
Seorang wanita terlihat melangkah masuk ke dalam rumah berukuran minimalis dengan chat warna hijau. Sejak diceramahi sang Kakak malam itu. Meysa merubah haluan hidupnya, ia mencoba untuk memperbaiki diri dan tak beternak buaya hanya untuk melupakan Kai.
Kali ini Meysa tak lagi bersikap kekanak-kanakan seperti dulu. Ia lebih memilih menjadi jomblo fisabilillah, menutup hati dari semua laki-laki. Meysa benar-benar fokus memperbaiki diri.
Ia seperti sudah mati rasa setelah hubungan terakhirnya dengan sosok cinta virtual yang hingga kini bayang-bayangnya masih selalu muncul dalam menghantui di setiap waktu.
Cinta Meysa pada lelaki itu memang tak pernah hilang meski hubungan mereka telah berakhir sejak delapan bulan yang lalu. Kisah cinta yang di jalin sejak empat tahun lalu, dimana mereka tak sengaja dipertemukan secara acak pada sebuah fitur chat yang ada di aplikasi. Namun, kini semua hanya tinggal kenangan.
Meski begitu, waktu selama itu tak membuat rasa cinta Meysa berubah dan berkurang sedikitpun. Hanya saja bedanya kini ia tak lagi menaruh harapan apa-apa. Semua Meysa serahkan kepada sang pemilik kehidupan. Bagaimanapun akhir dan takdir yang ditetapkan padanya, insyaallah akan Meysa terima. Sebab sudah pasti itulah ketetapan terbaik yang tentu sudah Tuhanannya gariskan.
Meysa tak lagi ingin sibuk mengejar dan menjalin sesuatu yang tak pasti seperti dengan Kai dulu. Sama-sama sibuk berjuang dan menunggu namun tak kunjung dipersatukan, tapi mereka malah lebih dulu pisah di tengah jalan. Hanya karena keogoisan masing-masing.
Sejak memilih untuk menata hidup, Meysa merasa jauh lebih tenang. Bahkan ia tak lagi buka tutup hijab seperti dulu. ia bahkan benar-benar sudah fakum dari perbuatan beternak buaya. Kali ini Meysa hanya fokus dan sibuk pada kegiatannya sehari-hari. Menjalankan tugas seperti biasa, mengurus rumah, mengurus Bapak dan bekerja.
Selain sibuk menulis dan menjalankan usaha buketnya. Saat ini kegiatan Meysa semakin padat, sebagai salah satu anggota panwaslu kecamatan. Ia dan tim tengah gencar-gencarnya mengevaluasi penyelenggaraan pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung.
Jika sebelumnya Ia dan tim selalu lembur, hari ini Meysa bisa pulang lebih cepat dari biasa.
“Pak, makanannya sudah siap!" begitu Meysa berteriak setelah selesai menyiapkan makan malam untuk Bapak. Sepulang dari kantor sekretariat Meysa langsung bergegas memasak.
“Iya, nanti saja makannya kalau sudah shalat maghrib!" Bapak berteriak menyahuti Meysa bersamaan dengan suara deru mesin motor tang mulai menjauh. Bisa ditebak jika bapak akan pergi menuju mesjid untuk melaksanakan shalat maghrib.
Meysa yang sudah selesai dengan proses masak-memasaknya pun beranjak ke kamar lalu mengambil handuk untuk mandi. Setelah mandi dan berwudhu gadis itu memakai pakaian dan mulai melaksanakan shalat maghrib seorang diri di kamar.
Kehidupan Meysa memang terasa hampa sejak perpisahan Mamak dan Bapak. Rumah itu begitu sepi, bahkan tak ada lagi sosok Kakak yang menemani ia menjalani hari seperti saat kecil dulu. Faza sudah lama berkeluarga dan Ia sudah terbiasa menjalani hidup sepi tanpa sosok keluarga yang utuh. Apalagi setelah hubungannya dengan Kai berakhir, kesepian begitu nyata menerpa. Meski begitu Meysa tetap menjalani semua tanpa mengeluh dan tak lagi menyalahkan takdir seperti dulu.
Setelah shalat dan berdo'a, Meysa beralih dari atas sajadah. Ia melangkah ke sisi lemari kayu yang di sampingnya terdapat sebuah rak plastik berwarna hijau, berisi jejeran buku dan kotak yang tersusun rapi.
Tangan Meysa terulur meraih Al-Qur'an disana. Meysa hendak membaca kalam ilahi yang selalu mampu menenangkan hati setiap kali ia dalam kegundahan.
Ting.
Terdengar sebuah notifikasi dari ponselnya yang tercas di atas meja rias, berada tepat di samping tempat tidur.
Meysa yang sudah meraih Al-Qur'an pun melangkah ke sisi tempat tidur. Ia meraih ponselnya yang masih menyala.
