
“Rena!"
Panggil Faza saat Rena malah bengong memikirkan jawaban yang tepat.
“Eh, apa kak? Tadi Kak Faza bilang apa, Ndak saya dengar?" tanya Rena berpura-pura. Jika berbicara dengan Faza ia memang lebih sering menggunakan bahasa asal mereka.
“Meysa ada masalah apa, Ren? Kelihatan banyak pikiran anak itu."
“Memangnya Meysa sudah pulang?" Rena justru balik bertanya membuat Faza berdecak kesal.
Kenapa anak muda sekarang selalu saja balik bertanya saat ditanyai suatu hal. Omel Faza membatin.
Walau sebenarnya Rena sengaja hanya untuk mengalihkan pembahasan agar Faza tak menanyakan hal tersebut.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Rena!" peringat Faza yang ternyata bisa membaca maksud Rena. Membuat Rena seketika nyengir kuda.
“Hehe, maaf kak." Rena tertawa canggung.
“Ceritakan, Ren!" desak Faza.
“Harus ya kak?"
Faza menyerngit mendengar pertanyaan Rena. Dari sini ia bisa menyimpulkan jika memang adiknya sedang ada masalah.
“Ya harus! Kau bilang begitu berarti Meysa memang sedang ada masalah, kan? Masalah apa?" tanya Faza sekali lagi, yang mana membuat Rena akhirnya terpaksa harus menceritakan semua.
Rena menceritakan tentang hubungan yang pernah Kai dan Meysa jalin, meski tak memberi tahu bagaimana detail awal hubungan itu terjadi. Yang Rena ceritakan hanya inti-intinya saja, bagaimana patah hatinya Meysa setelah ditinggal Kai yang hilang kabar, bahkan setahun berlalu membuat Meysa tak kunjung bisa melupakan Kai.
“... Jadi begitu ceritanya kak, apalagi sekarang Kai datang!" Rena memelankan suara saat menyebut nama Kai.
Faza menggeleng tak percaya mendengar cerita dari Rena. Ia bingung apakah harus ikut sedih atau ketawa jahat mendengar kisah percintaan adiknya yang cukup rumit.
“Astaga, ternyata kisah cinta itu anak kecil rumit sekali.” Faza geleng kepala sambil menahan tawa. Walau pada kenyataannya Meysa sudah bukan anak kecil lagi, tapi mengetahui fakta ini ia benar-benar membuatnya merasa lucu dan ingin tertawa. Sungguh Faza tak menyangka jika ternyata Meysa bisa patah hati dan berlama-lama larut dalam kegalauan seperti ini.
Bahkan tamu adiknya saat ini bukanlah tamu sembarang tamu. Tapi dia adalah tamu spesial.
“Mey, Mey!" Faza menggeleng-gelengkan kepala mengingat kisah percintaannya dulu bahkan tak serumit ini.
Sedangkan Rena yang melihat reaksi Faza rasanya ia ingin tepuk jidat sambil mengelus dada tanda bersyukur setelah melihat respon yang diberikan. Tadinya Rena mengira jika Faza akan marah setelah tahu semua, tapi nyatanya ia malah tertawa. Ekspresi yang tadi terlihat menakutkan itu malah berubah menjadi tawa riang.
“Jadi alasan Meysa tidak memilih Erza selama ini bukan cuma karena masalah Mamanya Erza yang tidak setuju, kan, tapi karena memang Meysa masih belum move on dari Kai?" tebak Faza yang mencoba untuk mencocok logikan semua yang terjadi pada Meysa.
“Sepertinya begitu, kak,” sahut Rena sembari menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Sepertinya-sepertinya!" Faza berceletuk. “Padahal kau tahu semua, masih saja bilang sepertinya." Protes Faza yang mana membuat Rena terkekeh.
“Terus Kai dimana?" Faza kembali bersuara setelah beberapa menit diam, memikirkan sesuatu.
