
Sejak memutuskan ke rumah Faza untuk menyusul Meysa tapi tak mendapati gadis itu disana, membuat Kai terus memikirkan dimana keberadaan gadis tersebut. Yang bisa ia lakukan hanya duduk menunggu di teras kost hingga siang hari tiba dan Rena yang baru pulang heran melihat Kai yang duduk dengan wajah yang kelihatan cemas.
“Kenapa duduk disini? Meysa mana?" Begitu Rena bertanya ketika baru sampai di rumah.
“Gak tau kemana, tadi dia izin pulang dari toko karena katanya tidak enak badan. Tapi pas di susul orangnya gak ada.”
“Tidak enak badan?"
Anggukan Kai membuat Rena terdiam, di pikirannya langsung terlintas semua tindakan Meysa hari ini yang memutuskan pergi ke toko saat masih pagi buta, di tambah obrolan mereka semalam dan Meysa yang katanya izin pulang karena tidak enak badan tapi sama sekali tidak ada di rumah membuat Rena menyimpulkan jika itu semua Meysa lakukan hanya untuk menghindari Kai. Membuat Rena akhirnya memutuskan untuk mencari sahabatnya itu.
“Kamu tunggu sebentar ya, saya mau coba cari Meysa dulu!" Rena lalu meninggalkan Kai sendiri, gadis itu pergi ke toko untuk memastikan apakah Meysa kembali kesana. Tapi, sampai saat ini Rena malah belum kembali, padahal langit sudah berubah menjadi gelap.
Sorot lampu mobil membuat mata laki-laki yang baru selesai melaksanakan shalat maghrib dan kembali duduk di teras kos itu menyipit karena silau.
Faza beserta keluarga kecilnya turun dari mobil. Mereka menghentikan langkah dan beralih menyapa Kai.
“Kenapa duduk di luar Kai?”
“Meysa dan Rena kemana?" Eka turut memberi pertanyaan. Membuat Kai beranjak dari duduknya. Lelaki yang masih mengenakan sarung shalat itu mendekat ke arah kakak Meysa.
“Ini lagi cari udara segar sambil tunggu Meysa dan Rena balik kak,” ucap Kai menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin menimbulkan masalah baru untuk Meysa.
“Memangnya mereka pergi kemana?" Eka masih bertanya penasaran.
“Ke toko kak,” jawab Kai apa adanya.
Eka dan Faza lalu mengangguk mengerti.
“Ya sudah ayo masuk ke dalam, kita makan sama-sama!" ajak Faza. Namun Kai menolak untuk masuk.
__ADS_1
“Iya, mumpung masih hangat.” Eka menimpal dengan menunjukkan kresek berisi makanan yang ia beli di luar.
“Terimakasih kak, tapi nanti saja saya menyusul kalau Meysa sudah datang.” Kai tersenyum canggung saat melihat Faza dan Eka saling tatap sambil menahan senyum.
“Sambil mau hirup udara segar sebentar.” Lanjut Kai masih dengan senyum canggung.
“Ya sudah, tapi nanti kamu langsung masuk saja."
Setelah itu, Eka yang menggendong bayi Gia masuk disusul dengan Faza yang menggandeng putri sulungnya, Cia. Meninggalkan Kai yang kembali duduk sambil menunggu. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan, kalau ia punya nomor telepon Meysa, mungkin sudah dihubunginya sedari tadi.
Selang beberapa menit, sebuah motor yang Kai kenal masuk ke halaman rumah. Kedatangan Rena tanpa Meysa membuat Kai berdiri dengan kening heran.
“Meysa mana?" sergah Kai yang langsung menyambut Rena dengan pertanyaan.
Tapi gadis itu malah menampakkan wajah tidak enak karena sudah membuat Kai menunggu. Pamit saat siang hari dan baru kembali sekarang, bahkan tanpa Meysa.
Kai menggeleng datar. “Sans!” ucapnya yang tak mempermasalahkan hal itu. “Terus Meysa dimana?"
“Dia tidak ada di toko!"
