kan sudah lama lost contact.” Meysa menoleh pada Kai yang ternyata juga sedang menatapnya, tapi ia buru-buru membuang pandangan saat merasakan gejolak sesak di dada. Rasa sakit ketika mengingat bagaimana Kai mengabaikannya hingga mereka lost contact dan rasa bahagia karena bisa melihat kehadiran nyata sang Bintang membuat hatinya harus carut-marut tak karuan.
Perjalanan dari mengambil barang Kai yang hanya berupa sebuah tas ransel hitam itu membuat mereka tiba di kompleks perumahan tepat ketika azan maghrib berkumandang.
Tak lupa Faza membawa Kai menuju rumah lurah setempat untuk melakukan pelaporan tamu sesuai peraturan yang berlaku.
Begitu tiba di depan rumah, dari dalam mobil mereka bisa melihat sosok Eka yang sudah berpenampilan rapi tengah berdiri di teras. Sudah dipastikan omelan akan langsung menyambut mereka karena sampai rumah tidak tepat waktu.
“Itu kakak iparmu?" Saat hendak turun Meysa masih bisa mendengar pertanyaan Kai yang hanya ia jawab anggukan lalu segera turun dengan Kai yang membantu membawa tas berisi perlengkapan Giara.
Tak perlu menjelaskan banyak hal. Dulu sebelum menghilang, cinta virtualnya itu memang tahu banyak hal tentang keluarganya, sebab mereka sudah pernah saling mengenalkan satu sama lain meski hanya melalui foto masing-masing.
“Uhh, pe lama sekali kalian ini di lampu merah? So hampir karatan saya batunggu disini." Sarkas Eka, ia kesal mengingat telepon dari Faza beberapa waktu lalu. Katanya sudah berada di lampu merah, tapi tak kunjung sampai.
Menunggu hampir setengah jam lebih membuat Eka geram. Tadi sepulang kerja, ia mendapat undangan dadakan dari kolega yang melaksanakan syukuran pindah rumah. Hal itu membuat ia buru-buru meminta Faza menjemput dua anaknya untuk di ajak pergi bersama.
Omelan Eka membuat Meysa kembali menoleh pada Kai, ia jelas tahu apa yang ada dipikiran laki-laki itu, sebab dulu ia pun pernah menceritakan jika dirinya memiliki kakak ipar yang sedikit cerewet. Itupun kalau dia masih ingat! Meysa kembali membatin. Pandangannya teralih menatap Faza yang hanya cengengesan karena diomeli.
“Eh, ini siapa?”
Baru Faza ingin mengatakan alasan yang membuatnya terlambat, Eka sudah lebih dulu menyadari keberadaan Kai. Sama seperti reaksi sang kakak saat pertama kali tadi, kakak iparnya itu pun heran melihat sosok asing itu.
“Temannya Meysa, dari Pekanbaru!"
“Hah? Pe jauh juga temanmu Mey." Eka makin mengerutkan kening sambil tersenyum ramah pada Kai.
Faza lalu menjelaskan bahwa inilah alasan kenapa ia bisa terlambat sampai rumah. Membuat istrinya mengangguk seperti burung kutilang setelah mendengar penjelasannya.
“Saya Eka, istri kakaknya Meysa!”
“Saya Kai'ulani, Kak.”
Setelah saling berkenalan, kakak ipar Meysa itu lalu mempersilahkan Kai duduk di ruang tamu. Meysa sendiri langsung mengambil alih tugas kakak iparnya untuk menggantikan Giara dan Ciara baju, layaknya baby sitter handal, Meysa melakukan itu dengan cekatan. Meski dalam hati sedikit mengumpat karena terlalu lelah menjaga dua bocah itu.
“Duduk ya Kai, saya mau mandi.” Faza berlalu ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Sedangkan sang istri yang sudah rapi menggunakan gamis crincle mustard dipadukan pashmina hitam yang dililit di leher itu harus kembali sibuk menyiapkan kamar untuk Kai. Berhubung di rumah mereka memang hanya ada tiga kamar, jadi cukuplah untuk tamu.
Meysa keluar setelah mendadani dua keponakannya mengenakan dress berwarna senada, dengan model rambut yang sama pula.
__ADS_1
“Papa mana?" Eka yang tengah duduk di sofa bertanya pada Cia, sembari tangannya meraih Gia dari gendongan Meysa.
Tak lama setelah itu Faza muncul dengan tampilan rapih, mengenakan kemeja lengan pendek.