“Kalau Meysa sudah datang pasti Kai juga sudah datang! Mungkin Kai di kamar."
Faza berdiri dari duduknya, tak lupa ia menoleh pada Rena sebelum benar-benar pergi. “Jangan lupa panggil dia makan, Ren!"
“Oke, kak."
Setelah itu Faza pun keluar dari dapur dengan wajah sumringah. Kekesalan yang disebabkan oleh omongan Eka tadi tak lagi membuatnya kesal, suasananya jadi bagus kembali setelah dengar cerita cinta Meysa. Tapi Faza tetap terlihat cuek dan melewati istrinya begitu saja yang masih menyetrika baju.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Pa?"
Faza sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Eka, ia lebih memilih masuk ke kamar Meysa. Beruntung kamar itu tak dikunci sehingga Faza bisa masuk begitu saja. Sosok Meysa yang baru keluar dari kamar mandi dengan mata sembab langsung menatap nyalang ke arah Faza.
“Ish, kalau mau masuk itu ketuk-ketuk dulu!"
“Ini rumah siapa?" pertanyaan Faza membuat Meysa memutar mata malas. Kakaknya ini memang sama seperti dirinya, suka kadang-kadang jahannam.
“Ya, semua orang juga tahu ini rumahmu kak!" ketus Meysa. “Tapikan ini kamar aku yang tempati, jadi hormati privasi orang."
Ucapan Meysa itu membuat Faza terkekeh. “Elleh, privasi-privasi. Masih kecil kau dek!"
“Bilang saja tidak mau dilihat galau."
Melihat Faza tertawa sambil menutup mulut benar-benar membuat Meysa merasa diejek.
“Ngakulah, sudah kutahu semuanya, Meysa."
“Ih kakak!" protes Meysa tak suka. Sebenarnya apa yang Faza katakan memang benar adanya, hanya saja ia tak suka kalau diledek seperti itu oleh sang kakak. Lagi pula memangnya apa yang Faza tahu? Meysa berdecak kesal.
“Coba sini cerita Mey, daripada kulapor di bapak."
Meysa menyerngit mendengar ucapan Faza, ia tak mengerti apa maksud ucapan kakak menyebalkannya itu.
“Lapor apa juga?"
“Lapor kalau kau punya pacar."
“Is pacar apanya,” protes Meysa lagi.
“Jangan bohong, Kai itu apa?"
__ADS_1
Seketika mata Meysa melotot mendengar ucapan Faza. Hanya ada dua tersangka yang ia curigai membocorkan hal itu. Memangnya siapa lagi yang tahu jelas kalau bukan Rena atau Kai. Nama dua orang itu sudah Meysa kantongi untuk diintrogasi bila ketemu. Meysa tidak terima kalau masalah ini sampai di telinga Faza, apalagi ini soal percintaan. Kakaknya itu terlalu protektif untuk itu. Ia suka membuat aturan seenaknya dan kadang melaporkan yang tidak-tidak pada Mamak dan Bapak. Itu membuat Meysa kesal. Sama persis ketika Faza tahu Erza menyukainya, jika di luar Faza memang terlihat biasa saja tapi jika suda berdua maka ia akan diintrogasi habis-habisan bahkan sampai diberi banyak peringatan untuk tidak banyak tingkah. Faza memang bukan sosok yang suka memarahi adiknya di depan umum, ketegasan dan kegalakannya hanya akan ia tunjukkan saat di rumah saja.
“Pilih cerita atau kulapor di bapak biar kau dinikahkan, ayangmu di kampung kan siap melamar dengan uang Panai tinggi!" Faza mengerling sambil menyebutkan mahar tinggi yang pernah ditawarka oleh seseorang.
Meysa bergidik ngeri mendengar ancaman Faza. Ia tahu apa yang Faza maksud. Sejak SMA memang ada perjaka tua yang tertarik dengan Meysa, bahkan sampai ingin melamarnya, dan itu selalu Faza jadikan ancaman setiap kali tahu ia berpacaran.
