
Faza menatap Kai dan Meysa yang saling bersitatap. Meski Meysa melemparkan tatapan kekesalan dan Kai melemparkan tatapan lemah lembut, tapi Faza melihat kobaran api cinta yang masih menggebu diantaranya. Huah, rasanya seperti sedang nonton kisah Zainuddin dan Hayati yang kembali bertemu setalah sekian lama, walau ada Aziz diantara mereka.
“Panggil Kai jugalah, Mey. Masa cuma kakak yang dipanggil." Peringat Faza, mencoba melerai kecanggungan diantara Zainuddin dan Hayati yang sama-sama masih memendam cinta.
Dengan terpaksa Meysa menuruti, ia tidak ingin diledek Faza lagi seperti semalam.
“Ayo makan!"
Kai tersenyum diajak makan oleh Bulan. Meski tahu itu hanya sebuah kebaikan yang terpaksa dilakukan di depan calon kakak ipar, tapi tidak apa, setidaknya ia bisa mendapat perhatian dari orang yang maafnya begitu ia harapkan.
Faza tersenyum meledek saat menatap Meysa lalu mengajak tamu bukan sembarang tamu itu sarapan bersama.
Ketika melewati ruang tengah, Faza heran melihat Rena yang masih tidur dengan nyenyak.
“Rena masih tidur." Faza bergumam, matanya langsung berpaling ketika melihat posisi tidur Rena yang astaghfirullah. Di pipinya ada iler yang mengering.
Begitu juga dengan Kai, ternyata Rena tidak hanya bar-bar dalam bicara, tapi cara tidurnya juga sangat bar-bar. Si Bintang membatin julid, cukup tahu soal sikap Rena.
“Biarkan saja, tidak usah dibangunkan. Rena sudah jadi ember bocor. Pantas dikasih pelajaran!"
Faza hanya menyerngit mendengar ucapan adiknya yang memang sedikit pendendam, ia tahu ember bocor apa yang Meysa maksud. Sementara Kai hanya menelan ludah kasar mendengar ucapan ketus Bulan, ternyata dia cukup galak. Tidak beda jauh dengan Rena.
Ingatan Kai langsung tertuju pada malam dimana ia baru datang, Rena malah memarahinya karena pernah meninggalkan Meysa. Ia diceramahi panjang kali lebar.
Sesampainya di dapur, Faza dan istri mempersilahkan Kai duduk di samping Ciara, anak sulung Faza yang sudah siap dengan seragam batik sekolahnya.
“Duduk Kai, makan yang banyak, jangan malu!" Faza mulai menyendok lauk pauk.
“Iya, jangan sungkan!" Eka turut menimpali. Ibu rumah tangga yang juga wanita karir itu menyendok nasi tim sayur, lalu beranjak ke kamar.
Kai tersenyum malu-malu, Faza dan Kakak Ipar Meysa begitu baik padanya. Tak lagi sungkan, tangan Kai memilih telur ceplok dan perkedel untuk mengisi piring nasi gorengnya.
“Kakak tidak makan?" tanya Kai saat melihat Eka malah masuk, bukannya iku bergabung makan bersama. Padahal masih ada dua kursi kosong disana.
“Oh itu, dia mau kasih makan anaknya dulu.” Faza menjawab seakan yang akan dikasih makan bukan anaknya juga. “Paling nanti makan kalau si kecil udah siap."
Kai manggut-manggut dan mulai menyantap sarapan. Arah pandangnya mengikuti sorot mata Faza, menlihat Meysa meyendok nasi goreng tapi tidak ikut bergabung juga.
“Mau makan dimana, Mey?" tanya Faza saat Meysa malah beranjak keluar, hendak makan di teras belakang rumah.
“Mau makan di belakang.” Gadis itu menjawab cuek tanpa menoleh.
Kai merasa tidak enak, sebelum kejadian kemarin dan semalam Meysa memperlakukannya sangat baik, meski rasa kesal itu sudah ada sebelum ia datang, tapi gadis itu tetap mau menyambutnya, bahkan menemaninya makan seperti saat malam pertama Kai disana.
Selera makan Kai jadi hilang melihat Meysa berlaku demikian. Ia tidak jadi makan, hanya beberapa suap saja tadi. Selebihnya hanya mengaduk-aduk nasi saja.
Faza yang melihat tak mau menegur. Dalam hati ia meringis melihat betapa rumitnya hubungan antara Bulan dan Bintang itu. Bahkan Ciara, putrinya juga ikut memerhatikan Kai yang dilanda galau di pagi hari.
“Kakak kenapa? Dimarahi mama juga kah makanya makanannya di aduk-aduk begitu?"
__ADS_1
Menyadari itu Kai menoleh pada sosok Cia yang ada di sampingnya. Ternyata bocah 7 tahun itu memerhatikannya sedari tadi.
