Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
34


__ADS_3

“Mau pakai nasi ndak?" tanya Meysa pada Kai saat laki-laki itu mulai menyantap mie yang dibuatkan olehnya.


“Kalau ada boleh deh, bee."


Meysa lalu berdiri mengambilkan nasi untuk Kai. Meletakkannya di piring, tak lupa membawakan sambal udang yang masih ada.


“Nih!"


Meysa meletakkan dua piring berisi nasi dan udang tersebut di hadapan Kai. Lelaki itu tersenyum, senang diperlakukan seperti ini oleh Meysa. Jika dulu mereka hanya bisa makan sambil saling menemani dari balik layar virtual, kini keduanya bisa merasakan yang namanya makan bersama.


Mereka terlihat bahagia satu sama lain, apa yang sejak lama diimpikan kini satu persatu mulai terwujud.


“Makasih bee bee." Kai tersenyum, Meysa begitu melayaninya dengan baik.


“Sama-sama, bee." Meysa balas tersenyum, matanya kelihatan sipit dengan pipi yang kembung karena mengunyah.


Mereka terlihat seperti sepasang keluarga yang menikmati makan bersama, sangat harmonis.


Sambil makan, Kai tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Meysa. Sang Bulan hanya makan semangkuk mie, tidak seperti dirinya yang makan mie dicampur nasi plus sambal udang.


“Kamu gak pakai nasi?" tanya Kai.


Meysa menggeleng, sambil terus menyuapkan sesendok mie ke dalam mulutnya.


“Aku ambilin ya!"


Kai hendak beranjak, tapi Meysa mencegah dengan gelengan.


“Gak usah, aku makan ini aja udah kenyang kok," kata Meysa menunjuk mie kuah yang disantap.


“Lagi pula nasinya udah habis."


Mendengar itu Kai kembali duduk.


“Yaudah, kita bagi dua aja nasinya, biar kamu juga kenyang!" Kai mengangkat piring nasi, bersiap memberikannya untuk Meysa, tapi lagi-lagi Meysa menggoyangkan tangannya tanda tak mau.


“Udah, kamu saja yang makan."


“Indonesia kali lah bang, belum makan kalau gak pake nasi." Meysa menertawai Kai.


“Ih bee!"


Ucapan Meysa membuat Kai langsung meletakkan piringnya kembali. Ia ikut menertawakan dirinya yang makan mie pakai nasi. Sangat menunjukkan ciri khas orang Indonesia.


“Gak gitu ya, aku gak Indonesia-Indonesia banget kok. Cuma kebetulan lagi lapar aja, makanya double gini." Kai berkilah, membuat Meysa makin terkekeh karena ia begitu pandai membuat jawaban yang tepat.


“Itu mah doyan, bukan lapar!" ejek Meysa. Lalu keduanya tertawa bersama.


Kedatangan Kai benar-benar membuat hidupnya seperti terisi kembali. Dulu ia begitu merasakan kekosongan sejak Kai tak mengabarinya. Namun, kini kekosongan itu seakan lenyap entah kemana. Apalagi Kai langsung datang menemuinya seperti ini.


Begitu selesai makan, Kai yang ceritanya tahu diri ingin mencuci piring. Tapi dilarang oleh Meysa.


“Udah, gak usah dicuci, biar aku aja besok. Sok rajin banget bang!" cegah Meysa saat Kai ingin beranjak.


“Ck, sebagai tamu yang baik aku harus tahu diri dikitlah, bee. Udah dikasih makan gratis, tempat tinggal gratis, berarti aku juga harus ngelakuin sesuatu. Paling nggak bisa bantu apa gitu."


Rasanya Meysa ingin sekali terkekeh melihat ekspresi Kai ketika mengatakan hal barusan Tidak banyak yang berubah dari Bintangya, hanya pipinya agak lebih tirus, tak seberisi dulu. Bahkan cara berbicaranya sama persis saat mereka sering teleponan dulu.


“Kalau gak ngelakuin apa-apa nanti cintraku sebagai anak baik bisa runtuh." Selorohnya lagi sambil menahan senyum.


Meysa makin dibuat terkekeh. Kata-kata anak baik membuat ia teringat pada caption yang dilihat pada saat Meysa menstalking facebook Kai. Unggahan itu berisi postingan Kai ketika masih berseragam abu-abu yang ditulis dengan caption “Anak baik pada masanya." Tentu itu merupakan flashback moment dimana mereka baru pertama kenal dulu. Setelah melihat unggahan itu Meysa sering mengejek Kai persis dengan mengatakan persis seperti caption tersebut.


“Iya si paling anak baik!" seloroh Meysa. Keduanya mulai beranjak dari duduk. Kai yang melihat itu pun ikut-ikutan berdiri dan mengikuti kemana Meysa akan melangkah.


“Aku emang anak baik loh, bee."

