Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
19


__ADS_3

“Mey!” Cegah Kai saat Meysa sudah hampir melangkah, Kai segera menahan pergelangan tangannya agar Meysa tetap berada disana.


Kai benar-benar ingin menyelesaikan semuanya sekarang. Sebab jika dibiarkan semua akan tetap begini, terlebih lagi Kai tak bisa berlama-lama disana, dalam seminggu ini Kai harus mendapatkan maaf dari Meysa, paling tidak ia bisa menjelaskan semua karena cuti yang Kai ambil untuk menemui Meysa hanya seminggu saja.


“Jangan pergi dulu," Cegah Kai, tangan Meysa ditarik pelan. Karena tidak ada pertahanan, akhirnya Meysa terjatuh di dada Kai. Tapi gadis itu langsung manampakkan wajah kesal dan segera menjauh dari tubuh tegap yang sebenarnya masih sangat ia harapkan.


“Kamu mau apa lagi?" bentak Meysa marah.


Dengan wajah memelas Kai menjawab pertanyaan Meysa. “Aku cuma mau jelasin alasan kenapa aku ninggalin kamu waktu itu, aku juga mau minta maaf, Mey!" seru Kai sambil menangkupkan tangan di dada, ia memohon dengan sangat.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan, semua sudah jelas!"


“Tapi menurutku perlu Mey, semua belum jelas, aku mau kamu tahu!"


Tapi Meysa tetap pada pendiriannya dengan wajah kesal.


“Kamu tidak perlu merasa bersalah, toh sudah kubilang dulu itu aku hanya pura-pura mencintaimu, aku tidak serius!" Sungguh Meysa yang keras kepala, kali ini ia benar-benar terlihat menyebalkan dengan terus mengatakan semua hal yang berbanding terbalik dengan perasaannya. Benar kata sebagian orang jika diri sudah dikendalikan amarah, maka hati dan pikiran akan sulit untuk berpikir jernih.


Entah dengan cara apa lagi harus membuat Bulannya itu luluh, dengan berbesar hati Kai mencoba mengambil hati Meysa dan masih berusaha berbicara dengan baik.


“Dan selamat, kepura-puraanmu waktu itulah yang mengantarkanku ke sebuah perasaan yang tak dapat dihindarkan, kamu gak gagal dengan kepura-puraannmu itu. Kamu cuma gagal membendung perasaan untuk tidak terjerumus ke dalamnya. And then, kita sama-sama terjebak di dalam sebuah kepura-puraananmu yang berujung pada sebuah perasaan yang sama, bukan kah begitu?” Tatap Kai penuh selidik, membuat Meysa memutar mata malas mendengar perkataan Kai.


“Makanya kumohon dengerin aku dulu ya!" Kai masih berusaha membujuk.


Meysa benar-benar merasa kehabisan kata mengahadapi Kai, dia terlalu pandai memberikan jawaban yang tepat. Ini membuatnya kesal.


“Ngomong sama kamu memang gak ada habisnya!"


“Mey, makanya coba dengar aku dulu, aku mau bicara dari hati ke hati biar kita bisa sama-sama tenang, apapun keputusanmu aku akan terima, asal dengerin penjelasanku dulu!" ucap Kai pada Meysa yang lagi-lagi berusaha pergi tapi tangan gadis itu kembali dicegahnya.

__ADS_1


Meysa menoleh sambil memicingkan mata. “Tau apa kamu tentang hati? Sampai bisa bilang begitu, memangnya kamu punya hati?" sergah Meysa yang omongannya sudah mulai keluar jalur. Membuat pernyataannya soal kepura-puraan dalam mencintai Kai itu adalah nyata sebuah kebohongan. Jawaban ini bisa membuktikan bagaimana dirinya memang sakit hati terhadap sikap Kai yang tak berhati, tega melakukan semua tanpa memikirkan perasaannya yang memang sudah terlanjur cinta.


Hati Kai bergidik ngilu mendengar ucapan Meysa.


"Mungkin aku memang gak tahu banyak tentang hati, tapi aku tahu kalau hati tak bisa dibohongi.” Sorot mata Kai menatap Meysa dengan tatapan yang dalam.


Lagi-lagi ucapan Kai membuat Meysa merasa tersindir.


“Tahu ah, kamu terlalu banyak bacot!" pungkas Meysa.


“Lepas, aku mau pulang! Kamu gak sepenting itu, tahu! Sebelum kamu menjelaskan semua, lebih baik kamu dengar ini, aku tuh sebenernya memang pura pura waktu itu, jadi kamu gak perlu merasa bersalah. Semuanya sudah selesai!"


“Kalau pun memang seperti itu yang terjadi, kamu berhasil kok, kamu gak gagal, selamat ya telah membuatku suka dan sayang samamu, dan kalau pun itu benar sebuah kepura-puraann, aku tidak akan pernah marah samamu, dan aku juga tidak akan merasa sakit hati sedikitpun, karena yang kutahu aku juga terlalu mencintaimu, dan aku tidak bisa membohongi itu, satu hal yang kuminta samamu, aku mohon maaf untuk semua hal yang telah terjadi selama ini, aku beneran masih sayang kamu!” Wajah Kai terlihat begitu sendu dengan mata yang berkaca-kaca.


