Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
49


__ADS_3

Rena yang sudah membereskan barang-barangnya di kost pun kembali ke rumah. Gadis itu langsung melakukan rituaal beres-beres, menggantikan tugas Meysa yang tidur karena lelah menangis setelah menjadi sad girl karena LDRan dengan Ayang. Sepertinya ia kehilangan banyak tenaga karena menangisi Kai yang sudah balik ke asal.


Suara deru mesin mobil terdengar memasuki rumah. Itu artinya Faza, Eka bersama duo bocil sudah datang. Beruntung rumah sudah bersih dan Rena juga sudah menyiapkan makanan untuk malam. Ia baru saja menyelamatkan Meysa dari Eka yang biasa mengomel jika mendapati rumah dalam keadaan kotor setiap kali pulang kerja.


Faza yang merasa sepi menoleh ke arah kostan, biasanya ia selalu mendapati tamu bukan sembarang tamu itu duduk disana. Sekarang sudah tidak ada, Faza bahkan merasakan kekosongan karena Kai tidak ada.


“Pasti Tante Mey menangis karena temannya pulang." Cia yang seolah tahu isi kepala Bapaknya pun ikut berceletuk.


Membuat kedua orang tuanya yang melangkah beriringan menoleh pada anak sulungnya itu.


“Cia juga sama, menangis kalau temannya Cia pulang!"


“Sepi, tidak ada teman main."


Sambil melangkah ke dalam rumah, bocil itu terus berceletuk. Membuat orang tuanya geleng-geleng smabil membatin. 'Cia yang anak kecil saja tahu jika Meysa pasti sedang sedih!'


Cia memang ponakan yang pengertian dan sok dewasa. Selalu menempatkan diri pada setiap situasi yang orang alami. Faza dan Eka tak masalah anak mereka bersikap dewasa, hanya saja untuk hal ini mereka rasa Cia tak perlu ikut-ikutan sok dewasa dengan memahami perasaan orang yang sedang patah hati karena berpisah.


“Ci!" tegur Eka. Membuat Cia langsung menoleh dengan wajah lugu. Merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.


“Tidak usah urus-urusan orang besar!”


“Memangnya yang punya teman cuma orang besar, ma?"


“Berarti orang besar seperti Tante Meysa tidak sedih kalau temannya tidak ada?" sahut gadis kecil itu lagi. Membuat Eka bingung harus menjelaskan apa. Anaknya terlalu banyak tanya.


“Ci, mandi! Habis itu mengaji!"


Ucap Faza berusaha mengalihkan agar anaknya tak banyak tanya soal hal seperti itu.


Cia yang memang lebih senang diajar mengaji oleh Faza daripada mengaji sore di rumah ustadz pun langsung kegirangan. Dengan semangat 45 bocah itu berlari masuk ke kamar.


Setiap sore, Cia memang lebih sering main ke rumah neneknya dan akan berangkat mengaji dari sana. Tapi, jika Meysa di rumah dan tidak sedang kerja maka ia akan dijemput Meysa.


“Meysa mana?" tanya Faza ketika berpapasan dengan Rena yang baru saja dari dapur, hendak masuk ke kamar Meysa.


Sementara Eka langsung membawa duo bocil ke dalam kamar. Siap-siap mandi sore.


“Masih tidur, kak!" jawab Rena.


Faza lalu menceloskan kepala di pintu kamar Meysa. Terlihat sang adik masih tidur dengan blouse dan celana jeans hitam yang tadi dikenakan untuk mengantar Kai.


“Pasti itu anak galau, kan" seloroh Kai.


Rena terkekeh mendengar tebakan Faza yang memang benar adanya.


“Bangunkan dia, Rena. Sudah hampir Maghrib ini, tidak bagus juga tidur sore."


Rena hanya mengangguk, matanya mengikuti langkah Faza yang pergi menuju kamar. Bapak dua anak itu melangkah menenteng tas kerja, kemeja yang tergulung hingga lengan membuat Rena terpesona. Tak dipungkiri Kakak Meysa itu memiliki kharisma yang luar biasa, belum lagi wajah yang mendukung, juga bertubuh tinggi, tak beda jauh dengan Meysa.


