
Curhat dengan Rena memang bisa membuat Meysa jadi lebih tenang. Meski sahabatnya itu agak sedikit lucknut dan galak tapi Rena selalu bisa menjadi yang paling mengerti perasaannya.
“Memang kurang ajar itu bu Asmi, coba nanti anaknya yang dikasih begitu sama orang lain. Pasti dia marah-marah." Rena menggerutu kesal. Bahkan saking kesalnya Rena juga berjanji tak ingin berteman dengan Erza lagi, apalagi sampai bertegur sapa dengan ibunya itu.
“Pokoknya kita ndak usah dekat-dekat dengan Erza lagi, mamanya jahat!" Rena mutlak memberi keputusan.
Membuat Meysa yang sudah tak terlalu sedih menoleh pada sahabatnya. Wajah Rena nampak marah dan menggebu.
“Tapi kasian Erza, Rena. Dia kan tidak salah!" Meysa yang masih berpikir manusiawi tak tega jika mengingat bagaimana baiknya Erza. Apalagi disini Erza tidak bersalah, sejak malam dimana ia menolak Erza untuk yang kesekian kalinya itu Meysa juga tak pernah lagi bertemu Erza hingga saat ini.
Erza pasti kecewa!
Plak...
Pukulan yang mendarat di lengannya membuat Meysa menoleh geram. Rena selalu saja melakukan KDPS padanya, yaitu Kekerasan Dalam PerSahabatan. Meysa merasa sangat terzolimi.
“Kalau kau masih mau dikira kejar anaknya itu ibu-ibu cerewet, ya sudah berteman saja sama Erza!" omel Rena tak suka. Membuat Meysa yang tengah mengusap lengannya yang pedih karena ulah kekerasan Rena hanya memutar mata malas.
Merekapun sama-sama terdiam. Pembahasan mulai beralih, keduanya tak lagi membahas hal menyakitkan yang disebabkan oleh bu Asmi.
“Wey, Rena. Tadi kau bilang apa?"
“Kau lulus tes CPNS?" tanya Meysa memastikan, samar-samar ingatannya tertuju pada ucapan Rena saat ia tengah menangis tadi.
Rena yang kembali sibuk dengan laptopnya itu menoleh pada Meysa dengan wajah sumringah. Mengiyakan pertanyaan Meysa dengan anggukan senang.
Hah, serius?" Meysa masih tak percaya. Ia ikut menengok layar laptop.
Seketika wajah Meysa ikut berbinar, bahagia mendengar kabar gembira yang Rena sampaikan.
Sementara Rena dengan cepat menujukkan tulisan yang mengatakan ia lolos dalam tes CPNS kali ini.
“Selamat! Anda Lulus tahap administrasi berkas!" Dengan cermat Meysa membaca teks yang tertera. Di atasnya terdapat dua tulisan berwarna oranye dan hijau dengan bunyi ‘Cetak kartu informasi akun' sedangkan teks hijau mengatakan 'Cetak kartu pendaftaran CASN!'
“Cie jadi ASN!" ucap Meysa sambil menatap Rena dengan senyum mengembang.
“Huaa iya, Mey." Rena langsung memeluk Meysa saking bahagianya.
“Selamat ya, mak lampir!" Meysa memberi selamat sambil menepuk bahu Rena, bangga dan senang akhirnya sang sahabat lolos menjadi ASN di umur yang terbilang muda.
Meysa tahu betul Rena pernah beberapa kali mencoba tapi gagal, dan dipercobaan yang ketiga ini baru berhasil. Sebelumnya Rena juga mengajak Meysa untuk mendaftar, dengan menembak salah satu instansi yang ada di kampung halaman mereka. Namun, Meysa yang tidak percaya diri menolak karena takut tak memenuhi kriteria. Ia merasa tak pantas sebab hanya lulusan SMA.
Sebenernya beberapa kerabat menyarankan Meysa untuk melanjutkan sekolah, tapi gadis itu sudah terlanjur enggan. Terlebih lagi ia sudah nyaman dengan pekerjaan yang kini digeluti.
“Kau lolos dimana, Ren?"
Kedua gadis itu melepaskan pelukannya. Mereka nampak bahagia satu sama lain. Benar-benar dua sahabat yang solid, tadi saat Meysa sedih Rena ikut merasakan sedih dan kini saat Rena senang, Meysa pun turut merasakan hal yang sama.
“Di SMPN 1 KaryaBersama!" Rena menyebutkan salah satu sekolah yang berada di desa tetangga, kampung halaman mereka.
“Ndak apa, dekat!" Meysa menyemangati dengan kedua tangan mengepal. Ia terlihat begitu semangat.
“Sekali lagi selamat ya, Rentenir!"
“Semoga berkah dan kau harus jadi ASN yang baik dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa! Jangan sombong!"
