
“Ayo!" Kai sudah berada di motor sejak tadi. Ia memanggil Meysa yang malah bengong di depan pintu.
Sedari selesai mandi, Meysa memang lebih banyak diam. Ia merasa sangat tak bersemangat. Bahkan saat keluar dan mendapati Kai sudah menunggu di atas motor malah membuatnya terpaku. Gadis yang menggunakan blouse berwarna biru keabuan itu malah termenung di sisi pintu dengan wajah datar. Padahal Kai sudah beberapa kali memanggilnya, tapi Ia malas untuk benjak darisana.
“Bee, ayo!" Kai masih melambaikan tangan, berusah memanggil Meysa.
“Ayo, nanti nyantainya pas di bandara aja, bee!" Bujuk Kai masih dari atas motor.
Bukannya tidak peka, Kai tahu Meysa pasti sedang sedih. Kai pun merasakan hal yang sama, hanya saja ia berusaha mengontrol diri untuk tidak terlihat sedih. Kai tidak ingin menunjukkan kesedihan di hadapan Meysa.
Dengan berat hati, akhirnya Meysa melangkahkan kaki menuju Kai setelah menghembuskan napas berat beberapa kali.
Dengan wajah meringis Meysa mematung di sisi motor, Ia menerima helm yang Kai pasangkan di kepala. Melihat Kai yang diam dan tak berusaha mengatakan apapun untuk menenangkannya membuat Meysa agak sedikit kesal. Ia menyangka Kai tak perduli, padahal nyatanya hati dan pikiran Kai tak kalah berkecamuk seperti yang Ia rasakan. Hanya saja berusaha disembunyikan.
“Udah!" ucap Kai setelah mengaitkan pengait helem di dagu Meysa.
Wajahnya yang datar dan tak mengutarakan sepatah katapun membuat Meysa semakin sakit hati. Merasa diabaikan.
“Barangmu cuma segitu?" mata Meysa teralih menatap tas ransel Kai yang berada di depan. Kai juga ikut megukuti ke arah pandang Meysa.
“Iya, cuma segini!" sahut Kai acuh tak acuh.
Tasnya memang tak terlalu besar, tapi cukup menampung laptop dan pakaiannya yang tak seberapa. Ia sengaja menggunakan tas itu agar tidak kesulitan membawa barang, sekalian agar hemat biaya bagasi.
Meysa menggut-manggut, sikap cuek Kai membuatnya kesal. Ia lalu naik ke jok belakang dengan hati dongkol.
Namun, perasaan dongkol Meysa seketika berubah saat motor sudah melaju dan Kai menarik tangannya untuk melingkar di tubuhnya. Membuat perasaan kesal Meysa berubah jadi rasa sedih.
Sikap Kai yang cuek tapi tetap memperlakukanya dengan baik membuat Meysa terharu. Ia lantas mengeratkan pelukan pada tubuh Kai, seakan ia akan kehilangan laki-laki itu jika saja pelukannya merenggang. Meysa menempelkan kepala yang terbungkus helem di punggung Kai. Sungguh ia tak ingin berjauhan. Rasanya begitu menyesakkan.
Sementara Kai yang diperlakukan demikian oleh Meysa pun tak kalah sedihnya. Hatinya carut marut tapi tak bisa ia tunjukkan. Kai hanya bisa memendam sambil terus berkendara dengan perasaan gundah.
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yang terucap diantara keduanya. Hanya bisa saling merasakan melalui sentuhan, mereka sama-sama paham jika hal ini sangatlah menyiksa tapi itulah yang seharusnya.
Selang beberapa menit akhirnya keduanya tiba di bandara Mutiara Sis Al-Jufrie. Meysa turun lebih dulu, sedangkan Kai yang melihat itu langsung membantu melepaskan helm dari kepala sang Bulan. Ia seperti tak sanggup menatap wajah Meysa. Baru kemarin ia merasakan bahagia bersama, kini sudah harus kembali berjauhan lagi.
Setelah selesai tangan Kai tralih mengeluarkan topi hitam dari tas bagian belakang.
“Makasih ya, bee!" lirih Kai saat Meysa membantu membenarkan topinya. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah memastikan motor terparkir dengan aman, Kai memakai tasnya. Ia lalu menggandeng Meysa masuk ke bandara.
“Tunggu sini bentar ya, aku check in dulu!"
Meysa menurut ketika Kai memintanya untuk duduk terlebih dulu sembari menunggu. Sementara Kai langsung melakukan check-in. Ia menujukkan seluruh dokumen dan tiket yang sudah dipesan secara online di salah satu situs terkenal. Setelah itu Kai langsung diarahkan untuk melakukan boarding pass.
Pandangan Meysa tak teralih sedikitpun dari Kai yang sibuk kesana-kemari. Pria dengan penampilan casual, menggunakan celana blue jeans dipadukan dengan kaos dan jaket levis sebagai outernya itu nampak begitu menawan di matanya. Sederhana tapi tetap keren. Beberapa kali Meysa mengambil foto Kai dari jauh untuk diabadikan. Setiap pergerakan Kai tak lepas dari potretan Meysa.
