
Sebelum pulang Faza menyempatkan singgah di rumahnya untuk mengambil perlengkapan. Kakaknya itu menepati janji agar Eka tak sampai mengetahui masalah ini, terbukti dengan Faza yang menyuruh Meysa berdiam diri di dalam mobil saat ia masuk.
Dan begitu selesai, Faza kembali keluar, masih dengan pakaian yang sama. Hanya membawa dompet dan switer yang tersemat di pundaknya.
Tepat pukul 12 malam, mereka meninggalkan kota Palu menuju kampung halaman.
Sepanjang perjalanan Meysa terus memikirkan keadaan Kai, tak ada lagi harapan untuk bisa menemui kekasihnya itu. Ia membuang jauh-jauh rencana nekat tersebut. Menggantinya dengan do'a baik agar Kai segera diberi kesembuhan dan bisa pulih secepatnya.
Meski hatinya sempat meringis ketika mengingat tiket pesawatnya yang hangus karena batal berangkat.
“Uangku!" lirih Meysa memanggil uang-uangnya yang hangus. Bukan uang sedikit.
Tak apa, anggap saja bayaran atas kebohongan yang ia lakukan. Kalaupun ia jadi berangkat, bisa jadi ada hal buruk lain yang akan menimpa perjalanan yang berawal dari sebuah kebohongan. Dari hal ini Meysa berusaha mengambil hikmah dan menguatkan hati untuk semangat dan kuat dalam menjalin hubungan jarak jauh yang entah sampai kapan.
Selama perjalanan Faza tak lagi marah-marah. Mereka lebih banyak diam. Meski begitu Faza tetap memberi perhatian setiap kali mobilnya berhenti di warung atau tempat makan. Ini lah yang Meysa suka dan kagumi dari Faza. Selalu memberi perhatian kecil meski sedang marah. Ia merasa beruntung punya kakak seperti seorang Maharul Faza Hartono.
....
Pagi hari, tepat pukul 9.20 mereka tiba di rumah. Semalam Faza sengaja menginap di rumah makan agar bisa beristirahat dan sampai saat pagi.
Meysa merasa senang, Faza tak membocorkan kebohongannya pada bapak Walau bapak sempat heran dan bertanya kenapa ia pulang secepat ini. Namun, untungnya Faza si kakak baik hati membantu memberi jawaban.
“Mobilnya Arif rusak di tengah jalan, kebetulan berpapasan, makanya Meysa kularang pergi!"
“Tidak baik melanjutkan perjalanan kalau sudah ada hambatan seperti itu!"
Bapak manggut-manggut mendengar penuturan anak sulungnya. Tapi tak disangka bapak malah balik bertanya pada Faza.
“Terus kau sendiri ada urusan apa kesini?" tanya bapak pada Faza yang sudah melangkah masuk. Ia hendak melanjutkan tidurnya.
“Ada sedikit urusan!" ujar Faza sebelum akhirnya masuk ke kamarnya yang berada di dekat ruang tamu. Pria itu berencana akan pulang sore setelah mengistirahatkan tubuh sejenak. Menempuh perjalanan tengah malam membuatnya ngantuk berat meski sempat tidur beberapa jam saat di rumah makan.
Setelah itu tak ada lagi obrolan yang terlibat. Bapak melajukan motornya pergi ke kebun. Sementara Meysa langsung masuk ke kamar. Tak ada yang berubah dari kamar yang baru kemarin siang ia tinggalkan. Belum ada 24 jam, ia sudah kembali ke rumah ini.
Dengan tubuh penat Meysa lang meraih handuknya, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di belakang.
Setelah mandi Meysa langsung ketiduran, tak sempat membuka handuk yang membungkus rambut di kepala.
“Pulang dulu, Mey!"
Meysa baru terbangun saat sore hari ketika Faza sudah harus kembali ke Palu.
“Pulang dulu, Mey!"
Ia yang masih ngantuk hanya mengangguk dengan wajah bantal.
