Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
57


__ADS_3

Siang itu Meysa tengah menyaksikan Rena yang tengah bersiap berangkat pulang kampung. Bahkan Faza dan Eka menyempatkan diri untuk pulang demi melihat Rena yang ternyata sudah harus balik ke kampung.


Faza dan Eka baru diberi tahu pahi tadi saat hendak berangkat kerja oleh Meysa.


“Kak, nanti siang Rena mau pulang!"


Ucapan Meysa ketika tengah bersiap pergi kerja pagi tadi membuat sepasang suami itri itu melongo tak percaya


"Serius Rena sudah mau pulang?" tanya Eka tak percaya. Karena setahunya Rena sudah mengajar honorer sejak setahun yang lalu di kota ini.


Meysa menjawab dengan anggukan. Membuat Faza langsung turut menimpali.


“Kenapa kau baru bilang sekarang , Mey!" Sergah Faza.


“Lupa!" sela Meysa membela diri. “Lagi pula Rena juga baru tahu kemarin kalau dia lolos tes CPNS!"


“Jadi Rena pulang karena lolos tes di kampung?" tanya Faza membenarkan.


Kedua kakak Meysa itu turut senang mendengar kabar bahagia dari Rena. Tak disangka Rena berhasil menjadi ASN di usia yang masih sangat muda. Beda dengan mereka berdua dulu, butuh banyak proses dan perjuangan sampai akhirnya bisa mendapat karier yang bagus di usia pernikahan yang ke-6 tahun.


Semua itu tak bisa langsung dijadikan tolak ukur untuk membandingkan kehidupan seseorang. Sebab jalan hidup setiap orang memang berbeda, ada yang meliuk berliku dan ada pula yang mulus datar.


Kini Faza dan Eka, juga Meysa tengah membantu Rena mengeluarkan barang-barangnya yang tidak terlalu banyak.


Sebuah mobil travel yang akan Rena gunakan untuk mengangkut barang-barangnya. Sedangkan gadis itu sendiri akan pulang menggunakan motor.


“Ren, ini titipan untuk bapak!" Eka memberikan satu kardus berisi sembako, keperluan sehari-hari untuk bapak mertuanya di kampung. Tadi saat perjalanan pulang ia dan Faza sempat mampir untuk berbelanja.


Rena meraih kardus yang tak terlalu berat itu, di atasnya sudah ada guratan spidol bertuliskan 'Untuk Bapak Faza, di MataAllo' agar memudahkan Rena menemukan barangnya ketika sudah sampai nanti.


“Salam sama bapakku Ren, insyaallah nanti lebaran disana!" kini Faza yang ikut memberi pesan.


“Iya kak, nanti saya sampaikan." Gadis yang sudah nampak siap maksimal mengenkan helem lengkap itu mengulas senyum.


“Hebat Rena, di umur segini sudah bisa jadi ASN muda!"


“Hehe alhamdulillah kak." Rena berusaha tetap merendah. Tak ingin Meysa merasa terkucilkan karena pekerjaannya lebih baik.


“Kau kapan contoh Rena, Mey!"


Meysa yang sedari tadi diam hanya memutar mata malas mendengar ucapan Faza yang mulai membanding-bandingkan.


“Besok!" ketusnya Dari dulu Meysa memang sering dibanding-bandingkan oleh orang tuanya, bahkan Faza juga sering. Tak jarang ia dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang selalu lebih darinya. Hmmm, Meysa yang malang. Resiko jadi anak bungsu yang tak memiliki kerjaan bagus, Ia seketika merasa benar-benar seperti serpihan debu. Tak berguna.


Begitu driver mobil selesai menyusun barang Rena di bagasi. Mobil itupun berangkat lebih dulu. Menyisakan Rena yang kini tengah berpamitan.


“Rena pamit ya, Kak!"


“Makasih selama ini sudah jadi ibu dan bapak kost yang baik!"


Tuk.


Ucapan Rena itu lantas membuat Eka dan Faza menoyor kepalanya secara bergantian.


“Kayak sama siapa saja kau ini!" ucap Eka yang gemas-gemas geram.

__ADS_1


“Seharusnya dulu kita aniaya saja ini anak!"


Bahkan Meysa pun ikut terkekeh mendengar ucapan Faza. Semenjak ia bersahabat dengan Rena, sahabatnya itu juga dekat dengan semua keluarga Meysa, begitu juga sebaliknya.


