
Sudah Sebulan berlalu sejak Kai kecelakaan dan dirawat di rumah sakit yang membuat Meysa nekat berbohong demi untuk berkunjung ke kota Kai.
Hanya tiga hari Kai dirawat di Rumah sakit, setelah itu ia diperbolehkan pulang dengan syarat harus bedrest hingga keadaannya benar-benar pulih total dan luka jahitan di tubuhnya juga mengering.
Bu Yuliati, Ibu Kai bahkan memutuskan untuk tinggal di Kota Pekanbaru selama Kai dalam masa pemulihan. Sedangkan Ayah dan Syaqila sudah harus kembali ke kampung, sebab Syaqila akan segera melaksanakan UASBN.
Selama itu juga Meysa jadi lebih dekat dengan Emak, sebab setiap kali melakukan VC, Kai sedang bersama emak, terkadang mereka mengobrol banyak hal. Wanita paruh baya itu cukup seru diajak ngobrol, bahkan sesekali Meysa juga berkomunikasi dengan Tiwi, kakak ipar Kai yang sering datang berkunjung. Kecuali Alby, ia sama sekali tak pernah berkomunikasi langsung dengan abang Kai itu.
Dan kini Kai sudah pulih seperti sedia kala, Ia bahkan mulai masuk kerja sejak seminggu yang lalu. Cuti karena sakit membuat pekerjaan Kai menumpuk. Kesibukan kembali membuat intensitas komunikasi antara dua sejoli itu kian berkurang.
Lelah? Tentu saja, tapi akhir-akhir ini Meysa tak ingin ambil pusing. Orderan buket yang banyak membuat ia juga sibuk. Mulai dari orderan untuk kado ulang tahun, graduation, bahkan untuk kado pernikahan. Hingga tak ada waktu untuk Ia mempermasalahkan kesibukan Kai yang jarang sekali memberi kabar. Belum lagi acara pernikahan Rena yang akan diadakan minggu depan membuat ia ekstra bolak balik hanya untuk membantu Rena mempersiapkan segala sesuatunya.
Tak menyangka orang yang dulu jadi shipper garis kerasnya malah berjodoh dengan orang yang sama. Dunia terasa sempit, kadang Meysa sering mengejek Rena hanya karena gadis itu akan menjadi menantu Bu Asmi, si tanah sengketa yang dulunya senang sekali julid. Tapi alhamdulillahnya selama bersama Rena, Bu Asmi tak pernah terdengar menolak. Tentu saja, apa yang harus ditolak dari Rena. Berpendidikan, ASN di usia muda, punya keluarga lengkap tak seperti dirinya yang kadang disudutkan hanya karena latar belakang keluarga dan pendidikan. Kadang Meysa hanya bisa tersenyum getir mengigat betapa orang menganggapnya rendah hanya karena itu.
“Mey, nanti kamu cetak undangannya di Ibunya Difa saja!" begitu Rena kemarin memberinya amanat untuk pergi mencetak undangan yang sudah harus ia sebar hari ini bersama para muda-mudi yang ditugaskan menyebar undangan ke seluruh penjuru kampung. Sedang desa-desa yang ada di sekitar, undangan hanya disebar untuk orang-orang tertentu.
Kebetulan Meysa sejak pagi bertugas menyebarkan undangan di beberapa kompleks yang ada di kampung dan siang ini sudah berada di kampung Tetangga, mengundang kerabat orang tua Rena.
“Kemana lagi?" tanya seorang laki-laki yang usianya tak beda jauh dari Meysa. Namanya Rizal, keluarga jauh Rena yang ditugaskan untuk mengantarnya mengundang.
Gadis yang mengenakan baju adat bugis itu nampak kelelahan, wajahnya mengkerut kusut begitu keluar dari rumah terkahir yang harus diundang di kampung tersebut.
“Antar saya pulang, Zal. Perutku sakit!" lirih Meysa yang merasa keringat dingin, wajahnya nampak pucat dan lemas.
Melihat itu Rizal buru-buru membawa Meysa pulang. Begitu sampai rumah Meysa langsung buru-buru masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Perut Meysa terasa begitu sakit, bahkan kepalanya pun terasa ingin pecah.
Meysa yang ingin istirahat terlebih dulu mengecek ponselnya. Dan betapa senangnya ia melihat pesan dan panggilan tak terjawab dari Kai. Setiap merasa seperti ini tentu orang yang paling ingin ia temani bicara adalah Kai.
“Bee, Rindu!" begitu Meysa menyergah saat Kai menjawab panggilannya.
