Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
51


__ADS_3

Dengan perasaan kesal dan mulut yang terus mengumpat Kai melangkah membuka pintu untuk dua peneror yang senang sekali berbuat rusuh itu, sedari tadi mengetuk pintu dengan brutal.


Pintu dibuka, menampakkan Ojik dan Satria yang sama-sama berdiri sambil menahan senyum. Tawa dua orang itu pecah bersamaan ketika mereka saling pandang lalu beralih menatap Kai secara bersamaan.


“Cie, si bucin akhirnya bisa ketemu pujaan hati juga!"


“Berseri-seri kali muka dia, Sat!"


“Kelihatan makmur abis ketemu ayang!" Ojik dan Satria terus bersahutan meledek Kai.


Kai tak berekspresi, kedatangan mereka benar-benar tak Kai inginkan, tadi ia hanya butuh untuk menjemput saat di bandara saja, tapi kini kehadiran dua orang itu sudah tidak Kai butuhkan lagi. Ia ingin istirahat tanpa gangguan mereka.


“Kenapa kalian bisa tau kalau aku udah balek?" tanya Kai dengan wajah datar, malas menampakkan wajah ramah pada pengganggu yang sudah merusak sore harinya.


Bukannya menjawab, Ojik dan Satria malah tertawa terbahak-bahak.


“Ribut kali, anjir!” protes Kai tak suka. Membuat dua orang itu langsung menutup mulut, ikut menoleh ke kiri dan kanan rumah Kai.


“Ntar tetangga pada keganggu, diusir pulak kita dari sini!”


Hal itu membuat Ojik dan Satria menganggukkan kepala. Keduanya lalu mengikuti langkah Kai yang mempersilahkan mereka masuk.

__ADS_1


Di ruang tamu itu ada sebuah kursi kayu, tapi tiga sekawan itu lebih memilih duduk melantai. Ojik dan Satria yang sepertinya baru pulang kerja melepaskan id card dari lehernya. Keduanya memakai setelan yang sama, yaitu memakai kemeja dan celana kain, hanya beda warna saja.


Jika dilihat dari tampilan, tiga sekawan itu terlihat sudah sangat dewasa dan berwibawa. Namun, siapa sangka kelakuan mereka masih seperti anak remaja kalau sudah bertemu. Saling melemparkan candaan receh dan random.


“Aku bawa ini, kita makan bareng!" Ojik mengeluarkan beberapa bungkus mie dari dalam tasnya, tadi ia sempatkan membeli mie saat di jalan. Rencananya memang ingin makan bertiga dengan Kai.


Begitu pula dengan Satria, pemuda dengan rambut model oppa-oppa Korea itu mengeluarkan tiga botol minuman dan sebungkus rokok baru. Dengan bangga ia berkata. “Aku bawa ini!"


Kai yang tadi kesal seketika tersenyum melihat kelakuan duo kamvret yang selalu berhasil membuatnya gagal marah. Bertingkah menyebalkan tapi keduanya selalu jadi dewa penolong dalam setiap kesusahan yang Kai alami.


Salah satunya seperti saat ini, dimana Kai yang memang sudah lapar sejak tapi ia terlalu malas kalau harus keluar, rasa lelah membuatnya terpaksa menahan lapar. Padahal tadi ia sempat memperingatkan Meysa untuk makan sedangkan dirinya juga belum makan.


Namun, kedatangan Ojik dan Satri membuat ia terselamatkan, ia bisa makan tanpa harus susah payah keluar rumah.


“Bentarlah woy!"


Ucapan Kai membuat Satria dan Ojik yang hendak beranjak langsung duduk kembali.


“Tau darimana kalau aku dah balek?"


Satria meraih ponselnya lalu menunjukkan story' Meysa yang di repost oleh Kai, dimana menunjukkan Kai tengah berada di bandara.

__ADS_1


“Lihat postingan kau inilah, anj***. Apa lagi?" ucap Satria.


“Iya, tadi Kami gak angkat telepon kau karena lagi meeting. Dari pagi meeting, sore lanjut lagi." Ojik ikut menjelaskan.


Tadi saat Kai menelepon mereka memang tengah mengadakan meeting dengan klien penting ya g beberapa hari lalu sempat Ojik dan Satria beritahu ketika Kai masih berada di kota Meysa waktu itu.


Saat mengecek ponsel dan melihat panggilan tak terjawab dari Kai di waktu yang hampir bersamaan membuat Ojik hendak meneleponnya kembali. Namun, celetukan dari Satria membatalkan niatnya.


“Wih anjir, bucin kali lah si Kai, ini!" seru Satria saat membuka IG dan melihat story Kai yang merepost story seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan kekasih hatinya.


“Dia di bandara?" Ojik menyipitkan mata memerhatikan foto Kai yang tengah berada di bandara.


Membuat Ojik dan Satria sama-sama menyimpulkan jika Kai meneleponnya karena sudah datang dan ingin dijemput. Dan benar saja, ketika memastikan ke kontrakan. Mereka melihat sendal Kai ada di sana. Membuat keduanya tak mau berhenti menggedor sampai Kai membukakan pintu.


“... Tadi itu kau mau minta dijemput di bandara, kan?" tebak Satria setelah bercerita panjang lebar soal bagaimana mereka bisa mengetahui kedatangan Kai.


“Mau apa lagi kalau bukan itu!" pungkas Kai membenarkan pertanyaan Satria.


“Ya gimana mau ngejemput, kan udah dibilang lagi meeting."


Kai yang mendengar itu langsung berdiri, bisa-bisa duo kampret itu akan semakin membulinya.

__ADS_1


Ojik dan Satria pun ikut beranjak mengikuti Kai yang melangkah ke dapur. Ketiganya hendak masak mie dengan posri banyak lagi. Hal yang sering tiga sekawan itu lakukan dari sejak masih kuliah dulu.


Tiga sekawan itu lalu mulai memasak mie untuk makan sore kali ini. Ketiganya nampak kompak, benar-benar tiga orang yang saling melengkapi.


__ADS_2