Rena manggut-manggut mendengar wejangan Meysa. Senyum yang mengembang sama sekali tak pernah pudar meski wejangan itu agak terdengar menjengkelkan, tapi tak apa. Rena tak memperdulikan sebab saat ini ia tengah berbahagia.
“Mamakmu sudah tau?"
“Belum, rencananya nanti saya mau kasih surprise pas pulang pemberkasan." Rena berbinar riang.
Namun kali ini Meysa nampak murung, ucapan Rena barusan membuat Meysa menyadari jika dalam waktu dekat ini Ia dan Rena akan segera berjauhan. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka mengatur rencana akan pulang setelah modal untuk usaha florist terkumpul. Tapi ternyata takdir membuat Rena harus pulang lebih dulu.
Rena yang menyadari itu lantas menepuk bahu Meysa. Pikirannya langsung konek dengan apa yang Meysa pikirkan. Demikianlah jika sudah sefrekuensi!
“Kutunggu di kampung ya, Mey! "
“Maaf ndak bisa tepati janji sama-sama, banyak yang harus diurus setelah ini." Rena berkata lirih sambil menunjuk layar laptop yang menunjukkan tulisan berisi prosedur apa saja yang harus dilakukan setelah lolos cadi CPNS.
Meysa mengangguk sambil tersenyum. Bagaimanapun juga ia harus memahami Rena. Apalagi ini bukan sepenuhnya keinginan sang sahabat. Sebenarnya Meysa masih ingin bertahan dan tinggal lebih lama dengan Faza, tapi mengingat bapak yang tinggal sendiri di kampung membuat Meysa tak tega. Apalagi masalah dengan Bu Asmi membuat Meysa makin tak betah, ditambah lagi jika Rena sudah harus pulang. Ia tak ingin tinggal tanpa teman disana. Akhirnya Meysa juga memutuskan untuk pulang bulan depan.
“Iya Ren, santai!" Kini Meysa sedikit lega karena ia sudah menemukan keputusan kapan ia akan menyusul ke kampung.
“Paling aku juga mau pulang bulan depan!" ujar Meysa mengambil keputusan.
Rena berbinar senang, makin cepat Meysa pulang maka makin cepat pula mereka bertemu.
“Jadi kau pulang hari apa?"
__ADS_1
“Besok sudah harus pulang, Mey. Karena hari rabu sudah harus pemberkasan, banyak surat-surat yang mau diurus."
“Semangat bu ASN!" Meysa memeluk Rena memberi semangat. Sebentar lagi sudah harus berpisah dengan Rena. Baru beberapa hari yang lalu Ia LDRan dengan Kai, kini Ia harus LDRan dengan sahabatnya pula. Bahkan ternyata Meysa juga LDRan dengan Mamak dan Bapaknya. Hmmnt, sepertinya hidup Meysa memang ditakdirkan untuk menjalani kisah LDR.
Ah, Kai. Nama itu membuat Meysa teringat dengan sang kekasih yang sejak ke pulangannya ke Pekanbaru dan kembali aktif bekerja. Intensitas komunikasi diantara dua sejoli itu mulai berkurang. Bahkan untuk bertukar pesan pun tak sesering di awal saat Kai tiba disana. Meysa mencoba memaklumi. Namun, kali ini rasa rindu membuatnya ingin segera menghubungi Kai dan menumpahkan segala keluh kesahnya.
Meysa meraih ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12.19 saat ia menyalakan lookscreen hpnya. Ternyata sudah selama itu ia di kamar Rena.
Sebuah notifikasi WhatsApp membuat Meysa dengan cepat membuka kunci ponsel menggunakan sensor fingerprint. Lalu membuka aplikasi chat yang ia privat itu.
Betapa bahagianya Meysa saat melihat dua panggilan tak terjawab dari Kai dan ada beberapa pesan belum terbaca juga. Tentu itu membuatnya senyum-senyum sendiri.
Ponselnya memang dalam mode silent, sehingga Ia tak mendengar panggilan dan chat dari orang terkasih. Tanpa menghiraukan Rena yang juga tengah sibuk, Meysa merebahkan tubuhnya. Jarinya tergerak membuka pesan dari Kai.
Bintang : Sayang...
Lagi apa?
Vc yuk, mumpung lagi istirahat nih.
Setelah pesan itu ada dua panggilan video tak terjawab yang ada di bawahnya. Bahkan setelahnya masih ada chat lagi.
Bintang : Sibuk ya bee?
Jam 13.30 aku udah gak free ya bee, mau pergi survei, ninjau lokasi dan alat buat proyek.
Membaca rentetan pesan dari Kai membuat hati Meysa berdesir. Ia tak mungkin menyia-nyiakan waktu free Kai, Meysa sudah begitu rindu. Dengan cepat ia lalu beranjak.
