
Setelah melewati perjalanan haampir 4 jam, akhirnya Meysa sampai di kota Palu tepat pukul 19.17. Meysa langsung menarik kopernya ke dalam bandara setelah membayar ongkos mobil.
Tadi saat di perjalanan sempat ada beberapa kendala yang membuatnya deg-degan, takut ketahuan. Sebab Mamaknya, bu Samsuri tiba-tiba menelpon menanyakan keberadaan Meysa. Bahkan sampai minta video call.
“Mau ko lagi kemana itu?" begitu Mamak bertanya saat melihat Meysa tengah berada di dalam mobil. Ia menelepon sambil menggunakan headset untuk mencegah hal-hal tak diinginkan, jika saja mamak mengomeli.
“Mau ke acaranya temanku yang mau menikah."
Dan untuk melindungi diri, lagi-lagi Meysa harus membuat alasan yang sama untuk menghindari amukan dari mamak. Walaupun mamak sedikit mengomeli sebab tak suka anak perempuannya pergi kelayapan dan akhirnya bu Samsuri bisa memaklumi setelah dijelaskan berulang kali oleh Meysa.
Beruntung Meysa berusaha sabar menghadapi mamak yang mengomelinya saat dalam perjalanan, bahkan headset yang gunakan sangat berfungsi sebab dengan itu para penumpang lain jadi tak bisa mendengar ia diomeli. bisa-bisa harga dirinya runtuh karena dimarahi depan umum.
“Cuma seminggu mak, masak temanku menikah saya ndak datang. Kan ndak enak." Begitu Meysa berusaha menarik empati mamak agar tak terus-terusan mengomeli. Hingga akhirnya Mamaknya pun mengerti.
“Ya sudah hati-hati, di rumahnya orang baik-baik. Jangan banyak tingkah, jaga diri!" ujar mamak memberi pesan sebelum akhirnya memutus panggilan sore tadi.
Meysa melangkahkan kaki menyusuri area lobby bandara setelah melalui pemeriksaan keamanan. Kemudian segera chek-in dan mencetak boarding pass. Setelah itu gadis mengenakan outfit sederhana namun casual itu langsung menuju ruang keberangkatan. Menunggu hingga pesawat take-off pada pukul 11 malam nanti.
Entah mengapa perasaan Meysa yang was-was sejak berangkat jadi semakin bertambah. Selain karena rasa takut atas tindakannya ini, sebenarnya ini kali pertama Meysa bepergian jauh seorang diri tanpa ditemani siapapun. Jauh di dalam lubuk hatinya Ia takut apabila tindakannya malah menimbulkan masalah. Tetapi jika memikirkan kondisi Kai, Meysa kembali yakin akan keputusannya.
Sambil mencoba menenangkan diri, Meysa meraih ponselnya kemudian membuka kamera ketika terlintas keingin untuk mengambil gambar sedang berada di bandara. Ia ingin membuat foto aesthetic seperti orang-orang.
Meysa tersenyum memikirkan idenya, dengan penuh semangat ia memotret tulisan ‘Keberangkatan Domestik' yang ada. Cukup banyak gambar yang Meysa ambil, tapi hanya gambar bandara saja, bukan dirinya. Setelah itu Meysa melihat-lihat hasil jepretannya. Cukup lumayan, ia tersenyum puas dan hendak mengunggahnya di story WA. Ia sudah mengetikkan emoticon gambar pesawat. Namun secepat mungkin dihapus ketika mengingat jika Faza atau siapapun itu tentu akan melihat storynya.
Meysa mengubah pengaturan privasi story, dari yang bisa 'dilihat semua kontak' menjadi 'hanya dilihat oleh'. Meysa memprivat story dari orang-orang terdekatnya. Setelah itu dengan mantap ia mengunggah story tersebut.
....
Sementara itu di sisi lain. Seorang pria dewasa memberhentikan mobil agya merah miliknya di depan sebuah warung makan yang cukup ramai.
Ia datang memenuhi undangan makan yang akan ditraktir oleh salah satu rekan kerjanya. Langkah lebar pria itu membawanya ke pintu masuk ketika baru saja turun dari mobil. Namun, saat baru hendak masuk ia berpapasan dengan salah satu kenalannya yang kebetulan menyapa lebih dulu.
“Oy, Pak Maharul Faza Hartono!" teriak pria dewasa yang memiliki tubuh sesikit gempal itu.
Ya, pria yang dipanggilnya itu adalah Faza, saudara laki-laki Meysa.
Faza yang dipanggil menggunakan nama lengkapnya langsung menoleh pada sosok pria yang tak lain adalah teman SDnya saat di kampung dulu.