Belum sempat ia menjelaskan semua tentang apa yang membuatnya menghilang saat itu, Meysa sudah pergi lebih dulu dan kali ini Kai tak bisa mencegah, tubuhnya seakan tak memiliki kekuatan lagi untuk menahan Meysa. Pertemuannya dengan Meysa kali ini benar-benar cukup menguras emosi, meski sedari tadi ia terlihat sabar dan tenang tapi jauh di lubuk hatinya ia pun menahan kepedihan, rasanya sangat menyakitkan mendengar semua pengakuan Meysa barusan. Terlepas dari benar tidaknya semua, Kai hanya berusaha menguatkan diri untuk menerima kenyataan apapun itu.


Kai tersentak saat melihat Meysa yang sudah hampir mengendarai motornya, ia lalu segera menyusul gadis itu. Tak apa Meysa mengabaikannya, setidaknya ia bisa melihat gadis itu dan Kai ingin pulang bersama.


Sepanjang arah jalan pulang, kedua insan yang mengendarai motor berbeda itu tengah memikirkan hal yang sama. Keduanya sama-sama merasakan kebahagiaan karena akhirnya bisa saling berbicara dengan jarak yang begitu dekat, bahkan bisa saling tatap dan merasakan kehadiran satu sama lain secara nyata. Namun, situasi dan keandaan membuat mereka harus dipertemukan dalam kondisi seperti tadi, bahkan dibumbui perdebatan menyakitkan.


Pandangan Kai dan Meysa sama-sama terlihat kosong dalam perjalan pulang dengan air mata yang terkadang sama-sama menetes, menangisi semua yang terjadi.


“Aku bodoh, Mey!"


“Aku jahat ya, Kai?" lirih keduanya sambil terus melajukan motor masing-masing.


“Seharusnya dulu aku gak melakukan hal bodoh!"


“Seharusnya aku gak ngomong kayak begitu ke kamu!" lirih Meysa lagi.

__ADS_1


“Kalau saja dulu aku gak sepengecut itu, mungkin aku gak harus menahan sesaknya sedih karena tak mendengar kabarmu. Bahkan mungkin semua ini gak akan terjadi, kita gak seharusnya berada di situasi ini!"


Sambil mengendarai motor di belakang Meysa, Kai tak henti-hentinya menatap punggung gadis yang selama ini selalu ia jadikan tujuan, meski dirinya pernah mengambil keputusan yang salah dengan cara memilih meninggalkan Meysa hanya karena takut tak mampu mewujudkan mimpi mereka. Kai menyesali semua. Tak seharusnya ia melakukan itu, yang seharusnya ia lakukan dulu adalah meminta Meysa untuk sama-sama berjuang dan mau bersabar untuk menunggunya, tapi nasi sudah jadi bubur. Kini ia harus berjuang dari awal lagi untuk meluluhkan hati sang Bulan.


“Aku senang kamu disini, aku bahagia bisa lihat kamu. Sulit mengungkapkan bagaimana rasanya saat aku tahu kamu masih menginginkanku!" Meysa mengusap air matanya yang perlahan meleleh di pipi.


Sama-sama larut dalam kesedihan dan pemikiran masing-masing membuat perjalanan pulang jadi tak terasa, Kai dan Meysa sudah sampai di rumah. Meysa memarkirkan motor dan masuk lebih dulu tanpa menghiraukan keberadaan Kai yang sampai agak belakangan dan baru memarkirkan motor Rena di belakang mobil Faza yang terparkir di carport, bersambung dengan dinding bangunan kost.


“Darimana saja, Meysaroh?" tegur Faza yang melirik sekilas tatkala tengah sibuk menatap ponsel. Membuat Eka yang tengah menyetrika bajupun ikut menoleh.


Hanya ada pasutri itu saja di ruang tengah, sedangkan anak-anak mereka sepertinya sudah tidur.


Melihat Meysa yang langsung masuk kamar tanpa menjawab pertanyaan Faza, membuat Ayah dua anak itu langsung melepaskan kacamata dari hidungnya. Merasa heran dengan sikap sang adik, Faza melirik ke arah Eka.


“Adikmu itu memang te jelas begitu!" sahut Eka menimpali. “Makanya saya malas tanya-tanya.”


Jawaban sensitif Eka membuat Faza tak suka. Ia tahu kadang Eka memang tak suka dengan keras kepalanya Meysa yang susah diatur, sehingga membuat Eka malas ikut campur. Tapi menurut Faza tak seharusnya sang istri berkata demikian, ia tahu Meysa seperti apa. Meski begitu, toh Meysalah yang sering membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan terkadang mengurus dua anaknya. Seharusnya Eka tak terus-menerus mengungkit keburukan Meysa tanpa mengingat kebaikan sang adik.


Malas berdebat akhirnya Faza memutuskan beranjak ke dapur, ia berniat menanyakan semua pada Rena. Sebeb jika diteruskan tentu akan terjadi perdebatan panjang nantinya.


“Rena, saya mau bertanya!"


Rena yang sedang melap tangan setelah cuci piring pun menoleh pada Faza. Wajah yang berbalut kekesalan itu jadi nampak serius, membuat Rena was-was dan takut dengan pertanyaan apa yang ingin disampaikan Faza.


“Tanya apa kak?" ucap Rena ragu-ragu.


“Meysa ada masalah apa?"


Dan benar saja, pertanyaan itu membuat Rena menelan ludah kasar, bingung harus menjawab apa. Apakah harus jujur atau bohong.

__ADS_1


__ADS_2