“Hah, jadi dia dimana?" sergah Kai panik dan turut merasa bersalah. Tanpa dikasih tahu, ia bisa mengerti jika Meysa memang sedang menghindarinya. Hal ini pasti disebabkan oleh kehadirannya sehingga sang Bulan harus menghindarinya dengan cara seperti ini.
“Tenang dulu!" Rena berusaha menenangkan. Tak menemukan Meysa di toko sebenarnya membuatnya panik juga, tapi ia tak bisa menceritakan hal apapun pada orang-orang disana, karena memang tak ada yang tahu soal hubungan Meysa dengan Kai. Jika ia mengatakan Meysa tak ada di rumah sejak pergi dari sana, sudah dipastikan semua akan langsung mencecarnya.
“Tadi pas mau pulang, saya lihat dia sedang di taman dengan Erza.” Saat otak Rena sudah buntu memikirkan dimana Meysa berada di sepanjang perjalanan, bahkan pesan dan teleponnya sama sekali tak diangkat, membuat Rena kesal sendiri. Tapi ketika melewati taman kecil di depan kompleks, ia langsung mengumpat kesal ketika melihat yang dicari malah ada disana bersama Erza, kelihatan sedang mengobrol seru.
Kening Kai mengkerut mendengar nama laki-laki itu. “Erza?"
“Iya, Erza!"
__ADS_1
“Laki-laki yang pakai seragam khaki waktu di toko sore itu, 'kan?” tanya Kai memastikan ketika berusa mengingat sosok Erza.
Entah mengapa anggukan Rena membuat dada Kai bergemuruh. Meski dulu ia pernah mengatakan bahwa Meysa boleh memilih laki-laki manapun jika itu yang terbaik untung sang Bulan, ia akan berusaha menerima. Namun semua hanya kata. Ucapan tak semudah melakukan. Kini hatinya justru berdesir perih saat mengingat bagaimana ia menahan sesak mengetahui hal ini, sama seperti ketika ia melihat interaksi Meysa dengan Erza saat kedatangannya sore itu.
Mengetahui fakta bagaimana Meysa menutup hati sudah membuatnya sangat bersyukur, tak sia-sia ia menjaga Meysa melalui do'a. Tapi perasaannya benar-benar tak bisa dibohongi, ada sedikit kekesalan mengetahui Meysa sedang bersama dengan laki-laki lain. Meski begitu Kai tetap berusaha sadar diri jika ia tak punya hak untuk marah, bahkan ia sama sekali belum meminta maaf kepada Meysa. Rasanya Kai ingin secepatnya mengutarakan maksud dan tujuannya kemari agar semuanya bisa selesai.
“Di taman depan kompleks itu, ya?" tanya Kai memastikan.
“Iya!"
“Saya boleh pinjam motor kakak lagi?" Kai meminta izin dengan sopan.
“Pakai saja.”
“Kuncinya mana?"
“Ada di motor," tunjuk Rena. Membuat Kai langsung buru-buru naik ke motor. Namun, Rena yang melihat penampilan Kai, langsung mencegahnya.
“Kamu mau pergi begini?"
Kai menoleh saat hendak memutar motor, melihat arah pandang Reba, ia langsung menatap sarung yang dikenakan. Kai menggeleng sambil Hela napas. Bagaimana bisa ia tidak menyadari penampilan?
“Sebaiknya gantilah, masa pake sarung!" protes Rena. Padahal sebenarnya terserah Kai saja.
“Kamu harus menyelesaikan apa yang terjadi diantara kalian tapi jangan pakai sarung, nanti jatuh!"
Ucapan Rena memang benar, Kai lalu masuk. Ia keluar kembali dengan mengenakan celana cargo selutut, dipadukan dengan hoodie hitam yang tadi siang ia kenakan.
Sedangkan Rena terus menatap kepergian Kai, dalam hati ia berharap apa yang belum selesai diantara dua insan itu bisa diselesaikan malam ini juga. Rena tak ingin Meysa terus-terusan terjebak dalam kenangan cinta virtualnya itu. Besar harapan Rena agar Meysa bisa memutuskan yang terbaik sebagaimana perkataannya semalam.
__ADS_1