“Pak, pamit dulu!" Faza meraih tangan bapak dan menciumnya. Seandainya waktu libur, Faza ingin berada lebih lama di rumah masa kecilnya itu. Hanya saja kedatangannya yang seorang diri tanpa keluarga kecil membuat ia harus segera pulang, belum lagi hari ini ia terpaksa cuti demi untuk mengantar adiknya dengan selamat.
"Meysa!"
Meysa yang bersandar di pintu langsung mengerjapkan mata saat dipanggil Faza.
“Sudah dewasa, pikiranmu juga harus dewasa Jangan bertindak seenaknya!"
Mendengar itu Meysa hanya bisa menghela napas kasar, lalu mengangguk. Faza sedang membahas soal kemarin.
Tangannya terangkat melambai saat mobil Faza mulai meninggalkan halaman rumah. Betapa beruntungnya ia memiliki saudara laki-laki yang pengertian. Meski emosian, tapi Faza selalu bisa dipercaya.
Setelah kepergian Faza. Meysa langsung masuk ke kamar. Matanya langsung tertuju pada benda pipih yang tidak pernah ia buka sejak terakhir di telepon oleh Faza yang mengetahui rencananya.
Meysa menyalakan benda pipih tersebut. Saat data selulernya diaktifkan, ada banyak sekali chat yang maasuk dan panggilan tak terjawab.
Mata gadis itu membola saat melihat 12 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal, 5 panggilan tak terjawab dari Satria. Bahkan ada pula chat dari nomor tak dikenal itu.
Pesan
____________
Bang Sat : Meysa!
Ini aku udah sama Kai
Angkat ya!
__ADS_1
____________
_____________
+628508368*** : Bee
Ini nomor Syaqila
Kamu kemana?
Kenapa gak diangkat?
Kamu marah banget ya samaku?🥲
Maafin aku bee, hpku hilang pas di tempat camping 😪
Sayang!!!
Bee, aku sakit! Kemarin pas pulang touring aku nabrak!
Bee kamu kemana aja?
______________
Jantung Meysa berdegub kencang membaca pesan dari Satria dan nomor baru yang ternyata adalah nomor telepon Syaqila, adik Kai.
Ternyata sejak semalam Kai dan Satria menghubunginya tepat saat ia bersama Faza. Melihat chat dari Kai membuat Meysa bersyukur, ternyata kekasih hatinya itu sudah baik-baik saja.
Tak ingin membuang-buang waktu, Meysa langsung menghubungi nomor Syaqila. Berharap bisa melihat Kai.
Benar saja, tak butuh waktu lama, calon adik iparnya itu sudah mengangkat panggilannya.
“Mak, mak. Cewek si abang nih!" terlihat Syaqila yang tengah berbaring di sofa, mengajak seseorang berbicara sambil menampakkan senyum ramah padanya.
“Halo kak!"
Meysa senang saat Syaqila menyapanya dengan ramah, bahkan tersenyum sangat tulus. Bertepatan dengan itu seorang wanita paruh baya mengenakan hijab selengan turut bergabung dengan Syaqila.
“Ini yang namanya Meysa?" tanya Ibu Kai dengan senyum mengembang.
Membuat Meysa refleks menganggukkan kepala. Selama menjalin hubungan dengan Kai, ini kali pertamanya Ia berkomunikasi langsung dengan adik dan Ibu Kai. Sebelumnya Kai hanya sering mengarahkan kamera belakang untuk memperlihatkan keluarganya setiap kali mereka melakukan vc.
“Kenalin ibunya Kai!"
“Halo tante!" sapa Meysa dengan ramah.
“Ini adek dia yang bungsu!"
Meysa manggut-manggut mendengar itu. Tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu sejak lama. Kai sudah memperkenalkan semua melalui foto.
“Beruntung si Kai punya cewek jauh yang setia!" terdengar suara seorang laki-laki megatakan sesuatu menggunakan bahasa daerahnya. Meysa sama sekali tak paham, ia hanya berusaha menampakkan senyum.
“Iya, kalau ada yang begitu ya dipertahankan. Jangan disia-siakan. Udah jauh, setia, mau sabar menunggu pulak." Suara laki-laki yang lain turut menimpali.
“Beruntung, tapi Kainya aja yang kelamaan ngelamar anak orang. Entah sampai kapan mau disuruhnya anak orang menunggu!"