Menyadari diri baru saja mengagumi Suami orang sekaligus kakak sahabatnya, Rena langsung menepuk keningnya. Jiwa-jiwa jomblonya meronta-ronta, Ia memang suka dengan yang lebih dewasa.


Rena pun masuk kamar sambil memikirkan kapan ia dapat jodoh. Diusia segini, ia yang belum menikah sering dianggap sepuh oleh orang kampung. Di kampung, muda-mudi yang belum menikah diusia segitu memang dianggap tua.


Di kamar, Ia langsung duduk di tepi kasur sambil memakan cemilan. Rena tak langsung membangunkan Meysa. Ia lebih dulu membuka ponsel.


“Huh, asli bucin!" celetuk Rena saat jarinya teralih membuka story WA Meysa.


Bersamaan dengan tubuh Meysa yang mulai menggeliat. Rena menoleh, belum juga dibangunkan, Meysa sudah bangun sendiri.


“Bagaimana, apakah anda mimpi indah?" sarkas Rena dengan wajah mengejek. Membuat Meysa hanya menampakkan wajah kesal tanpa menjawab pertanyaan dari Rena.


Mana ada mimpi indah, sedangkan sebelum tidur tenaganya Ia habiskan untuk menangis. Meysa tahu apa yang Rena katakan hanya kebalikannya saja. Sahabatnya itu begitu senang meledeknya.


“Pas ada Kai mukamu judes terus, giliran Kai pulang kau langsung gembira. Memang kau itu tidak bisa lihat saya bahagia, sahabat lucknut!"


Rena hanya terkekeh mendengar protesan dari Meysa.

__ADS_1


“Semoga mertuamu Bu Asmi, atau jadi istri keduanya papanya Erza!"


“Ishh, anak ini!" Protes Meysa tak suka, ia melayangkan tepukan di paha Meysa. Tak suka sahabatnya itu terus menyumpahinya menjadi menantu Bu Asmi dan sekarang malah ditambahi jadi istri kedua bapaknya Erza.


“Aaamiin Ya Allah, atau paling tidak berikan Rena pasangan yang jauh supaya dia rasakan LDRan!" teriak Meysa. Kini ia yang balik tertawa.


“Kau ini Mey, mulutmu kurang ajar sekali!" Rena yang kesal terus melayangkan pukulan di bahu Meysa. Membuat gadis yang baru bangun itu kembali tersungkur ke tempat tidur.


“Hahaha!" Meysa masih tertawa terbahak-bahak. “Kabulkan do'aku ya Allah, sebenarnya bukan mulutku yang jahat, tapi mulutnya Rena." Meysa berseloroh asal, mengadukan kelakuan Rena pada Tuhan.


“Meysaroh kurang ajar!" umpat Rena yang kesal.


Meysa masih saja terkekeh, ia yang baru bangun tak punya tenaga untuk menghindari tangan Rena yang terus mendorongnya. Alhasil ia terus tersungkur dengan mulut yang terus mengejek. Ia tak menyangka jika mengejek Rena bisa mengembalikan moodnya, sejenak ia bisa melupakan kesedihan karena Kai.


Kai!! Seketika mata Meysa membola mengingat nama kai. Dengan sepenuh tenaga ia bangun, wajah datar itu beralih mencari ponselnya. Entah sudah berapa jam ia tidur, yang pastinya saat ini Kai sudah sampai. Yang ia ketahui penerbangan dari Palu menuju Pekanbaru memakan waktu sekitar kurang lebih 5 jam dengan satu kali transit.


“Mana hpku?" tanya Meysa panik mencari dimana ponselnya berada. Membuat Rena yang melihat itu langsung mengernyitkan kening.


“Ih, mana hpku?"


“Pasti kau yang kasih sembunyi, Rena!"


Tuduhan yang Meysa layangkan membuat Rena kesal, gadis itu lalu melayangkan bantal di tubuh Meysa.