Kai masih berada di kantor tengah istirahat, pria itu sedang makan siang di kantin. Biasanya kesibukan membuat ia jarang sekali memegang ponsel jika tak ada urusan penting dan hal mendesak.
“Iya sayang, aku juga rindu, hmmmt!" Kai yang sedang makan sambil menelpon menggunakan earphone bluetooth itu menghela napas kasar. Ia pun sangat merindukan Meysa, tapi apa boleh buat, ia pun tak berdaya untuk melakukan sesuatu.
Rencana mengunjungi Meysa selalu saja batal dan gagal karena banyaknya deadline proyek yang harus diselesaikan. Bukannya tak mementingkan Meysa, bagi Kai ia tak ingin menolak pekerjaan. Apalagi apa yang ia lakukan pun untuk masa depannya dengan Meysa. Kai benar-benar kerja lembur bagai kuda. Ia bahkan bekerja sampingan menjadi interior desain di kantor Alby, kembali seperti dulu. Tak jarang pula ia mendapat peluang menjadi arsitek sebuah proyek besar.
“Resiko LDRan, pengen ketemu tapi sadar kita berjauhan!"
“Pengen peluk, tapi sadar kita jauhan. Jarak kita jauh, ada pulau dan lautan yang membentang."
Bahkan Meysa ikut sedih mendengar perkataan Kai yang terdengar menyayat hati. Ternyata Kai juga merasakan hal yang sama sepertinya. Tak bisa dipungkiri, hubungan jarak jauh memang betul-betul membutuhkan kesabaran dan kesetiaan yang luar biasa. Jika tidak, mungkin sudah lama cinta mereka terkikis oleh jarak.
__ADS_1
“Oh ya, sayang lagi apa? Selama beberapa ini ngapain aja? Kamu baik-baik aja kan?" cecar Kai dari balik telepon.
Meysa menghela napas sambil sesekali memejamkan mata untuk meredam rasa sakit yang intensitasnya makin bertambah. “Kemarin-kemarin orderan buket banyak banget. Hari ini aku sibuk nyebarin undangan nikahannya Rena Erza tapi perutku tiba-tiba sakit makanya aku pulang!" adu Meysa sambil meringis menahan sakit
Kai yang terdengar mengunyah makanan sambil menelepon itu nampak panik saat mendengar Meysa mengeluh sakit perut. Ia menghentikan makannya dan fokus pada telepon.
“Bee kenapa? Sakitnya karena belum makan atau karena mau pms lagi?" sergah Kai dengan wajah pias. Ia semakin merasa tak berdaya pada keadaan, belum bisa jadi seseorang yang selalu ada saat Meysa membutuhkan.
“Kayaknya dua-duanya deh!" lirih Meysa sambil menelungkupkan kepala ke bantal berusaha mengurangi sakit kepala. Sedangkan tangannya terlihat memegangi bagian perut yang terasa sakit hingga ke ulu hati.
“Dua-duanya gimana?" sergah Kai dengan suara sedikit meninggi. Ia kesal kalau sampai magg Meysa kambuh hanya karena terlambat makan. Ini yang membuat Kai kesal, Meysa selalu saja mengabaikan hal-hal kecil seperti itu yang sering membuatnya mengeluh kesakitan.
Bukan sekali dua kali ia mengeluhkan hal yang sama. Yang sebabnya karena lalai pada hal kecil. Menunda makan, bahkan sering begadang hanya untuk menulis ide ceritanya. Sedangkan di keesokan harinya Meysa sudah mengeluh sakit kepala.
“Satu sakit karena belum makan, yang satu lagi sakit karena mau pms, gitu?" sunggut Kai sambil meneguk es tehnya. Di kantin itu hanya ada beberapa orang saja. kebanyakan dari rekannya lebih memilih makan di luar, termasuk Ojik dan Satria. Ia yang terlalu mager memutuskan makan disana, sekalian bisa melepas rindu dengan Meysa. Sebab jika sudah dengan kawan-kawan yang lain, tentu ia tak akan ada kesempatan memegang ponsel. Ia selalu ditegur karena dianggap terlalu bucin.
“Bucin banget sih! Kalau lagi ngumpul tuh ya ngumpul, gak usahlah nelepon atau chatingan dulu. Kan hubungin cewek kau bisa nanti kalau udah di rumah!" begitu beberapa kawannya yang tak mengerti menghardik. Bahkan karena kejadian itu pula yang sering membuatnya tak menghubungi Meysa. Sedangkan saat sudah di rumah ia malah langsung istirahat karena kelelahan.
