
“Itu buatku?" tanya Meysa dengan mata melotot saat Kai menanyakan apakah Ia menyukai cincin yang ada di tangan Kai itu.
“Iya bee" Kai tersenyum tulus. Namun, Meysa malah menggeleng tidak setuju.
“Nggak ya, kamu gak perlu beli begitu! Jangan boros-boros!"
Mendapat protesan dari Meysa membuat Kai menghela napas, Meysa malah mengatainya boros. Padahal Ia ingin memberikan dengan niat sebagai pengikat diantara hubungannya dengan Meysa. Kai yang serius tak ingin Meysa diganggu atau di dekati laki-laki lain. Sekarang ia tidak akan menyerah ataupun meninggalkan Meysa lagi. Kai tidak akan melakukan hal bodoh, Ia sudah punya kerjaan yang jelas dan dengan itu ia akan benar-benar memperjuangkan Meysa sampai jadi kekasih halal.
“Gak usah aneh-aneh, bee!" Meysa masih berusaha mencegah.
Kai yang malas meladeni lebih memilih mengabaikan Meysa. Ia kembali menatap cincin pilihannya.
“Istrimu agak lain ya, nak. Biasanya perempuan suka dibelikan emas, ini malah menolak."
Meysa dan Kai sama-sama menoleh pada ibu haji berwajah glowing dan makmur itu. Ternyata sedari tadi tengah memerhatikan interaksi mereka.
Kai terkekeh mendengar ibu haji mengira Meysa adalah istrinya. Dalam hati berteriak kegirangan, mengaamiinkan apa yang ibu haji glowing ucapkan agar jadi kenyataan.
‘Aamiin, semoga secepatnya ya, buk!' lirih Kai dalam hati
Sedangkan Meysa malah mengernyit dibilangi agak lain. Ia tidak terima. Memangnya saya orang gila! Protes Meysa membatin.
“Iya, buk! Istri saya ini memang agak lain!" Kai menimpali ucapan ibu haji. Membuat Meysa mencubit pinggang Kai. Laki-laki itu hanya menggeliat menghindari cubitan Kai.
“Ndak apa-apa, beli emas ndak salah. Anggap saja jadi tabungan!" Ibu haji glowing dan makmur memberi saran.
Kai manggut-manggut sambil menoleh pada Meysa. Memberikan isyarat melalui tatapan agar Meysa mendengar masukan yang diberikan.
“Ini berapa, bu?"
“Ih, bee!” Meysa masih berusaha mencegah. Tapi Kai tak menghiraukan ucapannya.
Setelah Ibu haji menyebutkan harga emas pergram seusai kadar. Kai langsung membayar secara tunai dengan nominal sejuta lebih. Membuat Meysa tak enak hati, ia sudah menolak tapi Kai tetap keras kepala dan menghiraukan ucapannya.
“Yuk, bee!" Dengan senyum mengembang Kai menarik Meysa keluar dari toko emas.
“Kenapa harus beli emas sih!" Meysa yang mulai tak bersemangat melayangkan protes.
“Gak apa bee, sekali-kali!"
Meysa tak lagi banyak bicara, Ia naik di motor dengan hati dongkol.
Tanpa arahan dari Meysa, Kai menghentikan motor di sebuah rumah makan. Dengan penuh semangat mengajak Meysa makan. Meski begitu, sang Bulannya malah lebih banyak diam.
Begitu selesai, Kai beranjak membayar. Lalu kembali duduk di hadapan Meysa yang masih menampakkan wajah tak bersemangat.
Bukannya tak menyadari, tapi Kai lebih memilih mengabaukan karena tak ingin makin merusak suasana hati Meysa. Ia lebih memilih untuk menayakan begitu selesai makan.
“Kenapa bee?" tanya Kai, Ia duduk di kursi, menyandarkan punggung disana. Mambuat Meysa memutar mata malas.
“Ck, kamu kenapa harus boros-boros, sih?" Meysa menghela napas kasar.
“Hari ini kamu yang bayarin semua belanjaanku, padahalkan aku bisa bayar sendiri.”
