
“Ren, Rena!”
“Rentenir!!!”
“Eh, iya Mey, hehe!" Sambil menggendong tas di punggung dan beberapa benda yang ia bungkus kain di dekapannya Rena lari tergopoh-gopoh dari teras bangunan kos berbentuk persegi panjang itu ke arah Meysa yang tengah berdiri di teras rumah.
Pipi gadis berpakaian kaos oblong kekinian dengan lengan seperempat berwarna hijau mint itu nampak agak caby, tak seperti biasanya yang kelihatan tirus, sepertinya tubuhnya mulai kembali berisi setelah beberapa bulan belakangan mengalami penurunan berat badan drastis. Lirikan tajam ia berikan saat orang yang dipanggil dari tadi baru keluar setelah beberapa kali diteriaki. Mengesalkan!
“Bikin apa kau, Ren? Ck, lama sekali." Meysa berdecak kesal.
“Bertapa kau di kamarmu?" sambungnya mencecar Rena.
“Issh, bertapa matamu! Saya baru sudah cermahi bintangmu itu he!”
Ucapan Rena membuat Meysa menyerngitkan kening. “Bintangku-bintangku, dia bukan bintangku!"
“Helleh, sok-sokan lagi!"
“Siapa yang ndak tahu, kamu kan sudah jadi queen of galau everytime and everyday gara-gara dighosting dia!" ucapan Rena membuat Meysa geram, dengan mata melotot tangannya terangkat menutup mulut sahabatnya yang bermulut pedas itu.
“Memangnya kamu ceramahai apa anak orang?” Meysa memutar mata malas dan kembali mencecar Rena. “Jangan kamu ceramahai anaknya orang, Ren! Kasihan!"
“Masih saja dibela, huu!” Celetuk Rena lagi. “Lagi pula tadi diriku kan cuma bilang ...”
Belum sempat Rena melanjutkan ucapannya, Meysa kembali membekap mulut sahabatnya itu. “Diam! Akupun ndak mau dengar!" Ia kemudian berlalu masuk, membuat Rena mencebikkan bibir dan segera menyusul Meysa.
“Serius? Kau ndak mau dengar betulan?” tanya Rena penasaran melihat Meysa nampak biasa-biasa saja. Padahal sebelumnya moodnya selalu terjun bebas setiap kali membahas hal tentang Bintang. Lalu kenapa saat orangnya sudah ada, ia malah terlihat biasa saja.
“Tidak!"
“Lebih baik kau jaga rumah dulu, saya mau beli makanan untuk dia!"
“Ciee, perhatian!” Goda Rena yang terus membuntuti Meysa dari belakang.
Meysa masuk hanya untuk melepas handuk di kepalanya. Gadis itu meraih karet gelang lalu mencepol asal rambutnya. Setelah itu langsung meraih kunci motor yang tergantung di bawah bingkai foto.
“Bacot, Ren! Badiam!" teriak Meysa dari teras.
Rena cekikikan, ia tahu Meysa masih sangat sensitif jika menyangkut soal Bintang yang bernama Kai itu. Hanya saja Meysa tengah berusaha menyembunyikan kerapuhannya selama ini.
“Woy, Mey, kau tidak pakai jilbab?” tegur Rena dari ruang tamu saat menyadari Meysa hanya mengenakan leging hitam sebetis degan baju kaos tanpa penutup kepala. Ya, sudah biasa. Meysa yang agak-agak itu memang selalu seperti itu. Berbeda dengan dirinya yang tidak pernah buka tutup aurat meski tak terlalu alim.
“Katanya tidak mau jadi donatur dosa untuk bapakmu, kenapa tidak pakai hijab kamu ini, Meysaroh!" Rena masih berteriak, tapi Meysa sama sekali tak menghiraukan dan memilih membuka gerbang lalu kembali naik ke motor.
__ADS_1
“Iya Ren, besoklah diriku akan taubat lagi!" ucapnya acuh tanpa beban. Benar-benar donatur dosa untuk ayahnya. Membuat Rena yang mendengar itu hanya menampakkan wajah kesal dan langsung masuk ke kamar.
Meysa menyalakan mesin motor dan bersiap menarik tuas gas, tapi suara seseorang dari depan kos membuatnya menoleh.
“Mau kemana, Meysa?"
Sosok Kai yang tengah melangkah ke arahnya. Masih dengan pakaian yang ia kenakan saat datang sore tadi, hanya saja tidak ada lagi kemeja flanel yang melekat, menyisakan kaos hitam dipadukan dengan celana jeans.
“Mau beli makan buat tamu!"
Kai tersenyum simpul mendengar jawaban Meysa. “ Makasih ya udah mau direpotkan.”
“Bukan cuma buat kamu, orang aku juga lapar. ” ketus Meysa, ia hanya menoleh sekilas dan kembali buang muka. Memandang motornya sambil mengetukkan jari disana.
“Tapikan aku tamunya, bul!"
Kai langsung menutup mulut sambil menahan senyum saat Meysa menoleh dengan membulatkan mata. “Maksudnya, Mey." Ia membenarkan ucapannya pada Meysa yang kembali buang muka.
“Eh, Mey!”
Meysa yang akan melajukan motor harus batal lagi ketika lagi-lagi Kai memanggilnya. Membuat ia kembali menoleh.
“Aku boleh ikut?” tanya Kai penuh harap.
Jawaban Meysa membuatnya menghela napas.
“Kamu pasti capek, jadi diam saja disini!” Meysa memutuskan dan mulai menarik tuas gas tapi gagal lagi saat Kai masih memanggilnya.
“Mey!"
“Ck, apa lagi?" ketusnya yang sudah benar-benar kesal.
