
“Orang tu cari kamu ya?” Kai bertanya saat motor yang dikendarai sudah berhenti, bersiap memarkirkan di garasi.
Meysa turun, lalu berdiri sambil menghadap Kai. “Namanya Erza!" Meysa melepas helmnya, entah kenapa ia malah memberikan helm itu pada Kai.
Kai yang melihat itu hanya tersenyum simpul dengan terus memperhatikan Meysa. Merasa tak terbebani meski diberikan helm, tanpa tahu nanti ia bingung harus simpan dimana. Hanya satu yang penting bagi Kai, yaitu Meysa, Ia senang bisa sedekat ini dengan sang Bulan.
“Aku kesana dulu, ya," ucap Meysa memberi tahu.
Kai mengangguk. “Hati-hati!" ujarnya saat Meysa hampir tersandung karena buru-buru.
“Iya!” Meysa menoleh sekilas pada Kai lalu kembali melangkah.
Sementara Rena yang sedari tadi sudah turun dari motor dan hendak masuk rumah, memerhatikan interaksi keduanya bersama dengan Faza yang masih berdiri disana.
“Ini fix mereka balikan." Rena berguman lesu. Ia seperti masih tak rela. Apalagi ketika melihat tatapan datar dari Erza saat melihat interaksi dua orang itu.
“Anak dua itu balikan, Ren?"
“Ya pasti, Meysakan sudah terlanjur cinta sama Kai. Biar disakiti sekalipun pasti kembalinya sama dia!" ucap Rena dengan nada kecewa sambil memutar mata malas.
“Namanya juga Cinta, Rena."
“Cinta ya cinta, tapi pakai otak sedikitlah, jangan ngaur. Sudah pernah dinasehati kalau mau balikan pikir matang-matang dulu, apalagi dia sudah pernah sakit hati.” Tanpa sadar Rena malah menumpahkan kekesalannya panjang lebar, tanpa tahu siapa yang sedang mengajaknya bicara. Rena masih terus menatap Meysa yang tengah menghampiri Erza.
Namun, saat menyadari siapa yang sedang berbicara dengannya. Mata Rena seketika membola, dia menelan ludah kasar sebelum akhirnya menoleh pada Faza.
Rena salah tingkah, ia malu karena sudah bicara banyak hal pada Faza. Tapi Faza sama sekali tidak marah, ia mengerti apa yang Rena khawatirkan. Sahabat adiknya itu punya pemikiran berbeda dengan dirinya. Disaat Ia menganggap kedatangan Kai merupakan sebuah kegentelan, Rena sendiri malah takut dan tidak setuju kalau keduanya harus balikan dengan alasan Kai pernah membuat Meysa terluka.
“Menasehati orang jatuh cinta itu memang susah Rena!" Lanjut Faza.
“Hehe iya kak."
Faza mengerutkan kening saat melihat Rena terlihat salah tingkah sambil garuk kepala. Gadis itu malu karena omelannya didengar Faza. Sungguh Ia tidak sadar.
“Santai, kayak dengan siapa saja kau ini."
Lagi-lagi Rena hanya bisa terkekeh canggung. Meski akrab dengan Faza, tapi tetap saja ia merasa malu kalau harus membahas masalah percintaan Meysa.
“Eh Ren, kau di pihaknya siapa? Erza atau Kai?"
Rasanya Rena ingin tepuk jidat, pertanyaan Faza ada-ada saja. Dia malah menayakan hal itu. Membuat Rena yang merupakan shipper Erza Meysa garis keras bingung harus jawab apa.
Membuat Rena harus segera mencari jalan ninja untuk kabur.
“Aduh, saya masuk duluan ya Kak Faz, perutku sakit!" dalih Rena kemudian segera masuk tanpa menunggu persetujuan Faza.
Sedangkan Faza juga berniat ikut beranjak masuk, sudah lelah berdiri disana. Tapi sebelum itu Faza menoleh pada Kai yang tengah duduk di motor sambil memperhatikan Erza dan Meysa dari jauh.
“Kai!" panggil Faza, membuat Kai langsung menoleh.