Meysa terus saja mengeluh tak suka, karena Kai menolak setiap kali Meysa ingin membayar semua belanjaannya. Mulai dari menolak uang karcis, minuman, jajanan dan sekarang Kai juga yang mebayarkan makanan mereka. Meysa yang tak enak hati merasa terbebani, Ia tahu betapa sulitnya cari uang. Apalagi Kai datang jauh-jauh hanya untuk menemuinya saja sudah memakan biaya yang banyak. Meysa tak ingin menyusahkan.
“Harusnya gak lakuin itu, aku bisa bayar sendiri. Besok kamu harus pulang, gak boleh boros!"
Kai menautkan alis mendengar protes yang Meysa layangkan. Ia menghela napas. ”Gak apa, sekali-kali. Anggap lagi latihan nafkahin istri." Kai mengedipkan mata dengan menampakkan senyum.
“Kamu udah kek sama siapa aja, bee! Sans lah, bee!"
“Jangan banyak protes ya!" Kai mengusap tangan Meysa yang ada di atas meja. Berusaha menenangkan.
Lalu tangannya tergerak merogoh saku, mengeluarkan cincin yang dibelinya tadi. Kai menarik tangan kanan Meysa, lalu menyematkan cincin emas tersebut di jari manisnya.
“Aku mengikatmu, bee!"
“Dengan tersematnya cincin ini di jarimu, menandakan kalau aku emang seserius itu samamu, bee!” Kai menatap Meysa dengan serius.
Sementara Meysa hanya bisa terpaku, matanya mulai berkaca-kaca melihat apa yang Kai lakukan. Ia terharu.
__ADS_1
”Aku ingin selalu bersama hingga menua bersamamu, bee!”
“Aku ingin melewati semua samamu, bee!"
“Melengkapi keindahan langit senja, melengkapi bias sang pelangi, hingga melengkapi indahnya kilauan mentari di pagi hari. Aku ingin saling melengkapi bersamamu!"
Meysa mengangguk haru mendengar ucapan Kai.
“Aku juga berharap seperti itu, bee. Inginku juga gitu!"
Kai tersenyum senang mendengar jawaban Meysa. “Kamu maukan tunggu aku, bee?"
“Tunggu aku buat bisa ngehalalinmu!"
Meysa mengangguk yakin, secara tak resmi Kai telah melamarnya. Hati Meysa terasa berbunga-bunga. Tentu ia akan bersedia menjaga cinta dan menunggu hingga Kai datang untuk melamarnya nanti.
“Aku akan menunggumu, bee!"
Tangan Kai terangkat mengelus kepala Meysa, ia begitu menyayangi gadis itu. Lamaran secara tidak langsung itu dilakukan di rumah makan yang tidak terlalu ramai, sederhana dan tidak mewah. Meski begitu keduanya tetap merasa sangat bahagia, tak perduli dimana dan seperti apa, selagi bersama, Kai dan Meysa akan tetap merasa bahagia.
“Makanya jangan nolak lagi, ya sayang, aku begini juga buat ngeyakinin kamu kalau aku memang benar-benar serius."
Meysa manggut-manggut mendengar ucapan Kai. Netranya tak mau berpaling dari orang asing favoritnya itu. Meysa benar-benar jatuh cinta dengan wajah teduh dan lemah lembut itu. Apa yang Kai lakukan dan ucapkan seakan mampu membuatnya terpikat. Ia pun ingin selalu bersama dengan laki-laki di hadapannya ini.
Sementara Kai langsung meraih ponselnya saat mendengar beberapa notifikasi pesan. Kai langsung mengeceknya.
“Anjir, mereka touring beneran!"
Meysa yang tengah memuja Kai dalam hati langsung mencebik tak suka mendengar hal yang Kai ucapkan. 'Baru juga dipuji, malah kumat lagi!'
Kai memang agak kadang-kadang. Baru membuka ponsel, kata-kata mutiara langsung terurai dari mulutnya. Membuat Meysa bisa menebak jika Kai tengah membaca pesan dari duo kamvret.
“Mulutnya gak ramah, bintang satu!" sarkas Meysa dengan bibir mencebik. Ia tak lagi memerhatikan dan mengangumi Kai dalam diam, gadis itu lebih memilih meraih ponselnya.
Kai yang mendengar ucapan Meysa hanya menoleh sekilas lalu berceletuk.
“Siapa bilang gak ramah, mau coba?”
“Bercanda, bee!" Kai tersenyum saat melihat Meysa menampakkan wajah datar.
