
Setibanya di rumah, Kai langsung buru-buru mencharger ponselnya. Meski tubuhnya terasa lengket dan penat terasa menyerang, tapi ia lebih memilih untuk menghubungi Meysa lebih dulu. Ia menunda membersihkan tubuh, takutnya Meysa akan marah dan salah paham setelah melihat story yang Satria unggah tadi. Itu tidak baik untuk hubungan mereka.
“Ini salahku juga sih karena gak ngasih tahu dia." Meski begitu Kai tetap menyalahkan dirinya yang tak sempat mengabari Meysa meski barang sejenak.
“Huh!" Kai menghela napas panjang, menunggu proses loading pada ponsel setelah dinyalakan. Ia berkali-kali memejamkan mata, selain rasa penat di tubuh, pikirannya yang sudah pusing memikirkan masalah pekerjaan kini harus bertambah memikirkan pertengkaran yang akan terjadi setelah ini. Entah mengapa perasaannya jadi gundah-gulana.
Setelah ponsel itu menyala, Kai langsung mengangktifkan data seluler. Dua notifikasi panggilan tak terjawab dari WA. Kai bisa menebak jika panggilan itu pasti dari Meysa. Dengan segera ia pun membuka aplikasi tersebut.
Kening Kai mengernyit melihat tak ada satupun pesan yang Meysa kirimkan, terakhir hanya balasan chat pagi tadi saat ia izin untuk bekerja dan lembur, selebihnya hanya ada dua panggilan tak terjawab saat pukul delapan tadi.
Ia lalu mulai mengetikkan pesan untuk Meysa .
__________
Kai : Bee, maafin ya baru sempat ngasih kabar.
Tadi seharian kerja gak sempat megang hp, habis itu langsung diajak ke acara ulang tahunnya anak Pak Rajas.
Jangan marah ya bee, Aku gak ada apa-apa sama dia. Cuma datang memenuhi undangan aja kok.
____________
Panjang lebar Kai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Lalu ia mengirim pesan tersebut, sialnya hanya centang satu. Sepertinya Meysa tidak aktif di WA. Hal itu membuat Kai menghela napas panjang. Perasaannya makin tak karuan.
Mengetahui pesan yang dikirm pada Meysa hanya centang satu, Ia lalu memilih untuk menelepon Meysa melalui telepon biasa. Sebab akan percuma jika menelpon melalui WA, dipastikan tidak akan tersambung.
Namun, setelah mencoba melakukan panggilan. Bukannya Meysa yang menjawab, malah suara operator yang terdengar.
“Nomor yang anda tuju sednag tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi..."
Kai langsung memutus suara operator lalu kembali membuka WA.
“Aneh, gak biasanya dia kek gini!" Perasaan Kai makin tak karuan. Biasanya Meysa akan marah-marah dengan mengirim rentetan chat padanya. Apalagi kata Satria tadi Meysa lah yang menjadi penonton pertama storynya. Namun, kali ini Meysa sama sekali tak bereaksi seperti biasa. Ia diam seribu bahasa.
Bukannya merasa tenang, hal ini justru membuat Kai kian merasa bersalah karena sikap Meysa. Biasanya Meysa begitu posesif dan suka marah-marah jika ia tak ada kabar, terlebih kali ini Ia ketahuan mendatangi pesta ulang tahun Isita tanpa meberi tahunya.
“Kenapa kamu gak marah-marah seperti biasa, bee?" lirih Kai dengan tangan yang terarah melihat story yang Satria unggah. Bahkan story itu diunggah beberapa menit setelah panggilan tak terjadi dari Meysa masuk.
Hati Kai malah bergidik nyeri membayangkan bagaimana reaksi Meysa saat melihat video tersebut, dimana ia terlihat tersenyum dengan posisi Isita tengah berdiri tepat di sampingnya. Sikap diam Meysa membuat Kai merasa bersalah. Jika bisa memilih, Ia ingin Meysa marah dan mengirimkannya rentetan pesan seperti biasa setiap kali ia melakukan kesalahan, bukan seperti ini. Tak ada reaksi dan tak ada satupun pesan berisi protes yang dikirim.
Apakah Meysa tak lagi cemburu dan perduli, ataukah ini salah satu cara Meysa menghargainya tanpa mau memperbesar masalah?
Rentetan tanya mulai berseliweran di kepala Kai. Kepalanya semakin ingin meledak.
Rasa lelah akhirnya membuat Kai terlelap tanpa membersihkan tubuh. Berharap besok Meysa sudah bisa dihubungi.
.....
