
Hari terus berlalu. Tak terasa waktu sudah hampir tiga bulan berlalu sejak memutuskan hubungannya dengan Kai. Meysa yang sulit melupakan Kai selalu mencoba membuka hati pada setiap orang yang mendekati. Namun hubungannya selalu saja kandas setiap kali lelaki-lelaki tersebut menyampaikan niat baik untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Entah Meysa yang tiba-tiba merasa tidak cocok dan menolak niat baik para lelaki tersebut. Bahkan ia pernah dimarahi Faza karena sudah menolak lamaran dari orang yang datang ke rumah.
“Kalau ndak suka sama orang itu jangan kasih harapan yang ujung-ujungnya kau tolak juga seperti ini!" Begitu Faza membentaknya dengan kesal saat salah seorang pemuda dari kampung sebelah yang pernah dekat dengan Meysa datang melamar.
“Maaf!" dan Meysa hanya mampu mengucapkan satu kata itu saja. Ia pun sama sekali tak mengerti dengan dirinya yang terkesan mempermainkan hati orang lain. Seketika Meysa merasa jadi orang paling kahat.
Apakah itu semua ada sangkut pautnya dengan Kai? Atau Meysa sama sekali tak bisa melupakan bayang-bayang seorang Kai? Entahlah, hanya Ia dan Tuhan yang tahu.
Minggu sore ini Meysa mendatangi rumah Rena. Sahabatnya itu baru saja tiba dari kota sang suami, Erza baru saja mengantarnya beberapa jam lalu dan akan kembali lagi nanti malam. Tanpa tahu jika Erza dan Rena datang bersama Faza.
Demikianlah pernikahan Rena. Setiap weekend ia hanya baru akan menghabiskan waktu dengan sang suami. Sebab pekerjaan membuat keduanya sama-sama harus menjalin hubungan long distance mariage alias LDM. Mulai dari hari senin hingga jum'at dan baru bisa punya waktu bertemu di hari sabtu sampai minggu. Entah itu Erza yang menginap di kampung mereka atau justru Rena yang di jemput untuk pergi ke kota Erza.
“Kalau begini ceritanya bagaimana kalian bisa cepat punya anak, setiap minggu bolak-balik terus. Makanya yang satu mengalah supaya ndak susah kalau ketemu!" begitu Bu Fatma yang pusing melihat hubungan Rena dan sang menantu.
“Erza yang ajukan pindah kesini atau kamu saja yang mengalah Rena, pindah dan ikut sama suamimu!" Dan akhirnya Buk Fatma memberikan saran agar salah satunya mau mengajukan pindah tugas.
Namun, saran itu tak disetujui oleh Rena dan di tolak mentah-mentah. “Tidak, saya ndak mau tinggal disana. Kalau Erza mau, dia saja yang pindah! Kalau tidak ya kita begini saja!"
Buk Fatma hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Rena yang begitu keras kepala. Ia pun tak bisa terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga anak dan menantunya itu.
Sedangkan Meysa dan Rena, hubungan persahabatan antara kedua wanita itu sama sekali tak ada yang beruba, masih seperti dulu meski salah satu diantara mereka sudah menikah. Meysa dan Rena masih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama seperti saay masih gadis dulu.
Bahkan tak jarang Bu Fatma meminta bantuan Meysa untuk membujuk anaknya agar mau membuat keputusan yang tak membuat mereka harus menjalin hubungan pernikahan seperti sekarang.
“Masih mending LDR-an sebelum menikah daripada LDR-an sudah menikah, hmmmnt!" seloroh Meysa yang saat ini tengah menemani Rena menyiram sayur-sayurannya yang ada di kebun belakang rumah. Sejak menikah sahabatnya itu jadi suka berbudidaya sayuran, seperti kegiatan ibu-ibu kebanyakan.
“Dosa Ren, ndak nurut apa kata suami!" peringat Meysa setelah mendengar cerita dari Rena jika sahabatnya itu menolak ajakan Erza untuk tinggal di kotanya.
Rena yang tengah menyiram tanaman menghela napas panjang. Ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Meysa.
Rena meletakkan wadah berbentuk ceret kuno itu lalu melangkah ke arah Meysa yang duduk di sebuah batang kayu yang sudah disulap menjadi kursi. Sebelum mulai bercerita Rena menoleh ke arah rumah, memastikan tidak ada siapapun disana. Takut ada yang mendengar obrolan mereka, apalagi kalau suaminya sampai mendengar hal ini. Rena tak ingin Erza salah paham.
Meysa yang melihat gelagat Rena ingin menceritakan hal penting nampak mengerutkan kening tipis, penasaran dengan apa yang ingin sahabatnya itu sampaikan.
“Apa?" bisik Meysa pelan seraya mendekatkan tubuh pada Rena.
“Saya malas tinggal sama Bu Asmi, tahu sendiri dia bagaimana!"
Melihat wajah Rena yang seperti tertekan membuat Meysa prihatin. Ia tahu sifat tanah sengketa itu seperti apa. Namun, sejurus kemudian Meysa langsung melayangkan tanya pada Rena.
