Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
12 (Menghindari 2)


__ADS_3

Setelah melakukan apa yang Meysa perintahkan. Rena justru malah diam menatap punggung sahabatnya yang sudah menutup tubuhnya menggunakan selimut.


“Kalau dia ajak balikan apa akan kamu terima?" celetuk Rena. Ia tahu betul apa yang membuat gadis itu memilih untuk cepat tidur.


Benar saja, Meysa yang tidak benar-benar tidur langsung menyibakkan selimutnya. Ia menoleh pada Rena dan lekas membenarkan posisinya menjadi duduk. Meski hanya bersinarkan cahaya temaram dari lampu kamar mandi yang tertutup, tapi Rena masih bisa melihat jelas ekspresi Meysa.


“Jawab Mey!" desak Rena.


“Apa-apaan pertanyaanmu itu Ren?" protes Meysa tak suka. “Tujuannya datang bukan untuk itu!" Meski hal itu sempat terlintas di hati kecilnya. Namun, Meysa tak mau terlalu berharap, ia tak ingin menambah luka kalau saja seandainya tujuan Kai sebenarnya justru bukan untuk itu. Bisa sajakan lelaki itu hanya datang untuk meminta maaf karena merasa bersalah. Mungkin hidupnya tidak tenang jika belum minta maaf! Ucap suara hati Meysa.


“Sudahlah Ren, aku mau tidur. Jangan bahas begini terus!" Meysa kembali merebahkan diri dan menutup seluruh tubuh dengan selimut.


Hal itu sama sekali tak membuat Rena menyerah untuk mengkonfrontasi sang sahabat.


“Ingat ya Mey, kau harus bisa ambil keputusan yang tegas dan benar, jangan sampai salah langkah!” Peringat Rena. Meski ia tahu perasaan Meysa pada Bintangnya itu masih ada dan sangat besar, tapi Rena benar-benar tidak ingin jika saja Meysa salah langkah dan memilih untuk memaafkan Kai, ia takut jika kejadian yang sama terulang. Apalagi kalau harus kembali menjalin hubungan dan LDR merupakan bukan hal yang mudah untuk dijalani, mengingat jarak yang sangat jauh membentang.


“Ingat baik-baik, dia pernah menyakitimu! Kamu disini sendirian, menderita tahan luka karena dia!”


“Lihat siapa yang benar-benar tulus dan selalu ada disaat kau sedih.” Peringat Rena dengan harapan Meysa bisa menentukan pilihan dan bisa menerima Erza setelah ini.


Meysa sama sekali tak bergeming, ia tak berniat mengatakan apapun walaupun sebenarnya ia belum tidur dan perkataan Rena barusan benar-benar membuat hatinya makin tak karuan. Beruntung setelah itu Rena tak meneruskan ceramahnya. Suara pintu kamar terbuka menandakan jika sahabatnya itu keluar dari kamar. Hal itu tentu membuat telinga Meysa bisa sedikit tenang, meski begitu hatinya tetap masih tak karuan hingga akhirnya ia tertidur dalam keadaan banyak pikiran.


Sepanjang malam tak ada tidur nyenyak yang Meysa dapatkan, ia masih saja memikirkan kata-kata Rena. Jika itu benar terjadi sungguh ia bingung harus bersikap seperti apa, ingin menolak tapi Kai masih memegang tahta nomor satu dihatinya. Sedangkan di sisi lain ia pun masih sakit hati kalau harus mengingat kelakuan Kai yang membuatnya sakit.


Akhirnya Meysa memutuskan untuk pergi ke toko lebih awal, tepat setelah shalat subuh ia langsung bersiap. Hal itu ia lakukan karena tak sanggup kalau harus bertemu dengan Kai, ia masih belum punya keberanian kalau saja lelaki itu membahas hal yang sama seperti yang Rena maksud. Namun, sebelum pergi ia sudah membereskan rumah terlebih dulu, hanya masak saja yang tidak ia lakukan.


Sialnya, saat baru keluar dari gerbang rumah, ia justru bertemu dengan Faza dan beberapa bapak-bapak lain yang ternyata baru pulang dari mesjid.


“Mau kemana Mey? Masih gelap," tegur Faza pada sang adik yang sudah terlihat rapi.


Meysa menghentikan motornya, dari balik helm ia tersenyum kikuk, malu pada bapak-bapak yang sedang bersama Faza. “Ini kak, mau buru-buru ke toko. Ada orderan buket yang mau diambil jam delapan. Bahan di rumah sudah habis!" ucap Meysa membuat alasan.

__ADS_1


Beruntung Faza percaya dan tak lagi bertanya, membuat ia kembali melajukan motornya.


...----------------...


Cahaya keemasan matahari pagi memberi kehangatan bagi setiap orang yang memulai aktivitas hari ini. Rena terlihat tengah membantu Eka menyiapkan sarapan, tapi sosok Meysa sama sekali tak kelihatan batang hidungnya. Sepertinya belum ada yang menyadari kalau gadis itu sudah pergi sejak tadi.


“Ren, coba kasih bangun Meysa dulu. Sudah kesiangan sekali dia ini!" ujar Eka sambil melirik jam di tangan kirinya.


