Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
28


__ADS_3

Kai dan Meysa masih berdiri canggung tepat di atas ujung tangga. Rena sendiri sudah pergi mengamankan diri entah kemana. Gadis itu enggan menjadi obat nyamuk di antara dua orang itu. Walau sebenarnya dia sangat penasaran mendengar keputusan Meysa.


Angin yang bertiup memberi kesejukan sore itu. Kota ini memang panas, tapi angin laut yang bertiup ke darat seakan menjadi pengendali bagi cuaca panas. Perlahan Kai menunduk, entah kenapa ia mendadak tidak punya keberanian untuk menatap Meysa. Kai takut hatinya akan rapuh mendengar keputusan Meysa.


Angin yang bertiup membuat Rambut Kai dengan model under cut, yang hanya panjang di bagian atasnya itu sedikit berantakan diterpa angin. Karena buru-buru Kai sampai lupa memakai gel untuk rambut. Sedangkan Meysa seakan mengambil kendali dalam pertemuan kali ini. Berbanding terbalik dengan keadaan di awal, dimana Meysalah yang selalu menghindar.


Gadis itu seakan sudah begitu siap dengan jawaban yang akan diberikan.


“Aku sudah punya jawaban atas keinginanmu pagi tadi!" Meysa lebih dulu membuka obrolan.


Gadis itu bergeser ke sisi pagar, bersandar disana sambil melihat kegiatan pengunjung lain dari atas.


Kai sendiri, ia masih menunduk. Hanya sedikit bergeser dari ujung tangga setiap ada yang naik kesana.


Meysa menoleh pada Kai. Bingung melihat laki-laki itu lebih banyak diam, tak seperti biasa. Tanpa Meysa tahu jika Kai sedang merasa was-was, ia parno terhadap jawaban yang akan Meysa sampaikan. Kai mendadak cemas berlebih. Takut jikalau Meysa menolak dan ia akan pergi tanpa mendapatkan cinta sang Bulan. Tak bisa ia bayangkan bagaimana Ia bisa menjalani hari setelah itu.


“Kamu mau kita kembali?"


Mendengar ucapan Meysa, Kai mendongakkan kepala. Memberanikan diri menatap Meysa di tengah keraguan dan rasa tidak percaya diri.


“Kamu benar-benar mau kita melanjutkan cerita seperti dulu?"


Meski tersenyum, tapi Kai merasa ada sesuatu di balik senyuman Meysa itu. Lagi-lagi Kai hanya bisa mengangguk penuh keyakinan.


“Ayo lakuin hal yang sama seperti yang kulakukan dulu."


Kening Kai menyerngit mendengar ucapan Meysa.


“Selama kamu ninggalin aku, aku melalui semua rasa sakitku sendiri. Selalu berdo'a biar kamu kembali, tapi nyatanya gak! Kamu juga sama sekali gak berniat mencariku disaat aku masih berharap kamu balik ngabarin buat jelasin kalau kamu juga sama sepertiku, terluka karena kelakuanmu. Aku mau dengar penyesalan dan peryataan kamu mau perbaiki semua."


“Sesak Kai, sesak jadi Aku yang selalu berusaha lupa tapi disaat itu juga perasaanku malah semakin mengharapkan kamu kembali, Kamu gak tahu kan bagaimana rasanya menunggu orang yang gak jelas, entah dia pernah menginginkanmu dengan tulus atau memang cuma main-main. Tiap melewati hari aku seperti gak percaya kalau kita berakhir secepat itu. Berada di posisiku itu menyakitkan, Kai!" ungkap Meysa panjang lebar. Menumpahkan seluruh perasaan yang sakitnya seakan tak pernah berkurang.


“Maaf!" Kai hanya bisa berkata lirih. Ia sama sekali tak marah mendengar Meysa mengungkapkan semua. Justru hal itu membuat ia merasa tak pantas untuk mendapatkan maaf dari gadis di depannya.


