
Seperginya dari toko, Meysa sama sekali tak pulang ke rumah . Ia lebih memilih pergi menuju taman kota. Gadis itu duduk merenung di sebuah gazebo. Tidak enak badan merupakan alasan yang ia gunakan hanya untuk menghindari Kai.
Kini waktu sudah menunjukkan sore hari, tapi ia masih enggan pulang. Ponselnya pun sengaja dinonaktifkan agar tidak ada yang menelepon menanyakan keberadaannya. Karena hari sudah hampir gelap dengan cahaya kemerahan matahari yang sudah hampir tergelincir sempurna, Meysa kembali memacu motor pergi dari sana. Masih dengan misi menghindari Kai, ia tak mau pulang ke rumah.
Gadis itu kembali menghentikan motor di sebuah taman kecil dekat jalan masuk ke komplek perumahan tempat tinggalnya. Sudah seperti musafir yang berkelana, tak jelas arah dan tujuan. Meysa memerhatikan orang yang berlalu lalang dan para pedagang bermotor yang sedang menjajakkan dagangan di pinggir jalan.
“Disaat orang lain sibuk menata masa depan, aku sendiri tidak ada habisnya menggalau!" seloroh Meysa saat melihat beberapa story dari teman-teman sosial medianya. Ia tak mampu lagi untuk tak mengaktifkan hp, meski begitu ia tak berniat membuka WA.
“Mey!”
Saat tengah asyik menscroll Instagram, Meysa dibuat menoleh pada suara yang sangat dikenalnya. Sosok Erza dengan pakaian santai melangkah ke arahnya.
“Kenapa kau bisa tahu aku disini, Za?" tanya Meysa yang merasa acara pelariannya diketahui oleh Erza.
Laki-laki yang masih gencar mendekatinya itu pun duduk di samping Meysa, wajahnya tersenyum tulus.
“Tadi dari antar mamaku ke PGM, lihat kamu disini makanya saya langsung kesini!"
Meysa kembali menatap ke depan setelah mendengar penjelasan Erza.
“Memangnya sudah shalat Maghrib kau, Za?'
Erza mengangguk. “Kamu sendiri sudah shalat?” ucap Erza yang balik bertanya, membuat Meysa hanya terkekeh sambil menggaruk kepala.
Dalam hati Meysa berguman tak seharusnya menanyakan hal yang bisa menjadi boomerang untuk dirinya. Ya, tahu sendiri, bagaimana mau shalat kalau ia sendiri berada disana dari sebelum maghrib.
“Belum shalat?" Erza berusaha memastikan. Yang mana saat melihat Meysa mengangguk, lelaki itu langsung melayangkan sentilan di kening Meysa dengan wajah galak yang dibuat-buat.
“Tanya-tanya orang sudah shalat atau belum baru dia sendiri saja belum shalat,” protes Erza dan Meysa hanya terkekeh sambil berusaha menghindari tangan Erza yang masih terus menyentil keningnya.
“Katanya tidak mau jadi donatur dosa untuk bapak, tapi kewajiban nomor satu malah diabaikan."
“Ih Za, bagaimana mau shalat, disini tidak ada mukenah!"
“Kan kau bisa pulang Meysaroh!" pungkas Erza yang semakin dibuat gemas oleh jawaban gadis yang sampai sekarang masih jadi tambatan hatinya itu.
Senyuman yang terlukis di wajah Erza benar-benar menenangkan. Jujur Meysa tak menampik jika Erza memiliki paras di atas rata-rata, tapi itu sama sekali tak berhasil meluluhkan hatinya. Hati dan pikirannya sudah dikuasai sepenuhnya oleh sang Bintang, hingga sulit baginya membuka hati untuk siapapun, padahal banyak laki-laki yang sudah menyatakan cinta padanya.
“Kenapa maghrib-maghrib kau nongkrong sendirian disini, Rena dan temanmu yang lain dimana?"
__ADS_1
“Di rumah!"
Erza memicing mendengar jawaban Meysa. “Kamu ada masalah ya makanya nongkrong maghrib-maghrib disini?" tanyanya penuh selidik.
“Atau jangan-jangan dari toko kamu belum sempat pulang ke rumah?"
Meysa memutar mata malas, meski ia dan Erza tak memiliki hubungan spesial dan ia hanya menganggap pemuda itu tak lebih dari seorang teman, tapi Meysa jelas tahu kalau Erza cukup tahu banyak hal tentang kesehariannya selama disini. Hal yang Meysa sukai dari Erza adalah laki-laki itu selalu menghargainya dan masih mau berteman meski sering digantung dan ditolak. Sikap dewasa dan positif Erza itulah yang membuat Meysa maupun Rena senang berteman dengan pemuda tersebut.
“Ada masalah apa Mey?"
“Ndak ada masalah, Zainudin, cuma mau menghirup udara segar disini!' celetuk Meysa berbohong. Sebutannya itu membuat Erza tertawa sambil mengusap kepalanya.
“Tunggu sebentar ya Hayati, Zainuddin mau beli somay dulu!" Erza berdiri masih dengan tawa tertahan.
“Saya somay tahu Zainuddin, pakai sambal kacang yang pedas!" Seloroh Meysa yang kebetulan dari tadi memang lapar. Hanya saja ia merasa berat membawa langka menuju penjual somay.
Setelah melalui beberapa antrian, Erza kembali sambil membawa dua bungkus somay sesuai request Meysa beserta dua minuman. Saat tengah menikmati santapan bersama, ingatan Erza langsung tertuju pada sosok asing yang bernama Kai.
“Ohiya Mey, saya mau bertanya."
Meysa yang tengah asyik mengunyah pun menatap Erza sembari menunggu apa yang ingin laki-laki itu katakan.