Bukannya beranjak, Rena yang mendengar ucapan kakak ipar Meysa mengkerutkan kening sambil agak memiringkan kepala untuk menengok ke arah ruang belakang dapur, tempat mesin cuci berada.


“Bukannya Meysa sedang mencuci?" Rena balik bertanya, ia yang baru meletakkan semangkuk nasi goreng untuk sarapan pagi ini pun pergi menengok ke tempat cuci baju.


“Yang mencuci tadi papanya Cia, Ren. Meysa belum ada bangun dari tadi!"


Mendengar penuturan Eka, kening Rena semakin mengkerut heran. Pasalnya sedari bangun tadi Meysa sudah tidak ada di kamar, justru ia kira Meysalah yang sedang mencuci di belakang.


“Tapi dari saya bangun, te ada saya lihat Meysa di kamar, kak!"


“Terus itu anak kemana?" tanya Eka heran.


“Kenapa?" sambil memasang jam tangannya, Faza duduk di samping putrinya, Cia yang sedang makan.


“Kamu tidak ada lihat Meysa, Pa? Pagi-pagi sudah menghilang saja dia."


“Oh, dia sudah pergi ke toko sebelum jam enam tadi!" ucapan Faza membuat Rena dan Eka melongo heran.


“Mau bikin apa sepagi itu ke toko?"


“Katanya ada orderan mendadak yang mau diambil jam delapan.”


Rena yang mendengar ucapan Faza sama sekali tak bereaksi. Ia sama sekali tidak tahu soal order buket, biasanya ia tahu semua soal orderan karena admin toko akan menyampaikan melalui grup WA. Tapi entahlah, Rena masih belum tahu jelas karena ia pun sama sekali belum sempat membuka hp sejak bangun tidur.

__ADS_1


Rena, dan Faza sekeluarga pun menyantap sarapan bersama.Tak lupa Faza menyuruh istrinya untuk mengajak Kai ikut sarapan bersama, tapi pemuda itu sama sekali tak mendengar panggilan dan ketukan di pintu kamarnya. Sepertinya ia masih kelelahan karena perjalanan jauh.


Akhirnya Faza dan Eka berpesan pada Rena sebelum berangkat agar tidak lupa menyuruh Kai makan kalau sudah bangun nanti. Setelah kepergian Faza sekeluarga, terlebih dulu Rena mencuci piring bekas sarapan. Setelah itu ia baru bersiap untuk berangkat mengajar sebagai guru honorer di SD yang tidak terlalu jauh dari rumah.


Gadis berbalut baju batik dan rok span hitam dengan jilbab segitiga di lilit asal itu keluar dari rumah. Ia melangkah menuju depan kamar kos miliknya. Rena mulai mengetuk pintu. Beruntung sekali ketukan cinta virtual sahabatnya itu keluar dengan muka bantal dan bertelanjang dada. Membuat Rena langsung mengalihkan pandangan ke halaman rumah. Matanya tidak boleh ternodai.


Menyadari itu, Kai langsung menyilang kan tangannya di dada, rambut acak-acakan dengan muka kusut itu sedikit tersenyum sambil berkata. “Maaf, baru bangun." Lalu terkekeh sambil menggaruk kepalanya. Namun Rena hanya menampakkan wajah datar.


“Ini kunci motor, kalau mau kemana-mana pakai motorku!" Rena menyodorkan kunci motornya tanpa menoleh. “Meysa sudah pergi ke toko, kamu bisa susul pakai ini!"


Kai masih terpaku mendengar ucapan Rena.


“Ambil, tanganku pegal."


Setelah Kai meraih kunci motor, Rena mengambil sebuah kunci lagi dari tangan kirinya. “Ini kunci rumah, sebelum pergi sarapan dulu! Jangan sungkan, itu pesan dari kakaknya Meysa!" Kali ini Rena menyodorkan kunci rumah.


Tapi gadis itu langsung berteriak sambil lari ketika melihat Erza mengendarai motornya.


“Za, Erza! Tunggu!" Teriakan Rena membuat Kai yang masih terpaku langsung menatap ke arah Rena yang berlari ke luar pagar saat melihat sosok laki-laki yang kemarin dekat dengan Meysa saat di toko florist.


“Ikut, Za. Hehe!" ucap Rena pada Erza.


Kai masih mengamati interaksi Rena dengan laki-laki yang dipanggil Erza itu. Sosok berseragam hitam putih itu menoleh sekilas dengan tatapan datar ke arahnya.


“Motormu mana?" Erza melepas tas ranselnya dan memindahkan ke bagian depan untuk memudahkan Rena naik ke motor.


“Itu, Kupinjamkan di Kai!"


Erza sama sekali tak berniat merespon, meski begitu ia kembali menoleh pada sosok Kai yang masih berdiri di pintu.


“Meysa mana?" tanya Erza, tatapan berselimut kekesalan selalu saja ia tunjukkan setiap kali menoleh pada sosok Kai yang menurut info dari Rena jika laki-laki itulah penyebab Meysa tak kunjung mau membuka hati untuknya.

__ADS_1


“Ayo Za, sudah hampir jam delapan!"


Erza dan Rena pun berangkat saling berboncengan, kantor kelurahan tempat Erza bekerja bersebelahan dengan sekolah tempat Rena mengajar.


__ADS_2