
Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu malam. Meysa terpantau masih terjaga di tengah malam buta begini. Semua Meysa lakukan hanya untuk menunggu Kai yang katanya akan langsung meneleponnya begitu pulang kerja. Tetapi sepertinya Kai lembur karena jam segini ia belum juga mengabari.
Meysa terus menscroll beranda IG, tak banyak kegiatan lain yang ia lakukan sejak siang tadi.
Hanya ada Eka yang mendatanginya ke kamar saat siang hari, memastikan apakah Ia baik-baik saja atau masih sakit kepala.
“Darimana saja, Mey?"
“Kepalamu masih sakit?"
Begitu Eka mencecarnya dengan rentetan pertanyaan yang langsung dijawab dengan cepat oleh Meysa.
“Habis dari kamar Rena, kak!"
“Sudah agak mendingan!" ujar Meysa menjawab pertanyaan kakak Ipar yang kelihatan menghawatirkannya, sebab Meysa memang sering mengeluh sakit kepala.
Eka lalu mengangguk, bersyukur karena ternyata Meysa sudah tak lagi sakit kepala. “Kalau begitu makanlah, Mey, sudah tengah hari! Banyak makanan di dapur!" ujar Eka sebelum akhirnya pergi dari kamar Meysa.
Setelahnya Meysa memang langsung makan siang, kemudian sore hari sampai maghrib ia membantu Rena mempacking seluruh barang yang akan dibawa pulang kampung besok siang. Rena akan benar-benar meninggalkan kota ini. Meysa sedih karena itu.
Karena terlalu sibuk dan kelelahan Ia dan Rena bahkan batal pergi makan malam di luar seperti rencana Rena tadi siang.
Alhasil Meysa pun kembali ke kamarnya setelah packingan Rena selesai tepat saat azan isya berkumandang.
Kini mata Meysa mulai sayup-sayup, hampir terpejam. Namun sebuah notifikasi masuk menggetarkan ponsel yang masih ia genggam, membuat Meysa langsung terbelalak. Dengan cepat ia membuka ponselnya dan memeriksa notifikasi tersebut.
Ternyata dari Kai, Meysa yang tadinya ngantuk seketika menjadi segar bugar. Ia langsung memperbaiki posisi dari yang tadinya berbaring miring, kini menjadi terlentang. Lalu membaca pesan dari Kai.
Bintang : Aku baru sampai rumah, bee.
Pasti udah tidur ya?
__ADS_1
Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah! Love you😘
Meysa tersenyum membaca pesan chat dari Kai, tapi ia sama sekali tak berniat membalasnya. Meysa lebih memilih memencet logo telepon dan video yang ada di sudut kanan atas layar ponsel.
Ia menelepon Kai. Berdering, cukup lama sampai akhirnya Kai mengangkat panggilannya. Wajah yang selalu Meysa rindukan itu muncul, Kai terlihat bertelanjang dada. Semakin Kai mendekatkan layar ponselnya, semakin jelas terlihat jika ia baru selesai cuci muka.
“Loh, kok belum tidur, bee?" sergah Kai saat sudah mengangkat panggilan video dari Meysa.
“Belum ngantuk!" ucap Meysa. Ia terus memerhatikan Kai yang terlihat tengah berjalan menuju dapur. Pria itu hendak ambil air minum.
“Aku baru balik, bee. Capek banget!" Keluh Kai, seharian ia memang berada di lokasi proyek dan setelah itu pergi meninjau alat. Setelah dari meninjau alat, Ia dan duo kamvret pergi menuju kantor dan langsung mengerjakan desain yang sesuai. Harus lembur mengejar deadline, sebab proyek sudah harus terlaksana sebelum bulan Ramadhan tiba.
Meysa merasa kasihan melihat Kai yang mengeluh kelelahan.
“Tapi udah makan, kan?" tanya Meysa saat Kai terlihat tengah meneguk segelas air, lalu mengisi sebuah tumbler berukuran besar dengan air yang akan ia bawa ke kamar.
“Udah kok bee, tadi sebelum pulang mampir di warung Naspad (Nasi Padang) bareng duo kamvret!" Bahkan kini Kai terlihat mengambil satu gorengan dari kresek yang ada di meja. Sebelum pulang ia sengaja menyempatkan diri untuk mampir beli gorengan.
Meysa tersenyum samar melihat kepenatan di wajah Kai. Pujaan hatinya itu kini melangkah ke kamar, dengan tangan yang memegang ponsel, sementara satu tangan lagi memegang tumbler juga gorengan yang ia suapkan ke dalam mulut.
“Aurot laki-laki tuh dari pusar sampai lutut!"