__ADS_1
“Buka dulu ah, siapa tahu penting!" ujarnya sembari duduk di tepi tempat tidur.
Penasaran dengan apa isi notifikasi itu, tangan Meysa mulai tergerak membuka kunci ponsel, Ia mulai mengetikkan password menggunakan angka nol hingga selesai.
Deg....
Satu pesan belum dibaca from 'Him'. Meysa membaca nama kontak Kai yang sudah ia ubah dari Bintang menjadi Him.
“Kai?"
Mata Meysa berkaca-kaca ketika melihat sebuah pesan dari Kai. Setelah sekian lama, ini pertama kalinya lelaki itu kembali mengirimkan pesan padanya.
Jemari Meysa mendadak tremor saat hendak membuka pesan itu. Namun saat sudah membuka, matanya langsung disuguhkan dnegan sebuah teks panjang yang membuat jantung berdetak cepat, mata gadis itu kian berkaca-kaca.
Message
Him :
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hai, apa kabar? Maaf ya kalau mengganggu, tapi ada hal penting yang ingin dan harus aku sampaikan ke kamu.
Dengan ini ... Aku ,Zayankara Kai'ulani berniat ingin menghitbah saudari Haneedya Meysa untuk menjadikanmu istriku, Ibu dari anak-anakku, kelak.
Jika niat baikku diterima, mohon untuk dibalas, agar aku dan keluarga bisa secepatnya berkunjung ke sana untuk melangsungkan lamaran secara seremonial.
Dan apabila lamaran ini kamu tolak, cukup diread juga gak apa.😊
Sekian dari Aku! Orang yang masih ingin dan selalu ingin menjadikanmu tujuan hidup.
^^^_Zayankara Kai'ulani.^^^
Itupun kalau kamu belum punya calon lain atau gak lagi dekat sama orang 😊
______
__ADS_1
Setetes kristal bening itu akhirnya lolos begitu saja. Meysa terpaku, bibir dan tangannya bergetar membaca pesan mengejutkan dari seorang Kai.
Tak menyangka. Sungguh ia tak menyangka jika hal seperti ini akan tiba! Sungguh Meysa tak mampu mengutarakan perasaannya saat ini. Yang bisa Meysa lakukan hanyalah menangis sesenggukan sambil berulang kali menatap pesan yang dikirim oleh seseorang yang hingga kini masih menjadi pemilik hatinya.
Pesan itu bagaikan sebuah dejavu yang membuat perasaannya porak-poranda seketika. Bahkan saking sulitnya mengendalikan perasaan, Meysa sampai merosot ke lantai, tubuhnya bersandar di pinggir tempat tidur. Ia memeluk lutut sambil menangis sesegekuan, tangannya tergerak mendekap ponsel yang masih menyala, menampakkan isi pesan yang Kai kirim barusan.
Sungguh ini seperti sebuah mimpi. Berulang kali ia berusaha menyadarkan diri, jika apa yang dialaminya saat ini bukanlah sebuah hayalan ataupun mimpi belaka.
Dengan perasaan yang masih meluap, Meysa kembali menatap ponsel.
“Ini nyata, kan?" tanyanya pada diri sendiri sambil menekan simbol foto profil pada layar percakapannya dengan Kai. Hingga menampakkan sebuah foto dengan inisial nama lelaki itu, yaitu 'ZK' .
Ternyata bukan mimpi, Meysa lalu menekan simbol kembali pada ponselnya.
“Kai!" lirihnya lagi sambil mengusap air mata yang kembali berjatuhan.
Tanpa ragu dan penuh keyakinan, tangan Meysa lalu tergerak. Siap mengetikkan sesuatu sambil mengusap sudut matanya yang terus dialiri cairan bening.
Meysa : Waalaikusalam warahmatullahi wabarakatuh.
Hanya itu yang mampu Meysa balaskan.
Setelah mengirim balasan pesan itu, Meysa lalu menjatuhkan kepalanya di antara lutut. Ia melingkarkan tangannya disana, meringkuk sembari menumpahkan tangis. Masih seperti mimpi, Ia mendesah kejutan luar biasa setelah shalat maghrib.
...Tamat...
Hi, akhirnya kisah cinta virtual dab LDR ini berkahir sampai sini.
Eits, tunggu dulu! Jangan bilang neggantung. Masih ada lanjutannya kok😁. Tapi bukan disini, kita lanjut di judul baru ya.
Yang penasaran dengan kelanjutannya, tunggu di karya dengan judul : After Long Distance Relationship.
Yang Insyaallah akan terbit besok🥰
__ADS_1
Bye-bye, salam sayang buat Kak @Aryani_Aza dan Kak @Andariyah yang selalu support dan gak pernah ninggalin aku.
Love you all, big hug from me💖✨