Keesokan paginya, Meysa yang baru bangun dengan mata bengkak sama sekali tak berniat memeriksa ponsel. Gadis itu melangkah menuju kamar mandi, Ia membasuh wajahnya lalu mempersiapkan sarapan untuk bapak. Beruntung Bapak Meysa sudah tak ada di rumah, bapak sedang pergi berkebun. Hal itu bisa membuatnya merasa lebih aman, tanpaharus takut jika saja Bapak melihat kondisinya dengan mata sembab.
Meysa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah layaknya ibu rumah tangga. Mulai dari memasak, menyapu, beres-beres rumah, cuci piring bahkan cucu baju ia kerjakan semua. Gadis itu sudah terlatih mandiri sejak duduk di bangku MTS, sekolah di pesantren membuat ia yang dulunya adalah seorang anak manja seketika jadi anak tangguh yang bisa mengerjakan segalanya. Apalagi selepas perceraian orang tuanya dan tinggal dengan Bapak membuat Meysaa mau tak mau harus mengerjakan semua seorang diri.
Tak jarang air mata Meysa menetes meratapi nasib. Ditambah lagi saat ini masalahnya dengan Kai benar-benar serius.
Sakit mengingat bagaimana Kai tega berulang kali menggoreskan luka yang sama. Tak pernah memahami dan mengerti ia yang selalu ingin dikabari, tapi Kai malah memilih mengabaikannya dengan dalih sibuk kerja. Selama ini Ia memang berusaha memaklumi, tetapi melihat kejadian semalam, dimana Kai bisa punya kesempatan untuk menghadiri pesta tapi tak ada sedikit waktu untuk mengabarinya membuat hati Meysa sakit.
Ia lelah setiap hari mempermasalahkan hal yang sama.
“Aku setiap hari maklum tapi kamu bukannya berubah malah makin menjadi!" lirih Meysa. Ia tak ingin lagi berada di situai seperti ini.
Setiap hari memikirkan dan menghawatirkan orang lain yang sama sekali tak mau dikhawatirkan membuat Meysa menyerah. Kali ini ia benar-benar berada pada titik pasrah dan menyerahkan semua pada Tuhan.
__ADS_1
“Jika kamu memang jodohku, Allah pasti akan mempersatukan kita, tapi kalau bukan semuanya sudah kuserahkan pada Allah. Aaku capek kalau setiap hari harus begini. Aku butuh ketenangan, bukan kebimbangan!" lirih Meysa sambil menghapus air matanya yang kembali menetes. Meski rapuh, ia tetap berusaha tegar.
Meysa masuk ke kamar untuk mengambil handuk, Ia akan mandi. Setelah mandi dan bersiap ia berniat pergi ke rumah Rena, sehari hari lagi pernikahan sahabatnya itu akan digelar.
Tepat pukul sembilan Meysa sudah berada di rumah Rena. Ada banyak orang yang datang untuk berjibaku membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk acara.
Tenda lima petak sudah terpasang di depan rumah Rena. Bahkan pihak wedding organizer sudah memulai proses dekorasi.
Meysa melangkah melalui para ibu-ibu yang membentuk perkumpulan, ada yang memblender bumbu untuk masakan. Ada yang membuat kue, dan bahkan ada yang sibuk memasak. Meysa melalui ibu-ibu yang bekerja sambil membungkus kue menggunakan daun pisang.
"Makan dulu, Meysa!" tegur Bu Fatma. Ia berpapasan dengan Mamak Rena yang hendak ke ruang tamu bawah yang dipenuhi para ibu-ibu.
"Sudah tante, nanti lagi!" jawab Meysa berbohong. Ia tak berselera untuk makan. Jika tidak menggunakan alasan itu, sudah dipastikan Bu Fatma akan terus memaksa sampai ia mau makan. Mamak Rena itu memang sangat perhatian.
“Meysa masuk ke kamar dulu!" Meysa beranjak ke kamar Rena yang berada di dekat ruang tengah, samping tangga.
“Mey, ini sendalmu!"
Meysa hanya menampakkan senyum ketika Rena langsung menyambutnya dengan begitu antusias. Di kamar itu tak hanya ada Rena. Tetapi juga beberapa teman kuliah Rena saat masih di kampus dulu, dan ada juga beberapa teman masa kecil mereka yang masih berhubungan baik hingga kini.
Meski begitu, Meysa adalah the one and only sahabat yang paling spesial bagi Rena.
Meysa duduk melantai di depan Rena yang sedang memeriksa sendal pengantin yang akan dikenakan untuk hari-H.