“Mey, Rena sudah datang atau mungkin ada anak-anak kos lain?"
Meysa menggeleng tanda tidak tahu. Pakaian wanita itu nampak lusuh terkena percikan air karena memandikan ponakannya barusan. Ia kelihatan sangat lelah, bahkan hijabnya hanya ia lilit asal tanpa kancing. Hati yang tak karuan dan rasa lelah membuat wajah yang biasa tersenyum manis setiap kali menampakkan gigi kelincinya itu kini nampak datar.
“Coba telepon dulu, kita berangkat kalau Rena sudah datang. Biar kalian tidak berdua, nanti bisa timbul fitnah.”
Sering mendengar adiknya selalu jadi topik utama gibahan ibu-ibu di kompleks ini membuat Faza benar-benar harus selektif dalam bertindak. Meski terkadang cuek, tapi sejujurnya ia pun sakit hati mendengar itu semua dari Eka.
“Kak, ikut." Rengek Meysa berusaha membujuk Faza dan Eka. Lebih tepatnya ia sedang berusaha menghindari Kai.
“Ikut bagaimana?” Kening Faza menyerngit. “Ada Kai, orang baru sampai masa kau tinggalkan!" Kalau sudah begini Meysa jelas tahu jika keputusan kakaknya itu tak bisa dibantah.
Kedatangan Rena membuat Faza dan Eka beserta anak-anaknya langsung bersiap untuk berangkat.
“Rena, kau tidur dengan Meysa dulu, biar Kai di kosmu.” Tak lupa Faza meminta Rena untuk sementara tidur dengan Meysa dulu. Alasannya tentu untuk menghindari fitnah, seperti yang dikatakan tadi.
“Tapi tadi saya sudah siapkan kamar tamu, kenapa tidak disana saja?” sahut Eka begitu mendengar penuturan Faza, mengingat tadi ia sudah menyiapkan kamar untuk tamu adik iparnya itu.
“Ndak bagus, Ma, nanti orang bilang apa kalau lihat laki-laki disini.”
Faza menghela napas berat, tumben istrinya tidak berpikir kritis, batinnya. “Tidak semua orang bisa berpikir begitu!”
Faza beralih menatap Kai. “Tidak apakan Kai kalau harus nginap disitu!" Tunjuk Faza pada bangunan kos yang ada tepatdi samping kiri rumahnya.
“Eh, gak apa-apa kak. Kalau saya dimanapun bisa.”
Jawaban Kai membuat Faza tersenyum sambil menepuk bahu pemuda yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.
“Pergi dulu ya, Kai!"
Mobil jenis SUV milik Faza pun mulai melaju keluar halaman rumah minimalis itu. Menyisakan tiga orang yang seperti berada di tengah kecanggungan. Meysa, Rena dan Kai sama-sama terdiam, sedang larut dalam pikiran masing-masing.
Kehadiran Bintangnya Yang seperti mimpi membuat Meysa masih sulit mencerna semua. Selama ini ia tak pernah berpikir laki-laki itu akan menemuinya seperti ini.
“Bintang, Kamu dibantu Rena ya beres-beres kamarnya, saya masu---, ma-maksudku, aku masuk dulu." Meysa terbata-bata, berbicara dengan Kai menggunakan logat daerah kota itu tentu bukanlah hal yang baik, dia pasti akan sulit mengerti. Hal itu membuat Meysa makin gugup dan mencoba membenarkan ucapannya.
“Eh, Mey, bantulah, masa saya bereskan sendiri, inikan tamumu!" Teriak Rena, ia mendadak terkekeh saat menyadari ucapannya sambil menoleh pada Kai.
“Jangan perhitungan sekali kamu, Ren! Aku mau mandi, habis itu mau siapkan makanan,” timpal Meysa. Tanpa menoleh, ia mulai melangkah masuk ke rumah. Meninggalkan Kai dan Rena.
“Biar saya bersihkan sendiri juga tidak apa-apa, kak!"
__ADS_1
Celetukan Kai membuat Rena menoleh dengan nyalang. “Jangan panggil kakak! Saya belum tua!" ucapnya yang mendadak ketus, padahal sejak pertemuan sore tadi Rena selalu tersenyum ramah pada Kai.
“Lagi pula kita seumuran!" Ia lanjut membenarkan sebagaimana informasi yang didapat dari Meysa dulu bahwa mereka memang seumuran.