Dengan sopan Kai segera menghampiri Faza ke teras.
“Ya, bang? Eh maksud saya, kak!"
Faza terkekeh kecil mendengar ucapan Kai yang memanggilnya dengan sebutan Abang.
“Panggil Abang saja ndak apa," Faza menepuk bahu Kai agar pemuda itu bisa lebih santai, tidak perlu canggung.
Sebab sedikit tidak Faza tahu kalau orang-orang di Sumatera sana memang memanggil Kakak laki-laki dengan sebutan Abang, sedangkan kakak perempuan baru dipanggil dengan sebutan kakak, terutama di daerah asal Kai ini.
__ADS_1
'Lagi pula sepertinya keren juga dipanggil Abang.' Faza membatin membayangkan dirinya menjadi keren dipanggil dengan sebutan abang.
“Hehe, iya bang." Kai tersenyum, senang sudah diperbolehkan memanggil calon kakak ipar dengan sebutan Abang.
“Sudah makan?"
“Belum kak, eh bang." Kai sedikit terkekeh menyadari sebutannya sering terbalik. Tapi Faza tak mempersalahkan.
“Ayo makan sama-sama, kebetulan saya juga belum makan, sekalian deep talk.” Faza mengajak dengan penuh semangat, tanpa menghiraukan Erza yang juga sedari tadi memerhatikan interaksinya dengan Kai.
“Duluan bang, nanti saya nyusul. Mau tungguin Meysa."
Faza yang mendengar itu langsung berdehem, membuat Kai menggaruk kepala, Ia salah tingkah.
“Hmmmnt, ya sudah nanti makannya sama Meysa.”
“ Iya bang."
Saat hendak masuk, Faza terlebih dulu menyapa Erza, memberi tahu pemuda itu.
“Za, masuk dulu!" teriak Faza untuk sekedar basa-basi.
“Iya kak! Pinjam Meysa, mau bicara dulu sebentar!"
Faza hanya mengangguk, kemudian masuk ke rumah. Sedangkan Kai, ia duduk melantai di teras rumah minimalis itu.
Dari sana Kai bisa melihat Meysa mulai mengobrol dengan lelaki bernama Erza. Orang yang awalnya Kai kira suami Meysa, saat itu ia langsung dibuat mundur saat menyaksikan interaksi keduanya yang begitu harmonis sambil menggendong baby Gia, membuatnya sempat mengira jika mereka adalah keluarga kecil, padahal bukan.
Kali ini Kai tidak ingin jauh-jauh dari Meysa. Ia ingin selalu berada di sisi Meysa, meski harus memerhatikannya seperti ini. Bagi Kai, Meysa adalah segalanya, menjalin hubungan jarak jauh membuat ia tak jarang selalu takut setiap kali memikirkan Meysa dekat dengan laki-laki lain disini, apalagi saat mereka sempat hilang kontak selama setahun lebih itu. Kai benar-benar takut Meysa diambil orang, sedangkan ia tak bisa melakukan apapun selain terus berdo'a agar Tuhan menjaga Meysa untuknya hingga hari ia bisa menghalalkannya.
“Kalau dia memang jodohku, jaga dia untukku Ya Allah, lindungi dia, jaga hatinya! Jangan biarkan dia dekat dengan laki-laki lain, apalagi laki-laki yang hanya datang untuk mepermainkannya." Begitu do'a yang selalu Kai panjatkan untuk Meysa.
Saat Kai malah larut dengan berbagai macam pikiran tentang berapa banyak Erza jenis lainnya yang pernah mendekati Meysa. Hal itu membuat hatinya sesak.
Sementara Meysa sendiri terus memerhatikan Erza, dari tadi ia menayakan sejak kapan Erza datang, tapi laki-laki itu malah diam dengan tatapan mengarah ke tempat lain. Membuat Meysa bingung.
“Sudah dari tadi kau disini, Za?" tanya Meysa sekali lagi tapi Erza masih diam. Kali ini pria itu malah menunduk, seperti tengah mengatur napas.
Meysa tidak tahu apa yang terjadi.
