
Pagi-pagi Meysa bangun, ia keluar kamar dan mendapati Rena tidur di kasur karakter depan tv. Tadi malam Rena sampai ketiduran disana karena Faza tak kunjung keluar, ia terlalu serius mendengar curahan hati Meysa.
“Awas saja kamu, Ren! Aku tahu kamu yang kasih tau semua ke kakak.” Meysa menggerutu, pagi-pagi dibuat kesal jika mengingat bagaimana Faza meledeknya semalam. Meysa yakin seribu persen kalau Rena yang telah jadi ember bocor.
Malas melihat wajah menyebalkan Rena yang sedikit mengaga dengan bekas iler yang mengering, Meysa memutuskan berlalu ke dapur. Gara-gara menghindari Kai kemarin, ia tak pernah menginjakkan kaki disana.
"Katanya kamu ada masalah, apa?" Kemunculan Meysa disambut tanya oleh kakak ipar yang tengah memasak nasi goreng untuk sarapan, tidak lupa nasi tim campu sayuran untuk bayinya.
Semalam Eka sengaja menunggu Faza, ia tahu suaminya itu marah karena perkataannya. Saat Faza kembali dari kamar Meysa, Eka mencoba mengambil perhatian suaminya yang lemah lembut, meski begitu kalau marah dia bisa menjadi makhluk berbahaya. Selain karena takut Faza marah, sebenarnya Eka hanya ingin tahu juga apa yang terjadi.
“Kau marah karena perkataanku tadi?" Eka mulai bertanya, tapi Faza malah masuk ke kamar mandi setelah itu ia langsung tidur membelakangi Eka.
“Meysa kenapa?" Jiwa-jiwa keponya hampir menandingi agen FBI.
“Bukannya kau tidak mau tahu apa-apa tentang adikku." Faza kecewa, ia memang tidak suka kalau Eka bersikap seperti itu pada adiknya itu.
“Ya, maaf, tapi maksudnya bukan begitu, pa!” ucapan yang tak direspon akhirnya membuat Eka menyerah, ia akan minta maaf besok setelah suaminya sudah merasa tenang.
Faza memang seperti itu, sebagai suami dia tidak pernah marah berlebihan, hanya kebanyakan diam, tapi diamnya sangat menyakitkan. Tidak pernah marah sampai meledak-ledak. Kata orang, orang seperti ini kalau benar-benar marah akan sangat berbahaya.
Meysa menyerngit mendengar pertanyaan Kaka ipar, ia enggan mengatakan apapun.
“Tidak ada apa-apa." Meysa menyahut acuh dang mulai mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan.
Dalam hati ia bersyukur, meskia Faza terbilang menyebalkan tapi kakaknya itu masih bisa dipercaya. Bukan ember bocor yang sembarang cerita apapun meski pada istrinya. Itu membuat Meysa merasa beruntung.
__ADS_1
Sementara di depan, dua laki-laki beda generasi terlihat baru pulang dari mesjid.
“Jadi belakangan ini kesibukannya apa?" tanya Faza. Ia dan Kai sama-sama baru pulang dari mesjid.
Karena semalaman merasa tak karuan membuat Kai memutuskan pergi ke mesjid, sepertinya ia harus mengadu pada Tuhan atas semua masalah yang terjadi. Setelah pulang ia baru sadar jika ternyata Faza juga melaksanakan shalat subuh di mesjid yang sama dengannya.
Hingga akhirnya keduanya pulang, jalan kaki bersama sambil membicarakan banyak hal, kecuali fakta hubungan Kai dengan Meysa yang baru semalam Faza ketahui. Faza sama sekali tak membahas hal itu karena takut Kai merasa tersinggung. Apalagi pemuda itu datang dengan baik-baik, anaknya baik dan tidak banyak tingkah, membuat Faza semakin suka dengan sikapnya.
“Beberapa bulan terakhir ini, saya kerja sebagai salah satu konsultan konstruksi, kak." Ragu Kai mengungkapkan hal ini pada kakak orang yang disukainya.
Mendengar itu Faza antusias, ia kagum pada profesi Kai. “Keren Kai, masih muda sudah punya karir sebagus itu." Puji Faza sambil menepuk bahu Kai, tanpa tahu bagaimana perjuangan pemuda itu sampai bisa berada di posisi itu.
“Alhamdulillah kak, semua tidak lepas dari do'a orang tua bantuan Abang saya."
Kai mengangguk menjawab pertanyaan Faza.
“Cewek, cowok?" Candaan Faza membuat kening Kai mengkerut, bapak-bapak dua anak yang memang suka bercanda meski garing itu menepuk bahu Kai. Dimana-mana Abang ya cowok. Kai meringis dalam hati.
“Bercanda Kai!"
“Lanjut!" Faza masih begitu bersemangat mendengar cerita Kai. Membuat perjalanan dari mesjid tak terasa, mereka sudah sampai di rumah.
“Tapi kamu benar-benar hebat, Kai." Faza kembali memuji, bukannya mengajak masuk. Ia malah duduk di kursi teras. Masih ingin tahu banyak hal tentang calon adik ipar. Ya, setidaknya diintrogasi secara halus dulu, kan masih anak baru. Pikir Faza membatin.
Kalau langsung diintrogasi secara terang-terangan takutnya Kai takut dan malah kabur. Bisa jadi adik semata wayangnya itu galau sampai mati karena harus mengenang Kai seperti pahlawan yang telah gugur.
__ADS_1
Kai tersenyum simpul, malu-malu mendapat pujian dari calon kakak ipar. “Kalau bukan bantuan dan dorongan dari Abang yang selalu ngasih job dari masih kuliah sampai sekarang mungkin saya bukan apa-apa, kak."
“Abang saya berperan penting dalam karir saya saat ini."
Faza hanya manggut-manggut dengar cerita Kai. Pemuda itu terlihat begitu merendah dan tidak sombong, Faza suka attitudenya.
“Berarti sekarang lagi libur ya makanya bisa kesini?"
Kai menggeleng. “Bukan libur kak, tapi cuti, hehe." Katanya sambil menggaruk kepala belakang.
“Cuti?” Faza memastikan.
“Berapa Minggu?"
“Cuma seminggu kak!"
“Cuma buat nemuin Meysa?"
Pertanyaan cepat Faza yang sudah seperti wartawan senior hanya dijawab anggukan oleh Kai. Hal itu benar-benar membuat rasa kagum Faza semakin besar melihat betapa seriusnya Bintang punya Meysa ini. Ia salut, dalam hati Faza sudah memberikan restu jika saja Kai ingin menikahi Meysa dalam waktu dekat.
Namun, obrolan kedua harus terhenti ketika sosok Meysa muncul dari balik pintu, memanggil keduanya untuk sarapan pagi.
“Kak, sarapan dulu, sudah hampir jam 7!"
Ketiganya sama-sama terpaku ketika sorot mata Meysa yang muncul dari pintu langsung bersitatap dengan Kai yang duduk di motor.
__ADS_1