“Menuduh terus!" ucap Rena tak terima. Pukulannya membuat Meysa hampir terjerambah. Tapi gadis itu tak menghiraukan, ia lebih fokus mencari ponselnya.


“Ih, bantu cari, Ren!" seru Meysa yang mulai kewalahan. Ia turun dari kasur dan menghamburkan semua bantal untuk mencari ponselnya.


Sementara Rena agak merentangkan tangan meraih benda pipih yang sedang tercahrge di atas meja.


“Ini, hehe!" Ia terkekeh saat menyodorkan ponsel. Ia lupa jika tadi dirinyalah yang mencharge ponsel Meysa.


Melihat ponselnya di tangan Rena, Meysa lalu menoleh dengan tatapan geram.


“Menuduh terus!" Dengan kesal Meysa berteriak mengulang ucapan yang sama seperti yang Rena ucapkan saat Ia menuduh Rena yang menyembunyikan ponselnya. Ternyata bukan menuduh, tapi memang Rena pelakunya!


“Nyenyenye..." Meysa menggerutu seperti anak kecil.


“Tadi lowbat, Mey. Syukur saya caskan!" ungkap Rena apa adanya. Tadi saat kembali dari memindahkan barangnya ke kamar Kost. Rena memang melihat sisa batrey ponsel Meysa sudah memerah, maka dari itu ia memutuskan untuk menchargerkan. Hanya saja tadi ia sempat lup sehingga membuatnya merasa tertuduh saat Rena mengatakan jik ia sengaja menyembunyikan ponselnya.


Meysa tak meladeni, tapi apa yang Rena katakan memang benar, melihat daya batreynya terisi full. Ia lebih memilih membuka lockscreen. Hal pertama yang dilihatnya adalah dua panggilan tak terjawab di telpo biasa. Sedangkan di WA ada 3 panggilan video tak terjawab.


Dalam hati Meysa bersyukur, itu artinya Kai sampai dengan selamat. Ia lalu membuka pesan yang Kai kirimkan.


Bintang :


Bee, kalau pulang hati-hati di jalan, jaga kesehatan, jaga diri baik-baik! Aku sayang kamu!


Pesawatnya udah mau take off. Kalau udah sampai nanti kukabari ya, bee.


Love you wanita hebatku😘.


Sibuk ya?


Baik-baik ya disana, jaga kesehatan!


Nanti aku hubungi lagi kalau udah sampai rumah.


Hanya dengan membaca pesan dari Kai saja sudah berhasil membuat hatinya berdebar. Meysa tak membalas pesan itu, Ia langsung menghubungi Kai.


Berdering, tinggal menunggu orang yang ditelpon menampakkan diri dari layar ponselnya.


Mata Meysa langsung berbinar ketika Kai yang tengah rebahan muncul sambil tersenyum padanya.


“Assamualaikum!"


“Halo bee!" Kai melambaikan tangan dengan sembari menampakkan senyuman. Membuat hati Meysa jadi tak karuan.

__ADS_1


Matanya tak bisa beralih dari sosok berbaju hitam yang tengah berbaring di tempat tidur, wajahnya terlihat segar. Baru beberapa jam yang lalu Kai pergi, Rindunya sudah sebesar ini.


Sedangkan Rena yang masih berdiri sambil memerhatikan Meysa yang tengah video call hanya diam dengan terus mengunyah.


“Salamnya dijawab, Meysaroh!" celetuk Rena geram. kesal melihat Meysa yang malah terpaku seperti itu. Membuat Meysa menoleh sambil mencebikkan bibir. Dengan tatapan tajam menyuruh Rena diam.


“Lagi sama Rena ya, bee?" Belum sempat Meysa menjawab salam dan sapaanya, Kai sudah kembali bertanya. Ia juga mendengar suara Rena.


“Eh, iya bee. Ini lagi sama Rena," sahut Meysa. Pandangannya kembali fokus pada Kai. Ia tak lagi menghiraukan Rena yang berdiri menontonnya tengah bervideo call sambil ngemil dan main ponsel. Gadis itu merebahkan diri di tempat tidur.