“Eh, Syamsul Arif!" Faza mengulas senyum lebar sambil mengulurkan tangan untuk ber-highfive dengan teman masa kecilnya itu.
“Baru sampai?"
“Iyo, tadi berangkat jam 1 lewat." Jelas laki-laki bernama Arif itu.
Dia adalah seorang driver mobil dari daerah Mataallo, kampung halaman Kai yang setiap hari pulang- pergi angkut penumpang ke Palu, atau sebaliknya.
Arif dan Faza memang teman kecil. Dulu mereka sangat akrab. Arif memiliki usaha rental mobil, yang mana ia sendiri turun tangan menjadi supir. Bahkan sudah menjadi langganan Faza ataupun orang kampung setiap kali mau jastip pesanan atau barang. Bahkan Faza jika ingin menitipkan sesuatu untuk Meysa dan Bapak di kampung, ia menggunakan jasa dari Arif.
“Hari ini full?" Faza masih bertanya. Keduanya masih berdiri di depan warung makan. Hanya agak sedikit menepi karena banyak orang yang lewat.
“Alhamdulillah full terus setiap hari!" ucap Arif mengucap syukur.
“Eh tadi juga ada adekmu!"
Mendengar perkataan Arif, seketika membuat kening Faza mengkerut.
“Hah, adekku?" tanya Faza memastikan dengan wajah heran.
Arif mengangguk membenarkan. “Iyo adekmu."
“Meysa!"
__ADS_1
Faza terdiam sejenak. Memikirkan apakah. tadi atau sebelumnya Meysa pernah mengatakan akan datang berkunjung malam ini.
“Turun di bandara dia."
Jleb.
Seketika mata Faza melotot, namun secepat mungkin Ia berusaha mengontrol. Dengan pikiran yang kembali menerka-nerka, menebak kemana sang adik hendak pergi.
Amarahnya sudah hampir memuncak, namun sebisa mungkin Faza menahan diri agar tak memperlihatkan semua di depan Arif dan berlagak seolah ia mengetahui hal tersebut.
“Mau kemana adekmu?" tanya Arif penasaran.
Dengan cepat Faza merubah raut wajahnya, menyembunyikan emosi dan kekesalan yang ingin meledak. Membuat alasan yang tepat adalah pilihat terbaik untuk menyembunyikan semua meski ia tak tahu kemana adiknya itu akan pergi.
“Mau ke mamakku!"
“Jauh-jauh juga lewat udara, kenapa ndak lewat jalur darat saja, naik mobil."
Faza memejamkan mata. Merasa tidak tahu harus membuat alasan apa lagi. Apa yang arif katakan memaang benar. Jawabannya terkesan tidak masuk akal.
Ibu mereka ada di Sulawesi Selatan, sedangkan Meysa malah memilih pergi menggunakan pesawat, tentu bukan jawaban yang teapat sebab terkesan jauh dan biayanya juga lebih mahal dibanding dengan pulang ke daerah mamak lewat jalur darat tanpa harus ke kota ini.
“Kebetulan mamakku di Makassar, Rip. Makanya Meysa naik pesawat biar cepat, bisa langsung turun di Makassar juga!" Faza terpaksa menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Ini semua karena Meysa.
Tiba-tiba mata Faza membola, Ia lalu pamit lebih dulu pada Arif.
“Eh, Rip, saya duluan nah!"
Arif menampakkan kening mengkerut melihat Faza yang tadi ingin masuk ke warung sekarang malah ingin pergi secepat ini.
“Mau kemana, kau kan belum masuk?"
“Saya lupa jemput teman kerjaku, Rip!" ujar Faza beralasan.
Arif sendiri pun langsung masuk ke dalam mobil setelah melihat Faza pergi.
Di dalam mobil Faza benar-benar kesal mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Arif. Ia marah pada adiknya yang katanya sekarang tengah berada di bandara. Entah mau kemana dia! Faza tak suka sebab Meysa tak memberi kabar ataupun minta izin padanya, begitupun dengan Bapak. Faza kesal sebab bapak bahkan tak mengatakan apa-apa.
“Kalaupun pergi dengan bapak kenapa Arif tidak sebut bapak, dia cuma sebut Meysa." Faza berkata lirih, sambil meraih ponselnya ia tetap berusaha fokus berkendara. Ia melajukan mobil ke arah Bandara.
“Bapak juga ndak ada kasih kabar!" ujar Faza dengan sorot mata kesal. Tangannya terarah membawa ponsel ke telinga setelah mencari nama bapak dan menghubunginya. Faza ingin memastikan keberadaan Meysa, apakah bapak mengetahui soal Meysa yang sekarang berada di bandara.
“Halo, Assalamualaikum."
“Pak!"
“Iya, kenapa?" jawab bapak dari seberang sana.
