Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
24


__ADS_3

Rena masuk dapur, matanya melotot mendapati Kai dan Meysa disana. Tapi rasa kesal karena tidak ada seorang pun yang membangunkan lebih besar dari apapun. Tidak masuk sekolah karena terlambat.


“Kenapa tidak kau bangunkan saya?" Rena mengomel begitu menginjakkan kaki di dapur. Ia menatap marah pada Meysa.


Namun matanya segera melotot ketika Kai dan Meysa langsung balik menyerang dengan nada penuh perintah yang mengesalkan.


“Jangan kesini, kita masih mau bicara!"


Rena melotot kaget diserang oleh dua orang itu. Sangat kompak seperti sebuah penyerangan berencana! Rena merasa terusir, padahal tadi ia berniat meluapkan protes. Tapi justru dia yang disemprot balik.


“Sana, jangan disitu, kita masih mau bicara empat mata! Kalau kau ada jadinya enam mata." Meysa memberi peringatan. Rena menelan ludah kasar, merasa terpojok.


“Biarkan kita selesaikan masalah dulu!” Kai juga turut menimpali.


Seperti mendapat amukan dari singa liar, Rena segera balik badan. Tak ingin adu bacot. sepertinya dua orang itu memang butuh bicara berdua! Rena memilih undur diri. Bukan merasa kalah, tapi untuk mengalah sesaat. Dia akan lanjut mengomel kalau sudah selesai.


Selepas kepergian Rena, Meysa dan Kai kembali saling tatap. Wajah Meysa yang sembab membuat Kai ingin sekali menghampiri dan memeluk Bulannya, memberi ketenangan, tapi ia tak ingin melanggar kepercayaan Faza. Calon kakak ipar sudah begitu memercayainya. Dia tidak boleh merusak itu.


“Apa hidupmu serumit itu?" Meysa yang mulai luluh bertanya dengan nada rendah. “Apa dengan cara mengabaikanku kamu jadi merasa lebih baik?"


Kai menggeleng, hidupnya tak menjadi lebih baik setelah berusaha lari dari kenyataan. Sama seperti Meysa, ia pun merasakan kehampaan yang luar biasa, seakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Dulu Kai selalu bercerita banyak hal, meski perkenalan mereka hanya via hp, tapi keduanya sudah banyak saling tahu kisah hidup, aib dan kebaikan masing-masing.


“Rumitnya lebih terasa karena kebodohaku!" Kai menyahut sendu. Sangat menyesal!


“Apa kamu pernah merindukan dan memikirkaku?" Meysa masih ingin tahu, mengorek semua membuat hatinya jadi lebih baik setiap kali mengetahui bagaimana Kai juga tersiksa, sama seperti yang ia alami. Lelaki itu merindukannya .


“Selalu, aku selalu merindukanmu! Kamu selalu disini!' Kai menujuk hati dan kepala secara bergantian, membuat Meysa terharu.


Sementara di ruang tengah Rena mencoba menguping pembahasan Bintang dan Bulan berwujud manusia itu. Ingin mengejek, tapi ia pun sedikit terharu mendengar obrolan memilukan diantara keduanya.


“Kalau kamu tanya apakah aku baik-baik saja selama ini, jawabannya tidak!"


“Setelah kamu blokir semua hal yang menghubungkan kita, aku bikin akun Instagram fake biar bisa follow kamu. Yang bisa aku lakukan cuma mantaumu dari akun itu, aku beruntung waktu kamu Nerima permintaanku untuk mengikuti."


“Melewati jatuh bangun tanpa kamu itu rasanya berbeda. Dulu aku selalu punya kamu tempat cerita setelah itu apa-apa harus dipendam sendiri.”


Mata Meysa kian panas, ia menangis dalam diam mendengarkan ucapan Kai.


“Aku mau dengar semuanya!"


Kai mengangguk haru, senang Meysa memintanya bercerita. Artinya sang Bulan masih ingin mendengar semua tentangya. Kai menceritakan semua tanpa terlewatkan. Kembali mencurahkan kisah pada orang yang dirindu.


Sebulan setelah saling hilang kabar. Kai pulang ke kampung halamannya, membantu orang tua berkebun. Lalu kembali lagi ke Pekanbaru untuk menyelesaikan kuliahnya yang sudah di penghujung.

__ADS_1


Begitu lulus Kai memulai karir sebagai seorang desainer interior di sebuah perusahaan. Bisa bekerja di sana juga merupakan bantuan dari Abangnya, Albi.


Kai yang pada saat itu masih fresh graduate begitu bersyukur, meski sudah sering ikut kerja sama dengan Albi sejak masih kuliah tapi kali ini rasanya berbeda.