“Sampai jam berapa?" tanya Meysa, rasa sedih itu perlahan terobati begitu melihat wajah Kai. Begitupun sebaliknya, Kai juga merasakan hal yang sama.


Kai nampak berpikir, mengingat jam berapa tepatnya ia sampai di Pekanbaru.


“Gak inget jelasnya sih bee!" Kai masih berusah menerka dengan alis yang saling bertaut.


“Itu pas aku telepon baru keluar dari pesawat!"


Meysa manggut-manggut dengar ucapan Kai. Tak lupa keduanya saling menanyakan apakah sudah makan atau belum.


“Udah makan belum bee?" tanya Kai, yang mana dijawab gelengan oleh Meysa.


“Kenapa belum?"


“Kan baru bangun!"


Kai mengangguk mengerti. “Pasti makannya cuma pas pagi sama aku itu aja, kan?" tanya Kai penuh selidik. Melihat Meysa manggut-manggut membuatnya kesal.


“Kebiasaan kali lah gak makan, nanti sakit gimana!"


Meysa menghela napas mendengar omelan Kai. “Nanti ya aku makan kalau habis mandi."


Mendengar obrolan antara sejoli itu membuat Rena berlagak sok muntah. Meysa yang melihat hal itu dengan wajah kesal melayangkan bantal pada Rena yang duduk di kursi. Dalam hati Meysa menaruh dendam, suatu saat akan membalas kezoliman Rena ketika sahabatnya itu menjalin hubungan. Lihat saja! Mesya tersenyum sinis. Membut Rena yang melihat itu menampakkan wajah mencebik tak suka.


“Fokus ke hp, kasih puas memang lihat Kai supaya kau ndak menangis lagi!"


Ucapan Rena benar-benar membuat Meysa kesal. Ia mencebikkan bibir lalu kembali fokus menatap Kai.


“Itu kamu masih tinggal di tempat yang dulu?" tanya Meysa saat melihat ruangan asing dimana Kai berada. Berbeda dengan kamar yang sering Kai tempati setiap mereka video call dulu.


Kai terlihat memerhatikan area sekitarnya. Kamar dengan nuansa putih dengan hiasan dinding bertema dark di sisi kanannya.


“Di toko maksudnya?" tanya Kai memastikan.


Meysa mengangguk mengiyakan.


“Nggak bee, ini bukan di toko."


Jawaban yang Kai berikan sambil menunjukkan area kamar yang berukuran cukup luas dengan lemari pintu yang terletak di sisi jendela itu membuat Meysa mengernyitkan kening, ia menelisik kamar yang baru dilihatnya itu.


“Terus dimana?" tanya Meysa penasaran.


Kai kembali membalik kamera ponsel hingga menampakkan wajahnya yang tengah berbaring dengan guling yang ia letakkan di dada, menyangga dagu.


“Ini di kontrakan bee, kan toko udah lama tutup!"


Meysa sedikit terkejut mendengar penuturan Kai. Tak menyangka jika toko baju yang merupakan usaha Abangnya itu ternyata sudah tutup, Meysa kira Kai masih tinggal di toko itu.


“Jadi, waktu kamu cerita kalau toko mau tutup itu tutup beneran ya abis itu?"


“Iya bee, pas kita lost contact tokonya tutup."


Meysa hanya mengangguk mendengar penjelasan Kai. Dulu sebelum mereka benar-benar hilang contact, saat hubungan keduanya mulai renggang. Kai memang sempat diberi tahu soal rencana Abang yang antara memindahkan atau menutup usahanya karena harga sewa ruko yang naik. Tak disangka ternyata kini usaha itu benar-benar sudah tutup.


“Hmmmnt, maaf ya bee, Aku gak tahu!" Meysa menghela napas. Merasa bersalah karena menanyakan hal itu pada Kai.


“Gak apa-apa kok bee." Jawab Kai tak masalah.

__ADS_1


__ADS_2