Sedangkan Faza nampak serius menatap lurus ke depan. Matanya menyorot tajam memerhatikan kendaraan yang ada.
“Mana Meysa, Pak?"
“Ke Sarudu, ada temannya menikah."
Faza menghela napas kasar mendengar jawaban Bapak. Ia benar-benar marah pada Meysa. Ternyata Meysa berbohong, meminta izin pada bapak dengan alasan pergi ke pernikahan temannya di kota, tapi ternyata ia malah berada di bandara.
Sebenarnya apa yang sedang Meysa rencanakan? Ingin kemana dia? Faza bertanya-tanya.
Rasanya ia sudah tak sabar ingin menghampiri adiknya itu. Semoga saja ia masih berada di bandara! Faza membatin dalam hati.
“Oh Iya, Pak. Sudah dulu, nanti Faza telepon lagi kalau sudah sampai!"
__ADS_1
Pak Rusdi yang mendengar itu menampakkan wajah bertanya-tanya dari balik telepon. Merasa aneh karena Faza menghubunginya hanya untuk menanyakan hal itu.
Setelah telepon dengan bapak terputus, Faza langsung menghubungi sang adik yang sudah membuatnya emosi. Ia yang hendak kumpul makan-makan dengan temannya malah mendengar berita seperti ini.
Meski bergitu Faza merasa beruntung sebab Arif memberikan info yang tepat. Kalau tidak, mungkin Meysa sudah pergi entah kemana, bahkan Ia akan sama seperti Bapak, menjadi korban kebohongan adiknya itu.
Tut...
Tut...
Terdengar suara nada sambung telepon disaat Faza menunggu sang adik menjawab panggilannya.
...
Di Bandara, Meysa yang tengah duduk sambil menyantap Roti'O yang baru saja ia beli setelah mengubah story yang sudah ia privat.
Sambil mengunyah Meysa menatap layar ponselnya yang berdering, sebuah panggilan masuk dari Faza membuatnya memejamkan mata sambil berkata lirih, mampus!
Seketika pikirannya mmebuat ia bergegas memastikan story WA, apakah ia teledor dan lupa memprivat Faza. Aman! Faza tak masuk list orang-orang yang bisa melihat storynya, tapi ada apa kakaknya itu menelpon? Meysa bertanya-tanya, Ia takut ketahuan.
Ia berusaha tetap tenang, kemudian menjawab panggilan dari sang kakak.
“Kau dimana, Meysa?"
Belum sempat Ia menjawab, Faza sudah lebih dulu menyergah dengan ketus. Terdengar seperti orang marah. Membuat Meysa menelan ludah kaasar. Takut jika Faza sudah dalam mode seperti ini.
“Di---di---...." Meysa kesal dengan mulutnya yang jadi gagap seketika. Ketakutan kalau sampai Faza berhasil mengendus kebohongannya.
Belum sempat ia menjawab, Faza sudah mengalihkan telepon biasa menjadi panggilan video. Membuat jantung Meysa berhenti berdetak. Ia benar-benar takut, rasa gugup menyerang dengan begitu cepat.
“Angkat Meysa! Saya mau lihat!"
Dengaan terpaksa Meysa menerima panggilan Faza dengan meletakkan hp di pangkuannya. Agar kamera hanya menampakkan wajahnya saja, tak memperlihatkan area bandara. Sehingga Ia tak perlu takut Faza tahu.
Meysa menampakkan wajah ditekuk seperti anak kucing yang ketakutan saat melihat raut wajah menyeramkan dari Faza. Sudah lama sekali Faza tak memarahinya.
“Kenapa Kak?" tanya Meysa sok polos. Bersamaan dengan suara pengumuman yang menggema. Membuat mata Meysa membola.
Ting Tong...
Tamat sudah riwayatku! lirih Meysa dengan wajah lesu.
“Perhatian-perhatian, di beritahukan kepada calon penumpang Lion Air Jt 1267. Rute penerbangan Palu-Balikpapan. Untuk segera menuju pintu keberangkatan." Terdengar suara annoucment yang menggema menggunakan bahasa Indonesia kemudian beralih menggunakan bahasa Inggris.
Mata Meysa yang mengerjap kembali beralih menatap sang Kakak yang sudah terlihat mengangguk engan wajah datar, Faza terlihat sangat marah.
“Bagus!"
Meysa kembali menelan ludah kasar. Rasanya ia ingin menangis mendengar itu.
“Sekarang sudah pintar bohong, kayak anak kecil!"
Ucapan Faza yang menohok membuat Meysa tak lagi bisa berkata-kata. Ia diam seribu bahasa.
“Tunggu disitu!"
“Awas kalau kemana-mana!"
.
.
__ADS_1
.