Meysa menatap Ibu Kai yang juga turut menimpali perbincangan sambil menatap Kai yang terlihat garuk kepala di atas branker.
“Ya do'ain bisa secepatnya. Kan masih ngumpilin duit dulu!" timpal Kai dengan raut wajah meringis. Semua keluarga malah menyudutkannya atas ketidak berdayaan yang membuat ia belum menghalalkan Meysa.
Meysa kenal siapa pemilik suara itu, mendengar suaranya saja sudah membuatnya senang bukan kepalang. Walau saat ini ia masih diam mengamati perbincangan antara sesama anggota keluarga itu, yang Meysa sendiri tidak tahu ada siapa saja disana. Ia hanya melihat Ibu Kai dan Syaqila.
“Mak ni malah ikut ngobrol, Kak Meysa malah diabaikan." Ujar Syaqila masih menggunakan bahasa daerah mereka. Meysa tidak paham, yang ia pahami hanya Syaqila sedang menyebutkan namanya.
Setelah itu Ibu Kai langsung menoleh pada Meysa lagi. “Maaf Meysa, Mak malah ikut ngobrol." Wanita paruh baya itu nampak tersenyum.
Meysa menggeleng tanda tak keberatan. Berada diantara keluarga Kai, meski hanya melalui vc saja ia sudah merasa senang dan bersyukur karena dianggap. Ini kali pertamanya ia dekat dengan keluarga laki-laki setelah punya beberapa mantan kekasih sebelum Kai. Tapi tak ada yang sampai sedekat ini.
“Meysa udah tahu kalau si Kai lagi sakit?"
“Iya tante, waktu itu dikasih tahu Satria!" jawab Meysa dengan cepat.
Wanita yang biasa Kai sebut 'Emak' itu mengangguk mendengar jawaban Meysa. "Jatuh dari motor dia dua hari yang lalu."
__ADS_1
“Terus keadaannya sekarang gimana?" tanya Meysa sopan.
“Eh, Meysa belum pernah lihat keadaan Kai, ya?" tanya Emak dengan raut wajah mengkerut. Mengingat sejak kemarin Kai meminta pinjam ponsel sang adik hanya untuk mengabari seseorang yang katanya spesial, yaitu Meysa.
Alhasil Kai yang sebelumnya pernah menceritakan soal hubungannya dengan Meysa pun menceritakan pada keluarganya tentang siaapa Meysa dan darimana asalnya, sebab semua terus bertanya penasaran dengan sosok yang tengah dekat dengan Kai selama ini.
Terutama Alby yang tak jarang memergoki Kai sedang VC. Ia tahu adiknya itu dekat dengan seseorang.
“Jauh bener Kai nyari jodoh!" begitu Alby menimpali kemarin saat Kai selesai bercerita dengan singkat, padat dan jelas.
“Biar jauh kalau jodohnya emang disana, ya mau gimana lagi." Begitu Ayah menimpali. Semua keluarga tak masalah dan menyerahkan keputusan terbaik pada Kai, dia yang akan menjalani hidupnya.
Hanya satu pesan dari orang tua Kai, yaitu jika ingin mencari jodoh harus yang seiman dan yang terpenting tak menikah dengan orang satu kampung. Sebab di daerah Kai hal itu sangat dilarang keras, karena menikahi orang satu kampung sama saja menikahi saudara sendiri, masih ada hubungan keluarga!
“Lumayan parah Meysa, lehernya sampai dipasangin alat apa tuh namanya..." Ibu Kai mulai menjelaskan, tapi ucapannya terjeda saat hendak menyebut nama alat penyangga leher tapi ia tak tahu apa namanya.
“Penyangga leher!" Alby terdengar menimpali.
“Nah itu dia Meysa!" seru Emak yang mana membuat Meysa manggut-manggut.
“Hpnya juga hilang!"
Meysa masih saja manggut-manggut mendengar penuturan Ibu Kai yang menjelaskan semua, meski ia sudah tahu sebagian detail cerita dari Satria.
“Itulah Mak bilang, niat mau jalan-jalan malah dapat musibah beruntun gini ya mending gak usah pergi-pergi kan!"