“Ren, pulang dulu!" pamit Meysa pada Rena yang masih sibuk.
“Yap!" sahut gadis itu singkat tanpa menoleh.
“Nanti malam makan di luar ya, Mey!" teriaknya lagi.
Meysa yang sudah hampir memutar hendel pintu hanya berteriak mengiyakan.
.......
Di belahan bumi yang lain. Di pulau besar yang letaknya berada di bagian barat Indonesia, tepatnya di kota Pekanbaru. Tiga orang pria terlihat tengah menikmati waktu istirahat. Laptop, buku, spidol, pulben, kertas dan benda-benda lainnya terlihat memenuhi meja mereka.
Ketiganya nampak sibuk menelaah sebuah sketsa gambar proyek yang sama. Mereka adalah Kai, Ojik dan Satria. Tiga serangkai lulusan teknik sipil itu sama-sama bekerja sebagai konsultan dan kini tengah di kontrak oleh salah satu perusahaan konstruksi yang sedang melakukan pembangunan bendungan di sungai besar yang ada di pinggir kota Pekanbaru.
“Kalau aku gini hasilnya!" ucap Kai membuka suara. Membuat Ojik dan Satria menoleh, keduanya turut mengamati gambar yang baru saja Kai buat.
“Aku malah gini!" Satria turut memperlihatkan hasil desainnya.
“Lah, aku pun beda!" Ojik turut memperlihatkan hasil desainnya.
Ketiganya saling tatap dan sama-sama terkekeh. Sedari tadi mencoba merancang sebuah sketsa agar memiliki progres yang sama, tapi tak ada satupun yang sesuai. Sebab desain awal yang diperlihatkan oleh client mereka memiliki beberapa struktur yang tak sesuai.
“Gini kalau desain awalnya udah gak beres, kitapun sulit perbaiki!" ucap Kai sambil memijat pelipisnya. Awalnya pemegang proyek memang memakai jasa lain dalam membuat desain awal, sedangkan saat diperlihatkan pada mereka yang merupakan konsultan, ternyata memiliki banyak perbedaan dan kekurangan yang tidak sesuai setelah mereka melakukan survei lokasi.
“Udahlah, entar diperbaiki kalau abis dari survei lokasi lagi." Satria meletakkan laptopnya lalu meraih gelas minuman dan menseruputnya hingga tandas.
Begitu pula dengan Ojik, Ia pun meletakkan laptop dan langsung melanjutkan menyantap makanannya yang belum habis.
Dan Kai menyusul setelahnya, tapi Ia sama sekali tak menyentuh minuman ataupun makanan miliknya yang masih utuh, tak tersentuh. Pemuda itu lebih memilih meraih rokok. Bersamaan dengan ponselnya yang berdering.
Kai membakar rokoknya lebih dulu, lalu meraih ponselnya. Ekspresi wajahnya memang tampak datar saat melihat siapa yang menelepon, tapi jangan tanyakan bagaimana perasaannya. Seperti ada ribuan bunga yang bermekaran di hatinya. Seketika ia seperti mendapat asupan booster dari si penelpon. Bahagianya tak bisa dideskripsikan!
“Assalamualaikum!"
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Kai saat seorang wanita yang sudah seperti moodboster baginya menampakkan senyum. Membuat hatinya menjadi tentram.
“Darimana aja bee?" sergahnya yang beberapa saat lalu sempat menelpon dan mengurim pesan pada pemilik hatinya itu.
“Tadi di kostan Rena, aku gak lihat notif. Hpnya mode silent!" sosok Bulan kesayangannya itu menjelaskan dengan wajah teduh.
Kai tersenyum menatap gadis mengenakan daster warna mustard. Meysa melakukan VC dalam posisi setengah baring. Bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.
“Lagi dimana?" tanya Meysa yang menelisik tempat keberadaan Kai.
“Ini, lagi di cafe!" Kai memperlihatkan keadaan sekitar, termasuk duo kamvret yang sedang sibuk sendiri. Ojik masih makan, sedangkan Satria juga makan sambil main game.
Tak begitu banyak pengunjung di cafe itu, hanya ada mereka dan beberapa pengunjung yang mengisi meja di pojok sana. Mereka sama-sama mojok.
“Ngedesain bee, abis ini mau pergi survei!" ujar Kai setelah mengepulkan asap putih yang dihasilkan rokok dari mulutnya.
“Bukannya makan malah ngerokok, emang bisa kenyang makan asap?"
__ADS_1
"Pfffft.”
Kai menoleh pada duo kamvret yang terlihat menahan tawa mendengar ucapan Meysa.
lalu beralih menampakkan senyum gemas, senang melihat Meysa jika sudah dalam mode galak dan penuh perhatian seperti ini.
