Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
11 (Menghindari)


__ADS_3

Di sofa, Meysa tengah duduk sambil memeluk lutut, masih berusaha mencerna apa yang terjadi hari ini. Kai sudah tidak ada disana, laki-laki itu sudah ia suruh kembali ke kos Rena sejak tadi. Sebenernya Kai sempat mengajaknya bicara, tapi ia malah memberi banyak alasan hanya untuk menghindari laki-laki itu. Hatinya masih belum siap kalau harus membahas kembali apa yang membuatnya sakit.


“Kembalilah ke kamarmu! Ndak baik kalau cuma berdua, apalagi Rena tidur. Nanti Kakakku marah kalau tahu kita bicara berduaan!" Begitu ia memberi alasan ketika Kai meminta waktunya untuk minta maaf dan menjelaskan semua. Meski tak bisa menyembunyikan kekecewan, tapi Kai tetap menuruti keputusannya.


“Aku minta maaf ya! Kalau begitu kuharap besok kamu punya waktu untuk bicara denganku.” ucap Kai sebelum pergi.


“Ihhhh!" Meysa memukul pelan kepalanya sembari menghentak-hentakkan kaki di sofa.


“Kenapa jadi selemah ini kalau harus berhadapan dengan dia!" keluhnya yang memang sudah banyak melewati kepahitan dan selalu tegar, tapi kenapa air matanya begitu mudah meleleh jika menyangkut soal Bintang.


Tok, tok, tok...


“Assalamualaikum!"


Meysa menoleh pada suara ketukan dan salam yang beriringan dari balik pintu. Faza sekeluarga sudah datang. Membuat ia secepat mungkin merubah raut wajahnya.


“Belum tidur, Mey?"


Meysa menggeleng menjawab pertanyaan Faza. Dua bocil itu sudah terlelap dalam gendongan kedua orangtuanya, hingga membuat keduanya buru-buru masuk ke dalam kamar.


“Di mobil ada makanan Mey! Coba kau ambil terus panasi, panggil temanmu makan!”


Sesuai perintah Eka, Meysa buru-buru mengambil makanan yang dimaksud dan langsung memanasinya. Ada banyak macam lauk pauk, tapi ia sama sekali tak berselera, sudah terlalu kenyang meski hanya makan ayam lalapan tanpa nasi dengan Kai tadi.


“Panggil temanmu makan, Mey!" kemunculan Eka dan Faza membuat Meysa terlonjak kaget . Gadis itu menoleh pada Faza dan Eka yang sudah ganti pakaian tengah berjalan ke arah meja makan.


“Kalian mau makan?" Meysa justru balik bertanya saat melihat sepasang suami istri itu malah duduk di sana.


“Tidak Mey, kita hanya mau duduk." kata Faza.


“Kita mau interogasi kau!" ucap Eka menimpali.


Meysa memutar mata malas. Ia tahu apa yang dimaksud kakak iparnya, membuatnya lebih memilih beranjak ke mejaa kompor dan mengaduk lauk yang dipanasi.

__ADS_1


“Kenal dimana dengan Kai?"


“Kenal di Instagram!" jawab Meysa asal.


“Bagaimana caranya?" timpal Faza penasaran.


“Bisalah!"


Melihat Meysa yang seperti tak suka diintrogasi membuat Faza dan Eka saling tatap dan tak berniat melanjutkan pertanyaan.


“Dia teman atau apamu, Mey?" tanya Faza sekali lagi yang masih sangat penasaran.


“Teman kak!" Enggan menatap wajah kakak, Meysa lebih memilih berdiri membelakangi sambil mengaduk lauk yang seharusnya sudah tidak dia aduk karena sudah selesai.


“Teman atau teman?"


Pertanyaan yang dilontarkan kakak iparnya membuat Meysa membisu. Ia bingung harus jawab apa.


“Jadi nasib Erza bagaimana, Mey?" sambung Eka yang tahu kedekatan mereka. “Sudah lama kau dengan Kai itu?"


Kali ini Faza dan Eka benar-benar tak lagi melanjutkan pertanyaannya dan menyuruh Meysa untuk memanggil Kai makan.


“Tadi dia sudah makan! Sepertinya orangnya juga sudah tidur." ucap Meysa beralasan hanya karena tak sanggup kalau harus bertemu Kai lagi.


“Kapan? Ini nasimu saja tidak ada yang kurang,” sahut Eka yang sudah tiba-tiba ada di sampingnya sambil membuka tutup magiccom. Hal itu lantas membuat Meysa cengengesan mengingat keteledorannya yang membuat ia dan Kai terpaksa makan tanpa nasi.