Faza yang duduk di hadapannya juga melirik sang anak. Dalam hati Faza berpikir jika Kai sedang dimarahi mamanya, karena Gia juga akan melakukan hal yang sama seperti Kai. Cemberut sambil mengaduk-aduk makanan karena tidak berselera. Putrinya itu menganggap jika Kai juga sama seperti dirinya kalau sedang dimarahi.
Faza menggeleng, ia berusaha menjelaskan pada Ciara.
“Panggil om!" Terlebih dulu Faza mengajarkan Cia memanggil Kai dengan sebutan yang benar. Kalau Kai jadi dengan Meysa, itu artinya Kai akan jadi om Cia juga, harus diajari sejak dini agar terbiasa.
'Seharusnya panggil kakak saja, aku belum setua itu sampai harus dipanggil om.' Kai membatin disela perasaan yang tak karuan memikirkan sikap Meysa.
“Om Kai aduk makanan bukan karena dimarahi Mamanya Cia, tapi karena om Kai sakit gigi," Faza menjelaskan sambil melirik Kai.
Membuat pemuda itu menggaruk kepala yang tidak gatal. Jawaban Faza tidak salah, bapak-bapak itu hanya sedang berusaha menjelaskan dengan mencari alasan yang tepat. Seharusnya ia memang tidak boleh menunjukkan kegalauannya disana, Kai merasa kebablasan. Tingkat kegalauannya memang sudah unlimited. Dia geleng-geleng.
Bukannya berhenti bicara, bocah dengan rasa ingin tahu yang tinggi itu kembali mengajukan pertanyaan baru, membuat papanya kewalahan.
“Berarti om Kai malas sikat gigi ya makanya giginya sakit sampai tidak bisa makan?"
“Sakiy gigi memang ndak enak!”
Kai menelan ludah kasar. Malas sikat gigi? Ah tidak, Ia tidak seperti itu. Ia adalah pemuda sehat yang sangat menjaga kesehatan mulut, tidak habis pikir dengan pemikiran bocah kelas satu SD itu.
Beruntung Eka datang tepat waktu. Ibu-ibu adalah pawang pengendali anak terbaik. Ia membuat Gia berhenti bertanya. Meski ibu-ibu seperti Eka sering dicap galak oleh anaknya, itu ada untungnya juga, karena anaknya langsung menurut dan mendengar semua perkataannya.
“Makan lagi Kai! Omongan Gia jangan ditanggapi.”
Akhirnya Kai tetap menghabiskan makanan meski moodnya menjadi tidak bagus karena Meysa. Ia harus menjaga perasaan tuan rumah.
“Sini adeknya biar saya yag gendong kak." Melihat Eka kewalahan mengambil makanan sambil menggendong bayi, Kai mencoba menawarkan diri. Dia memang suka anak-anak. Kai teringat pada Azka, ponakan satu-satunya yang berusia dua tahun lebih.
Eka tersenyum, merasa terbantu oleh penawaran Kai. Ia lalu menyerahkan Cia yang kelihata senang saat diserahkan pada Kai. Bayi gembul itu menggerakkan tangan dan kakinya dengan riang.
Sementara Faza masih cuek bebek pada istrinya, sepertinya ia masih marah karena kejadian semalam. Bapak dua anak itu lalu beranjak, mengumpulkan piring kotor milik Kai, Cia dan juga miliknya.
“Eh, biar saya kak.” Merasa tidak enak karena piring bekasnya dibereskan calon kakak ipar, membuat Kai bergegas berdiri, hendak membantu.
“Ndak apa, biar saya!" Faza tersenyum, ia beranjak menyerahkan piring dan gelas kotor pada Meysa.
Kai benar-benar merasa tidak enak, ia kembali duduk bersama bayi Gia yang ada di pangkuannya. Mendengar celotehan Ciara yang tengah mengajak adiknya ngobrol.
Faza terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Meysa, tapi sebelum itu ia menoleh ke arah meja makan. Memastikan orang yang akan jadi topik utama dalam cerita tidak akan dengar.
“Jangan lama-lama marah, cepat maafkan dia, nanti kamu menyesal! Waktu cutinya cuma seminggu." Faza berbisik pada Meysa yang sedang fokus cuci piring.
“Nanti dulua pulang!"
Meysa yang mengerti maksud, menoleh pada Kai yang sudah selesai sarapan tapi masih bermain dengan Cia sambil menggendong Gia yang dititipkan oleh Eka yang baru mulai sarapan.
Pesona Kai saat bersama anak kecil berhasil membuat dadanya bergemuruh. Ia selalu kagum setiap kali melihat interaksi Kai dengan anak kecil, apa lagi kali ini dengan ponakannya sendiri.
__ADS_1
Ingatan Meysa bertamasya pada suatu sore dimana hubungannya dengan Kai masih hangat-hangat menggebu. Kai sedang di rumah abangnya, Albi. Mereka melakukan panggilan video saat Kai tengah menjaga ponakannya, Azka. Ia kagum melihat ayangnya menjaga bayi.