“Jangan marah ya, bee bee!" bujuk Kai dengan mata mengerling dan masih fokus pada ponselnya. Ia sedang berbalas pesan dengan Ojik dan Satria.
“Ini loh, bee. Si Satria sama Ojik touring beneran!" Kai memperlihatkan gambar yang dikirim duo kamvret itu pada Meysa.
“Sengaja mereka kirim-kirim foto ginian biar aku iri!" Kai mencebik menatap foto yang dikirim sahabatnya.
“Jadi ceritanya kamu nyesal datang kesini?"
Mendengar ucapan Meysa membuat Kai menoleh dengan wajah heran. Ia lalu meletakkan ponselnya dan fokus menatap Meysa.
“Ih, bee. Apa pulak lah menyesalnya! Gak ada aku menyesal, bee!"
“Ya karena kesini kamu gak bisa ikut touring!" seloroh Meysa.
“Gak ya, bee!” sahut Kai menegaskan, Ia tak ingin Meysa salah paham.
Meysa hanya memutar mata malas. Dalam hati tersenyum, melihat Kai yang seperti itu.
Begitu selesai makan dua orang itu melanjutkan perjalanan. Benar-benar menghabiskan hari untuk berjalan-jalan. Karena hari sudah sore, Meysa dan Kai memutuskan untuk pergi ke pantai. Ada banyak orang yang datang ke pantai. Akhirnya keduanya memilih tempat yang cukup sunyi, hanya sedikit orang.
Meysa dan Kai berjalan di tepi pantai sambil menikmati suasan sore. Angin yang berhembus begitu menyejukkan.
Kai tersenyum melihat Meysa yang begitu antusias berlarian di deraian ombak yang menggempur, berlari kesana kemari seperti ayam yang baru lepas dari kandang.
“Bee, foto yuk. Matahari terbenamnya cantik!" Panggil Meysa pada Kai yang berdiri dari kejauhan tengah menyaksikannya tingkahnya.
“Bee, sini!" Meysa melambaikan tangan agar Kai mendekat.
Kai mengulas senyum, pria berkaos hitam dengan jaket levis itu menurunkan tangannya yang terlipat di dada lalu melangkah ke arah Meysa yang berdiri membiarkan ombak pantai membasahi.
“Bahagia banget, kek ayam yang baru lepas dari kandang!" ujar Kai saat sudah berada di depan Meysa.
__ADS_1
“Aku suka pantai tapi sudah lama gak ke pantai."
Kai hanya tersenyum, Ia senang melihat keceriaan Meysa. Bagi Kai, bahagia Meysa adalah bahagianya. Kai sadar meminta Meysa menunggu sama saja berlaku egois. Tapi, kali ini ia tak ingin mengatakan kata-kata bodoh dengan membiarkan Meysa memilih orang lain. Ia ingin Meysa menunggu sampai saatnya tiba nanti. Kai tidak perduli jika ia harus egois dengan meminta Meysa menunggu.
“Bee, mau dengar sesuatu gak?"
Meysa yang tengah sibuk memotret kaki yang diterpa ombak, juga memotret jari yang tersemat cincin dengan latar pantai dan matahari terbenam langsung menoleh pada Kai.
“Apa?" tanyanya penasaran. Ia menaruh ponsel ke dalam tas.
“Bentar!"
Meysa menunggu dengan terus menatap Kai. Laki-laki itu meraih ponselnya, lalu membuka sebuah file lama dipenyimpanan. Ia mulai membaca teks yang tertera disana.
“Pelangi yang indah tercipta dari susunan warna yang tersusun sedemikian rupa, lengkungan warnanya membentang sepanjang garis cakrawala. Warnanya memang begitu indah, namun sebelum sampai melihat setitik keindahan itu, haruslah melewati pekatnya awan atau bahkan juga badai. Layaknya mendapat pelangi yang indah, Aku menemukanmu dalam pekatnya malam, aku menemukanmu bersinar tanpa tuan. Aku bersyukur menemukanmu dalam pekatnya malam, senyummu membuat keindahan pelangi tak berkutik apa-apa, keindahan setiap lekuk di sudut bibirmu membuat hidup ini jadi lebih berwarna...”
Kai menoleh pada Meysa yang tersenyum menatapnya.
“Makasih ya, Kamu. I love you.” Kai mengelus kepala Meysa dengan penuh sayang.