“Kenapa? Apa dia salah satu mertua zolim?" tanya Meysa memastikan, tak ingin berprasangka buruk. Sebab setahunya bu Asmi menyukai Rena. Rena adalah menantu idamannya karena Rena sepadan dengan keluarganya dan memiliki pekerjaan yang mulia menurut bu Asmi. Tidak seperti dirinya dulu yang berukang kali ditolak padahal belum juga menjalin hubungan apapun dengan sang anak.
Rena menjawab pertanyaan Meysa denganmenggelengkan kepala.
Membuat Meysa menyergah dengan cepat, “Terus?" tanyanya heran.
“Sebenarya tidak bisa disebut zolim, karena dia cuma mau saya ikut anaknya, tinggal disana sama-sama."
“Tapi ya tahu sendiri sifatnya itu seperti tanah sengketa!"
Meysa nampak terkekeh mendengar sebutan yang Rena sematkan pada sang mertua. Meski begitu ia paham apa yang Rena takutkan. Meski bu Asmi sangat menyukainya, bukan tak mungkin jika suatu saat nanti ia akan bersikap jelek jika Rena melakukan kesalahan. Dan untuk menghindari itu, sudah benar Rena mangambil keputusan untuk tak tinggal dengan mertuanya itu.
“Baru begini saja dia sudah sering tunjukkan muka marah karena kami menjalin hubungan pernikahan seperti ini, apalagi nanti kalau tinggal sama-sama." Rena mengeluhkan semua pada Meysa. Menurutnya hanya Meysa yang bisa menjadi pendengar yang tepat, sebab jika hal ini sampai ke telinga mamak, bisa-bisa hubungan antara dua besan itu akan merenggang. Rena tak mau itu terjadi.
Meski bu Asmi memiliki watak tanah sengketa, Ia tak ingin hubungan Mamak dan Ibu mertuanya itu renggang. Rena ingin semua aman sejahtera.
“Tapi Erza tahukan apa alasan kenapa kau tidak mau tinggal disana?!"
__ADS_1
“Tahu Mey, Erza juga mengerti. Makanya dia mau mengalah, katanya biar dia yang pindah kesini."
Meysa bernapas lega mendengar apa yang Rena sampaikan. Sahabatnya ini memang tak salah pilih suami, Meysa bahkan tahu betul bagaimana sikap dewasa Erza dalam menghadapi setiap masalah. Erza tentu bisa mengatasi hal ini. Hal itu membuat Meysa tenang karena sahabatnya yang keras kepala jatuh di tangan yang tepat.
“Beruntungnya kau punya suami yang pengertian seperti Erza!" lirih Meysa dengan haru sambil memeluk Rena.
“Salah sendiri kenapa dulu ndak mau sama Erza!"
Plak...
Ucapan Rena membuat Meysa melepaskan pelukan sahabatnya itu, lalu melayangkan pukulannya di lengan Rena. Membuat istri Erza itu mendelik sebal.
“Bisa-bisanya mau berpikir negitu!" protes Meysa tak suka.
“Iya, iya maaf!" seru Rena.
Meysa memutar mata malas, “Untung kita sahabatan! Kalau saya orang lain, yakin pasti kau akan cemburu karena tahu Erza pernah suka sama saya!"
Kini Rena yang balik menoyor kepala Meysa. “Tapi kau sahabatku, bukan orang lain!"
“Jadi tidak ada alsan untuk cemburu!" pungkas Rena seraya melipat kedua tangan di dada.
Membuat Meysa terkekeh. Merasa beruntung punya sahabat yang pengertian seperti Rena.
Sejenak mereka terdiam, Meysa terlihat sibuk memeriksa ponsel setelah mendengar sebuah notifikasi masuk di grup panwaslu kecamatan. Setelah melihat informasi di grub. Tangan Meysa lalu tergerak membuka pesan dari seseorang yang sampai saat ini selalu membuat hatinya berdebar.
Pesan dari Kai! Nama kontak yang dulunya 'Bintang' itu kini berubah menjadi 'Him'. Entah apa maknanya, hanya Meysa dan Author yang tahu(🤭). Gadis itu lalu membuka pesan dari Kai yang ternyata baru saja mengomentari story WhatsApp-nya.
Him : Sekarang kamu kerja apa?
Sungguh Meysa tak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat membaca pesan dari Kai. Meski sudah putus, Ia dan Kai masih sering berkontekan, walau tak seintens dulu. Ini memang kali pertamanya Ia mempubhlis pekerjaannya sebagai panwaslu semenjak resmi dilantik tiga bulan lalu, beberapa hari setelah acara pernikahan Rena dan Erza. Jadi, wajar jika Kai bertanya demikian.
^^^Meysa : Jadi Panwaslu Kecamatan^^^
Tak butuh waktu lama, Kai langsung membalas pesannya dengan cepat.
________________________
Him : Wah, selamat ya😊
Semangat!
^^^Meysa : Makasih!^^^
^^^Kamu juga semangat.^^^
Him : Sama-sama.
Makasih juga ya!
Usaha buketnya gimana?
^^^Meysa : Alhamdulillah lancar.^^^
^^^Btw, kamu apa kabar?^^^
Kai : Kirain udah nggak, soalnya kamu jadi Panwaslu.