__ADS_1


“Iya, saking baiknya Kak Faza sampai suka juga sama kamu."


Mendengar itu Kai langsung menampakkan wajah sombong, sembari memainkan alisnya. Bangga bisa menaklukkan hati kakak ipar, padahal ia sama sekali belum melakukan apapun.


“Eh tapi Abangmu baik banget loh, bee!"


“Udah welcome dengan kedatanganku, bahkan sampai dikasih tempat nginep, gratis pulak." Kai merasa bersyukur dengan kebaikan Faza.


Padahal saat mengukuhkan niat untuk berangkat menemui Meysa, hal yang paling Kai takuti adalah bertemu dengan calon kakak iparnya itu. Apalagi Kai tahu jika Meysa memang tinggal dengan sang kakak sejak beberapa bulan setelah perkenalan mereka dulu. Namun, nyatanya yang ditakutkan malah menyambutnya dengan tangan terbuka. Memperlakukannya dengan sangat baik. Kai merasa beruntung.


“Tapi Kak Faza itu aslinya galak loh," ucap Meysa mengadu, siap menceritakan kegalakan sang Kakak.


“Gak apa, yang penting dia baik samaku!" seloroh Kai dengan percaya diri.


“Ntah pelet apa yang kamu pakai sampai dia bisa luluh gitu."


“Mana ada pulak aku pake pelet, bee. Ada-ada aja kamu!" Protes Kai yang merasa ternistakan.


“Emang bener loh, biasanya tuh dia kalau ada cowok yang datang deketin aku mukanya suka berubah jadi hulk." Meysa menceritakan bagaimana galaknya Faza. Membuat Kai yang tertarik mendengar hanya diam, ingin tahu kelanjutan cerita soal calon kaka ipar.


“Suka ngelarang dan marahin anak orang seenaknya, tapi kamu malah diterima aja. Harusnya kan diusir!"


Kai memutar mata malas mendengar ucapan jahat Meysa.


Tapi apa yang dikatakan Meysa benar adanya, biasanya Faza selalu begitu setiap kali melihat gelagat tidak baik dari laki-laki yang mendekati sang adik, dia seakan bisa membaca pikiran mana laki-laki yang serius dan mana yang tidak. Sebagaimana Faza yang menerima baik kedatangan Kai karena menurutnya Kai bertanggung jawab.


“Nggak apalah dia galak di orang lain, yang penting di aku nggak!" Kai masih mengatakan hal yang sama.


“Menurutku abangmu tuh baik! Baiknya makin perfect lagi, kalau izinin adeknya buat hidup samaku." Kai tersenyum penuh harap sambil melangkah mengikuti Meysa yang hendak keluar dari dapur.


“Udah diizinkan!"


“Serius?" tanya Kai tak percaya, saking tak percayanya ia langsung maju untuk menatap wajah Meysa. Memastikan kebenaran akan ucapan barusan.


“Kok bisa? Kamu ngasih tahu? Kapan?" Kai terus bertanya dengan antusias. Tak menyangka jika calon kakak ipar benar-benar sudah merestui.


“Dikasih tahu Rena, keknya si Rena keceplosan, terus Kak Faza maksa aku buat cerita, makanya aku ceritain sampai akar-akarnya. Soalnya dia suka mengancam."


“Mana abis itu aku diejeknya juga!"


Mendengar itu Kai merasa greget sendiri, saking gemasnya ia ingin memeluk Meysa tapi tak bisa. Jadinya Kai hanya berlagak seperti ingin meremas pipi Meysa, tapi yang diremas hanya angin.


“Ih jadi pengen peluk!"


“Eits, No!" Meysa menyilangkan tangan. Membuat Kai tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala.


“Kalau udah sah baru boleh peluk."


Tangan Kai tergerak mengusap kepala Meysa dengan penuh sayang.


“Sabar ya, sayang. Tunggu aku bentar lagi, aku siapin duitnya dulu ya buat ngehalalinmu,” ucapan Kai yang kedengaran begitu lembut, menatapnya dengan tatapan dalam membuat hati Meysa seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu. Bahagia sekali!


“Aku selalu berdo'a supaya apa yang kita harapkan bisa tercapai ya, bee. Semoga semua langkah dan usahamu untuk menghalalkanku Allah permudah." Meysa mengusap lengan Kai dengan lembut. Menyalurkan kekuatan untuk menggapai angan bersama.


Keduanya masih berdiri dipintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah.


“Makasih ya bee." Kai menatap Meysa. Tatapan itu menunjukkan betapa besar perasaannya pada gadis itu.


Meysa mengangguk. Tak ingin membahas hal yang memicu kesedihan, ia mencoba mengalihkan. Meski hal itu merupakan topik yang sangat ingin Meysa bahas, tapi ia tahan. Kali ini ia tak ingin bersedih, Meysa hanya ingin menikmati kebahagiaan sampai beberapa hari ke depan. Meysa ingin mengunakan sisa waktu bersama Kai sebaik mungkin.