“Pergi dulu ya, Mey! Sampai ketemu lagi di kampung!" Rena memeluk Meysa yang sedari kemarin belum mandi, masih mengenakan daster berwarna mustard.


Banyak pikiran dan tak pergi ke toko membuat ia malas mandi.


“Jangan ngebut kalau naik motor!" peringat Meysa sambil menepuk punggung yang terlapis hoodie coklat itu.


Rena manggut-manggut sambil melepaskan pelukannya pada Meysa.


“Kau juga ingat yang kemarin!" Rena menaik turunkan alis memberi isyarat. Membuat Meysa yang peka langsung mengerti jika Rena tengah mengingatkan agar Ia tak lagi berhubungan apapun dengan Erza.


Meysa mengangguk mengiyakan. Setelah itu Rena pun pergi. Gadis itu melajukan motornya dengan satu tangan melambai pada Ia, Faza dan juga Eka, sampai akhirnya sosok Rena tak lagi terlihat. Menyisakan ketiga orang yang sama-sama menghembuskan napas setelah kepergian Rena. Satu penghuni kost berkurang.


.....


Saat azan ashar Meysa pergi mengantar Ciara ke tempat mengaji.


“Nanti sore onty jemput, Ci!" ucap Meysa saat keponakannya meraih punggung tangannya untuk dicium.


“Kalau ada yang ajak pulang jangan mau, pokoknya tunggu sampai onty datang!" Meysa mengantisipasi itu semua agar Cia tetap berada di rumah ustadznya sampai nanti ia datang. Meysa takut terjadi sesuatu pada keponakannya yang cerewet itu, apalagi belakangan ini marak beredar isu penculikan anak.


Cia mengangguk sambil memperbaiki tali tas yang merosot dari bahunya yang kecil.


“Jangan banyak main, Ci! Mengaji yang pintar." Meysa memberi peringatan sekali lagi.


Membuat bocah yang hendak masuk itu sedikit kesal, setiap hari mendengar peringatan yang sama dari tantenya yang cerewet itu.


“Iya onty cerewet!" seloroh Cia, lalu berjalan masuk ke dalam halaman rumah ustadzahnya.


Namun, baru ia hendak menarik tuas gas. Meysa harus dibuat menoleh saat seseorang menyapanya.


“Hai, Mey!"


Terlihat sosok Erza juga tengah mengantar ponakan laki-lakinya yang usianya lebih tua satu tahun dari Rena. Mereka mengaji di tempat yang sama.


Kehadiran Erza membuat Meysa mengingat kejadian dengan Bu Asmi kemarin. Seketika ucapan Rena terngiang-ngiang di kepalanya, membuat gadis itu enggan menjawab sapaan Erza. Dengan wajah kesal ia membuang muka cuek. Lalu bersiap pergi.


Erza yang diperlakukan seperti itu merasa ada yang beda. Perasaannya pada Meysa memang belum berubah, tetapi ia mencoba untuk berbesar hati dan menerima keputusan Meysa dengan lapang dada dan berusaha ikhlas seperti biasa. Karena Erza tetap ingin berhubungan baik dengan Meysa. Tapi sikap yang Meysa tunjukkan kali ini benar-benar beda, ini kali pertamanya ia diperlakukan demikian.


Pasti ada yang tidak beres! Dalam hati Erza berusaha menerka apa yang membuat sikap Meysa berubah. Apa iya karena Kai? Apa mungkin kekasih Meysa yang dari Sumatra itu melarangnya berhubungan denan Erza? Tak ingin terus menerka, Erza yang penasaran akhirnya turut tancap gas untuk menyusul Meysa.


“Mey, kau kenapa?" tanya Erza saat sudah berhasil mengejar Meysa dan berkendara tepat di samping gadis itu.


Namun Meysa masih enggan menjawab. Sebenarnya ia pun tak tega memperlakukan Erza seperti ini. Meski dia anak bu Asmi, tapi sikap Erza jauh beda dengan ibunya. Meysa tahu Erza orang yang baik dan tulus. Terbukti dengan Erza yang selalu mau berteman dengannya meski berkali-kali sudah ia tolak. Tetapi sakit hati yang disebabkan oleh Ibu laki-laki itu juga sudah melewati batas maklumnya sebagai manusia biasa.


“Mey!"


“Kau kenapa?"


“Apa salahku, Mey?" Erza masih berusaha memepet Meysa dengan rasa penasaran yang besar.


