Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
35


__ADS_3

Begitu masuk di kamar kost, Kai tidak langsung ke toilet sesuai rencana. Padahal tubuhnya terasa sangat lengket, ia tidak mandi sejak pagi. Pemuda itu lebih memilih mengecek ponselnya yang dicas sejak sore, sebelum pergi menemui Meysa.


Ada banyak notifikasi chat disana, tapi tak ada satupun yang ingin Kai balas pesannya. Ia lebih tertarik pada sebuah pesan dari nomor yang tak asing itu.


+62_________ : Kamu dimana?


Kai tersenyum membaca pesan dari nomor tanpa nama itu, foto profilnya pun tidak ada. Meski sudah ganti ponsel tapi Kai masih hafal nomor ini, Ia tahu siapa pemiliknya. Waktu sudah lama berlalu, Kai pikir Meysa mengganti nomor teleponnya, ternyata tidak.


Kai membuka hoodie yang membungkus tubuhnya, menyisakan kaos hitam bertuliskan 'I'm civil engineering' di bagian depan, sedangkan di belakang bertuliskan nama perusahaan tempatnya bekerja.


Laki-laki itu merebahkan tubuh ke kasur empuk, rasa nyaman langsung menyambut. Senyum terukir dari bibir tipis itu. Kai masih tak menyangka, kini hubungannya dengan sang Bulan kembali seperti dulu. Masih dengan rasa yang sama pada orang yang sama pula.


Jari Kai tergerak menyimpan nomor telepon Meysa dengan nama menggunakan emoticon Bulan.(🌝)


Kai : Hai cantik, apa kabar?😉


Bukannya tidur, Kai malah mengirim pesan.


Cukup lama Kai menunggu balasan chat sambil terus menatap ponselnya yang dibiarkan menyala. Hingga membuat matanya hampir tertutup. Namun mata itu segar bugar kembali ketika mendengar suara notifikasi.


Ting.


Sebuah balasan chat dari orang yang ditunggu masuk. Membuat ia kembali bersemangat.


^^^🌝: Tidur! 🙄^^^


Kai tersenyum membaca balasan Meysa yang ketus.


Kai : Maunya tidur bareng, bee🥺.


^^^🌝 : Yaudah gass.^^^


Kai : Main gas-gas aja kamu ya.


Seandainya bisa, aku maunya nikahin kamu sekarang juga. Gak sanggup kalau harus ama-lama, tapi sayangnya aku belum semapan itu.😪


^^^🌝 : Yaudah gass aja😊^^^


Kai : Hhmmmnt, sabar ya bee! Seandainya nikah semudah itu, aku sih mau secepatnya biar kita gak harus berjauhan lagi. Aku mau hidup samamu.😪


^^^🌝 : Nikah itu mudah, gengsinya aja yang mahal. Aku gak masalah kok kalau nikah sederhana.^^^


^^^Kalau kamu serius, nanti aku coba bicara sama keluargaku, biar mereka mengerti. Supaya gak memberatkan kalau kamu emang niat secepatnya.^^^


Kai : Bukan soal gitunya bee, Aku maunya tuh berikan yang terbaik buat kamu. Tapi untuk saat ini emang belum bisa. Bisanya cuma bersabar sambil berusaha dan berdo'a biar bisa secepatnya.


Kamu mau kan nunggu aku sekali lagi bee? Tunggu aku nyiapin semuanya, nabung buat kita nikah.


^^^🌝: Aku pasti nunggu, kalau emang seserius itu. Kamu gak serius aja selalu aku tungguin.^^^


Kai terdiam membaca balasan tersebut. Dia ingin secepatnya menghalalkan Meysa, tapi semua aspek untuk pernikahan belum mendukung sepenuhnya. Ia memang sudah kerja, tapi tabungannya belum seberapa untuk menikah juga untuk biaya hidup setelahnya. Banyak yang harus dipersiapkan.