"Kubilang ndak usah, malah kau belikan. Sendalku juga masih banyak yang belum di pake, Ren!" gerutu Meysa. Rena benar-benar membelikannya sendal pesta, warnanya bahkan sama persis dengan sendal yang akan Rena kenakan, hanya beda model saja.
“Ambil saja kenapa!" protes Rena seraya menarik kaki Meysa. Memasangkan sendal model flatshoes dengan satu tali di tumit itu pada Meysa.
“Cantik!" Rena merasa puas melihat pilihannya cocok di kaki Meysa.
“Ambil saja Mey, mumpung gratis!" seru Ika, salah satu teman SMA mereka yang juga Rena pilih menjadi salah satu bride smide.
“Rena, suruh teman-temanmu makan!" Kakak Rena yang nomor dua muncul di balik pintu. Setelah itu kakak Rena itu langsung pergi lagi.
Rena menoleh pada dua teman kuliahnya yang baru saja tiba beberapa jam lalu. “Husnul, Dani, kalian makan dulu!"
“Ayo, Dan!" ujar Husnul mengajak Dani makan. Rena yang tak boleh keluar kamar, meminta Ika dan Risma untuk menemani dua tamu jauhnya itu makan.
Rena sengaja melakukan itu sebab Ia ingin mengintrogasi Meysa. Ia bisa melihat jika sahabatnya itu sedang banyak pikiran.
"Mey!" seru Rena setelah beranjak mengunci pintu agar tak ada yang bisa masuk begitu saja.
“Meysaroh!" teriak Rena yang sudah kembali duduk, seraya menepuk paha Meysa yang masih tidur-tiduran dengan mata menatap ke langit-langit kamar yang dihiasi kain berwarna putih dan merah.
“Hmmm!" sahut Meysa, Ia membalikkan tubuh menatap Rena.
“Kau ada masalah?"
Mendengar pertanyaan Rena, Meysa langsung merubah ekspresinya secepat mungkin. Ia tak ingin membagi masalahnya pada Rena yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Meysa tak ingin merusak kebahagiaan Rena.
“Masalah apa?!" kilah Meysa berbohong.
“Itu, kenapa mukamu kusut sekali. Kayak orang banyak beban!" sentak Rena yang sudah seperti pakar mikro ekspresi.
Meysa memutar mata malas mendengar ke-sok tahuan Rena yang nyatanya memang benar. “Sok tahu!" ejek Meysa seraya memukul lengan Rena.
“Bukan sok tahu, memang tahu! Mukamu itu ndak bisa bohong!" sentak Rena yakin.
“Ck, kalau tidak percaya ya sudah!" jawba Meysa yang enggan memperpanjang. Sebab bisa-bisa Rena akan terus mencecarnya sampai mengaku. ”Tadi malam saya begadang nonton The Glory season 2."
Beruntung jawabannya berhasil membuat Rena berhenti mencecarnya. Dan lebih tertarik membahas drama tersebut.
__ADS_1
“Eh kau sudh sampai episode berapa?"
“Sudah tamat!" seru Meysa. Tak menyangka membahas drakor The Glory bisa membuatnya selamat.
“Ck, saya ketinggalan jauh, baru sampai episode 4. Tidak sempat nonton lagi!" Rena mendesah kesal mengingat bagaimana ia tak bisa menyelesaikan tontonan drakornyaa sejak belakangan ini.
“Elleh, Kalo sudah mau menikah ndak usah nonton-nonton!" cebik Meysa yang mana membuat Rena balik mencebik.
“Memangnya ada larangan."
Meysa yang malas membalas ucapan Rena lebih memilih menelungkupkan badan. Menguap sambil mendesah di balik bantal, gadis yang berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain itu tengah memendam banyak masalah.
“Oh iya, Mey. Kai jadi datang kah?" tanya Rena yang kembali membuka obrolan. Menanyakan janji Kai yang saat itu mengatakan akan mengusahakan untuk hadir di acara pernikahan sahabat Meysa itu.
“Selamat ya, Rena. Semoga lancar sampai hari-H. Insyaallah nanti diusahakan datang kalau tidak sibuk, sekalian lepas kangen sama Meysa!" Begitu ucap Kai yang masih dalam masa pemulihan ketika tengah VC dengan Meysa sebulan lalu saat Meysa memberi tahu jika Erza baru saja melangsungkan lamaran dengan Rena.
Tentu Rena yang diberi ucapan seperti itu oleh pacar sahabatnya merasa senang. Suatu kehormatan jika Kai mau hadir diacara pernikahannnya nanti.
"Iya ya Kai, nanti kutagih janjimu!" jawab Rena penuh harap.