“Itu kalau di hadapan sesama lelaki dan mahramnya kan, bee?" Kai sudah duduk di tempat tidur. Tapi ia tak langsung berbaring.
Meysa tersenyum mendengar jawaban Kai yang memang benar adanya. Aurat laki-laki memang dihitung dari pusar hingga paha apabila bersama dengan mahram dan sesama lelaki. Namun, apabila dengan yang bukan mahram maka seluruh tubuh lelaki juga merupakan aurat. Hampir saja Meysa keliru dan melupakan ilmu dasar yang pernah ia pelajari saat masih menjadi santri dulu.
“Eh, Iya ya. Aku kan bukan mahrammu!" Meysa mengalihkan pandangan dengan mata terpejam. Membuat Kai terkekeh melihat tingkahnya.
“Gak apa-apa bee, kamu kan calon mahramku!" ujar Kai sambil memonyongkan bibir, memberi kecupan pada Meysa dari layar virtual.
Meysa menoleh malu-malu, ia sedikit membelalakkan mata mendengar ucapan Kai.
__ADS_1
“Gak ada ya bee, mana boleh gitu!"
“Calon mahram pun gak boleh lihat sampai nanti kita jadi mahram yang sah."
Kai manggut-manggut mendengar ucapan Meysa. Ia senang bicara dengan Meysa, apapun pembahasannya, pujaan hatinya itu selalu bisa menjadi teman ngobrol yang asyik dan nyambung. Begitupun sebaliknya, Meysa juga merasa senang karena Kai selalu punya banyak topik pembahasan yang membuatnya bisa tenang dan senang.
“Berarti salah aku dong karena belum bisa jadiin kamu mahram!" Wajah Kai berubah sendu menyadari ketidak berdayaannya yang belum bisa membawa Meysa ke dalam ikatan suci pernikahan.
Ucapan Kai membuat keduanya sama-sama terdiam. Seketika larut dalam kesedihan, harapan memang terkadang tak selalu sesuai kenyataan yang terjadi. Kadang ingin tak selalu terkabulkan dalam waktu singkat. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar sampai bisa mencapai sebuah tujuan dan kebahagiaan. Sama halnya yang Kai dan Meysa alami, keduanya sama-sama memiliki ingin yang besar untuk segera bersama. Tapi apa daya, menuju kebersamaan pun harus melewati beberapa tahapan dan rintangannya terlebih dulu.
“Eh, bee. Tidurlah, udah hampir jam 2, kan disana!" Kai kembali membuka suara setelah keduanya sempat sama-sama terdiam beberapa saat dan menyuruh Meysa untuk segera tidur setelah melihat jam di sudut kiri atas layar ponselnya.
Tanpa menyadari jika Kai melupakan sesuatu yang membuat Meysa menunggu sejak tadi. Kai lupa menanyakan masalah apa yang terjadi pada Meysa, padahal ia sudah berjanji ingin mendengar cerita dari kekasihnya itu. Namun, sepertinya rasa kantuk dan lelah yang menyerang membuat Kai lupa.
“Aku juga mau tidur bee, capek!" seru Kai sambil beberapa kali menggerakkan lehernya, menujukkan betapa penatnya Ia.
Sedangkan Meysa meysa yang sudah menunggu sejak siang mencoba memaklumi Kai yang lelah. Walau sebenarnya ada sedikit rasa kecewa yang menghampiri, merasa Kai tak perduli dengan apa yang terjadi padanya. Meski begitu Meysa tak ingin egois, ia juga harus mengerti jika Kai pun butuh waktu istirahat. Ia lelah seharian bekerja hingga lembur. Kai mau meluangkan waktu untuk sejenak menemaninya sebelum tidur saja sudah membuat Meysa bersyukur.
“Ya udah bee, aku tidur dulu ya. Kamu juga langsung tidur!" Meysa tersenyum ikhlas, rasa cinta dan sayangnya pada Kai mampu mengeyampimkan egonya yang hendak marah hanya karena rasa kecewa.
“Iya sayang!"
“Mimpi indah ya, good night bee!" Kai mengarahkan kecupan pada layar virtual mereka.
Hal itu mampu membuat Meysa tersenyum haru, seperti ini saja ia sudah merasa sangat dicintai.
“Kamu juga!" ujar Meysa seraya membalas kecupan Kai. Nasib LDR, hanya bisa cium hp!
Kai mengangguk. “I love you!"
“Love you more!"
__ADS_1
Setelah itu panggilan itu pun berakhir. Meysa beberapa kali menghela napas. Berusaha berpikir jernih dan memaklumi jika Kai memang kelelahan sampai tak bisa menanyakan apa penyebab Ia bersedih.
_MeyKa💕