
“Aku memaafkanmu!" Meysa membuat keputusan setelah menarik napas dalam.
Kai yang menunduk menoleh sambil tersenyum. Matanya mengerling, tak menyangka jika Meysa akan memaafkannya secepat ini.
“Sungguh?"
Meysa mengangguk.
“Ya Alalh, Meysa, makasih banyak!" Saking senangnya Kai sampai berlari menghampiri Meysa, hendak memeluk sang Bulan tapi tangan yang menghalang membuat pergerakan Kai terhenti.
“Jangan macam-macam!" Cegah Meysa memberi peringatan.
Sedangkan Rena yang mendengar suara langkah turut mengintip, matanya menyipit memantau keadaan kalau sampai Kai dan Meysa malah kebablasan dan berujung anu-anu. Itu tidak boleh! Sungguh jauh pikiran Rena yang kotor itu! Dia malah suudzon.
“Jangan rusak kepercayaan kakakku, dia sangat memercayaimu!" peringatan Meysa, membuat Kai kembali mundur beberapa langkah.
Kai menatap nanar pada Meysa.
“Sekarang sudah selesai, Kamu kesini cuma buat minta maaf dan itu sudah kuberikan."
“Sekarang kamu mau apa lagi?" tanya Meysa pada Kai yang berdiri di depannya.
“Mungkin kamu tahu apa yang kumau, Mey."
Meysa mengerti maksud arah ucapan Kai. Dia menghela napas berusaha untuk menenangkan diri, terlalu banyak menangis membuat dadanya sedikit sesak.
“Aku mau lanjutin semua cerita kita." Kai menatap dengan wajah penuh harap.
“Setelah semua yang terjadi, sekarang kamu mau kita lanjutkan cerita kita?" Meysa memicingkan mata.
Meski telah memaafkan, entah mengapa rasanya begitu sulit apalagi kalau harus mengingat semua rasa sakit yang dilewati sendiri. Meysa merasa sangat lemah.
“Menghilang dan tanpa kabar selama itu aku pikir rasamu akan hilang." Helaan napas Meysa terdengar berat. Ia menunduk mendengar niat Kai. Sebenarnya ia sudah mewanti-wanti hal ini, Rena pun sudah memperingatkan.
Maaf memang sudah diberikan, tapi untuk melupakan semua rasa sakit itu sepertinya sulit.
“Memangnya rasamu ke aku udah hilang juga?"
Pertanyaan Kai membuat Meysa menunduk. Bagaimana rasanya bisa hilang, sedangkan setiap hari pikirannya selalu dipenuhi oleh Kai.
“Aku menghilang bukan berarti rasaku juga hilang, Mey!" ucap Kai saat melihat Meysa masih menunduk dan tak berniat menjawab.
“Melupakan orang yang sudah kujadikan tujuan dalam hidupku sama aja dengan aku berusaha untuk celakain kepalaku sendiri biar bisa amnesia!"
“Aku sadar salahku sebesar itu, aku bikin kamu kecewa dan menderita tapi selama itu juga aku gak diam aja Mey, aku kerja buat bisa nemuin kamu, aku selalu berusaha mantau kamu."
Kai memang selalu memantau Meysa melalui akun fakenya. Melihat postingan storynya bisa sedikit mengobati rindu pada Bulannya itu. Hanya saja Kai tidak berani mengirimkan pesan apapun, ia takut Meysa akan memblokir akunnya.
__ADS_1
“Aku gak seperti laki-laki di luar sana. Aku memang pengecut, pakai tindakan itu hanya karena takut tidak bisa memberimu kepastian, aku memang selemah itu."
“Aku cuma laki-laki biasa, untuk bertemu denganmu saja aku haru berusaha keras. Seandainya aku banyak uang, dari awal kenal mungkin aku langsung nemuin kamu, ngajak kamu nikah saat itu juga, tapi aku sadar banyak yang harus kupersiapkan untuk itu!”
“Waktu itu pikiranku benar-benar buntu!”
Meysa menggeleng.
“Tapi gak harus begitu!" Sentaknya masih tidak bisa menerima keputusan sepihak yang kau pilih saat itu.
“Kamu pikir aku gak sakit? Aku juga sakit!"
Kai terdiam menyadari ucapannya yang sedikit menggebu, semua itu karena ia takut tak bisa membawa Meysa kembali ke dalam hidupnya.
“Maaf!" lirih Kai dengan nada lesu.
“Tapi lukaku belum kering Kai!" Meysa menoleh sendu.
Membuat rasa bersalah kembali menghinggapi. Kai menunduk. “Maaf!
“Aku salah!”
“ Aku sejahat itu." Menggunakan ibu jari Kai menghapus bulir bening yang menghalangi penglihatan, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Aku memang udah maafkan semua yang sudah terjadi, tapi bukan berarti aku bisa lupa begitu saja!"
“Aku butuh waktu buat berpikir, kuharap kamu mengerti!"
Suasana menjadi lebih canggung, kedua saling diam dalam waktu yang cukup lama. Larut dalam pikiran masing-masing.