“Pengen rileks-in tubuh aja, bee. Capek tau bee," Kai menampakkan wajah lelahnya pada Meysa.
“Tau kok kalau kamu capek, tapi harusnya makan dulu lah bee!"
“Iya, iya ini aku makan." Kai lalu meletakkan ponselnya, bersandar pada layar laptop yang terbuka. Ia lalu mematikan rokoknya kemudian meraih makanan untuk dieksekusi.
Menu makanan Kai sama dengan kedua sahabatnya, yaitu nasi goreng komplit. Tak lupa ketiganya memesan chicken fingers untuk santapan bersama. Hanya minumannya saja yang beda.
“Kamu udah makan?"
Meysa menjawab pertanyaan Kai dengan gelengan. Membuat sang Bintang nampak kesal.
“Nyuruh orang makan tapi dia sendiri belum makan, gimana sih, bee?!" omel Kai dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan.
Meysa terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang gatal karena belum keramas selama dua hari. Pasti ketombenya sudah setebal lapisan ozon.
“Kan tadi aku dari tempat Rena." Meysa mencoba membuat alasan.
“Yakan masak gak bisa makan dulu sih, udah jam 1 kan disana!" Kai melirik jam di tangannya, menujukkan pukul 12 lewat. Wilayah Meysa memang memiliki perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari wilayahnya.
“Hehe." Meysa cengengesan. Niat hati ingin menumpahkan keluh kesah pada Kai harus batal karena keberadaan duo kamvret. Akhirnya ia harus memendamnya lagi.
“Kamu jangan malas makan dong!" seru Kai sambil terus mengunyah.
“Iya, kayak si Kai nih makan aja kerja dia!"
Meysa menahan tawa saat mendengar suara salah satu dari duo kamvret itu menimpali. Bahkan Kai pun dibuat menoleh dengan wajah datar, kesal Ojik dan Satri selalu saja jadi pengganggu setiap kali ia bertelepon dengan Meysa.
“Apa pulak makan terus, nyolot aja kalian ini!" omel Kai yang terdengar saling menyahuti dengan Ojik dan Satria.
“Lah, bener kok!"
“Pakai ngelag pulak kau ini, Kai!"
Sedangkan Meysa hanya diam sambil menatap Kai yang tengah makan sambil berdebat dengan dua sahabat lucknutnya itu.
“Bee bee mau ngapain aja hari ini?" tanya Kai yang kembali fokus menatap Meysa.
“Nggak ada rencana jalan bareng Rena?" tanya Kai lagi setelah Meysa menjawab pertanyaannya dengan gelengan.
Dan saat Meysa kembali menggeleng, Kai langsung meraih ponselnya. Makanannya sudah habis, ia meneguk minumannya sebelum menatap Meysa dengan serius. Entah mengapa ia merasa wajah Meysa agak sendu dan makin terlihat jelas ketika Bulannya itu hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan.
“Kamu kenapa, bee?"
“Ada masalah?" Kai bertanya dengan wajah serius.
“Kalau ada masalah cerita sayang, jangan pendam sendiri!"
“Cuaksss!" seloroh Satria yang mana membuat Ojik terkekeh tampa menoleh.
“Anjas, kelass!"
“Sayang ceritalah, jangan pendam sendiri!" Bahkan Ojik ikut mengulang ucapan Kai dengan nada meledek.
Seketika rahang Kai mengeras mendengar duo kamvret yang suka sekali meledek dan mengganggunya. Meski begitu, Kai lebih memilih menahan diri untuk tidak emosi hanya karena hal spele.
Sedangkan Meysa malah dibuat terkekeh oleh tingkah ketiganya. Entah mengapa ia merasa lucu setiap kali melihat Kai dizolimi oleh Ojik dan Satria.
“Bee, udah dulu ya, nanti aku telepon kalau udah balik ke rumah!" Kai yang tak mau terus-terusan dibully akhirnya memutuskan untuk menyudahi panggilan.
Meysa menggut-manggut, ia memahami keadaan Kai. Dalam hati ia berguman jika ternyata tak hanya dirinya yang memiliki sahabat lucknut, tetapi Kai juga sama-sama memiliki sahabat yang lucknut.
Panggilan itu pun terputus. Kai tak memperdulikan duo kamvret yang masih saja terkekeh. Ia lebih memilih mengirim chat pada Meysa.
Kai : Maafin aku ya bee, vcnya harus dimatiin gara-gara duo kamvret ini.
Nyolot aja kerja mereka😪
Kamu ada masalah ya bee? Cerita sama aku sayang!
Nanti malam kalau aku dah balik, aku telepo. kamu baik-baik ya disana. Love you!😘
_MeyKa💕
__ADS_1