“Udah?" tanya Meysa saat Kai yang baru selesai mencetak boarding pass datang menghampiri.
Laki-laki itu mengangguk, lalu memasukkan dokumennya ke dalam tas terlebih dahulu.
“Nunggu di dalam yuk!" tunjuk Kai pada area boarding longue, berhubung diperbolehkan membawa keluarga untuk menunggu, jadinya Kai mengajak Meysa kesana agar tak jauh dari pintu keberangkatan.
__ADS_1
Kai membawa Meysa duduk di kursi tunggu yang paling ujung, dekat dinding kaca yang menampakkan apron area, atau plataran pesawat yang merupakan tempat parkir pesawat. Dimana di tempat itulah kegiatan menaikkan dan menurunkan penumpang dilakukan, bahkan juga merupakan tempat pengisian bahan bakar pesawat.
Dari sana Meysa duduk sambil memerhatikan sebuah pesawat yang sedang mengisi bahan bakar.
“Tunggu bentar ya, aku beli minum dulu!"
Meysa hanya mengangguk mengiringi langkah Kai yang menjauh pergi. Bahkan setelah Kai kembali, tak ada obrolan apapun yang terlibat diantara keduanya dalam waktu yang cukup lama. Kedua orang itu sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing sambil sibuk memerhatikan sekitar. Seolah saling tak memperdulikan.
Hingga akhirnya, Kai lebih dulu membuka obrolan setelah beberapa kali menghela napas dalam. Kai menatap Meysa yang tengah melamun.
“Kamu kenapa?" tanya Kai dengan lembut. Tangannya tergerak membuka kemasan air mineral yang dibelinya. Ia menatap Meysa tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
“Kamu marah sama aku?" tebak Kai yang mengira jika Meysa marah karena ia mendiamkannya sejak tadi.
Sebenarnya Kai merupakan sosok yang sangat perhatian, hanya saja terkadang laki-laki itu lebih memilih tak menunjukkan semua pada wanitanya. Sama halnya dengan Kai yang sedari tadi terlihat cuek padahal hati dan pikirannya begitu menyedihkan, tak sanggup menghadapi perpisahan.
“Maafin aku, aku gak maksud mau cuek ataupun..."
Belum sempat Kai selesai bicara, ucapannya sudah harus terpotong melihat Meysa menggelengkan kepala.
“Terus kamu kenapa?" tanya Kai penasaran.
Meysa menghela napas, ia yang sedari tadi menunduk, bertumpu pada paha. Kemudian menegakkan tubuh dan bersandar di sofa.
“Gak kenapa-kenapa sih. Cuma aku keingat rasa sakit pas kita lost contact. Aku gak bisa lupa gimana rasanya aku susah payah menahan sesak sejak kamu berubah sampai sebelum kamu datang. Rasa sakit itu belum benar-benar hilang, aku ingat gimana aku nangis setiap kali ingat kamu. Rasanya energiku benar-benar terkuras hanya untuk berusaha melupakanmu sekaligus agar terlihat baik-baik di depan orang.”
Ucapan Meysa membuat Kai menunduk. Entah mengapa detik-detik perpisahan ini malah membuatnya teringat dengan rasa sakit yang baru sembuh itu. Meysa masih terauma, Ia takut jika saja hal itu terulang kembali.
“Aku takut kalau kejadian yang sama terulang lagi!" Meysa menoleh pada Kai yang masih menatapnya.
“Aku takut kamu mengulang hal yang sama!"
Kai yang mendengar itu merasa sangat bersalah. Ia teramat sangat sadar jika kelakuannya itu menyisakan luka yang begitu dalam bagi Meysa. Kai sungguh mnyesali apa yang pernah terjadi. Seandainya waktu bisa diputar dan dipilih sesuai keinginan, sudah pasti ia tak akan meninggalkan Meysa, Kai bahkan tak ingin memilih takdir yang membuatnya tak berdaya saat itu.
Kai yang duduk berseberangan dengan Meysa langsung berpindah ke samping gadis itu. Kai duduk di samping Meysa. Di raihnya tangan Meysa untuk digenggam.
“Sekali lagi aku minta maaf ya bee, aku salah besar karena udah bikin kamu sakit waktu itu. Aku menyesal!” Kai menggenggam tangan Meysa dengan erat.
“Tapi sekarang aku janji aku gak akan ninggalin kamu seperti dulu, aku gak akan lagi lakuin hal bodoh yang bisa menghancurkan hubungan kita." Dengan bersungguh-sungguh Kai berusa meyakinkan. Membuat mata Meysa berkaca-kaca, jika disana tidak banyak orang mungkin ia sudah menangis.
Meysa menarik satu tangan dari genggaman Kai, berbalik ia menggenggam dengan meletakkan tangan di atas punggung tangan pujaan hatinya.
“Jangan berjanji untuk tidak saling meninggalkan, tapi berjanjilah untuk bertahan seberat apapun masalahnya. Jangan seperti yang kamu lakukan kemarin!"