Apalagi saat ini Kai masih harus membantu biaya sekolah adiknya yang sebentar lagi akan masuk ke perguruan tinggi, Kai tidak ingin terlalu membebankan orang tuanya. Semua itu membuat Kai pusing. Sementara rasanya ia pun sudah tak sanggup jika harus LDR lebih lama lagi.


Kai mengusap wajah kasar, tak ada yang bisa dilakukan selain terus berusaha dan berdo'a.


Kai : Tidurlah bee, udah tengah malam!


Lama Kai menunggu tapi tak kunjung ada balasan, sepertinya Meysa sudah tidur. Ia juga sudah mengantuk dan ingin segera tidur.


Kai : Udah tidur ya?


Selamat tidur sayang!


Mimpi indah... Love you!"

__ADS_1


Kai lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan ganti baju. Ia tidak jadi mandi karena sudah tengah malam.


....


Pagi hari, Meysa dan seluruh penguni rumah bersiap menjalani aktivitas seperti biasa. Rena, Faza, Eka dan dua anaknya sudah berangkat beberapa menit yang lalu.


Kai yang ingin ikut ke toko pun sudah siap di atas motor, menunggu Meysa yang tengah memakai sepatu di teras.


“Beres!"


Meysa berjalan menuju Kai sambil menggantung tote bag hitamnya di bahu.


Kai memberikan helm. Tersenyum senang menatap gadis di depannya. Penampilan yang casual, mengenakan celana kain warna mocca dengan baju kaos hitam lengan pendek bertuliskan nama toko florist yang dipadukan dengan dalaman manset, kelihatan sangat cantik. Pria berkaos putih itu tak bosan-bosan menatap Meysa.


Ini kali pertama Kai menemani sang Bulan untuk bekerja.


“Makasih!" Meysa tersenyum ketika Kai membantu memasang pengait helem di dagu.


Setelah itu keduanya pun berangkat dengan penuh semangat. Hari ini merupakan hari yang paling sepesial dan indah bagi dua sejoli tersebut.


Beberapa menit kemudian motor yang dikendarai Kai sampai di toko. Sebagian karyawan yang melihat nampak heran, Meysa datang dengan cowok lain, bukan Erza. Sedangkan Pida yang merupakan admin disana tak heran melihat itu. Begitu juga dengan Ical, mereka tahu laki-laki itu adalah teman Meysa.


“Tadi saya kira Erza, ternyata bukan," Sahut seorang karyawan wanita yang sedang membersihkan kaca.


“Tidak mungkin Erza, kan dia kerja," timpal yang satunya.


Sementara Meysa langsung mengajak Kai masuk.


“Dengan yang kemarin, Mey?" Pida melirik sekilas, wanita itu terlihat sibuk membaca sebuah catatan yang akan dipindahkan ke laptop.


Meysa tersenyum kikuk, Kai yang berdiri di sampingnya pun ikut menyapa dengan senyum ramah.


“Namanya Kai, kak. Dari Pekanbaru. Hehe kemarin belum sempat bakasih kenal." Meysa memperkenalkan Kai tanpa memberi tahu siapa Kai sebenarnya.


“Hah, Pekanbaru?" Yang mendengar ucapan Meysa serentak kaget. Heran Meysa kedatangan tamu yang sangat jauh.


Meysa nyengir sembari menggaruk kepala, bingung harus jawab apa.


Sebenarnya Ical masih ingin bertanya, tapi kedatangan beberapa pelanggan membuat semua bergegas kembali pada tugas masing-masing.


Pida langsung menyambut dengan ramah. Setelah berbincang cukup lama sembari menderkripsikan pesanannya. Ada yang memesan karangan bunga dan sebagainya, sementara yang lainnya merupakan staff dari salah satu event organizer, ingin memakai jasa dekorasi untuk sebuah seminar yang akan diselenggarakan.


Pida segera mengonfirmasikan kepada yang lain untuk segera memproses pesanan pelanggan. Begitupun dengan karyawan bagian dekor, mereka segera menyiapkan bahan dan bunga apa saja yang akan di bawa ke lokasi seminar.