Alhamdulillah baik, kamu?
__ADS_1
^^^Meysa : Ya masih dong, kalau malam atau weeekend seperti sekarang aku sempatin buat orderan.^^^
^^^Baik juga.^^^
Kai : Oh Iya,
*Kamu baik-baik ya, disana*!
....
_______________________
Meysa yang tengah serius berbalas chat dengan Kai sama sekali tak menyadari jika sedari tadi Rena ikut membaca obrolannya.
"Hmmmmm!" Istri Erza itu menghela napas panjang. Kini pandangannya menatap lurus ke depan.
Membuat Meysa yang mendengar itu langsung menaruh ponsel ke dalam saku celana dan menoleh pada sang sahabat.
“Kalau masih saling suka itu ya balikan, jangan kucing-kucingan begini!"
Kening Meysa mengkerut tipis. Ia sama sekali tak mengerti dengan ucapan Rena.
Rena kembali menghela napas panjang melihat reaksi Meysa yang entah pura-pura tak mengerti dengan maksud ucapannya atau Ia memang tak mengerti.
“Berapa banyak orang lagi yang mau kau sakiti, Mey?"
Ucapan Rena membuat Meysa menunduk sambil menghembuskan napas pelan.
“Jangan memberikan harapan palsu sama orang lain hanya untuk mengobati lukamu. Kasian mereka yang cuma jadi pelampiasan hanya karena kau mencoba menutup rasa dari orang yang tidak bisa sepenuhnya kau hilangkan bayangannya! Kalau masih cinta itu bilang, jangan menyiksa diri dengan sok jual mahal!"
Penuturan Rena benar-benar sebuah tamparan bagi Meysa yang selama ini sibuk berkelana membuka peternakan buaya dan memberikan harapan pada orang lain hanya untuk menutupi luka dan menyembuhkan diri. Ia hanya mencoba menghilangkan bayangan Kai dari hidupnya dengan cara seperti itu.
Namun, bukannya berhasil Ia hanya malah memberi luka pada orang yang malah diditolaknya setelah ia memberi harapan. Sungguh Meysa merasa sangat berdosa. Ia bahkan tak ingin melakukan ini, Ia juga ingin serius dan memulai hidup baru dengan orang lain. Sekeras itu ia mencoba lupa, maka sekeras itu pula bayangan Kai merobohkan pertahanannya, hingga ia selalu berada di persimpangan dilema setiap kali seseorang datang ingin serius.
Ia bahkan tak tahu bagaimana perasaan Kai padanya. Apakah laki-laki itu masih menginginkannya atau sudah menemukan penggantinya. Namun, mengingat wajah Kai yang tersenyum tulus setiap kali memintanya menunggu dan bertahan selalu berhasil membuat Ia mengatakan tidak jika ditanya apakah siap menikah dengan orang yang datang melamar.
Bahkan Mamak pernah menyempatkan diri jauh-jauh datang dari kota hanya untuk menghadiri acara lamaran anak perempuannya saat itu. Namun, bukannya sepakat, malah penolakan yang ia berikan. Keluarga Meysa merasa malu karena anak gadisnya dicap sudah mempermainkan hati anak orang.
“Mey, kalau belum siap menikah ndak usah bilang Iya kalau ada yang mau datang ke rumah!"
“Kasihan orang kalai sampai merasa direndahkan."
“Keluarga kita juga malu kalau begini, nak!"
Begitu Mamak dan Bapak menasehatinya sejak kedatangan seorang pemuda yang Ia tolak waktu itu.
Bahkan sejak saat itu juga Ia menjadi bahan gibah di kampung. Katanya orang yang menolak lamaran orang lain akan menjadi perawan tua. Meysa juga dianggap terlalu pilih-pilih.
Rentetan kejadian belakangan yang tiba-tiba menyusup dalam ingatan membuat Meysa menunduk lesu. Ia tak bisa menjawab perkataan Rena. Membuat sahabatnya itu ikut menghela napas gusar.
“Terus hubunganmu sam Anca bagaimana?" sergah Rena, yang mana membuat kening Meysa mengkerut.
“Hubungan dengan Anca bagaimana?" tanya Meysa bingung. Entah mengapa Rena malah menganggapnya dekat dengan Anca, padahal hubungannya dengan Anca tak lebih dari hubungan teman dan keluarga.
Rena berdecak kesal. “Jangan pura-pura bodoh, Mey. Siapa yang tidak tahu kalau Anca suka sama kau!"
“Tahu darimana?" potong Meysa tak suka. Sebab ia sama sekali tak merasa ada hubungan spesial antara ia dan Anca. Belakangan ini mereka memang dekat, tetapi hanya sekedar teman, persis seperti hubungan saat mereka kecil dulu. Meysa rasa itu hal yang wajar, apalagi Ia dan Anca masih punya hubungan keluarga yang dekat.
“Sok tahu!" protes Meysa tak suka.
__ADS_1
“Astaga, sudah banyak yang tahu. Tunggu saja, sebentar lagi pasti keluarganya akan datang melangsungkan niat baik!"