“Laki-laki yang kemarin datang ke toko itu siapamu?”
“Teman OSNmu waktu SMA ya, Mey?"
Kening Meysa mengkerut mendengar pertanyaan Erza. Ia sama sekali tak pernah menceritakan hal ini pada lelaki tersebut, tapi ia langsung bisa menebak siapa yang memberitahu hal itu pada Erza.
“Apa dia benar-benar alasan yang bikin kamu tak mau menerimaku? Apa karena kamu memang menunggunya selama ini?”
Berulang kali Meysa berusaha menelan ludah. Rasa bersalah tiba-tiba menyerang. Ingin sekali ia membenarkan apa yang Erza katakan barusan tapi di sisi lain orang yang Erza maksud itu pula yang sudah membuatnya terluka.
“Mey!"
Melihat tatapan Erza yang seakan memohon jawaban membuat Meysa akhirnya menceritakan siapa Kai sebenarnya, bagaimana mereka bisa kenal dan seperti apa hubungan yang ia jalani, semua Meysa ceritakan tanpa terlewatkan sedikitpun.
“Kami kenal melalui bot chat random di Tele!" ucap Meysa apa adanya.
“Tiap hari saling bertukar cerita membuat rasa diantara kami perlahan tumbuh, sampai akhirnya berkomitmen untuk berjuang sama-sama sampai nanti bisa ketemu.”
__ADS_1
“Tapi di tengah jalan, kami lost contact.” Meysa menoleh menatap Erza yang terlihat menahan rasa sakit. Membuatnya seketika merasa jadi orang yang paling jahat, menceritakan kisah cintanya dengan orang lain pada orang yang sedang mencintainya. Meysa tak ingin meneruskan, tapi Erza memaksa agar ia menceritakan semua dengan jelas.
“Lanjutkan Mey, tidak apa-apa!" pintanya. Ibarat kata, Erza seolah tengah menggali kuburannya sendiri.
Meski merasa tak mampu, tapi Meysa tetap mengatakan semua, ia seolah tengah mengeluarkan seluruh isi hati yang dipendamnya selama ini. “Entah apa yang membuatnya berubah sampai tega mengabaikanku. Sikapnya bikin hariku terasa semakin hancur, Za! Dia membuatku menaruh harapan tapi dia juga yang mematahkan harapan itu!” Setetes bulir bening menetes dari mata Meysa.
Ini pertama kalinya ia menumpahkan isi hati dengan menggebu setelah dulu ia melakukannya di hadapan Rena ketika sang Bintang benar-benar tega mengabaikannya tanpa kabar.
“Dan bodohnya, saya masih setia menunggunya setiap hari, berharap dia akan kembali mengabariku dan bisa melanjutkan semua rencana kami sampai akhir!” Seperti petasan yang meledak, Meysa benar-benar mengeluarkan seluruh isi hatinya di depan Erza.
“Bahkan sampai detik ini saya masih punya mimpi untuk bisa bersama !" Meysa menoleh pada Erza “ Saya ini memang bodoh ya, Za! Mengabaikan orang sepertimu hanya demi dia yang sudah menggoreskan luka disini!" Meysa menunjuk dadanya.
Erza memang sangat terluka mendengar kenyataan yang keluar dari mulut Meysa. Meski begitu ia sama sekali tak menaruh dendam pada gadis itu, bahkan perasaannya justru makin bertambah dan terbesit keinginan untuk tetap memperjuangkan Meysa.
“Yang kuat, Mey!" Erza mengarahkan tangannya mengusap kepala Meysa. Membuat gadis itu selalu merasa dihargai dan disayangi tiap kali diperlakukan seperti ini oleh Erza.
“Jadi sekarang kamu mau bagaimana?”
Meysa menjawab pertanyaan Erza dengan gelengan, ia benar-benar bingung harus bertidak seperti apa.
“Jangan bilang yang membuat kau ada disini karena ingin menghindari laki-laki itu?" Melihat Meysa yang justru menunduk sambil mengusap air mata yang hampir menetes, membuat Erza menarik napas dalam-dalam.
“Selesaikanlah Mey, temui dia dan bicara baik-baik. Saya yakin kedatangannya kesini pasti untuk membahas hal itu!" bujuk Erza. Meski hatinya rapuh dan menyimpan kecemasan tapi ia tetap berusaha memberikan saran yang terbaik agar Meysa tak terjebak dalam masalah ini, sehingga gadis itu bisa membuka lembaran baru agar hidupnya menjadi lebih tenang.
Meysa menggeleng, sungguh ia belum punya kekuatan untuk itu.
“Pernah dengar kata-kata ini tidak?” tanya Erza, “Lari dari apa yang membuatmu terluka akan semakin menyakitimu, tapi terlukalah sampai sembuh!”
Ucapan Erza cukup bisa membuat Meysa termotivasi, sikap dewasa laki-laki ini selalu berhasil membuat siapa saja yang ada di dekatnya merasa lebih tenang. Tapi sangat disayangkan, hati Meysa bukanlah untuk laki-laki di sampingnya itu.
“Itu kata-kata Jalaluddin Rumi, 'kan?" tanya Meysa dengan senyum tertahan sambil menyebutkan salah satu penyair legendaris muslim pada masanya. Yang mana membuat Erza tertawa kecil.
“Hmmnnt, gagal keren!" Akhirnya keduanya bisa tertawa bersama.
“Mey!"
“Hmmmnt!" Meysa menoleh pada Erza.
“Pulanglah, temui cowok itu! Siapa namanya?"
__ADS_1
“Kai!"
“Ya, temui dia. Selesaikan apa yang belum selesai waktu itu! Aku harap kau bisa menentukan pilihan terbaik!”