Dan kini gadis itu menagih janji Kai saat itu pada Meysa, agar disampaikan pada Kai.
Meysa menghela napas mendengar pertanyaan Rena.
“Jangan harap Kai datang, dia sibuk!" Meysa mencoba memberi alasan yang tepat, Ia tak ingin siapapun tahu soal hubungannya dengan Kai yang sedang berada di ujung tanduk.
“Hmmmt, ndak apa deh." Rena mencoba memahami. Selain kesibukan yang membuat Kai tak bisa datang, biaya dan jarak yang jauh juga harus diperhitungkan. Ia tak mau memaksa. “Biar nanti dia datang untuk menghalalkanmu saja!" Rena tersenyum senang membayangkan jika saat itu tiba nanti. Pasti Meysa akan sangat bahagia karena penantian panjangnya bisa menemukan titik bahagia.
Jangan berharap lebih Ren, aku tidak mau sakit lagi. Biar Allah yang menentukan semua! lirih Meysa yang sepertinya tak ingn mengharapkan apapun lagi. Hatinya terlalu sakit jika mengingat perlakuan Kai selama ini.
....
Kai yang sepanjang hari mencoba menghubungi Meysa tapi nomor gadis itu tak pernah aktif dari semalam nampak begitu khawatir.
Sepertinya kali ini Meysa benar-benar marah dan kecewa sampai memutus semua komunikasi sehingga ia tak bisa menghubunginya.
Perlakuan Meysa kali ini membuat Kai sadar jika selama ini ia terlalu egois dan mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan Meysa. Gadis itu hanya butuh dikabari, dia tak pernah meminta lebih selain Ia memberi sedikit perhatian dan kabar di sela kesibukannya. Namun, ia berlagak seperti orang yang egois. Tak ingin diganggu jika sedang sibuk, bahkan tak mencoba menghubungi meski sempat memegang ponsel. Kai melakukan semua itu karena ia butuh ketenangan, ia bukan tipe orang yang suka diganggu jika sedang bekerja. Namun, sepertinya tindakan yang ia lakukan semalm benar-benar membuat Meysa kecewa.
Bahkan hari ini, ia terus mencoba menghubungi Meysa meskit sedang bekerja. Perasaan was-was membuat Ia tak tenang, takut jika saja kali ini Meysa tak bisa memaafkannya.
“Tumben main hp pas lagi kerja!" begitu ia ditegur oleh salah satu rekannya tadi. Namun kai sama sekali tak menghiraukan.
Ia sangat menyayangi Meysa, Kai takut kehilangan gadis itu. Ia baru menyadari semua keegoisannya sekarang setelah Meysa menutup semua akses komunikasi.
Bahkan siang telah berganti malam. Kai memutuskan pulang ke rumah hanya untuk menenangkan diri dan terus menghubungi Meysa. Perasaannya dibuat carut marut oleh gadis itu.
“Please bee, jangan hukum aku dengan cara seperti ini! Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan cuekin aku!" Kai berkata lirih. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur.
Seketika ia teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu, dimana ia yang pertama kali menghilang dari Meysa dengan cara tak memberi kabar apapun pada gadis itu. Ternyata rasanya begitu menyesakkan, kini ia balas merasakan hal yang sama seperti yang Meysa rasakan dulu.
Kata sebagian orang, silent treatment adalah salah satu bentuk hukuman paling kejam. Mendiamkan seseorang tanpa memberi tahu dimana letak kesalahannya benar-benar membuat seseorang berpikir keras dan berujung pada intropeksi diri dengan merenungi kesalahan apa yang sudah ia lakukan sampai didiamkan seperti ini.
Dan itulah yang terjadi pada Kai dan Meysa saat ini. Meski tak sepenuhnya bisa dikatatakan Meysa mendiamkannya tanpa alasan, sebab Kai jelas tahu betul dimana letak kesalahannya. Hanya saja diabaikan Meysa membuatnya menyesal dan menyadari sikapnya selama ini.
Baru Kai berpikiran untuk menghubungi Rena, menayakan keberadaan Meysa. Suara nada sambung mulai terdengar menggema di ponselnya.
Tut....
Suara nada sambung itu membuat Kai bergegas beranjak dari kasur. Meysa sudah mengaktifkan ponselnya, Ia duduk sambil menunggu jawaban dari orang yang ia cintai. Namun, sayang, Meysa sama sekali tak menjawab panggilan tersebut.
“Arghhhht!" teriak Kai frustasi. Ia tak menyalahkan Meysa, melainkan menyalahkan diri yang sudah membuat semua jadi begini.
__ADS_1