“Kalau ada yang salah kita bisa bicara, Mey. Jangan begini!" teriak Erza lagi. Sudah seperti seorang yang menuntut penjelasan dari kekasihnya

__ADS_1


“Sudahlah, Za! Lebih baik kita jangan berteman lagi, saya ndak mau terus-terusan dituduh dekati kau sama mamamu!"


Jleb...


Ucapan Mesya itu membuat Erzaa berhenti mengejar, motor gadis itu sudah melaju jauh di depan sana. Bahkan sudah hampir berbelok di perempatan menuju gang tempat tinggalnya.


Erza dibuat terpaku oleh perkataan Meysa. Hal itu membuat Ia langsung teringat pada Mamanya.


Ya, ini pasti ada sangkut pautnya dengan mama! lirih Erza yang tahu betul bagaimana tabiat sang ibu. Bahkan ia juga tahu betul jika mamanya itu pernah menyebar cerita tentang Meysa.


Hal itu membuat Erza buru-buru pulang untuk menemui mamanya sebelum wanita yang sudah melahirkannya itu pergi senam sore di taman walikota, seperti rencananya tadi.


Sesampainya di rumah Erza langsung menghampiri mama yang sedang memakai sepatu di teras rumah. Istri pensiunan purnawirawan polisi itu sudah bersiap pergi senam bersama rekannya.


“Ma!" teriak Erza dengan wajah menahan geram.


Bu Asmi yang mendengar itu langsung mengerutkan kening saat melihat kilatan amarah yang tertahan di wajah sang anak.


“Kau kenapa Erza?"


“Ma, mama apai Meysa?" tanya Erza langsung pada intinya.


“Kenapa lagi dengan Meysa?"


" Kau masih mau sama itu anak, dia kan sudah punya tunangan."


Erza menggeleng mendengar jawaban sang Ibu. Jika sudah begini ia semakin yakin jika Mamanya memang menjadi penyebab perubahan sikap Meysa.


“Ma, walaupun Meysa sudah punya tunangan atau apapun itu, tidak ada alasan untuk membencinya. Kami masih bisa berteman!" sergah Erza dengan wajah datar.


Sedangkan bu Asmi, wanita paruh baya itu langsung memutar mata malas. Anaknya ini memang terlalu tulus dan baik hati.


Jika diibaratkan, Erza adalah makhluk yang terbuat dari tanah suci, sedangkan ibunya itu adalah makhluk yang terbuat dari tanah sengketa. Sifat mereka bagaikan langit dan bumi.


“Mama bilang apa sama Meysa sampai dia ndak mau balas sapaanku?" cecar Erza yang masih berusaha mengontrol diri, mengingat wanita di depannya adalah ibu kandungnya. Ia tak boleh bersikap berlebihan meski sang ibu bersalah.


Melihat Erza yang seperti itu akhirnya Bu Asmi membgakui apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan Meysa.


“Dengar Meysa billang begitu kemarin sebenarnya mama jadi merasa bersalah, Za." Bu Asmi yang terbuat dari tanah sengketa ternyata mulai menyadari kesalahannya setelah menceritakan semua secara detail pada Erza.


“Walaupun mama ndak rela kalau kalian sampai pacaran tapi seharusnya mama tidak boleh mengatai dia seperti itu, hmmmnt!"


Erza mengusap rambut secara kasar. Perubahan pada Meysa ternyata memang disebabkan oleh mamanya. Erza tak habis pikir kenapa mamanya sampai tega mengatai Meysa seperti itu, apalagi di depan banyak orang. Mendengar cerita detailnya saja Erza geram, bagaimana dengan Meysa yang mengalaminya secara langsung.


“Mama tahu gara-gara itu Meysa ndak mau lagi berteman dengan Erza!"


“Ya Maaf!" ujar Bu Asmi.


“Minta maafnya sama meysa, Ma. Bukan sama saya!" sentak Erza kesal.


“Mama ini sudah tua, tidak seharusnya orang tua bersikap seperti itu ke orang yang usianya seperti anak mama sendiri!" Erza terus mengomel kecewa. Kemudian pemuda itu segera masuk ke rumah.


Meninggalkan Bu Asmi yang larut dalam rasa bersalah. Apa yang Erza katakan benar semua, tidak. suka pada orang lain tak seharusnya membuat ia jadi sekejam dan setega itu. Sikap ini terlalu berlebihan. Sepertinya mulai saat ini bu Asmi akan mulai bertobat jadi lebih baik.


(Author bilek : Semoga saja ya bu!😏)

__ADS_1


.....


_MeyKa💕


__ADS_2