Hingga satu bulan sebagai anak baru, Kai dan tim mendapat sebuah proyek besar. Ini proyek kedua yang akan ia kerjakan selama kerja disana.


“Ini proyek besar, proyek institusional!" Albi nampak bersemangat mengajak Kai dan tim yang lain untuk meeting dengan calon klien, berasal dari salah satu instansi pemerintah yang akan mengadakan perombakan desain bangunan salah satu kantor pemerintahan.


Kai mengenal hampir seluruh teman Bang Albi. Meski tak semua, tapi itu cukup membuatnya tidak merasa canggung selama menjadi anak baru. Proyek itu deal, semua tim mulai sibuk melakukan survei, dan semua tahap perencanaan awal telah selesai.


Tibalah hari dimana meeting yang kesekian dilaksanakan, kali ini untuk menunjukkan Desain yang sudah jadi. Namun sesuatu tak terduga terjadi, Kai sebagai anak baru merasa sangat terpojokkan ketika klien menolak desain yang ia buat.


“Bagian ini siapa yang buat? Kenapa begini sih?" protes klient tersebut, wajahnya mengesalkan dan terlihat sombong.


Tentua Kailah yang ditunjuk, karena bagian yang ditolak itu memang tugasnya. Kai mohon maaf dan berjanji akan memperbaiki. Tapi klien berwajah menyebalkan itu malah menyerangnya dengan perkataan yang menjatuhkan.


“Ck, pantas tidak maksimal, yang buat anak ingusan! Fresh graduate begini emang belum punya pengalaman, belum pantas menangani proyek besar seperti ini!"


Begitu nyelekit, membuat semua yang ada saling tatap, begitu juga bang Albi, ia menunduk mendengar adiknya dikatai demikian.


Kai sendiri tidak tahu apa permasalahan klien tersebut dengan dirinya, sampai harus menyangkut pautkan hal seperti itu. Dia memang anak baru, tapi ini bukan kali pertamanya bergelut dengan desain. Kai ingin marah tapi ia berusaha menahan diri, sadar akan posisi dan situasi.


“Pak Albi bagaimana sih, jadi manajer kok sembrona begitu! Jangan main-main dong!"


Kai makin kesal ketika Abangnya juga ditegur, tak ada yang bisa dilakukan selain diam.


Itu awal mula Kai jatuh bangun saat merintis karir, ia merasa dirugikan. Rugi waktu, uang dan tenaga. Waktu membuat desain tidak sebentar, uang yang ia gunakan untuk biaya kendaraan, survey sana sini, meeting hampir setiap saat, belum lagi tenaga yang digunakan. Kai bukan anak kecil, dia merasa di rendahkan.


Sejak saat itu Kai memutuskan tak ingin bekerja sama dengan pemerintah. Baginya pejabat di Negara Wakanda memang agak lain.


Meysa masih fokus mendengar cerita panjang Kai.


“Serumit itu ya?" Bahkan obrolan keduanya terlihat lebih mencair, lebih terasa hangat, tidak seperti di awal tadi.


“Gak mau lagi aku berurusan sama proyek pemerintahan!"


“Tapi gak semua seperti bapak-bapak itu!” Meysa sok bijak memberi masukan.


Kai terkekeh mendengarnya. Rasanya sangat mengharukan mengingat bagaimana dirinya mengawali karir yang gampang-gampang susah dan penuh perjuangan.


“Gak sampai situ aja, Bul." Kai segera membekap mulutnya ketika melihat sorot mata Meysa yang melotot dipanggil dengan sebutan Bulan. Padahal dalam hati ia senang, hanya sok jual mahal saja.


“Setelah masalah itu, ada lagi yang bikin aku gak habis pikir." Kai tersenyum mengingat


masalah kedua yang membuatnya mengundurkan diri di bulan ke tiga setelah batal ikut proyek besar itu.

__ADS_1


Kai berhenti dari perusahaan karena salah satu teman Abang yang iri dengki mengaggap jika Kai tak pantas, pemikirannya sama seperti klien yang menyudutkannya waktu itu. Katanya kai juga hanya dapat enaknya dari Albi. Albi yang kerja semua tapi dia ikut kecipratan hasil. Begitu teman Albi yang ia kenal jauh itu membuat cerita, tapi sampai di telinganya.


Tak ingin berkelahi dengan orang yang lebih tua darinya akhirnya Kai mengalah, ia lebih memilih keluar karena juga tak ingin nama Abangnya ikut jelek.


“Sebegitunya!" Meysa mendengus kesal. “Mereka semua ada masalah apa?”


Kai mengedikkan bahu, sejak mulai bercerita ia duduk di kursi dan mesya sendiri duduk di meja pantry.