“Keknya sih begitu!" Meysa terdengar meringis menjawab pertanyaan Kai. Tentu itu membuat Kai semakin cemas.
“Yaudah coba vc dulu bentar, aku pengen lihat keadaanmu!" Kai mengalihkan panggilan biasa menjadi panggilan video.
“Bee, angkat dong bee!" perintah Kai saat Meysa tak kunjung mengangkat panggilan.
Gadis yang tengah menelungkupkan wajah sambil menahan sakit di perutnya itu meraih ponselnya yang tersambung pada headset. Perlahan ia merebahkan tubuh sambil melipat kaki, menyanggahnya di bagian perut untuk mengurangi sakit.
Meysa menggeser tanda biru lalu menampakkan wajah Kai yang terlihat cemas.
“Sakit kali ya bee?" sergah Kai. Ia kasihan melihat raut wajah Meysa yang tengah menahan sakit.
Gadis itu mengangguk mengiyakan
“Kamu sih, makanya makannya diperhatiin. Kan sakitnya jadi double gini!" protes Kai.
“Kamu lagi sama siapa di rumah?" Rasa kesal Kai tak sebesar rasa khawatirnya. Ia yang begitu menyayangi Meysa lebih memilih mencari solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi sakit yang Meysa rasakan.
“Sendiri!"
“Papa mana?"
“Shhhhttt..." Meysa menarik napas dalam. “Gak tahu bee, kan aku baru balik!"
__ADS_1
Kai berdecak, ia lupa jika ternyata Meysa baru datang dari mengundang. Tentu ia tak tahu kemana Bapaknya pergi.
“Yaudah kompres pakai air hangat atau belakangnya di sanggah pakai bantal!" Kai memberikan saran sebagaimana yang Ia tahu Meysa sering memakai salah satunya setiao kali merasakan nyeri haid.
“Udah!" seru Meysa dengan mata terpejam. Ponselnya ia biarkan bersandar di bantal. Hingga ia tak perlu memegangnya, sedang Kai tetap bisa melihatnya.
“Tapi ulu hati kusakit! Aku mau makan, mau minum obat juga!"
Kai meringis tak bisa memberikan solusi apapun. Seandainya Ia disana mungkin ia akan merawat gadis itu, tapi kondisinya seperti ini. Kai benar-benar kesal.
“Kamu sih!" Saking paniknya Kai sampai marah pada Meysa.
”Suka banget cari penyakit! Kalau udah gini siapa yang susah, siapa yang mau rawat kamu, disitu gak ada siapa-siapa!" sentak Kai. Ia kesal sekaligus sedih melihat Meysa begini.
Meysa menitihkan air mata mendengar ucapan Kai. Di saat seperti ini ia memang membutuhkan sosok ibu ataupun seseorang yang bisa ada disaat ia sedang sakit. Meysa sedih menyadari betapa tidak beruntungnya ia. Sendiran dan tidak memiliki keluarga yang utuh.
“Hapus air matanya. Gak usah nangis lagi, kamu jelek kalo nangis!" seloroh Kai yang merasa bersalah karena sudah melontarkan kata-kata yang membuat ia sedih, padahal ia sedang butuh kasih sayang.
“Aku minta maaf, aku gak berniat marah-marah. Aku cuma kesel aja sama keadaan!" Wajah Kai nampak sedih.
“Aku marah sama diriku yang gak bisa lakuin apa-apa disaat kamu seperti ini!"
Dengan mata berkaca-kaca Meysa terus memerhatikan wajah Kai.
“Kai, jam makan siang udah habis!"
“Iya bang, duluanlah, ini bentar lagi nyusul!" sahut Kai sembari tersenyum saat seseorang memperingatkan jika waktu makan siang sudah habis. Ia lalu kembali menatap Meysa yang masih menatapnya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
“Aku udah harus kerja lagi, bee! Kamu baik-baik ya, cepat sembuh. Nanti malam aku telepon kalau udah pulang!"
Meysa menganggukkan kepala, meski sedih tapi setidaknya rasa rindunya bisa sedikit terobati.
“Muuuuach!"
Mata Meysa terpejam saat Kai mengarahkan kecupan virtualnya. Sungguh ia tak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya setiap kali Kai memperlakukannya demikin.
“Aku sayang kamu! Baik-baik disana, cepat sembuh!"
“Udah dulu ya, Assalamualaikum!"
Panggilan itu pun benar-benar terputus. Meysa yang masih merasakan sakit berusaha ke dapur untuk mengambil makanan Setelah itu ia minum obat dan beristirahat.
__ADS_1