Kata-kata yang Kai ucapkan membuat rasa haru kian menyeruak di relung hati Meysa. Entah sudah yang keberapa kali Kai membuatnya terharu hari ini.
“I love you more!" lirih Meysa dengan mata berkaca-kaca. Ia ingat betul, sajak yang Kai bacakan itu adalah sajak beberapa tahun lalu, yang Kai kirim saat mereka pertama kali kenal dan menjalin hubungan.
Perasaan spesial yang Meysa rasakan saat itu sama sekali belum berubah hingga kini. Dulu Ia dibuat tersentuh oleh sajak yang Kai kirimkan dan kini semua telah berubah, Ia bahkan bisa mendengar secara langsung sajak itu diutarakan oleh si penciptanya.
“Kamu ingat?" Meysa mengusap ujung matanya yang menitihkan bulir bening.
“Ingatlah bee, apa pulak gak ingat. Kan aku yang bikin!"
“Aku pikir kamu udah lupa!" ujar Meysa yang berpikir jika Kai sudah melupakan semua sajak itu, ternyata Ia dan Kai sama saja, masih menyimpan sajak tersebut dengan rapi.
“Makasih ya, bee!" seru Meysa dengan penuh haru. Ia benar-benar tak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini. Apa yang direncanakan dulu dikabulkan satu-persatu.
“Kamu bener-bener serius sama aku?" tanya Meysa, netranya beralih melihat cincin emas yang tersemat di jari.
“Kamu yakin mau hidup denganku?"
“Yakinlah bee, apa pulak nggak yakin!” sergah Kai menanggapi pertanyaan Meysa.
“Apa yang kulakukan belum juga membuatmu yakin?" tanya Kai dengan tatapan memicing. Membuat Meysa menggeleng, tanda jika ia tak meragukan semua yang telah Kai lakukan.
“Terus kenapa?"
“Hidupku rumit! Keluargaku gak utuh, Aku gak berpendidikan tinggi, kerjaku juga nggak jelas. Aku takut kamu menyesal sudah memilihku."
Bukan tanpa alasan Meysa mengatakan itu. Semua yang ia katakan itu merupakan sesuatu yang kadang membuatnya insecure. Apalagi Bu Asmi, Mamanya Erza tak mengizinkan anaknya dengan Meysa karena semua alasan tersebut. Hal itu membuat Meysa ragu. Takut Keluarga Kai pun akan menolaknya dengan alasan yang sama.
Kai merespon ucapan Meysa dengan gelengan. “Aku gak perduli itu, bee! Aku gak masalah dengan hidupmu yang rumit, yang aku tahu aku mencintaimu dan aku siap menerima semuanya."
“Kebahagiaanku adalah bersamamu, lalu dengan alasan apa aku harus ragu?”
“Aku takut Keluargamu gak setuju dengan hubungan kita, apalagi aku orang jauh!" Meysa masih dengan segala ketakutan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya terus mengungkapkan hal yang membuatnya takut.
“Gak ada gitu bee, keluargaku nerima apa yang kupilih, karena sudah pasti itu yang terbaik untukku."
“Tapi aku gak sesempurna itu buat jadi yang terbaik!"
“Bee!" sentak Kai tak suka.
“Keluargaku gak pernah milih-milih, bee. Gak ada spek tertentu buat harus jadi calon istriku. Kamu gak perlu khawatir, mereka pasti nerima kamu!"
“Jangan bahas ginian lagi ya bee, aku sayang sama kamu." Melihat Meysa yang menunduk sedih, membuat Kai merasa bersalah. Ia lalu menarik Meysa ke dalam dekapannya.
Kai sama sekali tak bermaksud meninggikan suara, hanya saja ia tak suka Meysa berkata seperti tadi.
Meysa balas memeluk Kai dengan tak kalah eratnya. Ini yang pertama kalinya dua orang itu saling berpelukan.
“Terima kasih untuk semuanya, bee. Terima kasih sudah mau jadi bagian dari kisahku." lirih Meysa. Rasanya nyaman sekali berada diperlukan orang tersayang seperti ini. Ia makin tak sanggup memikirkan besok mereka sudah harus kembali berpisah.
“Terima kasih juga karena kamu sudah mau menerimaku kembali, bee. Makasih karena selama kita lost contact kamu tetap menjaga hati!”
__ADS_1