“Maafin Aku, Aku salah!" Kepala Kai makin menunduk.


Meysa melempar pandangan ke arah lain, tak mampu menatap Kai.


Hari sudah semakin gelap, tapi pengunjung malah semakin berdatangan untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dari ketinggian. Suara Azan maghrib pun mulai berkumandang.


“Sekali lagi aku minta maaf!" ucap Kai semakin lirih. Ia menarik napas dalam dan berusaha menatap Meysa.


“Bukannya mau mengelak atau membela diri, tapi bukankah kamu juga udah tahu apa alasanmya. Sampai aku gak melakukan itu, Mey." Sorot mata tenang Kai menujukkan penyesalan sekaligus harapan yang besar terhadap Meysa.


“Tapi aku sakit karena itu, Kai! Menunggu dan berusaha melupakanmu dalam satu waktu itu hal yang menyesakkan, sakit!" Air mata Meysa kembali menetes. Kepalanya menunduk, bahu ringkih itu bergetar menahan sesak. Berusaha mengontrol diri untuk tidak berlebihan.


Menjadikan diri dan permasalahan mereka jadi konsumsi publik bukanlah hal yang baik. Ini masih di tempat umum, tapi perasaan berkecamuk tak lagi bisa di tahan. Membuat matanya panas, air matanya tak bisa di bendung.


“Maaf!"


Ingin rasanya Kai memeluk gadis yang begitu Ia rindukan itu. Kai tahu betul bagaimana perasaan Meysa. Dirinya pun merasakan sakit yang luar biasa sejak hari itu, apalagi dengan Meysa. Hati wanita yang lemah lembut lebih mudah rapuh di banding laki-laki. Meski terkadang wanita berusaha menunjukkan ketegaran, tapi tetap saja. Hakikatnya mereka adalah makhluk yang lemah. Kai paham akan hal itu.

__ADS_1


“Apa aku boleh memukulmu, Kai. Aku sakit hati sama semua kelakuanmu!" Meysa mendongak menatap Kai dengan perasaan yang nano-nano. Cinta dan benci bercampur aduk di rongga dada, rasanya ingin meluapkan kekesalan dengan cara mengamuk. Ia lelah memendam semua selama setahun.


Kai mengangguk seperti orang bodoh. Rela tubuhnya dijadikan pelampiasan asal Meysa merasa puas.


“Aku benci kamu, Kai!"


“Benci!" Meysa sedikit berteriak.


“Kamu jahat! Kenapa meninggalkanku dengan cara seperti itu?"


“Kenapa gak nyari aku, kenapa kamu gak minta maaf sebelum kita benar-benar hilang kabar, kenapa?" Meysa menumpahkan seluruh kekesalnnya sambil melayangkan pukulan di tubuh Kai yang hanya pasrah tanpa berusaha melindungi diri.


Meysa seperti orang tak terkendali, Ia tak lagi memperdulikan tatapan aneh dari pengunjung yang naik ke sana tapi segera turun saat melihat drama Korea yang terjadi antara ia dan Kai.


“Seharusnya kamu nggak usah datang lagi! Biar aja lukaku sembuh sendiri!"


Kai masih pasrah tubuhnya dilayangkan pukulan. Sedari tadi tangan Kai hanya berusaha menyanggah tangan Meysa agar jatuh di tempat sasaran. Jika bukan di tempat umum, mungkin air mata Kai pun sudah menetes.


“Aku benci kamu Kai, hatiku sakit! Sakit sekali!" Meysa berhenti, ia menunduk sambil tersedu-sedu dengan tangan yang masih berada di dada Kai.


“Apa sebegitu bencinya kamu samaku, Mey? Apa kamu belum bisa menerima maafku?" tanya Kai tak kalah sendu. Membuat Meysa menjatuhkan tangannya dari dada laki-laki itu tapi di tahan oleh Kai. Ia menahan tangan Meysa dalam genggamannya.