“Teman abangmu itu akal pendek, suka iri dengki seperti ibu-ibu tukang gibah!"


Kai terkekeh mendengar omelan Meysa. Gadis itu sedang membelanya. Jika seandainya dulu saat kejadian itu Meysa masih bersamanya, mungkin ia tak akan merasa jatuh dan sedih.


Meysa pasti menghiburnya. Tapi itu dulu, sekarang Kai sudah tidak sedih lagi, ia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus dari itu.


“Jadi setelah itu kamu kerja apa?"


“Pengangguran.” Kai tersenyum. Ternyata semenyenangkan ini bisa bercerita langsung dengan orang tersayang.


Saat itu Kai memang sempat menganggur satu bulan lamanya. Lalu melamar jadi sales marketing di sebuah perusahaan properti. Tapi hanya sebentar, Ia dan dua sahabatnya yang bernama Satria dan Ojik memilih jadi Freelance desain. Hanya Valdi yang bertahan.


Hingga akhirnya ketiganya sama-sama diterima dan di kontrak oleh salah satu perusahaan konstruksi swasta. Sejak itu ketiga sahabat itu mulai bangkit, hidup perlahan mulai berubah.


“Jadi duo kamvret itu masih hidup?" tanya Meysa yang memang cukup kenal dengan dua sahabat dekat Kai. Dulu ketika di kos Satria, Kai sering melakukan panggilan video saat bersama dua orang itu.


“Ya masih hidup lah, masa udah mati aja, kan gak seru!" Kai menimpali sambil terkekeh.


Selama setahun itu sudah banyak jatuh bangun dan kesedihan yang Kai lewati. Hingga berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari pekerjaan yang sampai sekarang masih ia geluti, menjadi seorang konsultan proyek bersama Satria dan Valdi.


“Kalau pekerjaanmu bagus, kenapa malah kamu tinggal kesini?" Tiba-tiba Meysa malah ingin memastikan hal lain. Ia ingin mendengar jawaban yang bisa membuatnya senang.


“Aku cuma mau buktiin cintaku ke kamu, aku mau minta maaf buat tebus kesalahanku waktu itu." Jawaban Kai membuat hati Meysa berdebar.


“Walau mungkin ini sangat terlambat karena aku harus nabung dulu!"


Gaji pertama memang Kai gunakan untuk mencicil motor, dan setiap mendapat bonus besar dihadiahkan untuk mamak, adek, Abang dan ayah. Kai ingin semua kecipratan hasil kerja kerasnya. Sedangkan selebihnya ia tabung agar bisa pergi ke bulan, dan semua baru bisa tercapai sekarang. Karena ke Bulan butuh biaya yang fantastis, belum lagi pekerjaan yang padat membuat ia harus memilih waktu yang tepat untuk izin cuti.


Air mata Meysa menitih lagi mendengar cerita perjuangan panjang Kai. Ia terharu, tapi tak bisa dipungkiri rasa sakit itu masih ada, belum hilang sepenuhnya. Meysa memang sosok yang apabila disakiti akan sulit melupakan kesalahan orang, meski begitu ia sosok yang cepat luluh dan lemah lembut kalau dilembuti.


“Maaf, aku gak menemanimu berproses sampai seperti ini. Aku bangga sama kamu!" Air mata Meysa berlinang. Tak menyangka orang yang dulu selalu bercerita banyak hal padanya kini bisa berada di titik ini. Karirnya terbilang bagus dalam waktu yang cukup singkat, satu tahun lebih.


Kai menunduk sendu. “Maaf, karena aku juga gak mengajakmu menyaksikan perjuangan dan prosesku, padahal aku pernah janji kalau kamu akan selalu ada di sampingku untuk lewati semua, " ucap Kai tak kalah menyayat.


Membuat sosok Rena yang masih mengintip di balik gorden ikut merenung. Ia makin terharu ketika tahu ternyata dua orang itu memang sudah begitu dekat, meski pertemuan ini merupakan kali pertama mereka.


“Kamu memang gak menyaksikanku berproses, tapi aku tahu do'amu selalu menyertaiku!" lanjut Kai, kali ini ia menatap dalam pada sosok Meysa.

__ADS_1


Meysa menyusut hidung yang basah karena ingus, meski bukan hamba yang taat tapi ia tak pernah lupa mendoakan orang terdekatnya setiap kali shalat dan ada kesempatan. Termasuk Kai, Meysa selalu berdoa dan selalu memohon pada Tuhan agar Kai kembali padanya dan juga berdo'a agar Bintangnya itu bisa jadi orang sukses.


__ADS_2