“Za!" Meysa menepuk bahu Erza, pria itu langsung menoleh sambil memijat pangkal hidungnya.
“Sorry, Mey!"
“Kau kenapa?" Meysa menelisik wajah Erza yang kelihatan lemas. “Sakit?"
Namun, Erza menggeleng dan memilih menanyakan hal lain.
“Bagaimana hubunganmu dengan dia?"
Meysa mengikuti kemana wajah Erza menoleh. Lelaki itu menunjuk Kai melalui sorot matanya. Disana Kai tengah duduk sambil memerhatikannya dari jauh dengan tangan yang bertumpu pada lutut.
“Kalian balikan?"
Meysa masih diam. Erza terus menatap, mengharapkan jawaban.
Ragu-ragu Meysa menjawab dengan anggukan.
Membuat Erza langsung menghela nafas kasar. Hatinya bagai hancur berkeping-keping. Gadis yang ditunggunya sejak lama lebih memilih kembali pada masa lalunya.
__ADS_1
Kali ini Meysa langsung peka saat melihat reaksi Erza. Ia tahu betul laki-laki itu masih mengharapkannya. Dia pasti terluka.
“Kalian balikan?" Sekali lagi Erza mencoba memastikan, berharap masih ada celah untuk mengutarakan maksud dan tujuannya untuk yang kesekian kali pada Meysa. Tapi lagi-lagi anggukan Meysa menghancurkan sedikit harapan yang masih ada
Rasa penyesalan seketika hinggap di relung hati. Erza menyesal, tadi malam dialah yang mendukung Meysa untuk menyelesaikan maslah dengan masa lalunya itu. Dengan tujuan dan harapan agar Meysa bisa lebih tenang dan kemungkinan bisa membuka hati lalu menjalin hubungan baru dengannya.
Nyatanya kenyataan tak selalu seperti yang diharapkan. Meysa justru memilih jalan lain, gadis yang masih diharapkan sampai kini itu malah memilih memperbaiki hubungan lama dengan masa lalunya.
“Mey, saya batunggu kau selama ini, tapi ujung-ujungnya kau tetap memilih orang lain!" lirih Erza dengan nada kecewa. Wajah itu memelas sendu.
“Maaf!" Meysa menunduk. Rasa bersalah menyeruak ke dalam hati.
“Padahal Mamaku sudah ba kasih izin supaya kita bisa sama-sama, Mey!" ungkap Erza. Membuat Meysa sedikit tercengang.
Ya, beberapa bulan terakhir ini Erza begitu gencar membujuk Mamanya agar mau merestui hubungannya dengan Meysa. Menurut Erza, salah satu yang menjadi alasan utama Meysa menolaknya adalah karena mamanya tidak merestui dan suka gosip sana-sini.
“Ma, tolong jangan pilih-pilih. Yang Erza suka itu Meysa!" begitu awal mula Erza meminta izin. Membuat Mamanya marah.
“Mau apa kau dengan si Meysa itu, te jelas kerjanya, tidak berpendidikan, orang tuanya juga pisah. Mau nanti hidupmu susah? Kalau dia ikut jejak orang tuanya, Pisah! bagaimana?"
Erza hanya bisa elus dada mendengar perkataan sang ibu yang begitu menohok.
Awalnya mama Erza tetap menolak. Tapi setiap hari Erza berusaha membujuk dengan terus meyakinkan sang ibu jika yang dicintai hanya Meysa, ia bahagia dengan Meysa. Tidak mau yang lain.
“Mama tidak boleh menilai orang hanya karena pendidikan dan harta. Hal seperti itu jangan dijadikan tolak ukur, apalagi sampai bawa-bawa masalah orang tuanya, kasihan Meysa!" Erza tetap bersikeras, setiap hari memperdebatkan hal itu dengan Mamanya. Erza juga kesal setiap mendengar cerita jika mamanya tidak menyetujui kalau Ia menjalin hubungan dengan Meysa hanya karena hal itu.
“Jalan hidup orang beda-beda, Ma. Kalau kluaraganya kita yang ada di posisi itu apa mama mau?"