“Aku memang membencimu, rasa sakitku juga masih ada tapi....” Meysa mendongakkan kepala, menatap Kai yang juga menatapnya.


“... Tapi Aku juga gak bisa kalau harus tanpa kamu untuk kedua kalinya, rasa sayangku juga sama besarnya seperti rasa benciku., hikss"


Pengakuan Meysa membuat Kai refleks menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Seketika keduanya sama-sama merasakan debaran dan ketenangan yang luar biasa. Begitu menggetarkan. Ini kali pertamanya dua orang asing itu bersentuhan begitu dekat.


Tanpa tahu, Rena yang duduk tepat di tangga naik ke tugu tengah menatap dengan mata melotot. ’Bisa-bisanya mereka pelukan di tempat umum!' Rena menggerutu dalam hati.


Sedangkan Kai dan Meysa seakan tengah menikmati sentuhan yang hanya sepersekian detik itu. Seketika Kai langsung melepaskan Meysa saat sadar mereka masih berada di tempat umum. Meski di atas sana sudah tidak ada orang, tapi pengunjung di bawah tetap bisa melihat dengan jelas apa.


“Ma-maaf!" Kai memegang bahu Meysa dan menjauhkannya dengan lembut.


Meysa menoleh ke arah lain, ia pun sama canggungnya seperti Kai.


Kai sendiri sudah begitu bersemangat. Mesya memang belum mengatakan keputusan mutlak, tapi mendengar jawaban Meysa barusan sudah membuatnya seakan mendapat celah untuk kembali mengobarkan semangat.


“Jadi, gimana?" tanya Kai ragu-ragu.


Meysa mengkerutkan kening. “Bagaimana apa?"


Kai menghirup napas dalam. “Semua keputusan ada di tanganmu, bul. Aku gak mau maksa. Aku ngerti rasa sakit itu belum sembuh sepenuhnya, Aku tahu kamu sulit menerimaku kembali apalagi kalau harus melanjutkan cerita kita yang pernah kuhancurkan. Itu gak mudah dan aku juga gak mau egois."


“Aku ...."


Belum sempat Kai menyelesaikan ucapannya. Meysa sudah memotongnya lebih dulu.


“Kamu masih sayang aku atau nggak?" sergah Meysa, memotong ucapan Kai.


“Aku sayang samamu, Mey!"

__ADS_1


“Apa kamu serius?"


Kai mengangguk. “Aku serius Mey!" Jari Kai bergerak mengusap punggung tangan Meysa


“Aku serius mau lanjutkan semua kisah kita. Kali ini aku gak akan lakuin hal bodoh lagi karena dari awal aku memang seserius itu samamu, hanya saja waktu iku keadaanya yang gak memungkinkan dan sekarang kondisinya udah lebih baik" Kai berusaha meyakinkan, membuat Meysa terdiam dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


“Kamu jangan takut! Aku gak akan bersikap seperti dulu lagi. Dulu aku seperti itu karena takut memberikanmu harapan, takut bikin kamu kecewa kalau sampai kita gak bisa bersama, kamu tahu sendiri waktu itu aku belum punya kerjaan."


“Sekarang aku berani buat menjanjikan kamu semua impian yang pernah kita bangun, aku akan berusaha keras biar kita bisa wujudkan itu secepatnya. Aku butuh keyakinan dan do'a darimu sekali lagi, Mey. Percaya sama aku!" Kai menyatukan tangan Meysa diantara kedua tangannya. Digenggamnya dengan erat, mencoba meyakinkan Meysa jika semua ucapan dan tindakannya kali ini sungguh-sungguh.


Mencoba membuktikan jika Kai yang dulu bukanlah Kai yang sekarang. Dulu ia seperti tak punya harapan karena hidupnya belum jelas. Namun, sekarang semua sudah berbeda. Kai sudah punya kehidupan yang jelas. Dan hal itulah yang membuat ia ingin kembali dengan orang yang sudah dijadikan tujuan dalam hidupnya.