Kai tersenyum kikuk mendengar ucapan dari sahabat sang Bulan.
“Aih, sudahlah! Aku bereskan dulu kamarku!"
Diikuti Kai, Rena masuk ke dalam kamar kos yang terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi dan sebuah ruang luas di depannya. Rena meminta Kai untuk menunggu di luar. Gadis itu lalu masuk untuk mengemas seluruh barangnya, terutama para aset berharga miliknya. Tak lupa Rena mengganti seprai untuk mengantisipasi adanya aroma dahsyat yang tersisa dari jejak pulau yang tercipta ketika ia tidur. Hmmnt, bisa-bisa harga dirinya jatuh menahan malu kalau itu benar-benar ada.
“Huhh, kenapa juga kak Faza suruh Bintang nginap disini!" Merasa direpotkan, Rena mulai melakukan protes atas keputusan Faza.
Begitu selesai, ia mempersilahkan Kai masuk kamar setelah memastikan seluruh barangnya ia masukkan ke dalam lemari dan sebagian barang penting lainnya akan ia bawa ke kamar Meysa.
“Tasmu simpan di meja itu saja!" Tunjuk Rena pada sebuah meja belajar yang di atasnya sudah tak ada barang apapun.
“Tenang, sprei dan sarung bantalnya aman, sudah saya ganti semua.” Lagi-lagi Rena berceletuk sesuka hati saat melihat Kai terlihat mengamati kamar itu.
“Makasih!"
“Ya!”
Rena masih mengamati laki-laki itu, kini Kai mulai duduk di ranjang sembari merenggangkan otot-ototnya. Pastinya dia sangat lelah. Gadis yang bersandar di bibir pintu itu membatin, masih dengan sorot mata mengawasi sosok Kai. Ia pun tak menyangka jika sosok yang ia kenal hanya melalui cerita Meysa itu kini berada di hadapannya. Sosok virtual yang membuat Meysa menutup hati selama setahun itu muncul dengan tiba-tiba disini. Jujur Rena masih tak mengerti kenapa laki-laki ini malah muncul lagi. Apakah karena ia pun masih menyimpan rasa pada Meysa? Atau ada hal lain? Rena masih memikirkan semua.
Namun, tiba-tiba Rena mendadak kesal, pikiran yang tadinya dipenuhi tanya tentang apa tujuan Kai datang justru beralih memikirkan pengorbanan sosok laki-laki yang selalu berusaha mendapatkan hati Meysa, siapa lagi kalau bukan Erza yang malang.
“Bintang!"
“Kenapa baru muncul sekarang?" lanjut Rena ketika Kai menoleh padanya.
“Selama ini kamu kemana saja? Kamu tidak tahukan bagaimana hancurnya gadis yang kamu sebut bulan itu ketika kamu menghilang!” Bahkan mata Rena turut berkaca-kaca saat mengingat bagaimana sakit hatinya Meysa saat hubungan mereka harus berakhir tanpa kata.
“Maaf!"
Mendengar satu kata yang keluar dari mulut Kai, membuat hati Rena turut merasakan pedih, apalagi ketika Kai menyampaikan permohonan maaf dengan kepala menunduk.
“Sahabatku itu memang bodoh, aku tidak tahu apa yang bisa membuat cintanya sebesar itu, padahal hubungan kalian hanya virtual, tidak pernah bertemu langsung!” Rena terus mengoceh, entah mengapa ia merasa harus mengutarakan banyak hal pada laki-laki ini. Ia tak perduli jika Kai harus menganggapnya apa karena mengomeli orang yang baru ditemui. Setidaknya ungkapan yang mewakili hati Meysa bisa terwakili.
“Banyak yang mendekatinya, tapi tidak ada satupun yang diterima. Dan itu semua karena kamu, aku tahu di hatinya masih ada namamu, makanya dia susah membuka hati untuk orang lain!” Namun, ceramah panjang Rena harus terputus ketika mendengar Meysa berteriak memanggil namanya.
“Ren, Rena!”
“Iya Mey!" Teriakan Meysa membuat Rena buru-buru pergi dari sana.
“Jangan buka-buka lemariku, ya Bintang! Itu privasi!" Ia kembali berlari ke pintu kamar hanya untuk menyampaikan itu pada Kai. Membuat laki-laki yang terlihat merenung setelah kultum yang ia sampaikan tadi hanya menoleh sekilas.
__ADS_1