Tak ingin berdiam diri, Meysa lebih memilih mencari kesibukan. Ia mondar mandir merapikan apa yang sudah rapi.
Sementara Kai, ia masih duduk di posisinya tadi. Masih larut dalam pikiran sendiri. Ingatannya bernostalgia sambil mengutuki kebodohan yang dipilihnya saat itu.
Kedua insan yang larut dalam pikiran masing-masing membuat Rena yang sedari tadi memantau memilih untuk turut bergabung ke dapur. Ia mengenda, cari celah untuk mengompori Meysa agar tidak goyah dan memilih jalan sesad untuk kembali pada Kai. Sungguh Rena shipper garis keras Erza Meysa tak rela bila itu terjadi.
“Shuttt!"
Kode dari Rena membuat Meysa yang tengah membersihkan kulkas refleks menoleh ketika merasa pinggangnya dicolek, suara Rena begitu dekat di telinganya.
“Jangan diterima!" Rena berbisik sambil memberi isyarat. Menyilangkan tangan setelah menatap Kai yang terdiam.
“Apa?" Meysa bertanya tak mengerti. Pikirannya terlalu penuh, Is sulit mencerna perkataan Rena.
“Ingat perkataanku kemarin malam, jangan balik sama Kai, dia pernah menyakitimu!"
Alasan Rena masih sama, Ia tak ingin Meysa kembali dengan orang yang pernah menggoreskan luka, takut hal yang sama terulang.
__ADS_1
Lagi pula masih ada Erza yang juga sudah mau bersabar menunggu Meysa. Bagi Rena Erza lebih pantas. Walau sebenarnya tadi Rena sempat terharu mendengar perjuangan Kai, apalagi keduanya pun masih memiliki perasaan yang sama. Tapi Rena sungguh tidak ikhlas sampai ubun-ubun kalau Meysa memilih Kai. Harusnya Meysa belajar dari kesalahan! Begitu Rena berpikir.
“Kau ngomong apa sih, Ren? Tidak jelas sekali!"
Plak.
Otak lemot Meysa yang tidak bekerja cepat membuat Rena kesal. Pukulan cantik mendarat di bahu Meysa. Gadis itu mengasuh kesakitan.
“Kau ini kenapa, Rentenir?" Mata Meysa melotot, tangannya memijat lembut lengan yang mungkin memar akibat tenaga kuda Rena.
Bahkan Kai yang bengong refleks menoleh. Meringis melihat Ayang ditabok Rena. Selain beban pikirannya terlalu banyak, Ia memang tidak ingin ikut campur masalah dua sahabat itu.
“Hehe, tidak-tidak." Menyadari tatapan Kai, Rena cengengesan, mengusap lengan Meysa. Emosinya tertahan agar tak keceplosan meneriakkan apa yang dikatakan barusan pada Meysa.
“Tadi ada nyamuk di bahu Meysa." Rena cengengesan. Menjelaskan tanpa diminta.
“Saya ke kamar dulu ya, mau mandi."
Ternyata Kai hanya mengatakan izin pamit. Tadinya Rena pikir Kai akan marah karena Ia memukul Meysa. Tahunya tidak! Padahal ia sudah ketakutan.
Rena meringis dalam hati, kenapa juga ia takut pada Kai? Toh dia bisa jadi lebih galak kalau seandainya marah.
Kai berlalu pergi, ia hanya menoleh sekilas pada Meysa yang terlihat kebingungan karena baru dipukul Rena. Sepertinya pikiran dua orang itu memang sama-sama penuh. Tidak fokus
“Kau ini kenapa?!"
Rena menelengkan kepala menatap Meysa yang masih menampakkan wajah cengo, terlihat kebingungan.
Plak.
Bukannya menjawab Rena malah melayangkan pukulan lagi.
“Auwwh, sakit anj!" umpat Meysa tak tahan. Mulut sucinya yang sudah lama pensiun akhirnya kelepasan juga.
“Kau ada masalah apa main pukul terus?!"
Rena kesal pada Meysa yang sok tidak tahu.
“Ingat, tentukan pilihan terbaik. Jangan sampai jatuh di lubang yang sama!"
“Memangnya mau disakiti lagi?"
Namun, bukannya menjawab. Meysa malah berbalik pergi. Meninggalkan Rena dan masuk ke kamar. Tentu itu membuat Rena kesal.
“Woy, dikasih tahu malah kabur!"
Meysa angkat tangan, melambai seperti pengunjung rumah hantu yang menyerah. Ia pusing mendengar ocehan Rena. Sejak tadi sedang memikirkan jawaban atas pilihannya nanti, Rena malah datang mengusik.
__ADS_1
“Saya sudah pusing, jangan dibikin makin pusing! Ini juga mau menyendiri untuk berpikir." Meysa keluar dari dapur.
Rena hanya menggaruk kepala, niat hati mengingatkan malah membuat Meysa makin pusing. Rena jadi merasa bersalah.