Meysa senang melihat Ibu Kai mau mengobrol terbuka seperti ini padanya, meski ini kali pertama. Tapi kesan yang ia dapatkan sangat luar biasa.
“Meysa, bicara sama Kai aja ya. Emak mau ke toilet dulu bentar."
“Qila, berikan hpnya ke abangmu!"
Setelah menyuruh Syaqila memberikan ponsel pada Kai, Emak yang kebelet buang air langsung pergi ke kamar mandi.
Syaqila lalu melangkah ke arah branker, memberikan ponsel pada Kai. Meysa yang melihat itu sangat tidak sabar. Perasaan senangnya berubah jadi khawatir.
Apalagi ketika ponsel itu sudah berada di tangan Kai. Menampakkan orang yang sangat ia khawatirkan itu tengah berbaring sambil menampakkan senyum dan lambaian pasanya. Sehingga Meysa bisa melihat selang infus yang melekat di punggung tangaan Kai, sedangkan di lehernya ada sebuah alat yang terpasang. Melihat itu air mata Meysa langsung menetes seketika.
Kai yang juga sudah sangat merindukan Meysa begitu senang bisa kembali melihat sosok yang sangat ia cintai. Ia tak langsung berkata atau menyapa, yang Kai tampakkan adalah senyuman dibalut dengan rasa rindu yang tak mampu lagi ia ungkapkan. Namun saat melihat senyuman yang hanya Meysa tampakkan sejenak itu berubah menjadi tangis membuat hati Kai sakit. Ia sedih melihat Meysa menangis.
Sebelum berusaha menenangkan, Kai terlihat melirik ke arah keluarganya yang tengah duduk sambil sibuk pada ponsel masing-masing. Kai ingin menenangkan Meysa, tapi ia terlalu sungkan kalau obrolannya sampai terdengar.
Namun, ia benar-benar tak tahan ketika melihat tangisan Meysa makin menjadi.
“Loh, kok nangis sih bee?" bisik Kai, berharap tak ada yang memerhatikan. Kalaupun ada, Kai tak perduli, bagi Kai menenangkan Meysa adalah misi utamanya.
“Apanya yang sakit?" lirih Meysa, tangannya tergerak mengusap air mata yang terus berlinang.
Kai menarik napas dalam, berusaha menujukkan senyum terbaik agar Meysa bisa lebih tenang.
“Aku gak apa-apa bee!" ujar Kai dengan sorot mata lembut. Jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu mencintai Meysa.
“Gak apa-apa gimana, itu di bibrimu ada luka, pipimu juga agak sedikit memar!" sentak Meysa, tak suka Kai selalu berkilah padahal jelas-jelas ia sedang tak baik-baik saja.
“Iya, tapi ini udah kering kok. Besok juga udah bisa pulang!" ujar Kai memberitahu. Ia tak lagi menghiraukan keluarganya yang sempat menoleh mendengar obrolannya dengan Meysa dan setelahnya langsung beralih dan sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Jangan khawatir ya! Ini udah mendingan!"
Kai berhasil menenangkan Meysa, gadis itu tak lagi menangis. Kini mereka kembali mengobrol seperti biasa, dengan Kai yang meminta maaf soal alasan ia tak memberi kabar waktu itu.
“Hpku hilang pas sore, entah jatuh atau ada yang ambil pas aku sama yang lain lagi masang tenda!"
“Maafin aku udah bikin kamu sedih dan khawatir!"
Meysa mengangguk mengiyakan. Tatapannya tak beralih sedikitpun dari wajah favoritnya. Meski sedang sakit, Kai sama sekali tak terlihat demikian. Ia malah kelihatan seperti orang bugar.
“Iya aku udah gak marah kok!"
“Justru aku yang harusnya minta maaf karena udah suudzon ke kamu."
Mata Kai menyipit, bibirnya tersenyum lebar mendengar penuturan Meysa. Perasaannya pada gadis itu tak pernah berkurang sedikitpun meski hubungan mereka sering dihiasi pertengkaran.
Aku sayang kamu, Mey! Sayang banget! lirih Kai dalam hati.
__ADS_1