“Tapi cinta gak seperti itu!" Sentak Meysa tak suka, melepaskan tangan dari genggaman Kai. Ia hampir saja luluh, ingatan tentang bagaimana rasa sakit yang Kai berikan berhasil memporak-porandakan hatinya. Membuat ia kembali ingin melampiaskan amarah karena hal itu.


“Tapi itulah caraku mencintaimu, Mey!"


“Kalau cinta kamu gak akan bisa mengabaikanku selama itu, harusnya kamu berusaha untuk menghubungiku!"


“Orang yang benar-benar cinta gak akan bisa sehari saja tanpa kabar. Tapi kamu bisa, bahkan kamu gak berusah memperbaiki semua! Kamu bisa mengabaikanku selama itu. Kamu gak mikirin perasaanku!" Meysa masih kekeh dengan pendiriannya. Ia ragu kalau Kai benar-benar mencintainya. Mengingat bagaimana Kai dengan mudah mengacuhkannya pada saat itu.


Kai menghela napas, berusaha menjelaskan dengan tenang. Ia meraih tangan Meysa saat gadis itu menoleh ke arah lain. Dengan sabar Kai kembali meraih tangan Meysa.


“Kata siapa aku gak mikirin perasaanmu." Kai menggeleng, mematahkan anggapan Meysa tentang dirinya yang tak perduli.


“Ini sama-sama menyakitkan buat kita, sakit yang kamu rasakan juga itu yang kurasakan. Kamu rindu, aku juga lebih rindu."


“Bulsshit!" ketus Meysa.


“Mey, setiap orang punya cara yang berbeda dalam menunjukkan cintanya, dan aku salah satunya!"


“Begitulah caraku mencintai, selama ini hanya mampu menjagamu lewat do'a dengan jarak yang jauh. Aku bersyukur Allah tetap menjagamu untukku sampai saat ini dan sampai tiba saatnya kamu akan kuhalalkan, kamu akan berusaha kulindungi lewat do'a!”


Hati Meysa berdebar mendengar ucapan Kai. Rasa kesalnya menguap entah kemana. Ia menoleh dengan tatapan dalam.


“Lagi pula bagaimana aku bisa ngabarimu, kalau semua sosial mediaku aja kamu blok."


Meysa merasa sangat tertampar oleh ucapan Kai. Lelaki itu menatapnya sambil memicing. Membuat ia yang hampir lupa jika disini dirinya juga berperan penting seketika tersadar. Kalau saja saat itu ia tak memblokir semua sosial media Kai, mungkinkah lelaki ini akan menghubunginya kembali? Ah, Meysa jadi merasa bersalah.


“Kemarin kan aku pernah bilang kalau aku cuma mengikutimu pakai akun fake, itu aja udah syukur karena gak kamu blok!"


“Maaf!"


Kali ini Kai yang tersenyum. Untuk pertama kalinya Meysa mengatakan maaf, meski bukan kesalahan yang besar, tapi Kai senang mendengar itu. Bolehkah ia kembali menaruh harapan yang besar? Apa ini pertanda jika Meysa memberinya kesempatan kedua untuk memulai semua bersama? Kai terus bertanya dalam hati.


“Jadi gimana? Apa kamu udah bisa kasih aku jawaban?" tanya Kai hati-hati.


Melihat Meysa mengangguk, Kai tersenyum lebar.


“Aku juga bersedia melanjutkan kisah kita kembali!"


Mendengar itu Kai langsung jingkrak kegirangan, ia ingin kembali memeluk Meysa tapi urung saat kepalanya malah mengingat bagaimana Faza memercayainya. Kai juga tidak ingin menyentuh Meysa sembarangan. Berusaha menahan diri adalah pilihan terbaik.

__ADS_1


“Tapi ada syaratnya!"


“Apa?"


__ADS_2