Ucapan Meysa membuat Kai mengangguk.
“Kalau ada masalah cerita, bukan malah hubungan kita yang diakhiri."
“Maaf, bee!" lirih Kai penuh penyesalan. Kepalanya menunduk menyesali kesalahannya.
Suara bell pembuka pengumuman terdengar menggema di seantero ruang. Membuat Meysa dan Kai saling tatap.
“Mohon perhatiannya, penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan CA125 tujuan Pekanbaru harap segera naik ke pesawat melalui pintu B3, Terima kasih.”
__ADS_1
“Your attention please, passengers the airplane of Lion Air on flight number CA125 to Pekanbaru please board the airplanes from door B3, Thank you.” Dan disusul suara pengumuman menggunakan bahasa Inggris setelahnya.
Orang-orang yang merasa penumpang pesawat yang disebut barusanpun mulai bergegas sesuai arahan yang diberi.
Jantung Meysa dan Kai berdetak lebih cepat. Waktu perpisahan yang ditakutkan semakin dekat menghampiri. Keduanya saling tatap dengan sorot mata memancarkan kesedihan.
“Maafin aku ya, bee!" Kai meraih tangan Meysa untuk dikecup. Membuat Meysa sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Ia makin terpaku.
Raut wajahnya nampak berat dengan mata berkaca-kaca, hanya bisa mengiyakan ucapan Kai dengan anggukan.
“Pergilah bee! Nanti kamu terlambat." lirih Meysa dengan suara tercekat saat baru saja menoleh melihat satu persatu penumpang mulai menuju pintu keberangkatan yang disebutkan.
Meysa berdiri, ia meraih tas milik Kai yang tergeletak di sofa.
Kai meraih tas dari tangan Meysa. Ia juga ikut berdiri dan memakai tasnya. Tanpa aba-aba Kai menarik Meysa ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku karena harus membuatmu menunggu sekali lagi!" ujar Kai seraya mendaratkan kecupan di kening Meysa.
Sementara Meysa yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam, tangannya terulur membalas pelukan Kai. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara, membuat dadanya terasa semakin sesak.
“Kumohon tunggu aku sekali lagi ya, bee!”
Meysa hanya bisa mengangguk dengan air mata yang berderai. Tak perduli dengan tatapan aneh dari orang-orang yang menoleh ke arah mereka.
“Aku pasti tunggu kamu!" lirih Meysa dengan suara tercekat.
Kai mengangguk, sekali lagi ia mendaratkan ciuman di kening Meysa, cukup lama hingga Kai melepaskan kecupannya.
“Aku mencintaimu, bee!" Tangan Kai tergerak mengusap kepala Meysa dengan penuh sayang. Matanya berkaca-kaca dengan dada yang menahan sesak.
“Aku pergi!" Pamitnya, Ialu mulai menjauh meninggalkan Meysa yang masih terpaku. Mengiringi langkahnya dengan tangisan dalam diam.
Pandangan Meysa terasa sangat jauh. Rasanya ia ingin menggapai langkah Kai yang perlahan menjauh. Hatinya sakit menyaksikan orang yang dicintai perlahan pergi meninggalkan. Sosok Kai yang masih melambaikan tangan padanya membuat tangisnya kian pecah dan tersedu-sedu. Ia tak lagi bisa membendung kesedihan.
“Bee, I love you!"
Entah mendapat keberanian dari mana Meysa melangkahkan kaki untuk mengejar Kai yang sudah masuk di ruangan yang terhubung dengan pintu menuju pesawat. Sebuah lorong dari dinding kaca.
“Jaga diri, jaga hatimu untukku! Kalau sudah sampai kabari!" Meysa hanya bisa menghentikan langkahnya sampai disana. Sosok Kai yang berjalan paling akhir membuat Ia bisa meneriakkan kata-kata itu tanpa memikirkan pandangan dari orang lain.
Kai menoleh sembari mengangguk pasti. Tanpa diminta ia tentu akan menjaga hati untuk Meysa.
“Kamu gak mau menyuruhku jaga hati? Kamu gak takut aku berpaling?"
Ucapan Meysa membuat langkah Kai terhenti.
“Tanpa aku minta aku tahu kamu pasti akan jaga hati untukku." Sahut Kai dengan wajah tersenyum.
“Bee, jaga diri! Jaga hati, jaga cintamu untukku. Tunggu aku datang!" Itu ucapan terakhir yang bisa Kai katakan setelah seorang petugas muncul. Ia tak bisa lagi menoleh dan berjalan lambat .
Melihat Kai yang sudah melangkah tanpa menoleh membuat dadanya kian sesak. Punggung tegak itu perlahan samar-samar kemudian menghilang dari penglihatan. Kai sudah masuk ke dalam pesawat.
“See you on top my favorit stranger!" lirih Meysa dengan mata terpejam. Ia meremas ujung blousenya untuk mengusir rasa sedih yang seakan tak mau pergi.
__ADS_1