'Jadi rindu Azka' Meysa berguman 'Pasti anak abangnya Kai itu sudah besar, mungkin 2 tahun lebih.' Meysa mencoba menerka.
Kenangan saat itu sangat manis. Saking gemasnya, terkadang mereka merencanakan semua yang di luar nalar dan di luar angakasa. Belum menikah tapi merencanakan semua yang akan dilakukan ketika bersama nanti bukankah hal yang wajar?
Sama halnya dengan pasangan kebanyakan, Kai dan Meysa pun pernah mengatur rencana hidup bersama sedemikian rupa. Merancang impian untuk keluarga kecil mereka, kelak.
“Nanti kalau kita punya anak, aku mau anak pertamanya cowok."
“Kalau aku maunya cewek, mauku kasih nama Bulan kalau cowok Bintang."
Mereka sama-sama terkekeh bahagia menyusun rencana masa depan.
“Tapi bagusnya anak pertama itu cowok, biar bisa jagain adeknya nanti." Kai memberi saran.
“Kan ada Azka, dia cowok.”
“Beda, diakan bukan anak kita. Maksudku tuh anak hasil dari kita membelah diri." Meysa terkekeh mendengar ucapan Kai.
Saat-saat itu memang penuh bahagia. Tapi semua berubah sekejap karena Kai. Ia makin dibuat kesal kalau mengingat itu. Mimpi Meysa untuk bersama memang masih sebesar jagat raya, tapi setitik rasa sakit yang Kai berikan telah merusak semua.
Meysa terperangah setelah ingatannya berhenti tamasya. Ia menoleh pada Faza, heran melihat perubahan sikap sang kakak. Dulu selalu melarang pacaran tapi sekarang malah mendukung keras. Sudah seperti Rena yang menjadi shipper nomor Wahid antara ia dan Erza.
“Kalau kami baikan, terus pacaran, memangnya diizinkan?"
“Diizinkan lah, orang Kai anaknya baik! Tidak menye-menye, pemberani dan sepertinya juga bertanggung jawab."
“Erza juga baik dan bertanggung jawab."
“Memangnya kamu mau sama Erza?"
Pertanyaan Faza membuat Meysa terdiam. Acara bisik-bisik disela kesibukannya mencuci piring membuat pikirannya berkelana.
Erza baik, tapi karena mulut Mamak Erza seperti bon cabe level 15, pedas nyelekit. Dia tidak suka dengan menantu pengangguran yang tidak sarjana, Meysa malas menjalin hubungan toxic. Nantinya akan percuma kalau hanya dia dan Erza yang saling cinta, bukankah hubungan pernikahan menyatukan dua keluarga, akan sangat menyiksa jika hanya mereka yang bersatu, sementara keluarga lain tidak suka dan menolaknya. Terlebih lagi yang Meysa harapkan memang bukan Erza, tapi Kai, Kai'ulani yang kedatangannya malah diabaikan itu masih pemegang tahta di kerajaan hatinya.
“Ah, sudahlah. Kakak mau berangkat kerja, selesaikan masalahmu. Kalau masih ada rasa pertahankan, jangan sampai menyesal!" peringat Faza, ia mulai berlalu.
“Kerja dulu ya, Kai. Nanti kita ngobrol lagi." Faza menurunkan Ciara dan memakaikan tas sekolah, lalu meraih Giara dari gendongan Kai.
“Siap, nanti dilanjut." Kai ikut berdiri, hendak mengantar calon kakak ipar keluar, tapi dicegah.
Kata Faza ia tak perlu mengantar, cukup bicara saja sama Meysa. Faza memberi kepercayaan untuk berbicara karena di rumah tidak hanya ada mereka, tetapi juga ada Rena. Pasti aman.
“Ngobrol saja, selesaikan apa yang belum selesai. Kakak percayakan kalian di rumah, disini ada Renaa." Faza yang sudah hampir keluar dari pintu dapur menantu Kai dan Meysa secara bergantian. Bulan dan Bintang yang berupa manusia itu sama-sama menoleh padanya.
“Kalau ada setan, berarti itu Rena. Karena yang ketiga diantara orang berduaan adalah setan!" Kai menahan tawa menyadari jokes pagi-paginya tidak disambut tawa.
Hanya Kai, calon adik iparnya itu tersenyum canggung, menampakkan jejeran giginya. Ia bingung mendengar ucapan calon kakak ipar yang seolah tahu duduk permasalahan antara dia dan Meysa. Ternyata yang Kai pikirkan hal lain. Sedangkan Faza malah berpikir jika senyum Kai adalah bentuk apresiasi pada jokesnya yang garing.
__ADS_1
“Kami pergi dulu. Assalamualaikum."
“Waalaikumsalam." Dua insan Tuhan yang masih sama-sama saling menginginkan itu menjawab serentak.