Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
14


__ADS_3

Cukup lama Meysa mengobrol dengan mamak, meski ia hanya menjawab seadanya saja saat ditanya dan sesekali balik menanyakan kondisi sang ibu. Percakapan via telepon itu harus berakhir emosi karena Mamak kembali membahas hal yang membuat emosinya tersulut.


“Tadi Mamak teleponan sama Faza, bahas soal tanah yang harus di tebus itu. Katanya harus dibagi rata, tapi dia bela-bela bapakmu terus.” Jelas Mamak yang memang sebelum telepon dengan Meysa sempat berteleponan dengan anak sulungnya.


“Bukan dibela Mak, mungkin maksud kakak biar bapak dulu kan tanah yang kemarin dia yang tebus!" sahut Meysa mencoba menengahi tapi bukannya mengerti Mamak malah mengira ia turut membela sang Ayah.


“Kau dengan Faza itu memang sama, lebih sayang sama bapakmu dari pada sama mamak."


Meysa yang tak suka selalu dianggap membela bapak pun memutuskan untuk memutuskan panggilan secara sepihak. Ia kesal, dari dulu sebelum berpisah, mamak selalu saja beranggapan jika ia ataupun Faza selalu berpihak pada sang Ayah, padahal sama sekali tidak seperti itu. Setiap kali bertengkar, Meysa dan Faza hanya melerai agar masalahnya tidak melebar kemana-mana tapi ibunya malah menganggap bahwa mereka berpihak pada sang ayah.


“Sudah pusing tambah pusing lagi!" Keluh Meysa dengan mata berkaca-kaca, ia benar-benar selalu merasa serba salah setiap kali berbicara dengan mamak. Ini pula lah salah satu yang membuat ia malas berhubungan dengan ibunya.


“Kenapa keluargaku serumit ini? Kapan bahagianya? Disaat semua orang bisa curhat apapun dan dekat dengan mamanya, kenapa saya tidak?!" Lirihnya sambil mengusap air mata saat melihat pintu toko dibuka, membuat ia segera mungkin merubah ekspresi wajah.


“Eh, Mey! So dari tadi?”

__ADS_1


“ Pagi sekali kau datang" sapa Kak Pida yang melangkah ke arah belakang toko, Kemudian disusul dengan beberapa pegawai toko florist yang mulai berdatangan.


Mereka semua langsung disibukkan dengan beberapa orderan karangan bunga yang harus segera diselesaikan. Hal itu membuat Meysa lebih rileks dan sejenak melupakan semua yang memenuhi hati dan pikiran.


Sedangkan di rumah, setelah selesai mandi dan bersiap. Sosok Kai tengah mengeluarkan parfum dengan aroma maskulin dari dalam tasnya. Lalu menyemprotkan parfum tersebut pada leher dan dada hingga bagian belakang tubuhnya. Setelah itu ia berkaca di depan stand mirror milik Rena. Tiba-tiba ingatan Kai langsung tertuju pada sosok Meysa. Dalam hati ia berharap semoga Bulannya itu mau menyempatkan waktu untuk mengobrol serius dengannya hari ini. Meski begitu, ia benar-benar pesimis dan takut akan penolakan yang Meysa lakukan.


Rasa was-was menghantarkan langkahnya keluar dari kos. Ia tersenyum melihat motor scoopy merah milik Rena, gadis yang juga hanya sempat ia kenal melalui cerita Meysa itu sudah berbaik hati mau meminjamkan motornya, membuat Kai sangat terbantu untuk itu. Tapi ia tak melakulan semua sesuai perkataan Rena yang memintanya sarapan terlebih dulu. Bagi Kai, keluarga Meysa sudah sangat baik padanya, mau menyambut dengan tangan terbuka saja ia sudah syukur apalagi sampai diberi tempat menginap gratis. Untuk itu ia lebih memilih sarapan di luar agar tak terlalu merepotkan, setelah sarapan barulah Kai pergi menuju toko florist untuk menemui sang Bulan, tentunya dengan bantuan google maps.


Setibanya di halama toko, saat tengah memarkirkan motor, sorot mata Kai langsung tertuju pada sosok Meysa yang sedang memesan es kelapa muda di sebrang jalan depan toko. Tanpa berpikir panjang ia langsung menyusul kesana.


“Saya juga satu, pak. Digabung sama punya dia, biar sekalian saya yang bayar." ucap Kai, membuat Meysa yang mendengar itu langsung menoleh pada sosok pemuda berhoodie hitam tersebut.


Kai mengangguk, sedangkan Meysa sendiri tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Meski hati kecilnya ingin berlama-lama menatap Kai dan bisa berdiri di samping pria itu sedekat ini. Tapi Meysa lebih memilih pergi untuk menghindari Kai. Sungguh ia masih tak sekuat itu dan punya keberanian untuk berlama-lama menatap Kai apalagi sampai membahas hal lain.


"Eh, Kenapa pergi? Pesananmu belum selesai!" teriak Kai saat melihat Meysa lebih memilih pergi.

__ADS_1


“unggu sebentar ya, pak, nanti saya kembali lagi."


“Oh, Iya dek."


Kai pun langsung menyebrang jalan untuk menyusul Meysa.


“Eh mey, es kelapamu belum jadi." panggilnya yang masih berusaha mengajak Meysa kembali saat gadis itu sudah hampir masuk ke toko.


“Mey, aku mau bicara!" Dengan terburu-buru Kai menahan pintu kaca itu ketika Meysa hendak menutupnya dari dalam.


“Aku sibuk!" Meysa berusaha mendorong dengan tatapan melirik ke arah lain untuk menghindari tatapan dari Kai yang ada di balik pintu kaca.


Lelaki itu menghela napas, sekesal itukah Bulan padanya hingga ia terus membuat jarak hanya untuk menghindar darinya. Meski begitu, Kai tetap berusaha memaklumi. ia harus bersabar dan memberi ruang, toh disini dirinyalah yang paling bersalah.


“Paling tidak minum es kelapanya dulu ya." ia masih berusaha membujuk. Sudah seperti adegan di drakor, dengan posisi menahan pintu disaat Meysa berusaha menutup dari dalam, hanya saja seolah terpause karena Meysa sama sekali tak memaksa untuk menutup saat pintu ditarik oleh Kai. Sedangkan laki-laki itu lebih memilih tetap berdiri diluar.

__ADS_1


Membuat salah satu karyawan yang melihat hal itu ikut berceletuk. “Mey, kenapa tidak kau bukakan, orang mau masuk!" Sahut seorang laki-laki yang ternyata mengira Kai adalah pembeli.


Meysa yang mendengarnya langsung menoleh sekilas dan kembali bertatapan dengan Kai bersamaan dengan tangannya yang perlahan terlepas dari pintu kaca itu.


__ADS_2