“Tidak ada seorang pun yang mau berada di situasi itu, tidak ada seorang anak yang rela keluarganya berpisah, tapi itulah jalannya Ma."
“Kalau mama tidak suka Meysa karena tidak berpendidikan, dia bisa sekolah. Harta bisa dicari, Ma! Tapi mama te boleh menyerang masalah orang tuanya seperti itu, tidak baik! Bayangkan kita yang ada di posisi itu, terus orang-orang tidak suka sama saya, bagaimana?"
Sejak saat mendengar ucapan Erza itu, hati mamanya mulai luluh. Hingga akhirnya ia mengizinkan dan akan menghargai siapapun pilihan Erza, sekalipun itu Meysa. Dengan syarat Meysa mau melanjutkan pendidikan kalau misalnya jadi dengan Erza. Gengsi Mama Erza terlalu tinggi.
Tapi setelah mendapat izin, kejadiannya malah seperti ini. Erza merasa sangat terpuruk. Sakit hatinya tak lagi bisa diutarakan.
“Mamaku sudah mengizinkan kita sama-sama, Mey." Jelas Erza dengan wajah kecewa.
Meysa yang mendengar cerita Erza juga terlihat sedih, seketika ia merasa bersalah.
Bahkan Kai yang juga bisa mendengarkan obrolan mereka dari jauh, turut menunduk. Ia juga merasa bersalah pada laki-laki itu. Awalnya tadi Kai merasa kesal saat tahu jika ternyata lelaki itu ternyata memang memiliki perasaan pada Meysa, seperti dugaannya. Tapi, ucapan Erza berhasil membuat Kai merasa bersalah.
“Saya jahat ya, Za? Saya disakiti sama oleh orang yang kuharapkan, tapi saya malah menyakiti orang- yang berusaha selalu membuatku pulih." Air mata Meysa kembali menetes. situasi ini benar-benar membuatnya merasa jadi orang paling jahat.
Selama ini Erza sangat baik dan perduli padanya. Selalu ada setiap kali dibutuhkan. Meski berkali-kali ditolak, Erza tak pernah dendam apalagi sampai menjauhinya.
Bahkan dulu Ia selalu menolak Erza dengan alasan tidak ingin pacaran, ribet kalau putus, takut jadi donatur dosa lah, ingin jadi jomblo sampai menemukan pasangan yang tepat dan masih banyak lagi alasan yang digunakan untuk menolak Erza.
Nyatanya tidak seperti itu, ia menolak hanya karena masih mempertahankan satu nama yang bertahta di hati. Yaitu orang yang sudah menggoreskan luka dalam selama setahun lebih ini, dan kini orang itu kembali dan dengan mudahnya ia menerimanya, kembali melanjutkan kisah bersama. Tapi Meysa juga tak bisa membohongi diri. Erza baik tapi hatinya bukan untuk Erza, melainkan untuk Kai. Meysa juga heran kenapa perasaannya bisa sebesar itu pada orang yang baru perta ini ia temui.
“Maaf Za, maaf karena sudah bikin kau sakit!"
Kai memang penyebab sakit yang Meysa rasa, tapi Kai merupakan obat itu pula. Kai adalah rasa sakit sekaligus obat bagi Meysa.
“Biar jo saya kecewa sendiri, sakit karena harapan yang saya buat terlalu tinggi Mey. Kau berhak menentukan pilihanmu, bahagia dengan siapa yang kau pilih itu juga hakmu." Erza tersenyum getir.
“Semoga bahagia Mey, kalau dia sakiti kau lagi, cari saya Mey, sa siap menerimamu! Saya siap jadi tempatmu berkeluh kesah."
Mata Meysa terasa panas mendengar ucapan Erza, kalimat itu terdengar begitu tulus tapi menyayat.
__ADS_1
Erza seakan menegaskan jika dirinya memang sadar bahwa yang mencintai Meysa memang bukan hanya dirinya, tapi satu yang pasti, orang yang tetap mencintainya disaat ia mencintai orang lain hanyalah dirinya seorang.