Meysa pun mulai sibuk membantu mempersiapkan. Sementara Kai, dia diminta untuk menunggu.


“Duduk situ dulu ya, aku kesana sebntar!"


Kai mengangguk, pandangannya mengikuti kemana Meysa melangkah. Ia terus memerhatikan gadis itu,


“Karangan yang atas nama PT Citra Land Mineral, ucapan bela sungkawa untuk Andy Asril Sudarso. Rangkai pakai bunga apa saja, asal latar dan tulisannya kalem! Diantar jam 2, usahakan secepatnya!" Ujar Pida memberi arahan sesuai permintaan pelanggan.


“Kalau yang satu ini ucapan selamat untuk grand opening Bakso Raksasa Mas Tris."


“Ih ini yang viral itu." Seloroh seorang wanita berambut ikal yang dikuncir kuda itu menimpali. “Katanya enak!"


“Bagaimana kau tahu bilang enak, baru buka juga,”


“Kan ini cabangnya yang di Palu barat.” Kedua wanita itu mulai sibuk memperbincangkan soal bakso viral. Sepertinya mereka akan ikut coba juga.


Pida yang selesai membacakan dan memberi potongan contoh teks yang akan digunakan pun kembali ke mejanya. Meninggalka karyawan yang mulai sibuk sambil bercerita banyak hal.


“Mey, ada beberapa orderan khusus!" Pida mengerlingkan mata pada Meysa yang baru masuk, gadis itu baru saja membantu menaikkan printilan ke mobil. Akan di bawa untuk mendekorasi.


Bahkan Kai yang tak ingin tinggal diam juga ikut-ikut mencari kesibukan, Ia ikut membantu Meysa mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan.

__ADS_1


Meysa melangkah ke meja Pida, tangannya meraih catatan yang diberikan. Satu persatu dibaca olehnya. Ada banyak pesanan yang harus diselesaikan sebelum malam. Sementara untuk besok pagi ada 5. Tangan Meysa yang sudah terbiasa menerima orderan kilat nampak biasa saja. Dia sudah terlatih, sehingga tak menunjukkan keluhan apapun.


“Keterangannya sudah jelas semua, kan?" tanya Pida memastikan. Meysa mengangguk.


Gadis itu lalu meraih keranjang, bersiap mencari bunga yang akan dikombinasikan dalam buket. Sesuai permintaan pelanggan.


“Semangat ayang!"


Kai yang tak mau jauh-jauh dari Meysa langsung menyusul kemana Bulannya itu melangkah. Membuat Meysa menoleh tersenyum.


“Maacih ayang." Balasnya dengan nada manja.


Meysa mulai memilih bunga. Sementara Kai, matanya mengitari macam-macam bunga yang berjejer, mulai dari yang asli dan sintesis. Ada buket yang sudah di rangkai berisi bunga dan snack, dan ada juga hanya berisikan bunga saja, dan sebagainya. Semua tersedia.


“Desain tokonya unik!" puji Kai. Sambil menunggu Meysa, dari tadi laki-laki itu berdiri sambil mengamati desain bangunan toko tersebut.


Di bagian kanan depan, tepat sebelah dinding kaca terdapat sebuah rak mungil berisi bunga asli yang gradasi warnanya tersusun dari daun, mulai dari gang hijau hingga kuning, keranjang rotan berada di bagian paling atas. Sedangkan tak jauh dari situ, ada sebuah area yang cukup luas, terdapat sofa dan pajangan dengan gambar unik, di dindingnya terdapat tulisan balok ‘ELF Florist' berwarna keemasan. Nama toko yang merupakan inisial nama Eka dan Faza. Bagian ini terlihat sangat Instagramable. Dijadikan sebagai tempat membahas pesanan dengan pelanggan.