Kening Eka menyerngit melihat adik iparnya yang hanya cengengesan, begitu pun dengan Faza.


“Kenapa?" tanya Eka penuh selidik dengan mata yang turut menelisik ke tempat cucian piring, mencari bekas sisa nasi di piring kotor. Tidak banyak piring kotor, hanya ada beberapa piring yang sudah tentu piring yang Meysa dan Kai gunakan tadi.


“Tadi cuma makan ayam, kak. Nasinya belum masak." Meysa menjelaskan saat Eka kembali menatap dengan penuh selidik.


“Tombolnya lupa dipencet lagi?" tebak Eka yang sudah hafal gerak-gerik Meysa. Sebab bukan sekali dua kali adik iparnya seperti ini, pernah sekali saat mereka semua kelaparan sepulang kerja dan Meysa masak nasi tapi melakukan kesalahan yang sama. Tentu itu membuat ia mengomel.

__ADS_1


Melihat Meysa yang hanya mengangguk, membuat Eka geleng-geleng kepala sambil menoleh ke arah Faza.


“Berarti Kai belum makan!” timpal Faza. Maklum, kebiasaan orang Indonesia. Belum dikatakan makan kalau belum makan nasi.


Baru Eka dan Faza ingin menyuruhnya memanggil Kai untuk kembali makan, Meysa buru-buru pamit untuk masuk ke kamar. “Kak, aku ke kamar duluan. Sudah ngantuk sekali!" Ia berkilah sambil menutup mulut yang dibuat pura-pura menguap.


“Hey, Mey! Panggil temanmu makan dulu!"


Meysa sama sekali tak menghiraukan ucapan Eka dan Faza, ia lebih memilih mencelos masuk ke dalam kamar dan masuk ke dalam toilet. Meysa bersandar di pintu, matanya kembali memerah mengingat semua hal tentang Bintang. Ia dan Kai memang tak pernah mengukir kebersamaan bersama secara langsung. Tapi kenapa segala yang mereka lalui terasa begitu membekas,. padahal kisah mereka hanya diukir melalui ruang virtual, jalinan hubungan jarak jauh itu benar-benar Meysa balut dengan cinta yang tulus hingga rasanyapun sulit hilang.


Sedih, marah dan kecewa karena tingkah Kai yang tiba-tiba menghilang dan mengabaikannya setahun lalu benar-benar masih membekas di hati. Ia sama sekali belum melupakan itu, tanpa kehadirannya pun ia sudah sangat sulit melupakan sosok Bintangnya itu, apalagi sekarang laki-laki itu malah hadir di depan matanya untuk pertama kali. Tentu luka yang belum kering itu semakin menjadi.


Bahkan rasa sakitnya setara ketika mengingat bagaimana ibunya menikah lagi tanpa persetujuannya setelah perceraian dengan sang Ayah beberapa tahun yang lalu.


“Mey, buka! Aku mau pipis.” Teriakan Rena dari balik pintu sambil menggoyangkan jendela pintu membuat Meysa terlonjak dan langsung menghapus air matanya.


Dalam hati ia mengutuki kenapa Rena harus bangun, mengganggu dirinya saja! Meski begitu ia tetap membuka pintu sambil menunduk.


“Cepat Mey! Sudah diujung!" Rena buru-buru masuk setelah menarik Meysa menyingkir dari pintu toilet. Membuat Meysa menghela napas kasar.


Gadis itu lalu duduk di tepi tempat tidur setelah menghapus sisa lelehan air mata menggunakan tisu dan mengarahkan kipas angin tepat di depan wajahnya.


Sebenarnya Meysa sendiri lelah melihat dirinya yang begitu mengenaskan, tiap hari bersedih hanya karena laki-laki.


Kemunculan Rena membuat Meysa buru-buru berlagak mengipas wajah, seolah matanya sedang kelilipan. Dia memang handal berpura-pura, tapi tetap saja tak bisa membohongi Rena.


“Kau habis nangis?" celetuk Rena heran.


“Kau tidak lihat mataku kelilipan?" Meysa balas bertanya dengan ketus. Membuat Rena memajukan wajah dan mengamati matanya.


Rena mencebik sambil menoyor jidat Meysa. “Iya Mey, kau kelilipan. Kelilipan kesedihan!"


“Iss, sok tahu sekali!" sergah Meysa, ia memilih merebahkan diri ke tempat tidur. “Kasih mati lampunya, Ren! Aku mau tidur!"

__ADS_1


Rena yang mendengar itu hanya memutar mata malas, Meksi begitu ia tetap melakukan apa yang Meysa perintahkan.


__ADS_2