“Kamu yakin mau pergi?"
Meysa mengerutkan kening mendengar pertanyaan Kai, lalu mengangguk setelahnya.
“Beneran?"
Wajah Kai makin terlihat mengesalkan di mata Meysa, ia kesal laki-laki yang ingin dia hindari itu malah terus-menerus mengajaknya berbicara. “Iya, Kai, memangnya kenapa?" ucap Meysa sedikit ngegas, tapi ia segera menghela napas.
“Gak pakai ini?" Kai menunjuk kepalanya, sebagai isyarat menanyakan kenapa Meysa tak mengenakan hijab.
Meysa yang mengerti hanya menghembuskan napas dan menggeleng.
__ADS_1
“Ah, udahlah, jangan banyak tanya. Aku pergi dulu!" ketusnya kemudian benar-benar pergi setelah itu.
Kai hanya terdiam, sikap Meysa memang agak dingin. Ia tahu gadis itu pasti masih sangat kecewa dan marah karena kesalahan yang pernah ia lakukan. Tapi Kai tetap masih bersyukur sebab sang Bulan masih mau berlaku baik padanya. Niatnya datang memang untuk meminta maaf secara langsung, maka untuk itu Kai akan berusaha semaksimal mungkin untuk menebus kesalahannya. Selepas kepergian Meysa, ia sama sekali tak beranjak masuk. Kai malah duduk di emperan teras.
Kosan khusus wanita itu memang tidak lah besar, hanya terdiri dari enam pintu saja dan kamar Rena yang Kai tempati berada paling ujung kanan, tepat samping rumah. Tiga wanita penghuni kos terlihat keluar, melihat keberadaan sosok Kai disana membuat mereka bertanya-tanya.
“Siapa?"
“Te tau juga, mungkin tamunya kak Faza."
“Aih, ayo sudah. Mentang-mentang balihat laki-laki jadi kalian banyak tanya!" celetuk salah satu diantara keduanya yang terlihat lebih cuek dan tak tertarik dengan keberadaan Kai.
Ketiga wanita itu pun keluar melalui gerbang depan kos. Kai sama sekali tak menghiraukan yang didengarnya tadi, ia lebih memilih membakar rokok sambil bermain ponsel. Sebenarnya ia lelah dan ingin istirahat tapi matanya tak bisa terpejam, apalagi kalau mengingat perkataan Rena tadi. Kepalanya selalu di penuhi wajah Meysa. Ia kembali tersenyum, Kai pun masih tak menyangka jika ia benar-benar bisa menemui gadis itu. Menurutnya wajah Meysa tak seperti setahun lalu. Dulu ia ingat betul, pipi gadis itu agak berisi, setiap melakukan panggilan video ia selalu dibuat gemas dan meminta Meysa mewakilinya untuk mencubit pipinya. Tapi kini menurutnya pipi itu tak lagi berisi, dan tubuh Meysa pun lebih kurus dari yang dilihatnya dulu. Entah karena efek kamera atau memang tubuh Meysa pun mengalami banyak perubahan karena waktu sudah berlalu cukup lama.
Sementara itu, Meysa langsung memarkirkan motornya ketika sampai di warung makan pinggir jalan langganannya, warung mas Joko selalu ramai, banyak pengunjung yang rela antre hanya untuk menikmati ayam lalapan dengan sambalnya yang khas.
“Ada ayam kah?" seloroh Meysa, ia berdiri di depan meja tempat beberapa pria tengah sibuk mengerjakan tugas masing-masing, ada yang menggoreng ayam, mengemas makanan untuk pelanggan dan sebagainya. Meski hanya warung sederhana pinggir jalan, tapi kebersihannya sangat terjamin.
“Meysaroh!" celetuk salah seorang laki-laki yang lebih muda ketika menyadari keberadaannya. Ia memang akrab dengan semua yang ada di warung itu.
“Apa!" ketus Meysa dengan muka galak yang dibuat-buat.
“Galak sekali ngana ini!" protes laki-laki tersebut.
Meysa tak lagi menyahut, ia lebih memilih memerhatikan laki-laki yang sedang mengemas pesanan.
“Mas, ada ayam tidak?" Meysa mengulang pertanyaannya.
“Eranga, komiu ini bisa baliihat sendiri, Meysa!” (Astaga, kamu ini bisa lihat sendiri, Meysa)
“So kamu lihat saya babungkus ayam masih juga batanya.” Mas berbadan besar itu hanya geleng-geleng kepala sambil melihat Meysa.
Bukannya puas dengan jawaban yang diberi, Meysa justru hanya terkekeh dan kembali bertanya. “Ih, jadi ada ayam atau tidak?"
“Ada sayang, ada!" sahut salah satu diantara mereka.
“Kalau ada, usir, saya mau makan!" Meysa terkekeh sambil kabur saat melihat mas-mas itu tertawa gemas dengan ingin menimpuknya menggunakan batu ulekan.
“Duduk diam jo disitu, daripada kita orang lempar kamu pake ini!" ucap gemas laki-laki tersebut pada Meysa yang kini duduk di kursi plastik.
Meysa hanya terkekeh, ia merasa puas membuat lelucon, ya meski agak garing. “Sayap lima, mas.”
Requestannya Meysa diacugkan jempol. “Pakai nasi tidak?"
__ADS_1
Meysa menggeleng, tadi ia sudah masak nasi di magicom, jadi tak perlu di mix dengan nasi. Ayam saja cukup untuk Rena dan Kai. Ah, nama itu lagi, membuat dada Meysa lagi-lagi bergejolak. Ia memejamkan mata sambil menghembuskan napas lesu.