Sementara di sisi kiri depan terdapat meja kasir yang berwarna putih. Bagian tengah toko terdapat lorong yang cukup luas, sedangkan kiri kanannya bunga-bunga yang disusun rapi membuat ruangan itu sangat sejuk. Sedangkan lantai atas hanya ada ruang yang besarnya setengah dari toko itu, membuat Kai terpana. Tentu dia bisa menilai semua sebab ia pernah menjadi desainer interior. Bahkan terkadang ia masih membuka jasa desain jika pekerjaannya tidak terlalu padat.


Meysa menoleh pada Kai. Bintangnya masih mengamati bangunan dengan warna putih dominan, dikombinasikan dengan sedikit ungu muda.


“Konsepnya bagus!"


Perkataan Kai membuat Meysa ikut melirik ke seantero toko yang dipenuhi bunga itu, sudah seperti taman. Berbagai macam warna ada disana. Ternyata memang sebagus itu, Meysa baru menyadari sekarang. Pantas saja selama ini ia selalu betah berada di toko.


“Iya ya, bagus juga!" Meysa masih mendongak. Kini matanya terlihat menatap bagian yang menurutnya paling indah. Yaitu di tengah lorong yang cukup luas itu terdapat besi pajangan berbentuk terowongan mungil berwarna putih, dengan tanaman bunga rambat di atasnya. Sudah seperti pintu gerbang.


“Ih bee, kamu baru sadar kalau toko ini desainnya bagus?" tanya Kai mengkerut heran.


“Hehe iya!" Meysa nyengir kuda, menampakkan jejeran giginya yang seperti gigi kelinci di bagian depan.


“Kayak orang jauh aja, masa selama ini gak merhatiin!" protes Kai, heran pada Meysa. Sepertinya gadis itu selama ini tutup mata, sehingga tak bisa menilai.


“Ini siapa yang desain?" tanya Kai lagi. Membuat Meysa nampak berpikir, berusaha mengingat.


“Emmmnt, gak tahu, aku lupa!"


“Kenapa gak suruh aku aja dulu?" seloroh Kai sambil menahan senyum. Tangannya ia selipkan ke dalam saku celana.


“Suruh apa?" tanya Meysa bingung.


“Suruh desainnya!" Kai menatap wajah Meysa yang terlihat heran.


“Emang bisa?"


“Bisalah bee, Aku kan pernah jadi desainer interior!" Kai mengusap wajah Meysa, membuat gadis itu harus merapihkan hijabnya kembali.


“Oh, iya ya! Aku lupa." Meysa terkekeh, bisa-bisanya otaknya yang lalod itu tidak mengingat profesi yang Kai geluti sejak masih kuliah dulu. Bahkan saat Kai tengah membuat desain untuk project interior, keduanya sering melakukan video call.


“Ishh, malah lupa!"


“Jadi selama ini kamu ngelupain aku ya, terbukti sekarang siapa yang emang jahat." Kai melayangkan protes.


“Ih, nggak gitu, Bintang!" rengek Meysa tak ingin Kai salah paham.


“Aku tuh gak lupa, cuma gak ingat aja!" ungkap Meysa yang langsung beranjak, mencari bunga yang akan digunakan.


“Sama aja itu!" protes Kai. Ia langsung menyusul langkah Meysa.


“Maaf, maaf, kalau gak dimaafin gak aku sayang!"


Ucapan Meysa membuat Kai yang berniat pura-pura marah, seketika menunjukkan ekspresi sok imut. Ia lebih memilih memaafkan supaya disayang Meysa.


Hmmnt, kedua terlihat begitu dimabuk cinta, serasa dunia milik berdua. Yang lain hanya ngekost.

__ADS_1


“Kesana yuk!" Setelah semua bunga yang dibutuhkan lengkap. Meysa mengajak Kai ke belakang, Ia duduk melantai di sebuah karpet plastik, tepat di samping tangga. Rak bunga yang tepajang seakan menjadi sekat, membuat area itu tertutup dari arah depan. Seperti berada di dalam ruangan. Tidak jauh dari situ terdapat sebuah ruangan lagi, di dalamnya ada kamar berukuran kecil juga toilet di sampingnya.


__ADS_2