“Tidur gih, udah malam!" pinta Meysa pada Kai.


“Yuk!" Melihat sikap Kai yang malah mencoba menariknya memasuki salah satu kamar membuat Meysa terkekeh gemas.


“Eh, btw kamar calon istriku dimana?" tanya Kai bingung saat melihat ada dua kamar yang bersampingan. Sementara satu kamar lagi ada di dekat ruang tamu.

__ADS_1


“Ini kamar Ka Erza!" bisik Meysa.


Membuat Kai langsung melepaskan genggamannya, lalu berjalan lebih dulu ke ruang tamu. Tawa Meysa pecah seketika melihat Kai, tapi ia segera memelankan suara ketika menyadari penghuni rumah sudah tidur semua.


“Terus kamarmu dimana, bee?" Kai masih penasaran.


Meysa menunjuk Kamar paling ujung yang ada di ruang tengah, dekat jalan ke dapur.


Kai menganggukkan kepala, beroh ria. Setelah itu mereka langsung membuka pintu utama.


“Btw, abangmu baik beneran loh, bee." Kai yang sudah ada di teras berbalik menatap Meysa yang bersandar di pintu. Ia benar-benar merasa beruntung atas kebaikan Faza. itu sebabnya Kai kembali membahas hal itu.


“Aku pikir aku bakalan diusir, tahunya malah disambut dengan baik."


Meysa hanya diam sambil memerhatikan Kai yang bercerita.


“Apalagi waktu itu kamu agak cuek, tapi untungnya masih memperlakukanku kayak manusia."


“Kalau nggak, pasti aku udah milih pulang aja."


“Lemah!" cibir Meysa mengetahui isi pikiran Kai.


Dalam hati Meysa bersykur kakaknya menerima Kai dengan baik, waktu itu dirinya pun masih mencoba bersikap baik. Walau setelah Kai mengatakan niatnya, Meysa mulai menunjukkan kekesalnnya sedikit demi sedikit. Jika tidak, mungkin Kai sudah benar-benar kabur dan bahkan mungkin mereka tak akan bisa seperti sekarang ini. Sudah dipastikan ia akan makan hati berulang jantung hingga akhir hayat nanti. Itu sangat mengenaskan.


“Belum juga berjuang udah mau nyerah!" protes Meysa tak suka.


“Tapi buktinya aku gak nyerah kan." Kai mencebik membela diri.


“Iya, tapi kalau seandainya kak Faza nunjukin kegalakannya pada saat itu, kamu bilang mau langsung pulang." Meysa menatap menuntut jawaban. Kai mengangguk sambil nyengir. Sebenarnya ia memang tak segentel itu, tapi karena Faza bersikap welcome pada saat itu jadinya ia mencoba memberanikan diri dan jadi percaya diri.


“Itu artinya kamu gak sungguh-sungguh buat minta maaf. Masih ragu!"


“Sungguh-sungguhlah bee, ni buktinya udah."


Hmmmnt, Meysa memutar mata malas. Berbicara dengan Kai yang juga agak kadang-kadang memang sedikit menyebalkan.


“Dahlah, sana tidur!" Meysa mendorong tubuh Kai agar segera pergi ke kostan.


“Nggak mau kiss dulu?" Kai tersenyum penuh harap sambil menunjuk bibirnya.


Membuat Meysa kembali terkekeh, ingatannya langsung tertuju pada saat dimana mereka selalu melakukan kiss by phon, katanya untuk melepas kangen. Sekarang Meysa malah dibuat tergelitik jika mengingat hal yang selalu mereka lakukan dulu.


“Sini cium kalau mau diterkam singa tidur."


Kai menggeleng, ia paham singa tidur mana yang Meysa maksud Selain itu Kai memang tak berani bertindak sejauh itu pada Meysa.


“Gak deh, belum siap mati, aku masih mau wujudtin banyak mimpi ke Bulan." Ucapnya yang lebih memilih aman.


Lagi-lagi Meysa hanya terkekeh, ia paham apa yang Kai maksud. Jika hari sebelum ini dipenuh dengan ai mata, sepertinya malam ini dan beberapa malam lagi akan dipenuhi dengan gelak tawa dan bahagia.


“Masuklah bee, tidur! Udah jam 12!"


Meysa mengangguk menuruti ucapan Kai.


“Aku masuk ya, daa!"


Kai balas melambaikan tangannya.


“Sampai ketemu besok, bul!" ucap Kai sedikit berteriak.


“Mimpi indah!"


“Love you!"


Meysa yang sudah hampir menutup pintu tak menyahut apapun, ia hanya tersenyum sambil berdada ria. Setelah pintu tertutup, dengan senyum mengembang, penuh bahagia Kai melangkah ke kostan. Sepertinya malam ini ia bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2