“Lebih baik kau menikah saja dari pada pacar-pacaran! Mending sama Iba, pemuda tajir kampung, punya usaha dan kebun sawit dimana-mana, pasti kau akan hidup bahagia!" begitu kata Faza setiap kali mengancam sambil menyebut nama laki-laki itu.
“Ih, apa juga yang mau diceritakan, kak!" rengek Meysa. Belum selesai masalahnya dengan Kai, kini Faza datang sambil mengancam. Membuat ia makin kesal pada orang yang menceritakan semua pada kakaknya itu.
“Hubunganmu dengan Kai!" Lagi-lagi Faza berbicara sambil menahan tawa. Ekspresi mengejeknya sangat menyebalkan.
“Satu, dua, ti...."
Belum selesai Faza menghitung, Meysa sudah menyerah. Dengan wajah meringis sambil menahan tangis ia menghentakkan kaki di lantai, gadis itu duduk di lantai menuruti perintah Faza yang kini sudah duduk di kursi. Wajah yang masih ada buliran air itu nampak kusut ditindas oleh kakak sendiri.
“Ini pasti Rena atau Kai yang bocorkan!"
“Ck!" Faza berdecak, ia tak lagi terkekeh dan berubah ke dalam mode serius. Lewat sorot mata ia memerintahkan Meysa untuk segera bercerita.
“Kenapa juga kau mau tahu urusannya orang, kak!' protes Meysa lagi dengan air mata yang hampir menetes. Punya kakak yang super-duper over protective dalam menjaganya dan kepo pada setiap urusannya benar-benar membuat Meysa tertekan.
“Cerita Mey, kakak cuma mau tahu!"
Meysa yang takut setelah melihat wajah galak Faza akhirnya menceritakan semua secara detail tanpa ada yang terlewatkan sebagaimana perintah Faza. Beruntung selama bercerita Faza sama sekali tak pernah memotong ucapan ataupun mengejeknya. Itu membuat Meysa merasa lebih tenang dan nyaman sehingga ceritanya mengalir begitu saja, seolah benar-benar sedang curhat tanpa paksaan.
“Cuma itu?” tanya Faza setelah Meysa selesai bercerita.
Meysa mengangguk.
“Jadi dia Bulan, kau Bintang?" tanya Faza memastikan.
“Salah! Dia Bintang, saya Bulan!" ucap Meysa membenarkan. Yang mana langsung membuat Faza tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, Bulan Bintang!"
Itu benar-benar membuat Meysa mengernyit, Faza benar-benar lihai berkamuflase hanya untuk mendapatkan info yang bisa digunakan untuk mengejeknya. Faza berhasil membuat dirinya bercerita dengan nyaman dan begitu selesai ia malah diejek seperti ini. Sungguh sangat menyebalkan, berkali-kali Meysa mengumpat dalam hati atas kecurangan Faza .
“Ih kakak!" protes Meysa.
“Tidurlah adek Bulan, sudah malam!" Faza keluar sambil terkekeh puas mengejek Meysa. Reaksinya kali ini benar-benar tidak sama seperti saat tahu Meysa pacaran sebelum-sebelumnya. Ini justru terdengar lucu dengan kisah cinta yang dikemas epik dan menggemaskan menurut Faza. Pantas saja selama ini ia tak lagi mendengar adiknya berpacaran dengan siapapun, ternyata diam-diam dia sedang menjalin hubungan virtual dengan seseorang yang jauh. Meski sempat lost contact tapi kini Bintang itu datang hanya untuk menemui adiknya, ini yang membuat Kai salut. Dalam hati ia kagum pada sikap Kai, itu artinya pemuda itu memang serius pada sang adik.
“Daa bulan, selamat tidur!"
__ADS_1
Meysa melempar Faza menggunaka handuk di tangannya, meski tidak kena karena Faza lebih dulu keluar dan menutup pintu, tapi setidaknya emosi Meysa bisa tersalurkan.